
Sepertinya langit tengah sedikit bersedih, karena matahari tengah sembunyi dibalik gerombolan awan berwarna abu itu. Rintik hujan mulai membasahi jalanan dan tumbuhan yang sedang kehausan.
Minggu keempat bulan ini, seperti biasa olive meliburkan pegawainya dan menutup butik. Yang namanya orang kalo kerja terus juga akan merasa lelah, tubuh juga butuh istirahat bukan. Supaya tidak sakit.
Olive kembali meratapi kesenderiannya, tatkala maria sudah pamit pulang 15 menit lalu.
Hanya alunan lagu favorite minggu ini yang menemaninya, secangkir teh hangat dan donat yang maria buat sendiri dari rumah.
"sepertinya stock bulanan sudah habis. " gumamnya, kemudian beranjak pergi untuk mempersiapkan diri pergi ketoko swalayan terdekat.
***
"yah, hujan. " olive memberenggut lemah, ketika mengetahui hujan yang turun semakin deras, sedangkan sekarang dia berada diteras minimarket tempatnya berbelanja.
Saat pergi tadi, hujan masih rintik. Jadi, olive pikir ia akan kembali kerumah sebelum hujan benar-benar turun deras. Tapi, kenyataannnya sekarang, dia harus terjebak hujan karena kecerobohannya .
"hujan makin deres aja, masa. " olive bimbang antara pergi atau menetap ditempat. kayak sebuah hubungan diambang lehancuran.
"teroboslah, sekalian hujan-hujan flasback kemasa bocah. " gumamnya mengeratkan cardigan yang dipakai bersiap bertempur melawan derasnya air hujan.
Olive memutuskan berjalan cepat tanpa menoleh, mengabaikan benerapa pasang mata yang memandangnya aneh. Biarkan saja mereka ingin mengatakan apa, selagi tidak mengganggu dan melukai orang lain, kenapa harus ambil pusing.
Ada juga beberapa orang yang menggunakan benda mati bertitle payung untuk melindungi tubuh mereka.
"kenapa, tadi gak beli payung disana. " gerutu olive merutuki kebodohannya.
Jika hidup terus-terusan memikirkan apa yang dikatakan orang lain, yang kadang hanya melihat kejelekannya saja, maka tidak akan pernah merasa tenang dan terbebani. Cukup menjadi diri sendiri tanpa harus memasang topeng.
Bunyi berisik terdengar sangat dekat diindra pendengarannya, air hujan yang tadinya menetes tanpa ampun berhenti membasahi rambutnya uang sudah terlanjur basah dan lepek.
Olive sedikit mendongakkan kepalanya melihat payung dengan warna kuning yang sudah melindunginya. Kepalanya menoleh kebelakang melihat sosok yang sudah lama tidak dijumpainya, sengaja dihindari lebih tepatnya.
Apa dia sudah sembuh? Kenepa dia bisa ada disini? Kapan pulangnya? Kenapa harus ketemu sekarang?ini kesialan atau keberuntungan?
Berbagai pertanyaan berkecamuk beragam dikepalanya yang dingin. Namun, nyata tak ada sepatah kata pun yang terucap diantara mereka. Semuanya sibuk diam larut dalam pikiran masing-masing.
Olive membiarkan pintunya terbuka tanpa menyuruh tamunya masuk, dirinya langsung berjalan kearah kamar mandi untuk mrngganti pakaiannya yang basah danembersihkan rambut. Olive seakan lupa mengucapkan kata terima kasih pada sang pahlawan yang sama sekali tidak diharapkan kedatangannya.
Selesai dengan aktivitas membersihkan diri, satu mug besar berisi teh hangat berada ditangannya. Sofa maroon yang terletak diruang tamu menjadi tempat persinggahan saat ini. Mengambil remote hitam diatas meja danencari chanel telivisi kesukaannya. Apalagi jika bukan acara masak-memasak atau acara pencarian bakat dibidang tarik suara. Olive tidak memiliki hobi menonton kartun seperti kebanyakan orang, ia lebih memilih menonton berbie yang menurutnya lebih menyenangkan.
Setiap orang punya hobi yang beda yah. Jangan dipukul rata.
Hachi...
"astaghfirullah. " olive beranjak dari duduknya berlari keluar, betapa jahatnya ia membiarkan orang lain kedinginam diluar sana, sampai membuat bibirnya yang mulai memutih, hidung yang sudah memerah dan juga kemejanya yang sudah basah.
Orang macam apa yang tega menelantarkan seseorang yang sudah membantunya diluar berperang dengan udara dingin.
Sedikit ragu olive menepuk pelan pundak orang yang sedang berdiri bersandar pada tiang penyangga rumah.
__ADS_1
"pak bian, silahkan masuk. " ujar olive lirih, tatapan mereka sempat bertemu meski hanya beberapa detik, karena olive buru-buru memutuskan kontak mata yang membuat jantungnya tidak baik-baik saja.
Fabian hanya menurut tanpa membantah, tidak ada alasan untul menolak,bukan. Ini kesempatan dan juga awal yang baik untuk memulai dan meminta maaf. Diluar sana hujan juga masih turun dengan sangat deras.
Tubuhnya sudah basah, fabian tidak ingin menerobos hujan untuk kembali ketempat mobil yang diparkirkan dihalaman minimarket tempatnya bertemu dengan olive tadi. Sebenarnya bisa, tapi tujuannya bukan hanya untuk mengantar wanita-nya ada tujuan lain yang lebih peting.
Wanita-nya apakah masih pantas?
Tanpa aba fabian mengambil mug dari tangan olive yang akan diletakkan oleh sang empunya diatas meja. Menegak sampai habis tak tersisa, tubuhnya langsung terasa hangat dan menenangkan. Rasanya masih sama, tidak ada yang berubah.
"apa yang bapak lakukan? Saya bisa membuatkan yang baru. " ujar olive sebal. Tidak sopan! Masih saja sama menyebalkan, kenapa tidak hilang saja sifat yang sering membuatnya kesal dari dulu. " lanjutnya dalam hati.
Olive berjalan kedapur dengan dumelan tak jelas. Fabian terkikih geli melihatnya. Matanya sibuk menjelajahi ruangan bernuansa biru muda dan putih. Memang kecil jika dibandingkan dengan rumahnya, tapi terlihat sangat rapi dan juga hangat.
Foto gadis berseragam sekelah menengah pertama dengan dua orang yang bian tebak adalah orangtuanya, terlihat tersenyum lebar melihat anaknya memegang sebuah piala.
Geser sedikit kekiri, terdapat foto yang membuatnya tersenyum kecil, olive dengan gaya alaynya sedang bersanding dengan singa putih dengan semburan air dimulutnya yang menjadi salah satu ciri khas negara singapura.
Menggemaskan sekali, berapa usianya saat itu? Dasar bocah!
"tehnya pak." olive memberikan mug senada berisi sama kepada fabian yang masih berdiri ditempatnya dengan tatapan lekat membuat olive risih.
Meski tangannya terulur menerima, matanya tetap enggan enyah menatap wanita yang semakin dewasa didepannya ini, yang sudah dengan sadisnya memporak-porandakan benteng yang sengaja dipasang untuk virus berbahaya bernama cinta.
"minum dulu tehnya, nanti keburu dingin. Nanti pak bian sakit. " ucap olive mengambil alih mug ditangan fabian lalu mengarahkan perlahan kemulut laki-laki memyebalkan itu.
Olive menatap sengit bian dengan hidung membesar "bapak jangan kepedean deh, saya hanya tidak mau bapak sakit gara-gara saya. Gak lebih! " ujarnya penuh penekanan dikalimat akhir.
"ini handuknya, bapak bersihin badan dulu, ini baju gantinya." olive menyerahkan handuk biru dan juga koas putih dan juga training abu yang kebetulan adalah stock barang yang biasa dijual lewat media sosial.
"adanya cuma itu, dirumah gak ada setelan jas." ujarnya terdengar jutek.
"bapak naik aja ,kamar mandinya disamping kamar. Awas jangan salah masuk. "
Tak ingin berdebat, fabian berjalan menuju tempat yang wanita-nya tunjukan tadi.
Kenapa dia jadi sejudes itu? Apa dia lagi PMS?
"tumben mulutnya gak kebuka buat bales ocehan sadis aku. Mulutnya bau kalli ya? " tebak olive dengan kikihan gelinya.
***
"bapak gak pulang? " tanya olive spontan membuat fabian tersedak dengan kuah mie instan yang sedang dimakannya.
Tangannya langsung menyambar gelas berisi air disampingnya meneguk hingga tandas.
"kamu ngusir aku? "
Aku? Sejak kapan laki-laki menyebalkan ini berubah meninggalkan panggilan keramatnya.
__ADS_1
"ya, enggak. Bapak kan udah lama disini. Gak enak dilihat tetangga. "
"ohh. "
Ohh? Oh doang gitu? Dasar nyebelin banget ini orang. Dosa gak sih kalo gue pengen ulek itumulutnya pakek cobek bekas sambel.
Ehhm,, ehmm,,
Deheman yang terdengar dibuat-buat membuat olive menatap fabian sekilas, kemudian kembali fokus pada ponsel ditangannya.
"itu siapa? " tanya fabian ambigu
"siapa? "
"foto sebelah kiri paling ujung. " terdapat foto olive bersama laki-laki lumayan ganteng, berpose didebuah truck makanan dengan warna pink dengan gambar beruang putih disisi kanannya.
"ohh, itu rey. Kenapa? "
"pacar kamu? "
"Bukan, temen.
Tanpa sadar fabian menarik bibirnya membentuk sabit. Hatinya merasa tenang dan bahagia mengetahui fakta sebenarnya dibalik foto yang membuatnya sempat bimbang dan sedikit takut jika nantinya tidak ada kesempatan kedua bagi dirinya.
"terima kasih dan juga maaf. "
"untuk apa? " tanya olive mengernyit.
"maaf untuk semua hal menyakitkan dimasa lalu, terima kasih karrna sudah merawatku meski sebentar. "
Olive meletakkan ponselnya kasar diatas meja.
"merawat? Pak bian halu yah. " kekehnya pelan. "saya itu gak pernah ngerawat bapak. Tahu bapak sakit aja enggak."
"kamu bohong, saya melihatnya sendiri. "
"terserah, kalo bapak gak percaya. " ucapnya sebal meninggalkan fabian.
"ada cctv dikamar. Jadi, aku tahu kalo kamu sempat ada disana. "
Baru beberapa langkah berjalan, langkahnya berhenti sejenak ketika mendengar pernyataan fabian.
Olive menghebuskan nafasnya pelan, rasa itu kembali muncul. Ia tak ingin terluka dan memagis lagi. Tidak.
"bapak udah tau kan, jadi gak perlu ada penjelasan lain lagi. Silahkan keluar dan pulang. Saya mau istirahat. " ujarnya tanpa menoleh, melanjutkan langkahnya berjalan semakin cepat.
"aku tahu aku salah, aku gak akan nyerah. Sampai bertemu besok. "
***
__ADS_1