
Rambut panjang dikepang rapi, sengaja menyisakkan seuntai rambutnya dibagian depan. Rok putu diatas mata kaki warna maroon, dengan kaos polos oversize berwarna hitam dan sepatu boots warna senada yang menjadi pendukung penampilannya hari ini. Olive sengaja berdiri didepan toko dengan dua pegawainnya yang memakai hijab menyambut para pengunjung yang masuk kedalam butiknya, juga membagikan selembaran kertas yang memperlihatkan beberapa model desain bajunya.
Olive mengembangkan senyumnya melihat antusias pelanggannya dihari perdana mereka buka.
" kak olive, aku boleh mintak foto gak? " tanya gadis remaja dengam rambut kerinting panjangnya yang terlihat menggemaskan , apalagi didukung dengan hidung mancung yang menambah kesan cantik diwajah imutnya.
Olive menarik sudut bibirnya lebar, menyetujui permintaan gadis kecil itu, yang juga tersenyum lebar padanya. " kak moora, tolong fotokan kami. " wanita berhijab yang merasa dipanggil namanya itu pun, berjalan menghampiri olive dan mengambil ponsel milik gadis kecil itu, lalu mengambil gambar mereka beberapa kalo dengan gaya berbeda.
" makasih ya kak, kakak cantik deh. "
Olive megelus pelan rambut gadis kecilnya " kamu juga cantik sayang. "
" aku susul mama dulu ya kak, terima kasih. " gadis itu berlari masuk kedalam mobil putih yang berhenti disebrang jalan.
" moora, naira, kamu masuk aja, bantuin yang didalem. Biar saya yang disini. "
" baik kak.. " jawab mereka serempak berjalan masuk kedalam butik.
Olive berjalan cepat menyebrang jalan, ketika melihat nenek-nenek yang ragu dan terlihat takut untuk menyebrang bersama anak kecil berusia sekitar 4 tahun yang menggandeng erat tangan keriputnya.
" nenek mau kemana? " tanya olive pada nenek yang terlihat kebingungan itu. Sedangkan anak kecil yang menggandeng tangan sang nenek, terlihat lelah dan sedikit pucat. Olive memandang dengan mata berkaca melihat dua sosok wanita didepannya.
" nenek mau beli pisang goreng, buat cucu nenek. " jawabnya dengan tubuh gemetar memandang gerobak hijau disebrang sana. Sungguh olive dibuat sesak melihat mereka. Bagaimana tidak, diusianya yang sudah renta, sang nenek masih harus bekerja menjajakan koran yang berada ditas usangnya. Rambutnya yang sudah memutih berantakan tak terawat, dan juga anak kecil yang seharusnya sekarang berada dirumah bermain bersama temannya, harus berpanas-panasan ikut sang nenek bekerja.
" biar, saya antar ya nek. " tawar olive menggenggam lembut tangan renta sang nenek. Olive menggendong pelan anak kecil berambut sebahu itu lalu menggandeng tangan sang nenek untuk menyebrang.
Sesampainya disana, sang nenek memesan satu potong pisang goreng pada penjual, olive memandang pada sang nenek yang memegang uang dua ribuan yang sudah kusut . Tak terasa air matanya mengalir begitu saja tanpa diminta.
Sang nenek langsung memberikan pisang goreng dari penjual cucunga yang masih berada dalam gendongan olive, yang terlihat gembira menerimanya. Sebahagia itu, hanya dengan sepotong pisang goreng. Olive merasa bahwa selama ini dirinya terlalu memikirkan dirinya sendiri dan menganggap bahwa hidupnya tidak seburuntung mereka , orang-orang yang dilihatnya dimedia sosial yang terlihat bahagia dalam hidup mereka dan kurang mesyukuri nikmat yang diberikan padanya.
__ADS_1
" kang, tolong dibungkus lagi pisangnga 15 potong. " pinta olive pada akang penjual.
" baik mbak. "
" makasih ya nak, sudah nolongin nenek nyebrang. Kalo gitu nenek pamit mau lanjut jalan. " sang nenek mengambil cucunya dari gendongan olive dengan senyum yang sangat tulus terukir dibibirnya.
" nenek istrihat sebentar yah ditoko saya, nenek pasti capek. Nanti biar saya bantu nenek untuk jualan. "
" gak usah nak, biar nenek langsung lanjut jualan aja, ngerepotin. " tolak sang nenek yang bersiap untuk melanjutkan jualannya.
" saya gak merasa direpotkan kok nek. Kita istirahat sebentar ya nek. " olive tersenyum lembut pada sang nenek dan mengambil tas usang dari tangan renta itu.
Setelah membayar, olive menuntun sang nenek untuk menyebrang menuju tokonya dan menggandeng gadis kecil yang masih menikmati pisang goreng ditangan mungilnya itu.
***
Ruangan berukuran sedang berwarna putih dipadu dengan biru yang dilengkapi Ac sebagai pendinginnya meja putih beserta kursinya tertata rapi dalam ruangan yang tak terlalu besar itu.
" nek, anyam goleng. " gadis kecil bernama malika itu mengangkat sepotong ayam gorengnya menunjukan pada sang nenek yang sedang menikmati makan siangnya. Diusianya yang masih belia, malika terlihat sangat mandiri. Lihat saja saat ini dia sedang menikmati makan siangnya sendiri, tanpa mau disuapin sang nenek.
" nenek perlu sesuatu, biar nanti saya ambilkan. " tawar olive pada sang nenek yang sudah selesai dengan makan siangnya.
Sang nenek menggeleng kepalanya pelan " sudah cukup nak, ini sudah sangat cukup. Maaf kami sudah merepotkan. "
Olive memegang tangan nenek, lalu menggenggamnya lembut " saya gak merasa direpotkan nek, malah saya bahagia bisa bertemu dengan nenek sama malika. "
" nenek tinggal sendiri? "
Ada guratan kesedihan diwajah keriputnya mendengar pertanyaan olive. " nenek tingga berdua dengan malika ."
__ADS_1
" maaf sebelumnya nek, bukan bermaksud lancang. Memangnya orangtua malika dimana? " tanya olive pelan agar malika tak mendengar pertanyaannya.
" nenek sudah menganggapnya sebagai cucu, meski kami tidak memliliki hubungan darah, karena dulu nenek menemukan malika didalam kardus didepan rumah. "
" nenek kerjanya tiap hari jualan koran seperti ini? "
" iya nak, sudah sejak 20 tahun yang lalu, nenek menekuni pekerjaan ini. Allhamdulialah, Allah selalu memberikan rezeki tak terduga sampai nenek bisa membesarkan dan merawat malika sampai sekarang." jawab nenek dengan mata berkaca memandang sendu malika yang masih menikmati makan siangnya.
" nek, jika nenek memberi izin. Saya ingin membantu nenek dan malika. Jadi, nenek gak perlu berjualan koran lagi, biarkan saya yang akan membantu nenek dan juga sekolah malika nanti. "
Bulir bening, mengalir dipipi keriput sang nenek, begitu mendengar ucapan olive. " apa tidak merepotkan nak? "
Olive kembali menggelengkan kepalanya pelan " tidak sama sekali nek. "
" nenek sudah tua, malika masih kecil. Yang nenek takutkan ,jika nanti nenek sudah harus kembali kepangkuan-Nya nenek khawatir dengan malika. Malika masih kecil, dan harus tetep hidup hingga dia dewasa. Nenek hanya takut malika akan terlunta-lunta tak punya tempat tinggal dan keluarga setelah nenek pergi. "
" nenek tenang saja, saya akan membantu semampu saya nek. Jadi, mulai besok nenek gak usah jualan lagi, biar nanti saya yang membantu. "
" terima kasih nak olive, tapi nenek harus tetap bekerja. Tidak baik jika hanya berpangku tangan mengharap bantuan orang lain. Selagi nenek masih sanggup untuk berjalan, maka nenek masih akan bekerja seperti biasa. Nenek tidak melarang kamu untuk membantu malika. Apalagi jika , kamy mau membantu sekolah malika. Nenek benar-benar banyak mengucapkan terima kasih sama kamu. "
" nenek gak perlu berterimakasih, sudah kewajiban saya. "
" terimakasih...
" nama saya olive nek. " ucap olive memperkenalkan diri pada sang nenek.
" nenek, namanya lastri. " balas nenek, balik memperkenalkan dirinya.
Setelah perkenalan itu, mereka larut dalam obrolan tentang kehidupan sang nenek dan anak-anaknya yang tinggal jauh ikut suaminya.
__ADS_1
Jangan lupa bersyukur, karena setiap hari kita selalu diberi berbagai kenikmatan oleh Sang Pencipta.
***