Olive

Olive
Bebas lepas


__ADS_3

Pintu rumah terbuka memperlihatkan sosok fabian yang terlihat semakin tampan mengenakan kemaja maroon dengan lengan yang dilipat sampai siku,  dan jangan lupakan senyum lembutnya menatap olive yang sedang duduk disofa ruang tamu tanpa ekspresi.


" hai...." sapa bian mengacak pelan pucuk kepala olive.


"saya,  mau kekamar dulu,  bersih-bersih habis itu kita makan.  Saya tadi beli ketoprak kesukaan kamu." fabian melangkahkan kakinya menuju kamar dengan senyum yang masih mengembang dibibirnya,  belum menyadari jika sedari tadi olive menahan tangis melihat dirinya.


***


" makan yuk, saya laper. " ajak fabian mengambil kantong yang masih teronggrak diatas meja.


" aku mau ngomong. "


" kita makan dulu yah,  habis makan baru ngomong." jawab fabian yang masih sabar meladeni ucapan jutek olive.


" gak,  aku mau ngomong sekarang. " ucap olive tegas menatap mata fabian. Fabian menghembuskan nafasnya pelan,  kemudian duduk disampingbistrinya yang tak seperti biasanya ini.


" kenapa?  Ada masalah? " tanya fabian memegang lembut telapak tangan olive.


" aku gak mau basa -basi.  Bapak jawab dengan jujur." mati-matian olive menahan air matanya yang sudah berada diujung tombak ingin mengalir deras. Sejujurnya Olive benar-benar masih takut jika fabian adalah orang dibalik semua tuduhan yang diterimanya.


Fabian menganggukan kepalanya cepat " baik,  akan saya jawab jujur. "


" pak bian orang yang berperan besar menghancurkan persahabatan aku dengan arga dan brandon. Bapak yang menyuruh sabrina melakukan fitnah-fitnah yang mengatasnamakan aku sebagai pelakunya,  supaya arga dan brandon marah dan benci sama aku.  IYA? " tanya olive memegang kuat lengan fabian,  berharap jawabannya adalah tidak.


" saya bisa jelaskan,  kalo dulu..


" berarti bapak orangnya?  Kenapa bapak tega ngelakuin hal sejahat itu ke aku . KENAPA?  KENAPA?" teriak olive memukul lengan fabian yang masih saja diam tak bergeming. Olive berdiri kearah jendela yang memperlihatkan keadaan luar rumah yang sudah sepi dari para pejalan kaki dan pengendara yang berlalu lalang.  Mengambil nafasnya panjang lalu mengeluarkan pelan,  menghilangkan sesak dan nyeri dalam hatinya.


" ahh,  aku tahu,  pasti karena bapak ingin balas dendamkan,  dan sekarang dendam bapak sudah terlaksana dan berjalan sesuai rencana. Bapak sudah menyiksa fisik saya dan juga hati saya. Bapak sudah berhasil menghancurkan semuanya. " ucap olive dengan tawa sumbanh diakhir kalimatnya.  Setega ini fabian padanya.


" iya,  saya otak dibalik semuanya.  Tapi,  itu dulu sekarang semuanya sudah berubah liv... Sa...


" berubah apanya pak, gak ada yang berubah. Atau jangan-jangan bapak bersikap baik selama ini karena ini adalah bagian rencana balas dendam bapak kesaya. " lagi-lagi olive memotong penjelasan fabian.

__ADS_1


" kalo itu bener,  bapak bener-bener berhasil dan sangat berhasil.  Apa sekarang bapak puas? " teriak olive hingga menggelegar diruangan mereka.  Membuat emosi fabian naik dan berjalan kearah olive dengan kilatan amarah yang menggebu.


" kamu dengerin saya dulu olive. " ucap fabian penuh penekanan, mencengkram bahu olibe kuat,  membuat olive meringis kesakitan.


" apa lagi,  yang mau didengerin . Semua ucapan bapak itu bulshit dan gak bisa dipercaya. " ucap olibe dengan nada tinggi satu oktaf.


" saya mau jelasin semuanya,  diwaktu yang tepat. " geram fabian menahan emosinya.


" waktu yang tepat?  Dari kemaren-kemaren bapak kemana aja. " ucap olive menggertakkan giginya menatap fabian dengan mata berkaca.


" aku bener-bener kecewa sama bapak. Sangat kecewa, kenap bapak gak jujur aja,  mungkin rasanya gak sesakit ini kalo denger langsung dari bapak,  bukan dari orang lain. Bapak tu gak tau,  kalo...


fabian melepaskan cengkramannya dan berbalik badan memunggungi olive. " sekarang mau kamu apa? "


" aku mau bapak bebasin saya dari semua perjanjian yang merugikan itu, bapak bebaskan dan biarkan aku untuk hidup tanpa ancaman dan kengkangan. Bapak biarkan aku hidup diluar sana dengan tenang. Bapak mesnahkan semua perjanjiannya. Itu yang aku mau. " berat, untuk mengatakan semua itu, perlu keberanian lebih. Apalagi setelah ini olive harus benar-benar menghilangkan perasaan cintanya pada fabiam dan membuangnya jauh-jauh.


" baik,  saya akan menuruti kemauan kamu. " ujar fabian,  tanpa menoleh kearah olive.


" terima kasih,  malam ini aku bakal balik kerumah.  Selamat malam. " olive berjalan menyeret kopernya yang sudah siap dari tadi.


" apa pak bian akan menahan aku untuk tidak pergi,  atau meyakinkan aku agar mempercayainya . Jika iya,  aku harus gimana?  Gak aku harus kekeh pada pendirianku. Tapi,  kalo pak bian berhasil meyakinkan aku,  gimana? " olive sibuk bergelut dengan pemikirannya dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.


" kunci rumah kamu ." fabian berjalan membuka laci dan menyerahkan kunci rumah milik olive.


Deg


Harapannya mendengar cegahan fabian,  luntur dan menggigit bibirnya menahan gejolak aneh yang berada dihatinya.


" terima kasih. " ujar olive menerima pemberian fabian yang kemudian berjalan masuk kekamarnya.


***


Sudah lama sekali dirinya tidak menginjakkan kakinya kerumah peninggalan sang papa,  semuanya tetap sama,  hanya saja banyak debu yang harus dibersihkan disetiap sudut ruangan.

__ADS_1


"papa,  mama olive kembali kerumah kita. " ujarnya sembari memandang foto orangtuanya yang terpasang didinding rumah.


" doakan olive dari sana,  semoga bisa melewati semuanya." tanpa terasa sebulir air mata mengalir dipipinya.


Dipaksa untuk menghilangkan rasa cinta dan orang yang dicintai itu amat sangat sakit. Berasa ada ribuan jarum tajam yang menusuk diruang hati. Menyisakan rasa sakit dan perih yang menghasilkan air mata . Tapi,  mau gimana lagi,  dari pada terus bertahan melabuhkan hati pada orang yang memiliki tujuan tertentu untuk memberikan rentetan luka padanya,  lebih baik menyerah sebelum semuanya malah semakin bertambah parah, sehingga menyiksa diri sendiri.


Olive berjalan pelan kearah kamarnya untuk meletakkan koper dan membersihkannya untuk istirahat. 


" aduh,  mana laper lagi.  Dari siang aku belum makan."  gumamnya pelan mengingat sedari pulang sekolah ia belum menyentuh apapun untuk mengisi perutnya.


" te,  sate,  te,  sate....  " teriakan dari kang sate dari luar sana membuat olive buru-buru keluar rumah dan memanggil kang sate yang lewat didepan rumahnya.


" mang,  satu porsi yah. " pinta olive pada kang sate, yang sudah berhenti dijalan dekat rumahnya.


" siap neng,  mau pedes atau sedang? " tanya kang sate yang sibuk menyiapakan beberapa tusuk sate untuk dipanggang. Aroma harum daging kambing yang sudah ditusuk itu membuat cacing-cacing diperut semakin mengeraskan teriakan mereka meminta jatah.


" pedes kang, makan disini yah. "


" siap,  atuh neng.  Silahkan duduk dan tunggu selama beberapa menit. " kang sate menata beberapa kursi berwarna biru yanh dibawanya untuk tempat duduk olive dan para pelanggan lain.


" neng,  warga baru disini?  "


" gak kang,  aku mah udah lama tinggal didaerah sini. Tapi,  yah emang beberpa bulan kemaren saya tinggal dirumah temen. "


" oh, begitu.  Kalo tahu ada bidadari disini,  akang mah  mau tiap hari lewat sini. " canda sang akang yang masih sibuk mengipas-ngipas satenya. Olive hanya tersenyum mendengar candaan yang dilontarkan sang akang.


15 menit kemudian , sepiring nasi dengan beberpa tusuk sate dan sambal kacang diatasnya,  benar-benar mampu membuat olive menelan ludahnya sendiri.


" selamat menikmati neng. Doakan saya selalu bahagia bersama keluarga. "


" Aamiin,  semoga doanya diijabah sama Yang Maha Esa. "


" amiin. " teriak girang sang akang mengusapkan tangannya diwajah.

__ADS_1


Kata itu doa,  jadi alangkah baiknya jika kata atau ucapan yang keluar dari mulut kita adalah kata yang baik tanpa menyakiti orang lain,  agar kita juga mendapatkan perlakuan baik oleh Sang Pencipta.


***


__ADS_2