
Olive mengeratkan genggaman tangannya pada seorang berpakaian putih motif bunga-bunga kecil khas rumah sakit yang sedang terbaring lemah dengan perban yang melilit ditangan kanan dan juga kepala pasien. Selang infus masih saja senantiasa menemani ketidaksasarannya. Matanya masih setia terpejam tanpa gerakan sejak kemarin.
"liv, kamu pulang dulu istirahat. Bian biar mama yang jaga." tawar mama sarah yang sudah berada dirumah sakit sejak semalam. Olive menggeleng pelan dengan mata berkaca-kaca ingin menangis.
Semua ini salahnya, coba saja jika kemarin dia tidak marah dan berjalan dengan emosi bergemuruh, sampai-sampai tidak melihat kanan kiri ketika menyebrang jalan. Maka kejadiannya tidak akan seperti ini, fabian tidak akan berakhir diruangan berbau obat-obatan ini. Semua ini adalah salahnya yang egois dan juga kekanak-kanakkan.
"olive gak mau pulang ma, semua ini karena kecerobohan olive, kalo aja olive gak egois, mas bian gak akan kayak gini cuma gara-gara nolongin olive." ujar olive menangis sesunggukan.
Sarah menepuk pundak olive pelan "semuanya sudah menjadi takdir liv, bukan kamu yang menjadi penyebabnya. Fabian pasti sebentar lagi akan sadar. Kamu juga perlu istirahat."
Olive memeluk erat pinggang mertuanya mencari kenyamanan dan ketenangan disana "olive istirahat disini aja ya ma, olive tidur disofa aja."
Sarah menghembuskan napasnya pelan, mengerti dengan perasaan menantunya yang pasti merasa bersalah "ya udah gak papa, tapi makan dulu yah. Mama udah masak tadi." olive menganggukkan kepalanya pelan, dirinya juga harus memberi asupan nutrisi pada tubuhnya agar tidak ikut sakit, sehingga nanti tetap bisa menjaga fabian sampai dia sadar.
***
Olive mengerjapkan matanya pelan, menggerakkan badannya yang terasa pegal karena tidur dengan posisi duduk, sangat tidak nyaman rasanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, jadi dirinya sudah tidur selama 5 jam. Pantas saja badannya terasa remuk. Olive memijit keningnya yang sedikit pusing, entah karena apa. Ruangan juga tampak sepi tidak berpenghuni, mama sarah juga tidak terlihat batang hidungnya diruangan .
"ehmm."
Suara deheman yang terdengar berat menggema diruangan dengan cat putih itu, membuat olive menutup bibirnya takut. Bulu kuduknya sudah meremang tidak karuan. Dari mana datangnya suara seberat itu.
"ehhhm."
"eh, setan maaf yah, aku gak bermaksud jahat kok disini, cuman nemenin orang yang lagi sakit. Jangan ganggu yah." cicit olive meringis takut sembari memejamkan mata.
"livv.."
"kok tau nama aku."
Olive kembali meletakkan gelas yang sudah kosong diatas nakas dekat ranjang pasien.
Perasaannya membuncah bahagia, melihat mata yang dirindukannya sudah terbuka dan sedang menyunggingkan senyum manis kearahnya.
"mas laper." rengek fabian manja. Kesempatan mumpung lagi sakit dan cuma berduan sama istri, jadi fabian pikir tidak masalah jika harus bermanja sebentar. Mumpung mama lagi pamit pulang, karena ada urusan kantor.
"oh, iya."
Olive menyuapkan perlahan suap demi suap makanan yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit, sampai habis tidak tersisa.
__ADS_1
"dari kapan bangun, kenapa gak bangunin aku? " tanya olive yang baru selesai mencuci tangannya dan duduk disamping ranjang fabian.
"siang tadi, kamu tidurnya pules banget. Mas gak mau ganggu." jawab fabian menggenggam tengan olive lembut.
"aku.. aku.. Mau.. " ucap olive terbata. sungguh hatinya merasa tidak tenang saat ini.
"kamu gak perlu minta maaf, udah kewajiban aku untuk menjaga dan melindungi kamu."
"tapi... ini semua gara-gara aku."
"hei." fabian mengangkat dagu olive perlahan, membuat tatapan mereka bertemu beberapa saat. Saling menguatkan dan mengabarkan rindu lewat tatapan. Menghapus jejak air mata dipipi istrinya."semua ini bukan gara-gara kamu, ini takdir. Jadi, mas mohon stop buat nyalahin diri kamu yang gak salah. Oke." ujarnya memberi pengertian.
"kamu mau apa ? Mau makan apa? Pizza, bakso, sushi, steak atau apapun. Ngomong aja nanti bakal aku beliin atau mau aku pijitin,mana yang sakit? " celoteh olive membuat bian tersenyum senang mendapat perhatian dari gadisnya.
"sustt. " fabian semakin memgeratkan genggamannya, menatap manik mata olive dalam. "mas gak mau apa-apa, cuma mau kamu maafin mas dan.. " fabian menjeda kalimatnya, membaca doa sebelum mengungkapkan keinginanya, berharap olive akan bersedia menurutinya.
"mas mau kita kembali, memulainya dari awal untuk bersama. Liv, mas tahu mas bukan manusia sempurna, masih banyak salah dan kurangnya. Tapi mas akan berusaha untuk menjadi baik dan membuat kamu bahagia. Mas mau kita bersama sampai tempat peristirahatan terakhir kita. Mas tau ini gak romantis, tapi jika ditunda mas takut akan ada kejadian tak terduga yang akan terjadi nantinya jika harus menunda."
Fabian mengambil kotak biru disaku bajunya,membuka perlahan dan memberikannya pada olive. "will you merry me? Mau Menjadi istri mas dan menjadi ibu dari anak-anak kita ?"
Hening, air mata bahagia sudah mengalir deras dipipi chuby olive. Ini saatnya olive berhenti untuk menguji cinta fabian, sejauh ini fabian sudah berubah dan menunjukkan rasa cintanya. Olive tidak boleh egois terus mengulur waktu dan membuat fabian menunggu. Yang ada nanti akan membuat celah bagi wanita diluar sana yang ingin memiliki fabian, suami tampannya.
Fabian melebarkan senyumnya bahagia. Penantiannya tidak sia-sia. Tuhan memang baik, meski tidak mudah tapi tuhan selalu menjanjikan yang terbaik untuk setiap makhluknya.
Jika saja dirinya sedang tidak berada dirumah sakit, maka kakinya pasrti akan berlonjak-lonjak bahagia seperti anak kecil yang mendapatkan mobil-mobilan idamannya.
So, jangan berhenti berusaha dan berdoa jika saat ini keinginan kalian belum tercapai karena semuanya butuh proses untuk menuju sukses.
Fabian menggeser badannya sedikit, menepuk ranjangnya supaya olive bisa lebih dekat padanya. Olive menuruti perintah fabian dengan malu.
Setelah sekian lama, pasti akan ada kecanggungan yang hakiki dalam situasi seperti ini.
Fabian memeluk olive mencium pucuk kepala istrinya pelan, menghirup kuat aroma strawberry yang selama ini dirindukannya.
Fabian membawa tangan olive dan memasangkan cincin dijari mungil istrinya. Terlihat sangat cantik dan pas. Meski dirinya harus memasangkannya menggunakan tangan kiri, jangan lupakan jika sang tangan kanan sedanh diperban tebal.
"kita kan sudah menikah." cicit olive menatap fabian. Dia baru ingat jika mereka belum bercerai. Jadi, kenapa harus menikah lagi.
"kita akan mengulang pernikahan kita, pernikahan yang sesungguhnya, bukan karena paksaan atau karena maksud tersembunyi dibaliknya." fabian menghela napasnya pelan.
"maafin mas dimasa lalu yang udah nyakitin kamu."
__ADS_1
Olive menggeleng tidak setuju, ini bukan hanya salah fabian sepenuhnya tapi juga dirinya ikut andil salah dalam permasalahan mereka.
"gak perlu minta maaf, karena yang salah bukan hanya kamu, aku juga."
"mas boleh minta sesuatu? "
Dahi olive berkerut heran, baru saja baikan sudah minta sesuatu. Awas saja kalo minta yang aneh-aneh. Maka kekuatan tonjokan yang sudah lama tak muncul akan melayang diwajah tampan suaminya jika kurang ajar. " Apa? "
"panggil mas bian, jangan pakek kamu."
"kenapa? Semua juga sama."
"beda dong sayang, panggil mas bian , tidak ada penolakan."
Olive berdengus sebal, ternyata fabian masih sama belum berubah sepenuhnya. Pemaksa!
Kakinya turun dari ranjang berjalan hendak keluar ruangan dengan hati dongkol.
"aww, aww. Isshh. "
Erangan kesakitan dibelakang sana, membuat langkahnya terhenti dan berputar badan menghampiri fabian yang terlihat menahan sakit.
"mas bian kenapa? Mana yang sakit? Aku panggilin dokter yah, bentar." olive kelimpungan dan khawatir sendiri, melupaka kemarahannya tadi.
Sedangkan fabian mati-matian menahan tawanya, menahan lengan olive yang akan pergi memanggil dokter. Padahal,jika ingin memanggil dokter cukup menekan tombol yang berada diruangan, maka otomatis dokternya akan datang. Tapi, yang namanya panik, pasti membuat pikiran blank .
"kok mas ketawa?" tanya olive memandang fabian garang, mendengar tawa fabian yang menggelegar nyaring.
"sakitnya tuh disini." ucap fabian menunjuk dadanya.
"ih, aku serius. Mas ngerjain aku yah. Ih, dasar nyebelin." olive memukul lengan fabian sebelah kanan tanpa sengaja. Gak inget, udah keburu kesel. Membuat fabian meringis sakit.
"ehh, maaf aku gak sengaja. Sakit yah? Maaf."
"gak kok yang, udah gak sakit udah sembuh karena kamu ada disini. "
"ih, gombal."
"ehmm, ehmm."
***
__ADS_1