Olive

Olive
Makan siang


__ADS_3

"kenapa lagi liv, mukanya ditekuk aja. "


Olive melirik maria yang baru masuk sekilas, kemudian kembali pada mode ngambeknya "aku lagi kesel banget tau gak sih mar, geblek banget tu orang. Pengen aku cakar-cakar deh itu mukanya. " ujar olive mencakar-cakar tangannya diudara Membuat maria terkekeh geli.


"harusnya kamu seneng dong, dapet bunga dari pak bian tiap hari pula."


"seneng apanya, emang sebuket bunga bisa gitu membuat aku luluh maafin kesalahannya yang udah setinggi gunung fuji. Malah banyakin sampah iya, mana tiap hari lagi ngasihnya. Gak ada bunga lain apa."


Sudah sebulan jalan, setiap pagi olive menerima sebuket bunga mawar dari fabian yang dititipkan pada pegawainya, kalau tidak maria ya moora atau yang lain. Beberapa kali fabian langsung memberikan pada olive, meski harus menunggu kedatangannya selama beberapa jam.


Sejauh ini, hubungan mereka masih sama, tidak ada perubahan sama sekali. Olive tetap dingin dan cuek menghadapi fabian.


"terus mintaknya berapa banyak, supaya dimaafin?"


"sekeranjang aja belum bisa mar buat menghapus kesalahannya dia. " jawab olive kesal.


Maria meletakkan beberapa berkas dilemari putih dipojok dinding. "kamu aja bisa maafin aku yang salahnya malah lebih tinggi dari gunung fuji, lebih panjang dari sungai nil, banyaknya sampai gak bisa dihitung lagi loh. Masa maafin pak bian gak bisa?"


Olive diam sejenak mencerna ucapan maria yang ada benarnya juga.


"tapi, itu beda mar, kamu itu saudara aku. Kita pernah serumah bareng, makan bareng, belajar bareng, becanda bareng. Kalo mas bian mah siapa coba?. "


Maria menghembuskan napas pelan, ini kayaknya olive harus diingatkan kembali perihal hubungannya dengan pak fabian.


"kamu lupa atau pura-pura lupa? " tanya maria menatap olive serius.


"pura-pura lupa? kayak judul lagu yang lagi nghits tu."


Aww


Olive meringis sakit tatkala lengannya mendapat cubitan dari tangan nakal maria yang sudah duduk didepannya.


"sakit. " rengek olive dengan bibir mengerucut.


"biarain, supaya kamu sadar. "


"loh, aku dari tadi sadar loh mar. "


"maksudnya, kamu itu harus sadar kalo pak fabian masih memiliki status sebagai suami kamu."


Olive menggeleng pelan mengelak. Padahal hatinya membenarkan.


"itu udah lama mar, kita gak ada hubungan lagi. "


"emang kamu udah pernah gugat cerai pak bian, atau sebaliknya. Gak pernahkan? " olive hanya diam semua yang dikatakan maria itu benar.


"pernikahan kalian itu sah dimata agama atupun negara liv, kamu pasti udah tau kan ?" iya, olive mengetahui semuanya dari ibu mertuanya.


"dia juga gak lepas tanggung jawab kekamu, pak bian diam-diam ngirim pengawal buat kamu liv, dia juga yang udah ngasih uang misterius itu selama kamu kuliah, pak bian selalu berusaha untuk melindungi kamu meski dari jauh. " jelas maria membuat olive tertegun. Orang kepercayaan bian juga sudah menceritakkan semuanya, mulai dari fabian yang menjadi semakin tertutup dan gila kerja, fabian yang menjadi lebih diam dan dingin, sampai akhirnya kecelakaan itu semakin membuat fabian menjadi monster hidup.


"jangan hanya melihat kesalahannya aja liv, kamu juga harus inget sama kebaikannya. Sebanyak apapun kebaikan yang dilakukan, tidak akan terlihat dengan kesalahan meski sekecil biji selasih."


"aku harap kamu mau maafin pak bian liv, buka hati kamu, kamu juga berhak bahagia. "maria mengusap tangan olive lembut memberi kekuatan. "aku pamit kedepan dulu, takutnya udah rame. Jangan ngelamun terus berdoa sama Tuhan meminta yang terbaik buat kamu. " setelah mengatakan semua, maria berlalu pergi.


"aku ingin, tapi aku juga takut. Takut untuk terluka kesekian kalinya mar. " ucap olive lirih ketika maria sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


Olive mendongakkan kepalanya keatas, berharap airmatanya tidak akan turun.


"tarik napas, keluarkan. Tarik napas, keuarkan. "seru olive menetralkan emosinya.


***


Fabian melangkahkan kakinya mantap membuka pintu kaca melebarkan senyum ramah pada orang yang berada disana yang kebetulan sedang istirahat Meletakkan 5 kantong plasik yang berada ditangannya diatas meja.


"ini ada beberapa camilan buat kalian. " ucap fabian sopan.


"makasih ya pak bian, sering-sering aja ngasih yang beginian. Kita mah akan menerima dengan lapangan sepak bola. Eh,  maksudnya lapang dada. Lumayan bisa ngirit uang jajan. "celetuk moora yang masih menikmati makan siangnya.


"hussh, gak boleh gitu mor. Gak sopan. " fabian hanya tersenyum kecil.


"eh, pak bian udah dateng. "sapa maria yang baru keluar dari sebuah ruangan.


"barusan nyampek. Olivenya mana? " tanya fabian to the point.


"pak bian masuk aja, itu ruangannya. " tunjuk maria pada pintu berwarna putih didepan sana.


Fabian nampak ragu untuk maju. " udah masuk aja pak, saya izinin kok. Olive gak bakal marah. " ujar maria yang seakan mengerti.


" ok, makasih ya. "


Kemaja abu-abu yang dipakaianya digulung sampai siku, jas hitam yang biasa melekat rapi sengaja ditinggalkan didalam mobil. Dasi hitam yang dikenakan sedikit dikendurkan. Tangannga pelan membuka pintu, ruangannya kecil tapi terlihat sangat rapi.


"dia sama sekali tidak berubah. "


Langkahnya terhenti, ketika melihat seseorang sedang mengakat tangannya sambil memejamkan mata berdoa. Fabian memilih menunggu dengan menyandarkan badannya dibalik pintu. Memandang seseorang yang sangat dirindukannya meski hanya dari belakang,  itu sudah cukup untuk saat ini.


"sejak kapan kamu disana? "tanya olive dengan nada dibuat sedikit ketus, melipat mukenanya rapi,lalu meletakkannya ditempat semula.


"baru sepuluh menit yang lalu. " jawab fabian yang masih berada ditempatnya.


"ada apa? "


"mau ngajak kamu makan siang bareng. "


"aku males keluar. " jawab olive asal.


"gak perlu keluar, aku udah bawa. "fabian mengangkat kantong bawaannya tanpa mendekat.


"oh, yaudah. " olive berjalan kemeja mengabil ikat rambut dan memgikat rambutnya asal. Membuat fabian terdiam ditempatnya.


"katanya mau makan. " ucapan olive membuat kesadaran fabian kembali, lalu berjalan menghampiri olive yang sudak dududk disofa hitam yang berada diruangannya.


"kesukaan kamu. " fabian menyodorkan kotak putih pada olive, lalu membukakan sebotol air dan meletakkanya .


Olive membuka antusia kotak makannya, matanya melebar melihat menu yang berada didalam sana, air liurnya sudah mengenang didalam mulut. Sambel tempe, ayam kalasan dan juga sambal tomat yang tampak lezat membuat perutnya bergejolak liar.


"makasih, kamu masih beli ditempat biasa?" tanya olive menatap fabian sekilas.


"iya."


Ternyata fabian masih memgingat hal sekecil ini, meskipun sudah bertahun-tahun lamanya. Apa dia benar-benar sudah berubah? Apa aku bisa menerimanya kembali.

__ADS_1


"mama titip salam buat kamu. "


"mama sarah? " tanya olive meyakinkan.


"iya, aku kan cuma punya satu mama liv. Masak mama loren. " tanpa sadar olive menyunggingkan senyumnya mendengar candaan fabian.


"kamu tambah cantik kalo lagi senyum. "


"mulai, gombalan recehnya keluar. Baru nyadar kalo aku cantik. "


"gak, aku udah lama sadar. Tapi, kamunya aja yang masih gak peka. " olive memutar matanya malas. Sepertinya pembahasannya yang sangat dihindari akan dimulai lagi.


"mama apa kabar?. " tanya olive sengaja mengubah topik pembicaraan.


"baik. " olive menganggukan kepalanya pelan. Matanya melebar melihat kotak makan fabian sama sekali tidak tersentuh. Fabian malah sibuk melihat dirirnya yang sedang makan sampai selesai.


"kenapa gak makan? Malah ngelihatin aku terus. " ujar olive kesal.


"aku gak laper. "


"kamu tu, kebiasaan banget. Susah makannya gak ilang-ilang, kalo kamu sakit gimana? " ujar olive kesal mengambil alih kotak fabian dan beepindah duduk tepat disamping fabian.


"aaaaa. " ucap olive menyodorkan sesendok nasi beserta lauk pada fabian yang masih diam tak bergeming.


"mas bian, mulutnya dibuka, gimana nasinya mau masuk." gerutu olive menatap bian tajam.


"aku gak mau maafin kamu, kalo gak makan. Jangan kesini lagi." ujar olive hendak melettakan sendoknya namun ditahan oleh fabian yang langsung menyuapkan nasi kedalam mulutnya.


Olive dengan telaten menyuapi fabian yang terlihat bahagia dengan senyum yang mengembang dibibir pucatnya. Kadang olive miris melihat keadaan fabian yanh sekarang, lihat saja badannya yang semakin mengurus, rambutnya yang sudah memanjang tidak seperti biasa, jambangnya yang mulai lebat membuat fabian terlihat berantakan dan tidak terurus.


"besok kamu kerja? " tanya olive menyuapkan suapan terakhirnya.


"ada meeting. "


Olive menghembuskan napasnya pelan. Weekend saja masih bekerja. Memang dasar si gila kerja.


"kamu juga perlu istirahat, jangan terlalu memaksakan tubuh kamu yang gak sekuat batu itu."


"aku males dirumah sendiri. "


"makanya cari istri,  biar rumah kamu gak sepi." ucap olive keceplosan.


"kamu istri aku. "


Damn, olive baru sadar jika ucapannya itu sangat-sangat tidak pada tempatnya.


"udah selesai, aku mau balik kerja terima kasih makan siangnya. " ujar olive mengalihkan pembicaraan dan berlalu pergi.


Fabian menahan tangan olive yang akan pergi meninggalkannya. Olive mengerutkan keningnya tidak suka, menghempaskan tangan fabian kasar. Tapi, percuma kekuatan fabian jauh lebih besar dari kekuatannya.


"lepasin, aku harus kerja. "


"besok aku jemput kamu jam 10 pagi. " ujar fabian perlahan melepas tangan olive dan berlalu keluar.


"itu orang sinting kali ya, belun juga aku jawab iya apa gaknya, udah pergi aja keluar. Gak sopan!. Bukannya tadi dia bilang ada meeting. Bener-bener gak waras tu orang."

__ADS_1


***


__ADS_2