
Fabian kembali mematut tampilannya kecermin, kaos putih beserta jens hitam menjadi pilihannya pagi ini. Senyum lebar selalu tampak diwajahnya yang tidak terawat beberapa minggu ini. Rambut memanjang dan juga jambang yang tumbuh dibiarkan begitu saja. Sangat-sangat berbeda jika dibandingkan dengan penampilannya seperti biasa.
Mama sarah hanya mampu geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang tidak biasa.
"bi, mau kemana? " tanya mama basa-basi.
Hubungannya dengan biang memang sudah membaik belakangan ini. Tentu saja sarah sangat bersyukur dengan perubahan fabian yang sudah mulai menerimanya dan perlahan menerima masa lalu.
"pergi sama olive ma, bian udah telat. Berangkat dulu. assalamualaikum. " ucap fabian mencium tangan sarah lalu berlalu pergi bersama mobilnya.
Rasanya sebahagia ini, setelah sekian lama pada akhirnya olive mau mengajaknya pergi, apa ini yang namanya kencan?
Fabian kembali mengulum senyum mengingat hal ini, kenapa dia seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta. Mungkin lebih tepatnya sekarang dia adalah korban 'BUCIN' seperti yang sering diucapkan Oleh anak-anak milenial zaman sekarang.
Meski olive belum mengatakan untuk memaafkan dan menerima dirinya kembali, itu tidak apa-apa sungguh tidak apa-apa. Dengan ini fabian harap olive memberikan lampu hijau untuknya melangkah maju.
Meski kadang fabian harus ektra sabar menghadapi sikap cuek bebek olive, melihat muka masamnya atau mendengar ucapannya yang kadang bikin banyak-banyak istighfar dan elus dada. Fabian tetap teguh pada cintanya dan akan berjuang untuk kembali.
Fabian buru-buru keluar dari mobil, melihat olive yang sudah berdiri tegak didepan pagar kayu dengan cat putih. Gadisnya terlihat sangat cantik meski hanya mengenakan kaos putih yang terlihat kebesaran dipadukan dengan celana kotak-kotak panjang warna maroon dan rambutnya dicepol tinggi.
Boleh digendong gak sih ini orang.
"aku telat."
"udah tau telat, pakek nanya lagi. Kamu gak tau kalo aku udah nunggu sampek lumutan gini." cerocos olive menggbungkan pipi sebal.
Siapa yang nanya? kan aku bilang bukan nanya. Baru juga telat 5 menit. Kenapa marahnya sudah seperti nunggu selama 1 jam. Memang benar sekali jika ada yang bilang kalo wanita itu susah dimengerti dan dipahami.
"kita berangkat sekarang." fabian membukakan pintu untuk olive. Setidaknya fabian harap bisa sedikit menurunkan amarahnya. Wanitakan suka dispesialkan.
"gak, aku mau duduk dibelakang aja. "
"loh, kok dibelakang sih yang. Akan bukan sopir kamu loh." ucapku selembut mungkin.
"yang, yang,yang apaan coba? Palakmu peyang. " balasnya dengan pupil membesar seperti mau keluar dari tempatnya.
Untung sayang.
"duduk didepan yah, aku minta maaf kalo kamu nunggunya kelamaan. Aku janji gak akan telat lagi."
"kamu maksa, ya udah aku duduk didepan."
Selama dalam perjalanan tidak ada yang membuka suara, keheningam menyelimuti, hanya suara deru mesin yang terdengar sangat lirih.
Fabian mengikuti langkah olive setelah mereka sampai ditempat yang dituju. Fabian sedikit kebingungan ketika melihat nama yang terpampang besar diatas pintu masuk .
"mas tolong potngin rambut sama dirapiin jambangnya yang udah kayak sarang lebah itu yah." pinta olive yang terlihat sudah akrab dengan laki-laki tampan didepannya.
"siap liv, siapa kamu? Kok gue baru lihat? "
"ehh,,,
__ADS_1
"saya suaminya." jawab fabian menjulurkan tangannya dengan ekpresi datar. Berbanding terbalik dengan olive yang sudah mengumpat kasar dalam hati.
"jangan dengerin omongannya dia ron, suka becanda dia orangnya." elak olive memaksa senyum lebar.
"ohh, gue kiraiin beneran suami lo. Sejak kapankan nikah, kok gue gak diundang, biasanya juga kan elo dateng sama raga atau brandon."ucap roni sudah siap mengeksekusi fabian yang duduk ditempatnya.
"raga sama brandon lagi sibuk. Gue gak mau ganggu mereka dulu." olive menepatkan dirinya disofa coklat yang tidak jauh dari keberadaan fabian.
"ini jambang, mau dibasmi semua? "
"jang,,,,
"iyalah ron, buat apa coba gue bawa dia kemari. Lo tau sendiri gue gak bisa bersihin yang begituan. Jangan aja yah itu dagunya ikut lo basmi juga. Gue timpuk lo pakek sepatu."potong olive sambil membaca majalah yang berada disana.
"buset dah bu, judes banget lo. Lagi PMS ya?"
"mau tau aja lo." ucap olive sewot.
Fabian sedikit pusing mendengar perdebatan mereka.
"masnya kok betah yah, jalan sama olive yang mulutnya udah kayak cabe rawit 10 kilo. "
"dia baik." ucap fabian singkat.
"baik dilihat dari segimananya coba mas. Olive mah gak ada baik-baiknya sama sekali."
"saya tetep cinta sama dia."
Yang namanya orang kalo sudah jatuh cinta, pasti akan tetap memandang pasangannya baik apapun itu, karena mereka mau menerima segala kekurangan yang dimiliki pasangannya, karena sejatinya manusia itu tidak ada yang sempurna. Karena jodoh itu bukan hanya cerminan diri tapi juga pelengkap.
"udah selesai mas. "
Fabian menatap dirinya dipantulan cermin yang berada didepan. Tak bisa dipungkiri, jika memang wajahnya itu memang sangatlah tampan. Rambutnya yang sudah dipotong rapi dan juga jambang sudah hilang tidak terlihat.
"liv, gimana cakep gak?" tanya roni pada olive yang menatap fabian tak berkedip.
" emm.. I..ya." jawab olive gugup.
Aduh ini mulut gak bisa bohong dikit apa.
Fabian menahan senyumnya mendengar olive mengakui ketampanan yang sudah ia miliki sejak lahir. Sombong dikitkan boleh.
"makasih ya mas,kita pamit. Selamat siang." ujar fabian setelah membayar lalu pamit pergi.
"iya, iya mas. Semoga puas dengan hasilnya. Jangan sungkan untuk kembali." jawab roni tersenyum lebar.
"gue pulang ya ron. Thanks buat semuanya." pamit olive melambaikan tangan.
"hati-hati."
***
__ADS_1
Suasana kedai ice krem terkenal terlihat ramai siang ini, fabian menatap takjub olive yang sudah menghabiskan 3 cup ice krem strawberry kesukaannya dalam waktu 20 menit. Ini adalah ice krem keempat yang dimakannya.
Doyan banget, giginya gak berasa ngilu apa.
"pelan-pelan makannya." ucap fabian tak suka.
"ini tu, enak loh mas. Cobain deh."
Mas? Kalo lagi seneng aja panggilnya mas. Coba kalo setannya lagi keluar. Boro-boro mas, natap aja udah tajem setajem silet.
Fabian menatap cup ice kremnya yang masih utuh, dirinya sama sekali tidak menginginkan makanan dingin yang bikin gigi ngilu.
"ihh, malah dilihatin aja. Makan dong, coba dulu." ujar olive menyuapkan satu sendok kecil kemulut fabian yang terpaksa membuka dan menerima pemberian olive.
"gimana? Enakkan?" olive berucap antusias sambil tersenyum lebar.
"lumayan." jawab fabian singkat.
"lumayan aja, gak ada jawaban lain apa?" tanya olive memberwnggut kesal, karena menurutnya ice krem disini adalah salah satu tempat ice krem terenak dalam daftar favoritenya.
Fabian kembali menatap ice kremnya tanpa selera membuat olive menarik cup milik fabian dan memakannya sendiri.
Sayang dibuang, dari pada mencair gak karuan. Mending aku makan.
Fabian mengambil cupnya dari hadapan olive tidak suka "nanti kamu sakit kebanyakan makan ice krem." ujarnya dengan ekspresi datar.
"aku bukan bocah." ujar olive kesal "balikin ice kremnya, aku masih mau makan." rengek olive berusaha mengambilnya dari fabian.
"gak boleh."
"balikin, balikin sini." olive masih mencoba merebut ice krem dari tangan fabian, meskipun sudah mengahbiskan 4 cup, dirinya masih menginginkan kudapan manis itu.
"GAK BOLEH."
Olive membelalakkan matanya, mendengar ucapan fabian yang terlihat marah.
"KENAPA GAK BOLEH, SIAPA KAMU NGELARANG AKU. SIAPA? " entah setan apa yang merasuki olive, hingga berani meninggikan suaranya pada fabian.
"AKU SUAMI KAMU!" jawab fabian penuh penekanan disetiap kalimatnya.
Mereka sama sekali tidak memperdulikan berapa banyak pasang mata yang melihat mereka sembari geleng-geleng kepala dan berbisik-bisik ria.
"Suami?" olive berdecak pelan menatap fabian tajam, lalu pergi begitu saja meninggalkannya.
Langkahnya lebar sambil terus mengumpat dan mengatai fabian tanpa melihat kanan dan kiri.
Brakk
Hingga decitan suara rem mobil berdenyit keras membuat seseorang berlari menangis menghampiri seorang yang tergeletak lemas didepannya.
***
__ADS_1