Olive

Olive
Pria gila


__ADS_3

Roda kehidupan akan terus berputar,  ada kala saat berada diatas dan kadang dibawah . Ada saat bahagia dan ada juga ketika terluka. 


Olive memasuki rumah mewah milik suaminya. Suami?  Bahkan olive tidak merasa bahwa laki-laki bernama zayn fabian telah menjadi suaminya sekarang. Terpaksa?  Satu kata yang mewakili keputusan yang olive buat untuk menerima pernikahan konyol ini,  ia tidak mau jika harus berurusan dengan hukum dan malah mempersulit keadaan. Mereka hanya menikah dengan sederhana hanya di KUA,  karena fabian mengerti keadaannya sekarang yang masih seorang pelajar,  jadi sungguh tidak mungkin jika harus melaksanakan pernikahan yang mewah.


Olive menatap foto besar didinding ruang tamu,  foto gadis belia dengan seragam smp tengah tersenyum kearah kamera.


Ehm..


Suara deheman dari fabian yang baru saja masuk kerumah mengagetkan olive yang tengah sibuk memikurkan kapan dirinya pernah bertemu gadis dalam foto itu.


Brukkk...


Olive kembali dikejutkan dengan lemparan tas berat dibelakang punggungnya. Untung saja dirinya masih bisa menjaga keseimbangan tubuh sehingga tidak sampai tersungkur menatap meja yang berada didepannya.


" bawa tas saya dikamar dengan pintu hitam. " perintah fabian tanpa mau menatap olive.


Olive yang meringis kesakitan lantas membulatkan matanya lebar. Masih tak percaya dengan perkataan fabian. Dari awal laki-laki itu sama sekali tak pernah tersenyum atau menatap matanya saat bicara,  hanya menunjukan ekspresi datar dan tatapan tajam yang sama sekali tak membuat olive takut.  Fabian,  laki-laki gila yang pernah ia temui ditaman pagi itu. Laki-laki yang tak pernah olive harapkan untuk bertemu kembali barang sekalipun. Olive tidak ingin menjadi wanita lemah yang takut dengan sikap dingin laki-laki yak berekspresi seperti fabian itu.  Tanpa mau menuruti kemauan fabian olive masih berdiri ditempatnya.


" kamu tidak punya telinga untuk mendengar. " suara berat fabian kembali menerpa pendengaran olive yang masih sibuk mengingat siapa sebenarnya gadis kecil yang berada difoto itu.


" itu bukan tas saya,  jadi anda bisa membawanya sendiri. " bantah olive balik menatap tajam fabian yang menatapnya dengan rahang mengeras.


" cepat turuti perintah saya atau kamu akan menerima hukuman. " tegas fabian mendekat kearah olive dengan tatapan nyalang.  Bukannya takut olive malah tersenyum mengejek fabian.


" silahkan,  saya tidak akan takut. " tantang olive dengan santai.


Fabian menarik kasar tangan olive berjalan menuju sebuah kamar dibawah tangga,  membuka pintu kamar mandi dan mengunci olive disana.  Olive yang terlejut dengan perbuatan fabian menggendor-gendor pintu kamar mandi dengan keras,  berteriak agar fabian membukakan kunci untuknya,  ia tidak mau mati konyol dikamar mandi seperti difilm yang pernah ditontonnya.


" woy, buka pintunya, gue gak mau mati disini. Buka pintunya. " teriak olive dari dalam kamar mandi.  Sedangkan fabian hanya tersenyum miring dan berlalu pergi menuju kamarnya.


*Flasback on


Fabian menatap lekat wanita bernama olive zania atdmojo yang berada didepannya sekarang.


" mau bapak apa? " tanya olive tergesa-gesa tak ingin berlama-lama bersama laki-laki dewasa yang sudah membeli dan mengancamnya itu.


" kita nikah. "

__ADS_1


Uhuk uhuk


Olive meletakkan coklat dingin yang sedang diseruputnya.  Menghapus sisa-sisa coklat yang berada dibibirnya. Menetralkan tenggorokannya yang terkejut mendengar jawaban singkat fabian.


" kesepakatan yang sudah kamu tanda tangani. " lanjut fabia dengan ekpresi datarnya tanpa melihat olive yang masih terkejut dengan pernyataan konyol fabian.


" bapak gila,  gue masih sekolah."


" kita bisa merahasiakannya. " olive kembali dibuat jengkel setengah mati dengan jawaban fabian yang terkesan gila.


"saya gak setuju. " olive menolak keras ucapan fabian.


" saya gak minta persetujuan dari kamu. Ini kewajiban bukan permintaan. " fabian meletakkan 2 lembar uang ratusan ribu rupiah kemmudian pergi meninggalkan olive sendiri.


Olive menundukan kepalanya dimeja, menggerutu meratapi nasib hidupnya yang sangat mengenaskan ini. Kenapa harus dia?  Bukan orang lain?.


2 hari setelah pertemuan itu,  olive dikejutkan dengan kedatangan 5 laki-laki berseragam hitam membawanya masuk kedalam mobil dengan paksa. Olive berusaha memberontak namun hanya sia-sia tak menghasilkan apapun. Hingga akhirnya dirinya sudah berada didepan bapak berpeci hitam dan beberapa saksi yang tak dikenalnya dan tanpa terkecuali fabia dengam muka datarnya sudaj duduk didepan meja yang sudah dibungkus dengan taplak putih biasa.


" bagaimana bapal fabian,  apa sudah siapa?"


" siap pak,  bisa kita mulai sekarang. "


Olive sama sekali tak habis fikir dengan rencana gila fabian,  bagaimana bisa dirinya melaksnakan pernikahan dengan mengenakan kaos oblong dan jeans yanh sudah pudar warnanya.  Tanpa ada hiasan ataupun make up tipis diwajahnya.


Memang dasar bapak gila. Sangat menyebalkan.


Flasback off*


***


Fabian membuka pintu kamar mandi dan melihat olive yang sudah menggigil kedinginan dengan wajah pucat sedang duduk mengeratkan lututnya.  Fabian mengakat tubuh olive dan membawanya ketempat tidur.


" minum dulu. " fabian menyodorkan satu gelas jahe hangat pada olive dan langsung diterimanya.  Saat ini olive tak mau memikirkan tentang harga dirinya karena menerima orang yang telah membuatnya menjadi seperti,  yang terpenting sekarang adalah mempertahankan hidupnya agar tidak mati ditangan laki-laki jahat didepannya ini.


Bukan hanya jahat,  tapi juga kejam , pemaksa dan tidak punya rasa prikemanusian.  Bayangkan saja apa sebenarnya mau laki-laki ini,  kenapa juga dia mau menolongnya.


"pakai ini, saya tidak mau masuk penjara gara-gara wanita lemah seperti kamu. " olive menerima jaket tebal dan selimut yang dibelika fabian.

__ADS_1


" kamu jangan kepedean,  saya melakukan ini karena tidak mau melihat kamu mati,  karena saya ingin menyiksa kamu secara perlahan hingga akhirnya kamu menderita dan berakhir dengan mengakhiri hidupmu sendiri. " setelah mengatakan hal mengerikan itu fabian keluar kamar dengan wajah memerah dan tangan mengepal membanting daun pintu dengan keras.


Satu bulir bening menetes dipipi sebelah kiri olive


" gue gak boleh lemah,  gak boleh takut. " ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Dengan sedikit tertatih olive berjalan menuju dapur mengambil baskom dan air hangat untuk mengompres dirinya sendiri.  Jika bukan dia,  siapa lagi?  Tidak ada orang lain dalam rumah sebesar inu kecuali mereka berdua .


***


Didalam kamar fabian terus memandangi foto gadis belia yang tengah tersenyun dengan permen likipop ditangannya menikmati indahnya bintang malam.


" kamu apa kabar disana? Kakak kangen? " gumamnya sambil terus menatap foto yang dipegangnya.


"kakak akan membalas orang yang terlibat dalam kematian mu dek.  Percaya sama kakak,  perlahan-lahan satu persatu dari mereka akan tersiksa. "


Klonteng...


Suara benda jatuh membuat fabian sadar dari lamunannya.


" apalagi yang dilakukan wanita bodoh itu. " gumam fabian meletakkan fotonya didalam nakas dan keluar kamar menuju asal suara.


Sesampainya didapur fabian melihat dua panci tergeletak diatas lantai coklatnya.


" apa yang sedang kamu lakukan? " tanya fabian mengerutkan keningnya menatap olive tajam sambil melipat kedua tangannya angkuh menghampiri olive yang sedang membereskan kekacauan yang dibuatnya.


" bukan urusan bapak. " olive menatap muak laki-laki yang berada didepannya itu.


" jaga ucapan kamu,  ini rumah saya. "


" gue istri bapak,  perlakukan gue dengan baik. " ucap olive menatap tajam pada fabian yang tersenyum miring mendengar ucapan olive.


" istri?  Siapa yang menganggap kamu istri?  "


" kamu hanya seorang pelayan bagi saya.  Jadi,  jaga sikap. "


Fabian berjalan memasuki kamarnya meninggalkan olive yang sedari tadi menahan amarahnya.

__ADS_1


Jika hanya pelayan, kenapa harus menikah? Dasar pria gila!!


                                              ***


__ADS_2