Olive

Olive
Kesambet apa?


__ADS_3

" memangnya salah gue apa kebapak?  Saya salah apa? " teriak olive muak dengan perlakuan fabian.


Plakk


Fabian menamapar keras pipi kiri olive hingga tercetak warna merah disana. " jangan berani-beraniya berteriak didepan saya. "


" kenapa?  Kenapa?  Bapak itu pantas mendapatkannya. " ucap olive tegas balas menatap fabian tak kalah tajam.


" pelankam suaramu atau aku akan melakukan hal yang lebih mengerikan dibanding dengan tamparan ringan itu. "


Ringan?  Ringan dari mana coba,  gak ngerasa apa pipi gue sampek nyeri banget.


" terserah !


" kamu mau tau siapa gadis belia itu? " fabian menunjuk foto-foto yang berjajar rapi disana.


" kamu itu pembunuh,  olive. " olive membelalakan matanya tak terima dengan tuduhan fabian.  Pembunuh apa maksudnya.


" kamu ingat,  gadis berkaca mata tebal yang memberikan kotak pink dengan pita bunga pada sahabat kamu ? Dia Melisa andriani dan dia adalah adik saya yang sudah kamu bunuh. " olive langsung ingat dengan gadis yang dimaksud fabian dan kotak yang masih disimpannya dilaci kamar.


"gue tegaskan pada bapak,  kalo gue TIDAK MEMBUNUH SIAPAPUN DAN BUKAN PEMBUNUH.


"hahahaha. " tawa fabian menggelegar memenuhi ruangan yang mereka tepati membuat olive bulu kuduk olive meremang takut.


" kamu tahu,  apa isi kotak yang dia kasih buat sahabat bodoh kamu itu? " fabian berdiri memandang langit malam yang terlihat suram. " saya yakin kamu gak bakal tau. " fabian berjalan menghampiri olive dan mengeratkan tangannya mencengkram dagu olive dengan kuat. Olive meringis sakit tanpa bisa berbuat apapun.


" satu minggu,  melisha menyiapkan hadiah itu,  dengan senyum bahagianya,  berharap hadiah pemberiannya akan diterima dan dihargai. Tapi apa? Malah diberikan pada orang lain,  tanpa mau membukanya terlebih dahulu. " fabian tertawa sumbang melepaskan cengkaramannya berjalan memyenderkan punggungnya didinding menundukkan kepalanya menatap lantai dengan tatapan kosong.


" Dia hanya ingin bertemu sebentar saja, dia... dia ingin laki-laki brengsek itu tahu,  bahwa dia mengamguminya.  Tidak lebih,  tidak berharap perasaannya dibalas atau apapun,  karena dia tahu waktunya tidak banyak. Melissa kehujanan dan kedinginan,  dia..  dia pergi. " fabian meneteskan air mata mengingat betapa terluka adiknya saat itu.


" melissa sakit,  melissa....  sakit kanker stadium akhir, dia sakit. " tubuh fabian merosot kelantai begitu saja,  kakinya tak sanggup untuk sekedar berdiri. Tanpa sadar olive ikut meneteskan air mata,  melihat fabian yang begitu rapuh dan sangat terpukul,  olive paham bagaimana rasanya ketika orang terkasih pergi meninggkan kita untuk selamanya, ia paham!  Sangat paham.


" maaf,  gue bener-bener mintak maaf.  Tapi,  bapak juga harus sadar bahwa kepergian melissa bukan sepenuhnya salah gue, tapi itu juga takdir. " fabian menatap olive dengan tatapan penuh amarah.


" takdir?  Takdir apa yang kamu maksud?  Hah?  " fabian kembali mencengkram rahang olive dengan kuat. " kamu tetaplah PEMBUNUH. " ucap fabian penuh penekanan kemudian keluar meninggalkan olive yang masih terikat.

__ADS_1


" pak,  lepasin ikatan gue dulu,  sakit...." teriak olive berharap fabian sedikit berbaik hati padanya.


***


4 jam kemudian...


Fabian kembali memasuki kamar melissa,  matanya langsung menangkap sosok olive yang tertidur diatas kursi dengan ikatan tangannya. Perlahan fabian lepaskan ikatan kedua tangan gadis itu,  lalu membawanya keluar kamar dengan hati-hati.  Sesampainya dikamar olive,  fabian membaringkan tubuh ringkih wanita yang menjadi pelampiasan dendamnya , lalu memasangkan selimut hingga menutupi separuh badannya.


" maaf,  karena sudah menyakitimu. " ucap fabian lirih sembari mengompres pelan pipi olive yang memerah karena tamparannya.


Ini bukan termasuk dalam rencanya semula!  Mengobati luka yang disebabkan oleh tangannya sendiri.  Niat awalnya untuk balas dendam dan melampiaskan kemarahannya atas kepergian melissa. Tapi,  entah mengapa setiap kali selesai menyakiti wanitanya,  fabian merasa bersalah dan takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada olive akibat perbuatannya. Entahlah,  melihat olive apalagi saat dia melebarkan senyumnya membuat hati fabian menghangat dan sedikit bahagia.


***


Olive mengerjapakan matanya berulangkali,  menyesuaikan pandangannya dengan sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela yang berada dikamarnya.


" loh,  kok gue disini. " olive menatap bingung dirinya,  bukannya semalam fabian meninggalkannya yang terikat dikamar melissa. Tapi,  kenapa sekarang dirinya sudah berada dikamarnya.


Olive memijit pelipisnya yang berdenyut sakit, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi semalam. Siapa yang sudah berbaik hati membawanya kesini.


" makan. "


" gak laper. " tolak olive tak membuka mulutnya untuk menerima suapan bubur yang diberikan fabian.


" jangan menolak,  saya tidak suka dibantah. " kata fabian dingin.


" gue juga gak suka dipaksa. " balas olive tak kalah dingin.


" saya tidak mau berdebat dengan kamu olive,  turuti saja apa yang saya katakan. Jangan membantah. " tak ingin berdebat dengam fabian atau malah nanti kembali menerima kekejaman fabian,  olive membuka mulutnya menerima suapan fabian.


" tidak usah pergi kesekolah. "


"kenapa? "


" kamu sedang tidak sehat, jangan merepotkan saya."

__ADS_1


Merepotkan!  Bukannya dia yang merepotkan hidup gue,  yang memporak-porandakan kebahagian kecil yang gue rasain.


" gak bisa pak,  gue harus tetep sekolah. " rengek olive dengan wajah memohon.


" kenapa? "


" hari ini ada ujian,  lagian gue juga masih sehat.  Gue gak papa,  masih sanggup berdiri. " fabian menatap tajam olive dengan tatapan tidak suka.


" gue janji,  gak bakal ngerepotin bapak. Janji. " ucap olive memajukan jari kelingkingnya didepan fabian. Bukannya berbalik menautkan jari kelingkinya,  fabian hanya diam.


" ih,  kok diem aja sih pak. Gue,  janji gak bakal ngerepotin bapak. " olive mengambil tangan fabian dan menautkan jari kelingking mereka. " izinin buat sekolah yah. " rengek olive menautkan kedua tangannya.


" baik...


" yeayyy,,,  terimaksih bapak fabian yang ganteng. " sorak olive merentangakan kedua tangannya hendak memeluk fabian,  namun langsung terhenti begitu mendengar ucapan dingin fabian.


" tapi,  kamu harus langsung pulang tepat waktu dan jangan pergi kemanapun dengan alasan apapun. Mengerti?  "


" siap pak,  tugas disetejui. " ucap olive mengakat tangannya hormat sambil tersenyum lebar.


" habisin. " fabian kembali menyuapkan bubur yang masih setengah .


" gak mau wortelnya. " rengek olive mencoba menghilangkan sayur warna orange itu dari sendoknya.


" jangan dibuang,  itu sehat.  Jangan dikunyah,  langsung ditelan.  Jika kamu tidak suka. " ucap fabian dingin,  membuat nyali olive menciut tak berani membantah.


Fabian menyerahkan satu gelas susu hangat dan langsung diterima oleh olive,  lalu meneguknya hingga tandas.


" terima kasih. " ucap olive menyerahkan gelas kosongnya pada fabian si muka datar.


" itu orang,  kesambet apa ya?  Tumben baik,  sama gue. " gumam olive lirih setelah kepergian fabian dari kamarnya.


Olive menggelengkan kepalanya kuat " kenapa jadi mikirin pak bian,  bodoh amat deh,  dia mau ngapain, gue mau sekolah. " ucap olive pada dirinya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2