Olive

Olive
Kopi


__ADS_3

Olive keluar mobil dengan langkah malas menuju rumah berwarna coklat muda didepannya.  Rumah yang menjadi neraka baginya,  rumah yang sepi tak berpenghuni kecuali dirinya dan laki-laki jahat itu siapa lagi jika bukan zayn fabian. Hampir setiap hari olive menerima hukuman jika sedikit saja membantah perintah suaminya itu.  Lebih tepatnya majikan,  karena disini olive harus patuh pada fabian dan menuruti semua perintahnya,  membersihkan rumah besar ini setiap sepulang sekolah,  memasak makan malam dan melakukan banyak pekerjaan lainnya.  Olive saja heran kenapa fabian tidak memiliki pembantu,  hanya ada sopir yang menjemput dan mengantarnya sekolah setiap hari,  itupun beliau langsung pulang ketika pekerjaannya selesai.


" lo harus kuat liv,  jangan nyerah.  lo gak gak boleh cengeng atau nyerah. Lo pasti bisa. Tunjukin pada laki-laki gila itu kalo kamu kuat. "


Olive meletakkan tas hitamnya diatas nakas mengganti seragamnya dengan baju rumahan,  mengucir rambutnya asal dan mulai mengerjakan tugasnya,  mulai dari menyapu,  mengepel dan membersihkan debu yang tengah duduk manis ditempatnya. Setiap hari,  sepulang sekolah olive harus melakukan semua tugas rumah tangga,  sebenarnya ia tidak pernah mempersalahkan ini,  tapi hanya saja hatinya lelah dengan perlakuan kasar fabian padanya,  pernah sekali ia bertanya apa alasan  fabian melakukan hal ini padanya, bukan jawaban malah tamparan yang olive dapat dari fabian dan langsung mengunci olive dikamar.


Olive mulai membereskan peralatan masaknya setelah selesai mengerjakan tugasnya,  makan malam sudah tertata rapi diatas meja. Olive menuju kamar untuk membersihkan tubuhnya uang sudah terasa lengket.


***


" masakanmu terlalu pedas, terlalu asin dan tampilannya kurang menarik. " olive membulatkan matanya mendengar kritikan pedas yang diajukan fabian.


" jangan lagi masak makanan seperti ini. "


" baik pak. " jawab olive singkat,  saat ini ia sedang malas jika harus berdebat dengan fabian dan akan berakhir dengan sebuah hukuman.


Olive terus berdiri disamping fabian,  hingga laki-laki itu selesai makan dan beranjak dari tempat duduknya menuju kamar. Olive menghembuskan nafas lega,  sepertinya hari ini dia tidak akan mendapatkan hukuman dari fabian,  dengan sigap olive membereskan bekas piring fabian dan memasukkan lauk pauk yang tersisa didalam kulkas.


***


Satu bungkus coklat bulat berada dekapan olive yang fokus pada acara yang sedang tayang ditelevisi,   sesekali tawanya pecah melihat kelakuan lucu sepasang kartun berbeda jenis itu . Biarkan sejenak olive melupakan masalahnya dan bersantai sedikit menikmati waktu senggangnya.


" buatkan saya kopi." perintah yang diajukan fabian yang sudah duduk disampingnya membuat olive  bergegas berjalan menuju dapur.


" gulanya sedikit. "


" iya. " jawab olive malas sambil menggerutu.


" gak bisa lihat aku santai dikit kek,  dasar tukang suruh. " gerutu olive sambil menuangkan air hangat kedalam gelas yang sudah berisi gula dan kopi.


Olive berjalan pelan menuju ketempat fabian yang sedang fokus pada acara berita yang sedang berlangsung.


" kopinya pak. " olive menyerahkan satu gelas kopi hangat pada fabian dan langsung diterima oleh sang empunya.

__ADS_1


Baru saja dua langkah kakinya berjalan,  tangan kanannya dicekal tiba-tiba,  hingga membuat olive memutar wajah dan melihat fabian dengan heran.


" temani saya disini. "


What?  Apa?  Temani?  Gak salah dengerkan aku,  sejak kapan iblis ini berubah jadi malaikat. Apa pak fabian salah minum obat tadi,  apa dia lagi menang tender besar dikantornya. Berubah banget!


" duduk. " fabian menepuk sofa kosong yang berada disampingnya, membuat olive memetauhi perintahnya tanpa bisa menolak.


Hening,  tidak ada yang berbicara dan membuka obrolan diantara mereka hanya ada suara televisi yang menggema diruangan itu.


" pak." cicit olive ragu


"emm...


Emm..  Eemm,  kek gak ada jawaban lain aja selain itu,  irit banget kalo ngomong, padahal gratis loh gak pekek bayar. 


" gue bo.. leh permisi kekamar,  besok ada ujian jadi saya harus banyak belajar biar dapet nilai bagus.


" bawa bukumu kesini. "


" nanti dimatikan,  ambil saja bukumu dan cepat kembali kesini. " perintah fabian dengan ekspresi datarnya lalu menyeruput kopi yang berada diatas meja.


Olive menghembuskan nafasnya panjang, berjalan gontai menuju kamar untuk mengambil bukunya.


" pak. " panggil olive disela belajarnya,  bian tidak dengan ucapannya,  sekembalinya dari mengambil buku,  tv sudah dalam keadaan mati dan fabian fokus dengan laptop yang diletakkan diatas pahanya.


"emm..


Olive menyebikkan bibirnya " bapak lagi ngapain,  serius banget?  " olive mendekatkan kepalanya melihat layar laptop yang membuat fabian sangat fokus dan tak bergeming.


Fabian menatap olive tajam dan menoyor kepala gadis olive pelan,  membuat olive melototkan matanya kearah fabian yang duduk diatas sofa.


" bapak gak sopan benget sih,  jadi orang.  Main noyor kepala aja.  Gak boleh, nanti gue tambah ******. "

__ADS_1


" kamu ****** udah dari sana, gak usah ngeles. "


" enak aja, gue itu waktu sd selalu dapet juara 10, terus pas smp selalu masuk 15 besar dari 50 siswa.  Kan gak ******-****** amat. " olive tampak tak terima dengan hinaan tajam fabian.


" pedes banget kalo ngomong. " gerutu olive kembali fokus pada tugasnya.


" kamu sakit? "


Olive menolehkan kepalanya menatap fabian dengan kening berkerut " sakit? Iya,  sakit hati karena omongan pedes bapak. "


" saya kalo ngomong gak pernah pakek cabe,  jadi gak mungkin pedes. "


Apa-apaan ini?  Apa laki-laki kejam ini sedang bercanda?  Tanpa mau membalas ucapan tak berfaedah fabian.  Olive hanya menggelengkan kepalanya pelan dan kembali fokus pada tugasnya.


" pak,  foto perempuan berseragam smp didepan itu siapa?" fabian meremas kuat kertas yang berada ditanganya,  rahangnya tampak mengeras menahan amarah, seketika dirinya ingat akan tujuan pada wanita yang sedang berada disampingnya.  Fabian menutup cepat laptopnya dan menarik tangan olive dengan kasar.


"aww, pak sakit.  Lepasin !" olive mencoba memberontak untuk melepaskan cengkraman erat dari fabian yang membuat pergelangan tangannya memerah.  Tapi,  percuma fabian tak kunjung melepaskan tangannya malah membawa olive masuk kedalam kamar dengan pintu warna pink yang berada disebelah kamar fabian.


Fabian mendudukan olive dengan kasar diatas kursi kayu didepan cermin hias yang terletak dikamar mendiang adiknya. Olive meringis kesakitan menerima perlakuan kasar fabian yang menyakiti punggungnya.


" kamu mau tahu siapa dia? " tanya fabian tepat ditelinga olive.


Olive sedikit takut mendengar pertanyaan fabian yang membuat merinding.


"hahahha.. " suara tawa fabian menggelegar memenuhi ruangan yang sedang mereka tempati.


" olive..  Olive.  Kamu adalah wanita bodoh yang sudah masuk dalam rencana saya. " fabian memegang dagu olive dengan senyum devilnya.


" mak...  sud bapak? " bukannya menjawab fabian mengikat tangan olive hingga tak bisa bergerak.


" pak,  apa sudah gila.  Ini sakit. " teriak olive meronta.


" rasa sakit yang kamu alami,  gak sebanding dengan rasa sakit yang saya rasakan. "

__ADS_1


***


__ADS_2