
Bel pulang sudah menggema disegala penjuru sekolah, dari atas sampai bawah. Semua siswa berhamburan keluar meninggalkan kelas mereka memuju tempat parkir mengambil kendaraan mereka masing-masing. Olive dengan malas memasukan buku-bukunya kedalam tas, berakhirnya jam sekolah adalah awalnya untuk terkurung dirumah seprti seekor burung disangkar emas.
" hari ini kita latihan. " sabrina berhenti sebentar tepat disamping olive dengan tangan yang dilipat didepan dada.
" kapan? " tanya olive membuat sabrina menghentikan langkahnya.
" tahun depan. Ya, sekarang lah. Cepetan udah ditunggu sama yang lain diparkiran. " olive melangkahkan kakinya mengikuti sabrina menemui kalian tau sendirilah yah siapa, mereka yang diam-diam olive rindukan keberadaannya. Senyum mereka bukan diperuntukan untuk dirinya, tapi untuk mereka dua wanita yang baru hadir dikehidupan sahabatnya, bahkan lebih tinggi derajatnya jika dibandingkan olive yang hanya sahabat, eh mungkin mantan sahabat bagi mereka.
" yang yuk berangkat. " maria sengaja bergelayut manja ditangan kokoh brandon.
***
Olive hanya berdiri bersandar didinding ruang musik yang berada dirumah arga sendirian, sambil melihat dua pasang sejoli yang sibuk menikmati makan siang mereka didekat kolam berenang. Semuanya benar-benar telah berubah, arga, brandon tak lagi bersikap hangat padanya, tidak ada lagi paksaan dan ocehan dari mereka saat olive melewatkan makan siangnya karena malas. Mereka terlihat sangat bahagia, berbanding terbalik dengan dirinya yang masih saja merasa kehilangan mereka. Tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan tatapan brandon yang menatapnya datar, olive melebarkan senyumnya pada brandon, hatinya mencelos ketika brandon tak membalas senyumnya, malah mengalihkan tatapannya pada maria yang sedang makan tepat disampingnya. Sesesak ini rasanya diabaikan.
Sudah hampir dua jam, olive menunggu kedatangan mereka untuk melanjutkan latihan. Tapi, nyatanya mereka tak kunjung manampakkan batang hidungnya kembali keruangan. Olive menatap sekeliling ruangan yang dulu sering didatanginya. Foto kebersamaan mereka yang biasanya tergantung cantik di dinding, nyatanya sekarang sudah tak terlihat lagi jejaknya. Piano yang tertutup menjadi tumpuan olive menidurkan kepalanya. Rambut panjangnya sengaja diuraikannya hingga menutup pipinya yang masih memar. Dinginnya Ac membuatnya dengan mudah terlelap begitu saja.
***
Arga membuka pintu perlahan, matanya langsung menangkap sosok olive yang tengah tertidur diatas pianonya. Tangannya terulur membenarkan rambut olive yang menutupi wajah sahabatnya itu. Ada rasa berbeda, ketika melihat pipi olive yang memar dan sedikit bengkak.
Merasa ada yang menyentuh pipinya, olive membuka kedua bola matanya dan melihat sosok arga yang berada disampingnya dengan posisi jongkok sejajar dengan dirinya.
" arga... "
Tak ada jawaban, arga hanya menatap olive dengan ekpresi yang sulit diartikan. Membuat olive bingung harus bersikap seperti apa, karena sekarang mereka telah berbeda dan tak lagi sama. Arga berdiri keluar ruangan tanpa kata, membuat olive menghembuskan nafasnya pelan.
__ADS_1
" syukur deh, kalo arga pergi. Gak tau apa gue berusaha sekuat tenaga buat gak meluk dia. " ucap olive pada dirinya sendiri. Tangannya sibuk merapikan rambutnya kembali sampai menutupi pipinya.
Dengan cepat, arga menahan tangan olive dan mengikat rambut panjangnya. Mengeluarkan handuk kecil yang telah dibasahi dengan air dingin yang dibawanya tadi , lalu mengoleskannya dengan parutan jahe yang dibuat bi imah tadi.
" udah gak papa, gue udah obatin tadi. " ucap olive menjauhkan wajahnya dari tangan arga yang masih mengolesinya dengan parutan jahe.
" gak papa gimana, itu memar. " olive membelalakan matanya mendengar ucapan arga untuk pertama kalinya. Apa ini tandanya, arga akan memaafkannya dan mereka akan bersama.
" jangan kepedean, gue nolongin lo cuman atas dasar kemanusian, gak ada maksud apapun. " ujar arga seakan tahu apa yang ada dalam pikiran olive.
" iya, gue tahu. "
" bagus? "
"bagus apanya? " tanya olive sengaja ingin memperpanjang obrolannya di dengan arga.
" ngerti apa coba? Orang gue gak ngerti apa-apa? " tanya olive menahan senyumnya.
" ngerti, kalo gue benci sama lo. " jawab arga dingin, lalu pergi meninggalkan olive yang menatapnya dengan mata berkaca.
" gue tau, lo benci gue. Tapi, gue mohon, jangan ngomong didepan gue, itu sakit, sakit banget. " lirih olive menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
" lo kenapa ? Pakek acara nangis bombay kayak anak alay gitu? " tanya sabrina yang baru saja masuk bersama maria. Olive mengahapus air matanya dengan cepat, ia tidak ingin terlihat lemah didepan mereka .
" gue gak nangis, kesel aja nungguin kalian. Kalian gak tahu ini udah malem, gue sampek ketiduran. " jawab olive ketus membuat maria membelalakan matanya tak suka.
__ADS_1
" terus masalah buat lo?" tanya maria angkuh, membuat olive berdiri menghampiri maria . Sudah sangat lama, olive ingin menumpahkan kekesalannya pada saudara tirinya yang tidak tahu malu itu.
" jelas, itu masalah buat gue. Buang-buang waktu berharga gue, cuman buat nungguin kalian yang gak masuk dalam daftar orang penting dalam hidup gue. " teriak olive penuh emosi, tangannya sudah mengapal kuat menahan agar tidak menampar pipi tirus maria.
" kalo lo gak suka, sana keluar dari kelompok kita. Gak bakal ada yang dirugiin kalo gak ada lo. " jawab maria tal kalah sewot menatap olive tajam.
" denger yah, mar. Lo dengerin gue baik-baik. " olive menunjuk tepat didepan mata maria ." gue gak bakal sudi buat deket-deket sama makhluk jahat kayak kalian, kalo bukan karena nilai, gak lebih. " ucapnya tegas.
" berani banget lo, ngatain gue jahat. Seharusnya lo sadar dengan kedudukan lo disini. " sabrina menghampiri olive dengan kilatan mata penuh amarah, tak terima dengan ucapan olive yang mengkliam bahwa dirinya jahat. Lah emang jahatkan yah, emang dasar manusia gak sadaran.
"kedudukan apa maksud lo? " olive tertawa sumbang menatap mereka. "ohh, gue tau. Gue bukan siapa-siapanya arga dan brandon bukan. Tapi, inget gue pernah jadi orang terdekatnya mereka. "
" orang terdekat? Itu dulu, karena sekarang lo udah kayak sampah yang gak ada gunanya dan gak punya status apapun diantara mereka, mantan sahabat lo itu. " ucapan sabrina membuat olive mengeratkan rahangnya kuat.
" gue bukan sampah, asal lo tahu. Karena sampah yang sebenernya itu kalian. " ucap olive penuh penekanan.
" olive...
Arga bersama brandon yang baru saja memasuki ruangan, tak percaya dengan ucapan kasar yang olive lontarkan pada sabrina dan maria. Olive menghampiri arga yang meneriaki namanya.
" apa? Lo mau marah sama gue, udah ngatain pacar tersayang lo itu, atau lo mau nampar pipi gue? Tampar aja gak papa, karena pipi gue udah mati rasa. " olive menyodorkan dengan sengaja pipinya kerah arga yang memandangnya dengan tatapan tajam.
" mending lo keluar dan pergi dari sini liv. " ujar brandon menatap olive datar.
" baik, gue akan pergi. " olive bergegas mengambil tasnya, dan pergi meninggalkan mereka yang masih larut dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya sabrina dengan air mata buayanya, berlari memeluk arga.
__ADS_1
***