
Olive yang baru saja kembali dari mencari pekerjaan kembali disajikan dengan rumah yang sangat berantakan, saat hati dan fisiknya sudah sangat lelah kenapa mereka tak mau mengerti.
" tuhan." ucap olive lirih menghembuskan nafasnya pelan.
Buku-buku dan bajunya berceceran dilantai, lemari terbuka disana - sini. Apa yang sebenarnya mereka inginkan sekarang. Tidak bisakah mereka tidak membuat ulah sekali saja. Matanya menangkap maria yang sedang menikmati camilan diatas bajunya yang berada dilantai sambil menonton telivisi dengan santainya.
" mar, lo apa-apain sih, kenapa rumah berantakan banget kayak gini. " ucap olive lelah.
" kenapa lo mau marah sama gue? Tugas lo lah yang beresin semuanya. "
" lo tu kenapa sih jahat banget sama gue, dengan teganya lo pura-pura gak tau dengan apa yang sebenarnya terjadi semalem. Lo sengaja? Lo dikasih uang berapa sama sabrina mar, kenapa tega benget sama gue. " olive tak mampu membendung air matanya lagi.
" yang pasti uang itu gak mungkin bisa lo kasih ke gue. " ucap maria berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan olive.
"lo gak mikirin gue mar, sedikit aja, kita itu saudara."
" cih, saudara? Lo saudara gue, gak sudi gue punya saudara miskin kayak lo. " sarkas maria berlalu
Olive menahan lengan maria " kalo lo gak sudi punya saudara kayak gue, kenapa masih disini? " olive sudah sangat bosan dengan keadaan seperti ini, ia ditindas seenaknya oleh mereka keluarganya sendiri.
"heh." maria menghempaskan tangan olive dengan kasar " mulai hari ini gue gak bakal tinggal dirumah jelek ini. "
Tiiittth..... Tiiiitthh...
Suara klakson mobil membuat maria tersenyum lebar dan berlari menuju kamarnya untuk mengambil koper.
"mama.. " olive hampir tak percaya melihat sang mama yang telah berubah penampilannya, semua barang yang dipakainya dari atas sampai bawah merupakan barang bermerk, sedangkan kemarin maria mengatakan bahwa sang mama sedang dikejar rentenir karena tak bisa membayar hutang .
"minggir. " usir mama dengan wajah angkuh, mendorong olive yang sedang berdiri didepannya.
"mulai sekarang, saya dan maria tidak akan menjadi benalu dihidup kamu lagi, gak akan tinggal dirumah sempit peninggalan papamu ini dan kita tidak ada hubungan lagi, jangan cari saya dan maria jika ada apa-apa, anggap saja kita tidak pernah bertemu. "
Maria keluar dari kamarnya dengan membawa koper hitamnya.
"mama, udah maria tunggu dari tadi. " rengeknya manja.
"maaf sayang, mama ada urusan sebentar tadi." ucap mama sambil mengelus pelan rambut maria " ya udah yuk, kita pulang. "
Maria menganggukan kepalanya cepat mengiyakan dengan senyum lebarnya, membayangkan kehidupannya yang akan kembali seperti dulu, tidak kekurangan barang sedikit pun. Bebas shoping, makan direstourant mewah, jalan-jalan dan tinggal dirumah yang bagus dan tidak panas-panasan berebut tempat duduk didalam angkutan umum.
__ADS_1
" mama mau kemana? " cicit olive lirih yang membuat sang mama mengjentikan langkah dan berbalik menatap olive.
" pergi dari kemiskinan ini dan kesialan yang kamu bawa. "ucapan sang mama membuat olive merasakan hatinya bak ditusuk ribuan jarum yang tajam, membuat air matanya kembali lolos begitu saja.
***
Maria menatap takjub rumah yang berdiri didepannya, jauh lebih bagus jika dibandingkan rumahnya yang dulu. Semuanya terlihat sangat modern dan mewah. Rumah berlantai 3 yang memiliki sebuah lift didalamnya, memiliki semuanya dari kolam berenang, ruang musik, kamarnya yang terletak dilantai 3 dengan dinding kaca yang memperlihatkan indahnya suasana dimalam hari. tempat yoga dan masih banyak lagi. Maria yakin dia akan sangat betah jika tinggal disini.
"gimana suka? " tanya sang mama yang sudah berada dibelakangnya.
Maria menganggukan kepalanya antusias " suka banget mama. "
Mama tersenyum melihat kebahagian anak kesayangannya. Semoga saja kebahagian ini akan selalu ada padanya, meski jalan yang dilakukan adalah lewat kecurangan yang harus mengorbankan orang lain, itu semua dilakukan untuk kebahagian anak semata wayangnya.
"mang tarjo, kopernya bawa dikamar anak saya. " perintah sang mama pada sopir pribadinya.
" baik nyonya. "
" kamu laper sayang? " tanya mama pada maria yang masih sibuk menatap takjub rumahnya sekarang.
Bukannya menjawab maria menatap mamanya dengan mata berkaca-kaca. " makasih ya ma. "
" mama akan ngelakuin apapun, biar kamu tetap bahagia. " ujar mama mengecup pelan kening putrinya.
" mama juga. "
Kruuk kruk...
" laper? " tanya mama begitu mendengar bunyi perut maria.
" iya. "
" kita makan diluar yuk. "
*Flasback on
Seorang wanita setengah baya tengah bermake up tebal dengan menunggu seseorang yang baru saja memberinya sebuah tawaran dengan imbalan yang menggiurkan. Setalah selama 30 menit menunggu datanglah laki-laki tua berjas rapi membawa tas kerja menuju kearahnya.
" dengan nyonya tamara? "
__ADS_1
" iya, saya tamara. "
Laki-laki tua yang bernama pak david mengeluarkan satu lembar kertas untuk ditandatangani oleh bu tamara.
" itu adalah kesepakatan yang akan kita lakukan, silahkan nyonya baca terlebih dahulu, jika nyonya bersedia tanda tangan disebelah sini*. "
Surat kesepakatan
1) ***menyerahkan dan menerima bahwa putri nyonya tamara yang bernama olive zania atdmojo akan dinikahkan dengan bapak Zayn fabian.
2) pihak pertama tidak bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi pada pihak kedua.
3)pihak pertama dan pihak kedua tidak mempunyai hubungan apapun setelah ini dan seterusnya.
4)pihak kedua tidak memiliki hak apapun kepada saudari olive zania adtmojo.
5) pihak kedua tidak boleh membocorkan kesepakatan ini kepada orang lain***.
***Jika pihak kedua atas nama nyonya Tamara adtmojo menyetujui semua yang diajukan oleh pihak pertama dengan nama bapak Zayn fabian maka pihak kedua akan mendapatkan imbalan sebesar Rp. 10.000.000.000,00 .
Pihak pertama pihak kedua
Zayn fabian Tamara***
*Bu tamara tampak berfikir setelah membaca semua poin yang tercantum dikertas putih bermatrai itu. Siapa yang tidak tergiur dengan imbalan yang diberikan , dengan uang sebanyak itu dia bersama maria bisa mulai hidup bahagia tanpa kekurangan sedikit pun seperti sekarang ini.
" apa iya, aku harus mengorbankan olive demi kebahagianku dengan maria? " bathin bu maria
Biar bagaimanapun olive tetap anaknya bukan, mereka pernah tertawa dan tinggal bersama selama bertahun-tahun, makan dimeja yang sama , bercengkrama bersama dan berbagi kasih sayang bersama.
" bagaimana nyonya? "
Bu tamara mengambil pena yang diberikan pak david dengan ragu. Pikiran dan hatinya tampak kalut memikirkan keputusan yang harus diambilnya.
" dengan uang sebanyak ini aku dan maria bisa hidup bahagia bukan, bisa membuka usaha , membeli rumah, mobil, makan enak, pergi kesalon, shooping."
Setelah memikirkan banyaknya keuntungan jika menyepakati kesepakatan ini, bu tamara akhirnya menandatangani kertas bermatrai itu. Hatinya sudah tertutup dengan iming-iming uang hingga rela mengorbankan keluarganya sendiri, tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi kedepannya.
__ADS_1
flasback off*
***