
"kak olive..
Olive yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, membalikkan badan menghadap kesumber suara.
"iya, ada apa moora? "
"ada yang mau ngelamar pekerjaan disini kak, apa ada lowongannya?"
Olive menautkan alisnya ."suruh masuk aja mba, kita butuh patner baru. "
Melihat kemajuan tokonya belakangan ini, olive kira memang dia membutuhkan beberapa tenaga kerja lagi.
Moora menganggukan kepalanya, berjalan kearah seseorang yang sedang menunggu didepan sana.
"kak olive, ini orangnya. " olive mengangkat kepalanya dari ponsel yang berada ditangannya.
"saya permisi dulu kak." pinta moora diangguki kepala oleh olive.
Matanya mendadak berembun, hatinya sesak ingin menangis, rindunya kembali membuncah melihat sosok didepan sana. Sosok yang pernah meonrehkan luka mendalam dimasa lalu.
Tak berbeda dengan sesorang yang mematung didepannya. Dia meremas amplop coklat ditangannya, menahan bulir bening yang ingin jatuh begitu saja.
"maria. "
Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibir olive saat ini. Kakinya melangkah pelan kearah saudara yang sudah lama tak dijumpainya. Tangannya merengkuh pundak yang tampak ringkih itu, menyalurkan segala rindunya dan menangis disana.
***
"kamu apa kabar? "
Olive mengawali pertanyaan, setelah tangisnya mereda. Mereka sedang duduk disebuah kafe didepan toko ditemani ice coklat yang menemani mereka.
Maria mengangkat kepalanya ragu, menatap olive yang tersenyum kecil kearahnya. Terbuat dari apa hati olive? Kenapa dia tidak membencinya, setelah semua perbuatan jahat yang dilakukannya dimasa lalu.
"apa lo gak benci gue. " bukannya menjawab, maria malah balik bertanya.
"benci? Untuk apa? " olive terkekeh kecil mendengarnya. "sempat ada rasa itu, tapi perlahan berjalannya waktu, seiring aku belajar dari kehidupan orang lain. Aku sadar, bahwa aku salah. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, begitu pula denganku. Mungkin jika bukan karena masa lalu, aku tidak akan seperti ini. Terima kasih, sudah memberi pelajaran berarti dimasa lalu. " olive menggenggam tangan maria lembut.
Tanpa bisa menahan, bulir bening itu mengalir deras membasahi pipi tirus maria yang tidak lagi semerah dulu. Hanya ada polesan sedikit disana. "maaf, maaf, meski maaf gue tidak akan mampu menyembuhkan luka lo. Gue bener-bener minta maaf. "
"aku sudah maafin kamu. "
Hening, beberapa saat. Hingga makanan mereka sudah tertata rapi dimeja.
"mama, apa kabar? "
"mama,, mama sudah meninggal. "
Olive refleks menjatuhkan sumpit yang berada ditangannya. Napasnya memburu, sendi-sendinya mendadak lemah, air matanya turun deras tanpa diminta. Mama meninggal? Sedangkan dia tidak mengetahuainya. Apa pantas olive dikatakan sebagai anak jika seperti ini.
__ADS_1
"kapan? "
"2 tahun lalu."
"kenapa gak ngabarin aku? "
"kami malu liv, gue pantes nerima semua ini. "maria membekap mulutnya kuat. Meski sudah lama, rasa sakitnya masih sama, rasa kehilangannya masih sama dan tak mau hilang beranjak pergi.
"anterin aku kesana. " pinta olive menggenggam tangan maria memohon.
Kematian itu pasti akan datang pada semua yang hidup. Entah itu kapan,tidak akan ada yang tahu atau mampu memprediksinya. Dia bisa datang kapan saja, bisa hari ini, besok, lusa atau hari-hari berikutnya. Kita sebagai makhluk yang akan merasakannya, harus siap kehilangan dan menajdi yang hilang.
***
"terima kasih sudah ngizinin gue tinggal disini. "
Olive melabarkan senyumnya mengangguk. " ini juga rumah kamu. "
Setelah perdebatan panjang mereka. Olive berhasil memenangkannya. Awalnya Olive meminta maria untuk tinggal bersamanya, namun maria menolaknya dengan alasan ia ingin mandiri dan tak mau merepotkan olive. Padahal olive sama sekali tak merasa direpotkan dan keputusan akhirnya maria mau kembali menempati rumah mereka dulu.
"kamu laper gak? Aku laper tadikan gak jadi makan." olive memegangi perutnya yang yang rata menyebikan bibirnya gemas. Maria yang melihatnya tertawa pelan. Dasar bocah!
"ihh, kok malah ketawa. " rengek olive manja.
"aku masakin nasi goreng mau? " tawar maria antusias. Olive menganggukan kepalanya cepat.
Meski tidak ditinggali, rumah mereka tampak bersih dan terawat, karena setiap minggu akan ada orang yang membersihkan rumah mereka.
"kulkasnya penuh liv, kan kamu gak tinggal disini?."
"iya, kan ada pakde yang setiap minggu dateng dan ngisi stock disini. Aku juga nyuruh pakde buat masak atau apapun yang pakde mau. Tapi, kamu tenang aja, aku udah bilang sama pakde kalo kamu udah tinggal disini. Jadi, sekarang tugas pakde cuma bersihin taman kecil disamping rumah. Gak papa kan? "
"gak papa dong liv, inikan rumah kamu. "
"mar... Olive menatap maria tajam tak setuju.
"iya,iya. Rumah kita. " olive langsung tersenyum lebar menyetujui ucapan maria.
"aku diterima gak jadi pegawai kamu?Aku butuh kerjaan soalnya. "
"kamu gak perlu kerja mar, dateng aja ditoko nemenin aku. "
"aku gak mau terus-terusan ngerepotin kamu liv. Kalo aku jadi pegawai kamu, setidaknya gak nerima uang kamu cuma-cuma. Aku menjual jasa aku kekamu. Terima yah? " maria menangkupkab tangannya dengan wajah memelas. Membuat olive menganggukan kepala tak rela.
"yeeyy, terima kasih. Sebagai gantinya aku bakal masakin nasi goreng spesial buat kamu. "
Maria terlihat lihai memotong bawang-bawang dengan jenis berbeda itu.
"udah kayak chef aja kamu mar. Pernah kerja dibidang ini? " tanya olive yang sudah disamping maria.
__ADS_1
Maria nyengir kuda, menatap olive percaya diri.
"idih, sombong banget. Awas ya kalo gak enak. " ancam olive dengan nada bercanda.
***
Dua piring nasi goreng dengan warna menyala dan sepotong ayam goreng sudah tersaji dimeja dengan asap yang masih mengepul sempurna.
"warnanya kok kuning mar? "tanya olive heran, baru kali ini ia melihat nasi goreng dengan warna menyala seperti ini.
"loh, kamu gak tau liv. Nasi goreng ini lagi trending didunia kuliner loh. Kamu coba deh,pasti kamu bakalan nambah lagi dan lagi. "
Olive mempercayai ucapan maria yang terlihat sangat meyakinkan.
Satu suap penuh nasi goreng sudah masuk kedalam mulutnya. Satu kunyahan saja membuat mata olive membelalak sempurna. Rasa itu membuat olive menatap maria yang sudah duduk didepannya dengan tatapan tak bisa diartikan.
"enak kan? " tanya maria yakin.
"aneh rasanya. " jawab olive pelan, takut maria merasa tidak dihargai.
" masa? " maria memasukkan satu sendok penuh dan langsung memuntahkannya dengan mata menyipit sempurna. Maria mengambil piring olive dan meletakkannya didapur tanpa kata. Ini benar-benar aneh. Apa dia salah memasukkan sesuatu didalam sana?
Maria berjalan kearah olive yang masih duduk ditempatnya.
"bahahahah. " maria tertawa lepas melihat ekspresi olive yang lucu dimatanya.
"kamu tau gak liv, gue salah masukin apa dinasi goreng tadi?"
"apa? " tanya olive penasaran.
"satu bungkus kunyit bubuk. "
"what? Kunyit bubuk, satu bungkus? " olive membulatkan matanya sempurna, menepuk dahinya pelan sambil geleng-geleng kepala.
"yah, aku kira iti bumbu instannya. "
"kayaknya kamu butuh kacamata deh mar, biar gak salah lagi. "
"kamu masih laper? " olive menganggukan kepalanya pelan, dia sama sekali tidak bisa bohong, jika saat ini perutnya sangat lapar dan ingin makan.
"kita masak mie instan aja yah. "
"iya, aku setuju. Tapi, kali ini biar aku yang masak. "
Maria tersenyum lebar mendengar permintaan olive dan langsung menyetujui.
Dua mangkuk mie instan dengan kuah hangat menemani obrolan panjang mereka, hingga matahari sudah berganti tugas dengan bulan dan juga bintang untuk menghiasi langit malam.
***
__ADS_1