Olive

Olive
Mata bian


__ADS_3

Yakinlah,  dengan kamu melakukan perbuatan baik kepada yang membutuhkan,  Tuhan akan terus memberi kemudahan dan kelancaran rezeki, mempermudah masalahmu dan tentunya akan merasakan kebahagian melihat senyum bahagia orang lain.


Olive berdiri didepan truk makanan menjual burger,  hotdog, bakpao,  roti bakar yang selalu mangkal setiap pagi dekat rumahnya. Selain rasanya enak dan harganya pas dikantong,  para penjual disana juga semuanya laki-laki brondong yang memiliki tingkat ketampanan diatas rata-rata dengan badan terbentuk sempurna dan jangan lupakan roti sobek diperut mereka yang tercetak jelas dari luar kaos mereka.


" pagi.... " sapa brondong yang paling ganteng diantara semua menyapa olive dengan senyum lebarnya.


" pagi rey, seperti biasa.  5 burger dan 1 hotdog. " pesan olive tersenyum ramah pada semua orang yang barada disana. Sangking seringnya olive mangkir ketruk mereka,  jadi mereka memang sudah hafal dan kenal satu sama lain.


" hotdog tanpa mayones. " olive menganggukan kepalanya cepat.


" liv,  kamu tau gak kenapa semalem bintang gak ada dilangit? " tanya tey disela kerjanya.


" gak tau,  kenapa? "


" karena bintangnya udah pindah kemata kamu pagi ini. " gombal banget dah,  abang rey.


" gak mempan aku sama gombalan pasaran kamu. " canda olive,  kemudian menyantap hotdognya yang sudah jadi terlebih dulu.


" oh ya?  Kalo gitu gimana kalo dengan lamaran aku, kamu bakal terima? " bukan hanya sekali,  pertanyaan yang sama selalu diajukan rey pada olive setiap mereka bertemu.


Olive mendenguskan nafasnya,  tak mau meladeni gombalan brondong tamoan didepannya ini.  "makasih yah. " olive memberikan uang pada ray untuk membayar makanannya, kemudian kembali melanjutkan jalannya menuju butik.


***


Olive menyipitkan matanya,  ketika melihat wanita paruh baya sudah duduk dikursi depan butiknya. Tidak seperti biasa,  sudah ada yang menunggu sepagi ini,  satu jam lagi,  butiknya baru akan buka.  Jadi,  para pegawainya juga pasti belum datang.

__ADS_1


Dengan muka cemas dan beberapa melihat jam mewah yang melikar ditangan putihnya dan duduk tidak nyaman disana.


" permisi,  mohon maaf ibu,  kita belum  buka." ucap olive sopan tersenyum lembut pada wanita paruh baya itu.


" tolong bantu saya. "


***


Semuanya masih tetap sama dan malah terlihat tak terurus, terlihat dari cat rumah yang sudah mulai memudar dan rumput dihalaman depan yang sudah mulai meninggi tak berbentuk seperti 5 tahun yang lalu.


Pintu coklat tua yang sudah lama tak dilihatnya,  kini berada didepannya. Tangannya ragu,  untuk membuka knop pintu kamar itu. Setelah berhasil menenangkan hatinya,  olive dengan mantap membuka pintu coklat itu.


Hatinya kembali terasa sesak dan sangat sakit, melihat sosok laki-laki yang dirindukannya tak seperti dulu,  rahang yang dulunya selalu bersih dari bulu-bulu halus kini terlihat tampak lebat tak terurus.   Tatapan mata tajam, yang biasa diterimanya kini terlihat mati tak bernyawa. Kamar yang dulu selalu terlihat rapi , saat ini terlihat sangat berantakan, baju yang dibuang sembarangan dilantai,  dan juga pecahan kaca yang berhamburan dibeberapa titik lantai kamar bernuansa hitam putih itu.


Alasan yang membuat tante laura menunggu selama berjam-jam didepan tokonya,  tak lain dan tak bukan adalah untuk meminta bantuan pada olive dan menceritakan keadaan dan kejadian yang menimpa putra sulungnya Zayn fabian. Akibat kecelakaan 2 tahun yang lalu,  membuatnya harus rela kehilangan pengelihatannya karena benturan keras dikepalanya. Kecelakaan itu terjadi,  ketika fabian mengemdarai mobilnya sendiri untuk menghadiri sebuah seminar untuk mempromosikan buku yang ditulisnya berjudul olive.  Sejak saat itu,  pihak keluarga selalu berharap ada pendonor mata yang cocok dengan fabian, tapi sampai sekarang belum ada kabar dari rumah sakit yang menghubungi mereka.  Setelah kejadian itu, fabian sering melempar semua barang yang berada didekatnya kearah tembok kamarnya, dan tidak menyukai jika ada orang lain masuk kedalam kamarnya,  kecuali laki-laki bernama burhan,  satu-satunya orang yang dipercayainya,  sejak kebutaan yang dialaminya.


" hentikan ! Berisik!. " dua kata andallan yang selalu menjadi teriakan setiap mamanya selalu mencoba membenahi rumahnya.


Olive menangkap fabian yang hampir terjatuh karena menendang balok kayu yang berada disana. Kenapa bisa ada balok kayu berada didalam kamar?


Fabian memberontak kuat, melepaskan pegangan olive lalu berjalan menuju kamar mandi.


" masih saja sama,  kasar sekali. " gerutu olive kesal menerima perlakuan tak mengenakkan brandon.


Fabian keluar dari kamar mandi dengan hanha memakai celana pendek rumahan tanpa menutupi dada bidangnya. Olive sontak menutup matanya menggunakan kesepuluh jarinya,  supaya tidak terkontaminasi dengan hal-hal yang membuat pipinya memanas.

__ADS_1


Fabian meraba-raba mebuka lemarinya,  dan melempar beberapa baju kelantai,  hingga memutuskan untuk mengenakan kaos yang ada ditangannya. Kaos berwarna pink dengan gambar katak hijau besar ditengahnya.


" hahahah....  " olive tertawa keras tak kuasa menahan tawa melihat kaos fabian yang terlihat kekecilan ditubuhnya.


" siapa kamu? " pertanyaan dingin fabian,  membuat olive memberhentikan tawanya dan menutup mulutnya keras.


******!  Jangan sampek ketahuan dong.  Masih awal belum ngejalanin rencana mereka selangkah pun. Olive menalan ludahnya pelan, menetralkan suaranya.


" maaf mas,  saya lancang.  Saya nia perawat barunya mas bian. " ucap olive sengaja mensamarkana namanya , salah satu rencana yang sudah disusunnya untuk membantu memulihkan fabian.


" saya gak butuh perawat,  kamu bisa keluar. " fabian menghertakkan rahangnya,  sampai terdengar gemeletuk giginya.


olive memutar otaknya sedikit keras mencari alasan


" saya harus tetap disini mas,  ini perintah nyonya laura. "


" dan saya tidak suka jika kamu disini.  Jadi,  silahkan keluar sebelum hal buruk terjadi pada kamu. " ucap fabian dingin,  masih mencoba merendam emosinya.  Mamanya sama sekali tak memiliki hak mencarikan atau ikut campur dalam kehidupannya.  Buat apa?  Toh,  dari dulu memang dia tidak pernah ada disetiap masalah yang sedang dialaminya.


" tapi mas,  saya...


" KELUAR !


olive terlonjak kaget,  mendengar terikan keras fabian,  hingga membuat telinganya berdengung dan sedikit sakit.


" baik,  saya akan keluar. Nanti saya akan kembali lagi. " ucap olive santai.  Bukannya pergi,  olive malah menutup pintu dari dalam,  melepaskan sandalnya agar tidak terdengar fabian saat ia berjalan . Olive berjalan pelan duduk pelan disofa sedikit jauh dari tempat fabian berdiri.

__ADS_1


Fabian yang tidak menyadari. Bahwa olive masih berada didalam kamarnya.  Memilih duduk ditepi ranjang.  Mengangkat kepalanya berharap bukan kegelapan lagi yang dilihatnya,  melainkan gedung pencakar langit yang berdiri kokoh dibawah sana dan langit biru bersama awan yang indah dipagi ini. Tapi,  kenyataannya masih tetap sama, dimanapun dia mengarahkan pandangannya,  hanya gelap, gelap dan gelap yang dapat dilihatnya. Fabian meremas kuat selimut diranjangnya,  berusaha meluapkan amarahnya, untuk bisa menerima kenyataan.


***


__ADS_2