Olive

Olive
Masalah 1


__ADS_3

" lepasin gue,  sakit. "


Olive yang baru saja masuk kedalam rumah dikejutkan dengan live adegan tarik menarik rambut yang sering dilakukan cewek-cewek alay yang menjadi bucin. Maria dan rambut merahnya sudah awut-awutan tak berbentuk sambil terus menangis dan berteriak kesakitan.


" lepasin maria,  lo gila.  Lo gak dengar kalo dia kesakitan. " bentak olive menghempasakan tangan sabbrina dengan kuat.


Plakk...


Sabrina tak terima dengan kekalahan dan kelancangan olive yang mencampuri urusannya menampar olive dengan sangat kencang hingga membuat pipi olive memerah.


Plakk...


Olive membalas tamparan sabrina tak kalah kuat,  olive sangat tidak suka jika ada orang yang merendahkannya. Biarpun maria adalah saudara tiri yang sangat menjengkelkan,  tapi olive masih sangat menyayanginya. Jika ada orang berani menyakitinya maka dia akan maju paling depan untuk membantu, tak peduli resikonya .


" kenapa mau marah ? Marah aja,  gue gak bakal takut. Mau ngadu? " ucap olive menatap sabrina tajam, walaupun sabrina adalah pacar sahabatnya sendiri dia tidak akan tinggal diam melihat maria diperlakukan seenaknya .


" lo tu kenapa sih? Gak suka banget sama gue?  Gue itu pacar sahabat lo sendiri,  gue pacar arga.  Kenapa lo gak suka sama gue?  Kenapa, hah? " teriak sabrina dengan air matanya sudah membanjiri wajah mulusnya. " atau jangan-jangan lo suka sama arga? Iyakan? Jawab,  jangan diem aja? " sabrina mengguncang-guncang pundak olive yang berdiri diam didepannya.


" iya gue suka sama arga. " teriak olive dan membuat sabrina membelelakan matanya terkejut. " tapi itu dulu,  sekarang gue sadar perasaan itu gak boleh ada,  dan sekarang gue udah baik-baik aja. Gue gak pernah gak suka sama lo karena pacaran sama arga,  tapi gue gak suka kalo lo sampek kasar sama maria. Lo ngertikan. " tambah olive dengan nada melemah. " sekarang lo boleh pergi,  pintunya udah gue buka. " ucap olive kemudian membantu maria yang masih terduduk dilantai sambil menangis.


"lo istirahat sekarang,  biar gue yang beresin semuanya. " ujar olive membawa maria masuk kedalam kamarnya.


"makasih. " cicit maria sebelum masuk kamar. " mama pergi dan belum tau kapan pulang. " tambah maria berlagak sedih.


Olive mengernyitkan keningnya heran" kemana? "

__ADS_1


Maria menggeleng pelan. " tadi ada preman yang dateng kesini buat nagih hutang. " ucap maria pelan.


" hutang? " olive dibuat terkejut dengan pengakuan maria,  sejak kapan mamanya berani hutang, apa mereka tidak memikirkan bagaimana cara membayarnya.  Olive merasa kepalanya berdenyut sakit dan memutuskan untuk meninggalkan maria menuju ruang tamu yang sangat berantakan.


" apalagi ini tuhan. " lirihnya lelah


Olive memejamkan matanya mencoba menghilangkan lelah yang tengah menggelayut dihatinya. Seketika matanya terbuka dan mengingat nama brandon.


" olive,  bodoh banget lupa nanya keadaan alisha. " runtuk olive kemudian memencet tombol hijau dinomit brandon.


Tuutth,,,  tuuuth,,,,, tuthh


Sudah berulangkali olive mencoba menghubungi brandon tapi nihil,  panggilannya sama sekali tidak dijawab olehnya. Olive menghembuskan nafasnya pelan,  mengeluarkan rasa sesak yang tanpa izin bersemayam dihatinya,  untuk pertama kalinya brandon mengabaikan panggilannya. Seketika mimpi seminggu yang lalu teringat kembali diingatannya. Benarkah hal itu akan terjadi? "


***


08XXXX


Lo boleh percaya ataupun sebaliknya.  Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri.


Arga bergegas membuka video itu dan bunyi gemeletuk giginya menahan amarah nyaring terdengar ditengah kesunyian malam. Ia sama sekali tak pernah menduga bahwa orang yang sangat ia sayangi tega melakukan hal bodoh seperti itu. Buru-buru ia mematikan ponselnya dan mencoba memejamkam mata berusaha menghilangkan semua perkataan kasar yang diucapkan oleh sosok yang sangat disayanginya.


Sudah hampir 1  jam, nyatanya arga tak bisa memejamkan matanya barang sedikitpun.  Buru-buru arga keluar dari kamar menuju dapur untuk membuat coffe instan yang sering ia minum selagi banyak hal yang mengganggu pikirannya.


***

__ADS_1


Diruangan yang berbau obat-obatan itu brandon tengah menatap ponselnya yang terus menyala dengan nama yang sama.  Namun brandon dengan sengaja tak ingin menjawab dan mendengar suara dari orang yang telah tega ingin menyelakai adiknya. Amarahnya masih menguasai akal sehatnya saat ini,  brandon sama sekali tak menyangka jika dia telah dikhianati oleh sahabatnya sendiri. 


Brandon menatap alisha yang tengah tertidur nyenyak dengan infus yang masih menempel ditangannya. Brandon menyunggingkan senyumnya mengingat tuhan masuh mempercayainya untuk merawat dan hidup bersama alisha.


Ceklek..


"bang,  kok belum pulang? " tanya bu intan yang baru saja melaksanakan kewajibannya.


" abang mau disini aja ma,  nungguin alisha. "


Bu intan berjalan menghampiri brandon dan mengelus pundak anak pertamanya itu. " alisha udah gak papa bang,  lagian disini ada mama,  abang pulang gih,  tidur besok sekolah. "


"tapi ma,,,


" bang,  nurut apa kata mama.  Biar mama yang disini,  abang pulang,  lihat tu mukanya udah jelek  kek gitu. " ledek bu intan membenarkan selimut alisha.


Hufftt


Brandon menghembuskan nafasnya pelan, ia tidak mau menjadi anak durhaka yang membantah omongan mamanya.  Dengan berat hati brandon beranjak dari duduknya dan mengambil kunci motor yang tergeletak dinakas.


" kalo,  ada apa-apa jangan lupa kabarin brandon ya ma. " pinta brandon kemudian menyalami tangan sang mama dan keluar dari ruangan alisha.


Sepertinya hujan tak ingin mengerti brandon yang masih menyusuri jalan malam menuju rumahnya. Aakhirnya sedikit terpaksa brandon menepikan motornya dihalte dekat minimarket dipinggir jalan karena hujan yang semakin deras. Matanya tak sengaja melihat orang yang sangat dihindarinya sedang berlari dari guyuran hujan yang semakin deras .


"brandon. "

__ADS_1


Mengetahui siapa yang memanggil namanya,  brandon pura-pura tidak mendengar langsung memasang helmnya dan menyalakan motornya menerobos hujan yang sangat deras.  Sedangkan sosok yang memanggilnya tengah menahan rasa sesak yang sedak bergejolak dihatinya karena diabaikan , menahan rintik air mata yang ingin lolos dari kelopak matanya.  Dinginnya angin malam tak mampu mengalahkan rasa sakit yang sedang ia rasakan saat ini.


                                       ***


__ADS_2