Olive

Olive
Ruang keramat


__ADS_3

" udah liv,  kita pergi aja jangan ladenin mereka. " olive menghempaskan kuat tangan kara yang manariknya untuk meninggalkan mereka.


" aku mau tahu semuanya ra,  aku harap kamu ngerti." melihat wajah memohon olive membuat kara perlahan melepaskan tangannya dari lengan olive,  membuat olive tersenyum kecil pada kara.


Sabrina tersenyum penuh kemenangan melihat olive yang membalikan badan menghadapnya kembali dengan wajah penasaran meminta penjelasan.


" lo mau tahukan siapa orang yang udah ngirim kue nanas kerumah brandon untuk alisha? "


" siapa? "


" sebenarnya itu gue,  yang sengaja ngirim kerumah brandon, tapi gue pakek nama lo , supaya brandon marah sama lo.  Dan bodohnya dia langsung percaya tanpa mau mencari tahu kebenarannya dulu. "


" tapi ada bagusnya juga sih,  jadi gue gak perlu ngelakuin hal yang sedikit lebih ekstrim dari pada itu buat ngebuat brandon benci sama lo.  Misalnya,  dengan menculik alisha mungkin. " sabrina menyendikkan bahunya angkuh.


" dan lo tau, ini semua karena mas bian yang ngerencanain semuanya, dengan imbalan yang gue terima adalah transferan uang setiap bulan kerekening gue dan SATU LAGI." ucap sabrina sengaja menggantung kalimatnya mengacungkan jari telunjuknya.


" karena sekarang,  gue adalah TUNANGAN MAS BIAN. " kalimat terakhir yang terucap dari mulut sabrina membuat olive benar-bener merasakan rasa sesak yang luar biasa belum pernah dialaminya selama ini.  Olive sendiri tahu itu karena apa?  Karena dengan bodohnya ia sudah mencintai fabian pria jahat itu.


" gak, aku gak boleh nangis didepan mereka.  Aku harus tetep kuat.  Tahan liv,  kamu pasti bisa. " ucapnya memberi semangat pada dirinya dalam hati. Karena sungguh tidak mungkin olive memperlihatkan air matanya dihadapan mereka , karena mereka pasti akan merasa menang jika tahu ia tersakiti dan terluka mengetahu semuanya yang fabian simpan, atau mungkin sengaja direncanakan oleh suaminya,  untuk membalaskan dendamnya itu.


"  olive,  kara,  sabrina dan maria. Kalian semua, cepat ikut keruangan saya. " perintah ibu kepala sekolah yang berteriak keras dengan muka memerah dari koridor kelas.


" yang lain silahkan masuk kekelas kalian. " tambahnya menatap sangar para siswa dan siswi yang masih berada dilapangan.


***


Sabrina,  maria,  kara dan juga olive duduk diam tak bersuara diruangan yang penuh dengan piala kejuaraannya itu,  Ac yang kodratnya menyejukkan,  kini tak memiliki efek apapun untuk mereka. Ah,  kecuali kara yang malah bersifat santai menyenderkan pungungnya didinding sambil mengunyah permen karet dimulutnya.  mereka tahu jika sudah berada diruangan kepala sekolah yang keramat ini,  bisa-bisa mereka akan dikeluarkan dari sekolah tanpa bisa menolak,  meski dengan cara menjanjikan atau bahkan memberikan segepok uang untuk ibu kepala sekolah yang terkenal tegas dan tak pandang bulu.


" apa kalian tidak mendengar suara bel pergantian pelajaran sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu. Ibu tidak ingin mencampuri urusan pribadi kalian yang bersangkutan dengan masalah diluar sekolah. Tugas kalian disekolah ini untuk belajar bukannya untuk saling menjatuhkan. Saling menghargai dan merangkul. Jadi,  kalian wajib mentaati dan mematuhi semua ketentuan yang berlaku disekolah ini. "

__ADS_1


" kara prasetyo." kara yang mendengar namanya disebut menaikkan kedua alisnya santai melihat kepala sekolah yang juga menatapnya dengan menggelengkan kepala berulangkali  "ibu sangat menyayangkan kelakuan tak terpuji kamu disekolah ini,  bukan hanya sering bolos pelajaran tapi juga termasuk salah satu anak yang nilainya dibawah rata-rata. Seharusnya kamu bisa mencontoh adik kamu yang memiliki segudang prestasi dan menjadi siswi teladan disekolah ini. Bukan malah menjadi kebalikannya. "


" gue sama  nara tu bedalah bu,  jangan disamain.  Diakan cewek ya wajarlah kalo pinter.  Kalo gue kan cowok,  jadi culun dong kalo megang buku terus. Lagian.....


Olive mencubit keras lengan kara yang berada disampingnya,  karena lancang menjawab ucapan kepala sekolah. Apa dia mau dikeluarkan dari sekolah. 


" ibu tidak menerima alasan apapun.  Kamu gak punya mata buat membaca buku atau gak punya telinga buat mendengarkan berita,  bahwa diluaran sana banyak sekali pemuda -pemuda cerdas yang sukses dan bermanfaat untuk orang lain,  dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan,  sehingga membantu banyak nyawa dan membantu negara untuk mengurangi angka pengangguran. Menjadi motivator sehingga memberikan banyak inspurasi dan juga motivasi bagi anak-anak muda yang masih belia dan ingin sukses seperti mereka. " ucap ibu kepala sekolah panjang lebar dan membuat kara memutar bola mata malas mendengar pidato yang masuk ditelinga kanan dan keluar ditelinga kiri.


" Olive zania atdmojo. "


" hadir bu. " ucapnya mengangkat tangan dan berdiri tegap.


" saya tidak sedang mengabsen olive,  jadi kamu tidak perlu menjawab,  cukup dengarkan saja."


" olive , ibu cukup terkejut dengan apa yang kamu lakukan sekarang ini,  kamu itu tidak termasuk dalam daftar hitam dalam buku dalam kategori murid yang memiliki masalah. Tapi,  kamu masuk dalam daftar merah saya,  termasuk siswi yang memiliki nilai pas-pas san dan perlu meningkatkan prestasi kamu,apalagi dalam bidang matematika. " eh buset dah,  ini ibu kepala sekolah dukun kali ya,  kok tahu semua tentang mereka.


" iya bu. " jawab sabrina singkat tanpa berani menatap sang empunya.


" kali ini, ibu akan memberikan toleransi pada kalian. Tapi,  ingat satu kali,  kalian melakukan kesalahan yang sama,  maka ibu tidak akan segan-segan mengeluarkan kalian dari sekolah ini. Kalian mengerti !"


" iya bu. "


" sepulang sekolah,  kalian bersihkan semua toilet yang ada disekolah , dan jangan coba-coba kabur atau menghindari hukuman ini,  karena saya sendiri yang akan mengawasi kalian. "


" sekarang kembali kekelas,  kecuali olive. "


" saya juga bu? " tanya kara mengacungkan tangan.


" TIDAK,  hanya olive. "

__ADS_1


Mereka pun berlahan meninggalkan ruangan keramat itu,  sambil bernafas lega.


" dasar lo berdua, MAK LAMPIR! ." seru kara yang sudah berada diluar ruangan kepala sekolah dengan mata terpejam menyandar didinding.


" Kalo kita mak lampir lo apa?  Kakek cangkul atau kakek gayung. " jawab maria angkuh,  tersenyum miring pada kara lalu pergi meninggalakan kara yang memejamkan mata santai itu.


***


Diruangan kepala sekolah


" olive...


" iya bu. " jawab olive yang sudah duduk bersebrangan dengan kepala sekolah.


" apa kamu sedang dalam masalah?  Kamu bisa menceritakan masalahmu pada ibu,  dan jika kamu butuh bantuan maka ibu akan bersedia membantu.


Ini saatnya,  olive harus mengutarakan semua kejadian yang menimpanya pada orang yang bersedia membantunya. Tapi,  masalahnya terlalu rumit untuk dijelaskan dan olive tidak ingin ada pihak lain yang terlibat dalam kubangan masalahnya,  olive yakin pasti bisa melewati semuanya saat ini,  ini masalah keluarganya.  Jadi,  lebih baik orang lain tidak perlu mengetahui sekarang.


" tidak ada bu,  hanya masalah kecil.  Saya masih bisa mengatasinya. " jawab olive sesopan mungkin.


" baik,  jika itu mau kamu.  Jangan lupakan jika ibu bersedia membantu jika kamu perlu bantuan. "


" baik bu,  terima kasih. "


" ya sudah,  silahkan kembali kekelas kamu,  dan jangan ulangi kesalahan yang sama. "


" baik bu,  terima kasih sekali lagi. " olive menjabat tangan ibu kepala sekolah berjilab cream itu lalu berjalan keluar menuju kelas.


***

__ADS_1


__ADS_2