Olive

Olive
Masalah 2


__ADS_3

Olive bergegas berlari menghampiri brandon yang tengah tengah berjalan menuju kelas.


" good morning. " sapa olive dengan senyum lebar diidepan brandon sambil berjalan mundur. Senyumnya sedikit memudar tatkala brandon tak menanggapi sapaannya dan tak melihatnya sama sekali.


Olive menghentikan jalannya berharap brandon akan berhenti,  tapi nyatanya brandon memilih melewatinya tanpa kata.


"brandon,  lo kenapa? " cegah olive merentangkan keduatangannya menghalangi jalan brandon.  Lagi,  tak ada jawaban yang bisa menjawab pertanyaannya.


"brandon,  lo kenapa?  Kalo gue ada salah kasih tau gue , jangan diem aja. " teriak olive dengan napas menggebu, hingga membuat brandon berhenti dan berpasang-pasang mata menatap mereka penasaran.


"lo mau tau salah lo apa? " tanya brandon dengan ekspresi datar. Olive menganggukan kepalanya cepat mengiyakan.  Brandon lantas mengeluarkan ponsel dari sakunya mengirim sesuatu.


Clik


" jawabannya ada disana." ucap brandon penuh penekanan ditelinga olive. " gue gak nyangka lo bisa ngelakuin hal semenjijikan itu." sarkas brandon lalu pergi begitu saja.


Menjijikan?  Kata itu terus saja berputar diingatannya. Semenjijikan apa dirinya ini sampai sahabatnya sendiri melontarkan kata yang menyakitkan itu. Olive buru-buru membuka aplikasi berwarna hijau diponselnya.  Terdapat 2 video yang dikirim brandon kedirinya.  Satu video yang menampilkan dirinya tengah menampar sabrina dan menyatakan jika ia mencintai arga. Olive tersenyum kecut dengan nafasnya yang memburu. Jelas-jelas ini hanya sebuah editan yang patut diacungi jempol,  karena terlihat seakan dirinya yang salah disitu. Yah,  itu adalah kejadian tadi malam saat olive membela maria yang tengah dijambak oleh sabrina. Video kedua menampilkan saat dirinya memasuki toko kue dan foto yang menampilkan surat atas namanya dengan tulisan yang sama persis seperti tulisannya dan foto terakhir menunjukan alisha sedang terbarinh diranjang rumah sakit dengan infus ditangannya.


" ini gak bener. " gumam olive lirih memasukan ponselnya dan berlari hendak menemui brandon untuk menjelaskan kajadian yang sebenarnya.


Plak....


Olive memandang tak percaya sosok yang tengah berdiri didepannya sosok yang baru saja menamparnya dengan mudah. Matanya sudah memanas,  hatinya sesak dan perih berkali-kali lipat dari sebelumnya. Belum sempat mulutnya bertanya mengapa, satu kalimat kembali memberi hantaman keras dihatinya yang sedang terluka.

__ADS_1


" balasan buat lo yang udah nampar sabrina. "


" udah yang,  malu dilihat yang lain,  aku gak papa. " ucap sabrina menenangkan arga.


Olive merasa muak mendengar ucapan sabrina.  Tapi,  dirinya masih tak bergeming belum mempercayai dan tak habis pikir arga tega menamparnya sakit dipipinya tak sebanding dengan sakit yang tengah dirasakan hatinya saat ini.


" lo jangan percaya,  itu video udah diedit ga, gue ngelakuin itu karena dia duluan yang...


" stoop." arga mengangkat tangannya " berarti emang lo beneran nampar dia,  gue gak nyangka lo bakal setega itu. " tambah arga dengan ekspresi sulit diartikan.


" kita kekelas aja yang. " sabrina menarik lengan arga berjalan menuju kelas meninggalakan olive yang sudah berlinang air mata.


" tuhan,  apa lagi ini. " gumamnya lirih menghapus cepat air matanya berjalan menuju kelas tanpa mempedulikan berpasang-pasang mata yang menatapnya dan mengejeknya.


"lo kenapa sih liv,  tangan gue sakit. " maria mencoba memberontak melepaskan tangannya dari genggaman olive.


" bantuin gue,  jelasin apa yang sebenarnya terjadi kemaren. " pinta olive mengendurkan genggaman tangannya dengan penuh harap,  hanya maria yang bisa menyelamatkan dirinya dari fitnah yang sedang dituduhkan padanya saat ini. Olive langsung mengembangkan senyum tatkala melihat arga dan brandon yang baru saja memasuki kelas.


" arga,  brandon,  gue akan jelasin semuanya,  maria juga ada disana saat itu terjadi. " ucap olive yang sudah berada didepan arga dan brandon yang hanya diam tanpa ekspresi sekilas menatap olive lalu berjalan menuju bangku mereka.  Tak menyerah,  olive berjalan menuju bangku mereka meski hatinya sudah sangat sakit kembali diabaikan.


" maria, gue mau lo jelasin semuanya,  lo ada disana kan,  lo tau yang sebenarnya terjadi. "


" lo ngomong apa sih liv,  gue sama sekali gak tau apa yang sedang lo bahas,  kemaren gue kan keluar sama mama. Jadi gue gak tau apa-apa. " cicit maria yakin

__ADS_1


Damn, jawaban maria membuat olive tak bisa berkata lagi,  harapannya pada maria sudah benar-benar pupus,  nyatanya maria juga ikut andil  dengam semua yang terjadi saat ini. Apalagi melihat ekspresi brandon dan arga yang sama sekali tak memperhatikannya. Brandon yang sibuk dengan ponselnya,  arga yang sibuk tertawa bersama sabrina. Olive melepaskan tangan maria dan berjalan keluar kelas dengan rasa sesak dihatinya  , langkahnya terhenti dibalik tembok luar kelas dan menyandarkan dirinya disana menghapus kasar air mata yang mengalir deras dipipinya.  Tatapan sinis dari siswa lain sama sekali tak dihiraukannya,  olive melangkahkan kakinya berjalan menuju toilet untuk membasuh mukanya yang terasa lengket.


" lihat tu,  sahabat yang berkhianat. "


" *ada cewek bar-bar lewat. Minggir woy,  entar lo kena tampar. "


" kasihan banget dicampakin sama sahabatnya sendiri*. "


Berbagai umpatan keluar dari mulut-mulut lemes disepanjang jalan olive melangkahkan kakinya menuju kelas. Olive menutup kedua telinganya rapat tidak ingin meladeni cibiran-cibiran mereka,  saat ini hatinya dan pikirannya sudah sangat lelah. Sesampainya dikelas olive langsung berjalan menuju bangkunya dibelakang brandon yang masih sibuk dengan ponsel ditangannnya, tanpa mau menoleh kearahnya barang sejenak pun. Olive kembali merasakan nyeri yang kembali menyerah hatinya,  olive menghembuskan nafasnya pelan berharap rasa sesak yang dirasakan saat ini menghilang.


***


Zayn fabian laki-laki dewasa yang menjabat sebagai CEO diperusahaannya sendiri,  sifatnya yang dulu hangat dan ramah kini telah berubah menjadi sosok yang cuek dan kejam.  Satu kejadian yang merenggut nyawa perempuan yang sangat dicintainya yang menjadi alasan dari perubahannya saat ini. Dirinya telah dikuasai oleh dendam dan kebencian pada orang yang telah membuat wanitanya pergi.


Fabian duduk dikursi kekuasaannya sambil tertawa keras melihat video yang memperlihatkan sasarannya telah berhasil mendapatkan sedikit pelajaran, yang belum seberapa dari beratus-ratus rencana yang telah disusunnya.


"hahahahhahh... Hahahhaahhaah...


Dibalik tawa yang membuat takut,  ada luka yang sangat dalam dihatinya. Fabian mengambil salah satu foto yang berada dimejanya.


"kakak akan membalas semua penderitaan kamu. " ujarnya berbicara pada foto yang dipegangnya.


Kehilangan?  Siapa yang sanggup jika kehilangan satu-satunya orang yang sangat dicintai dalam hidupnya,  sosok yang menjadi alasan untuk terus menjalani hidup yang sangat membosankan ini. Tidak akan ada bukan yang sanggup, karena itu terlalu menyakitkan dan menyesakkan.

__ADS_1


                                             ***


__ADS_2