Olive

Olive
Abu foto


__ADS_3

Penjelasan yang diberikan oleh guru bahasa sama sekali tak meresap dan diterima oleh otak pas-pasan olive,  sepanjang perjalanan pelajaran dimulai olive hanya sibuk memandangi ujung pena yang berada ditangannya yang terlihat lebih menarik dari pada penjelasan didepan kelasnya, sampai bel istirahat berbunyi dan pak johar telah enyah dari kelas olive tetap sama diposisinya,  mengabaikan kegaduhan dikelas yang disebabkan oleh teman-temannya. Tanpa olive sadari ada sepasang mata yang sesekali mencuri pandang kearahnya dengan ekspresi datar tanpa ekspresi. Sampai satu gulungan kertas berbentuk bulat tak sempurna mengenai pipi chubynya, bukannya menoleh atau mencari tangan siapa yang telah melempar kepadanya,  olive berjalan keluar kelas menuju toilet.


Olive memasuki salah satu toilet yang berjajar disana,  dibalik pintu olive kembali menumpahkan kesedihanya dalam tangis,  bisakah saat ini ia menyalahkan takdir baik yang tak berpihak sedikit pun padanya. Rasanya dirinya sudah tidak sanggup untuk memendam semuanya sendiri,  tapi siapa yang bisa ia bagi keluh kesah tentang masalahnya,  arga?  Brandon?  Olive tersenyum tipis mengingat keduanya yang telah benar-benar pergi dari hidupnya sekarang.


" lo gak boleh lemah liv,  harus kuat,  lo pasti bisa. " semangatnya pada diri sendiri.


Olive membasuh wajahnya dan merapikan ikatan rambutnya. Lolipop!! Satu-satunya makanan manis yang mampu mengembalikan moodnya. Olive berjalan melewati beberapa kelas dan beberapa murid yang menatapnya sambil berbisik lirih.


Sesampainya dikantin,  suara gaduh kembali terdengar nyaring ditelinganya,  olive sama sekali tak berniat untuk melihat asal suara kegaduhan itu,  matanya sibuk mencari permen manis yang sedang ia butuhkan saat ini,  tanpa seadar ia tersenyum tipis,  sangat tipis mengembang dibibir mungilnya,  olive berjalan menuju tempat tujuannya,  tangannya bergerak meraih permen manis yang hanya tersisa satu itu, yang ternyata lebih dulu berpindah ketangan lain. Olive menatap siapa yang mengambil lolipop itu, untuk meminta agar dia mau memberikan permen itu padanya. Brandon!  Dia brandon yang tengah menatap kearahnya dengan ekspresi datar,  sedangkan olive menatap brandon balik meminta brandon memgerti bahwa dia sangat membutuhkan kudapan manis itu.


" pleas, gue sangat butuh itu sekarang. " bathin olive tanpa suara.

__ADS_1


Rasa sesak itu kembali hadir tatkala melihat brandon memutuskan pandangannya lalu berjalan menghampiri arga,  sabrina dan maria yang sedang duduk menikmati makanan mereka. Olive merasakan matanya memanas melihat brandon memberikan permen itu pada maria yang berada disampingnya. Dulu dia yang menerima perlakuan manis itu, olive tersenyum miring mengingat hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi padanya,  olive menghembuskan nafasnya panjang dan pergi bersama rasa sakit yang masih menetap dihati rapuhnya. Hingga dirinya sampai dibangku belakang sekolah yang jarang didatangi oleh orang lain dan menjadi tenpat favoritnya.  Berungkali olive menghembuskan nafasnya pelan dan menghirup udara baru agar rasa sesak dihatinya hilang,  ikut terbawa angin yang berhembus.  Matanya menatap nanar gelang persahabatan yang masih terikat ditangannya. Gelang yang diberikan arga pada mereka bertiga dulu saat mereka masih menjadi sahabat.  Apa kabar kalian?  Apa kalian tidak rindu tentang kita? Aku sedang sakit,  aku butuh kalian. Cairan bening kembali menerobos keluar dari pertahanannya,  membiarkan olive melepaskan rasa sesak yang masih bertengger dihatinya.


***


Brandon mengaduk-aduk bakso dimangkuknya,  rasa laparnya seakan menguap hilang ketika melihat olive dengan tatapan yang tidak pernah ia lihat,  selain hari dimana papa olive meninggal mereka terlebih dulu.


" yang,  kamu kenapa? " maria menggenggam tangan brandon,  arga dan sabrina bersamaan menatap brandon saat mendengar pertanyaan maria.


" eh,  gak papa." Elaknya tersenyum singkat lalu menyuapkan satu sendok bakso kemulutnya, bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa.


***

__ADS_1


Sepulang sekolah,  olive kembali melihat map yang tergeletak asal dimeja tamu,  ingatannya kembali mengingat kesepakatan bodoh itu,  bodoh dirinya yang mau dibohongi oleh orang yang sebenarnya sangat ia sayangi.


"gue butuh kalian. " lirih olive


Olive bergegas mengganti seragamnya dengan baju kasual miliknya dan memesan ojek online lewat aplikasi ponselnya.  10 menit yang lalu olive mengirim pesan pada mereka brandon dan arga,  berharap mereka akan sudi untuk menemuinya sekali saja.


Setelah menempuh perjalanan tak begitu jauh olive tiba disebuah kebun teh yang menyimpan udara segar dan menenangkan.  Olive berjalan melewati hamparan teh yang tumbuh subur siap dipanen menuju rumah pohon yang sudah lama tak disinggahinya,  olive mendongakkan kepalanya menatap rumah kecil diatas sana yang sudah sedikit berubah dari warnanya,  jika dulu mereka membiarkannya tanpa warna sekarang telah dicat dengan warna biru muda dan gambar awan yang terlihat sangat cantik. Rindu! Setelah sekian lama akhirnya olive kembali menatap rumah yang penuh kenangan manis itu. Berlahan olive menapaki satu persatu anak tangga yang membawanya keatas. Pelan olive membuka pintu dan matanya kembali nanar tatkala melihat isi didalamnya,  hatinya terasa sesak dan nyeri ketika melihat semua foto yang telah berubah tidak ada lagi foto kebersamaannya bersama arga dan brandon sepeti dulu,  yang ada hanya foto arga, brandon,  maria dan sabrina dengan senyum lebar mereka.  Sangat cocok,  mereka terlihat sangat serasi.  Apa kalian bahagia? Olive menghapus cairan bening yang mengalir pelan dipipinya, matanya terus mencari fotonya diantara begitu banyak foto yang tergantung rapi disana,  berharap masih ada satu saja fotonya yang tersisa disana. Tapi nihil,  selama apapun olive memandang tak ada satupun fotonya disana. Sesak sekali.


Begitu cepat kalian melupakan kebersamaan kita,  kenapa aku tidak bisa, kenapa bayang-bayang kalian masih selalu ada. Olive kembali menghapus air matanya yang mengalir semakin deras saja. Olive sengaja duduk dibawah di anak tangga pertama,  dia tidak mau semakin lancang masuk ketempat yang bukan lagi miliknya.  Sudah 2 jam lebih olive menunggu mereka, berharap arga dan brandon datang untuk sekali saja, berharap mereka menemukan kebenarannya dan kembali bersama seperti dulu. Sore ini sepertinya hujan akan mengguyur kota bandung,  mendung sudah bersiap-siap melakukan tugasnya. Olive tanpa sengaja melihat kotak sampah besi yang penuh dengan abu. Pelan,  olive berjalan menghampiri objek yang menyita perhatiannya. Dengan gemetar tangannya mengambil fotonya bersama mereka diantara abu-abu itu,  semuanya telah hangus hanya ini yang tersisa,  bahkan takdir pun sepertinya benar-benar menyuruhnya untuk enyah dari kehidupan mereka,  lihat saja dalam foto itu seharusnya ada mereka bertiga,  tapi api sudah menghanguskan bagiannya dan hanya tinggal arga dan brandon yang tersenyum menatap langit. Olive kembali berjalan ketempat semula untuk menghindari hujan yang sudah mulai turun tanpa izin.


Olive membiarkam tubuhnya basah terguyur hujan deras yanh sudah turun 3 jam an,  hari pun sudah mulai gelap,  bahkan matahari pun telah berganti posisi dengan bulan bintang disana. Semuanya gelap hanya ada satu lampu yang meneranginya saat ini. Setalah 5 jam menunggu, mengabaikan dingin yang merasuki tubuhnya olive akhirnya menyerah dan perlahan berjalan pergi dengan foto hangus yang masih berada digenggamannya.  Biarlah ini yang menjadi satu-satunya kenangan kebersamaan kita.  Terima kasih telah hadir dan memberi tawa selama ini.

__ADS_1


Sepeninggalannya,  tampak motor hitam berhenti dirumah pohon yang sudah sunyi itu.


***


__ADS_2