
" tuan kara, sudah ditunggu tuan dan nyonya dimeja makan. "
Kara meletakkan gitarnya, ketika mendengar suara bi ira assisten rumah tangga yang baru bekerja 1 bulan dirumahnya berjalan menuruni tangga bergabung dengan kedua orangtua dan saudara kembarnya .
" selamat malam. " sapa kara ketika sudah duduk bersama mereka.
" malam bang kara. "
Kara melototkan matanya lebar mendengar panggilan saudara kembar yang lebih dulu keluar dari perut bundanya. Sudah seringkali kara protes mendengar embel-embel abang didepan namanya.
" bukannya kamu yang lebih tua ." kara mengambil secentong nasi dan satu ayam goreng dan sambal tomat kesukaannya.
" iya, tapi mukanya lebih tua an kamu. Jadi, wajar lah ya, kalo aku manggil kamu abang. Iya gak bun, yah?"
Ayah hamish dan ibu raisa hanya tersenyum menanggapi ocehan anak kembarnya itu.
" tu ayah sama bunda aja setuju sama aku. " ucap nara menjulurkan lidahnya kearah kara yang menatapnya datar tanpa eksperi sambil menggigit ayam goreng bagian paha.
" kara, kamu gak bikin masalahkan disekolah? " tanya bunda disela kunyahannya.
" enggak dong bun, kara kan anak baik-baik. " kara tersenyum memamerkan menampilkan deretan giginya yang rapi.
" baik apanya, horang kerjaannya aja nongkrong dikantin , tidur dikelas pas pelajaran, sama ngopi dibelakang kelas bareng sama temen-temen gak jelasnya itu. "
Kara melototkan matanya kearah yuri, mereka memang tidak berada dikelas yang sama, tapi nara selalu mencari informasi terkait saudara gantengnya itu. Pak hamish menautkan alisnya mendengar ucapan yura.
" kara? "
Netijen terhormat jangan mencela kara karena sebandel-bandelnya dia disekolah, jika sudah berhadapan dengan yang namanya pak hamish maka nyalinya akan menciut sekecil biji rambutan.
__ADS_1
" yura bohong kok yah, kara baik disekolah gak pernah bandel. " ucapnya bohong, tidak mungkin dia mengakui semua perbuatan nakalnya pada pak hamish, bisa-bisa nanti dirinya akan dihukum dengan cara memotong jatah uang saku dan tidak lagi memberi kebebasan padanya lagi. Jika terhitung, sudah 2 kali kara diberi surat peringatan oleh guru BK atas kenakalannya. Tapi, namanya juga kara, tidak akan ampuh dan insaf jika hanya diberi surat peringatan.
"ayah lebih percaya dengan ucapan kamu, tapi awas jika ayah melihay sendiri kelakuan nakal kamu seperti yang dibilang nara, kamu akan menerima hukuman dari ayah."
Kara hanya mampu menghembuskan nafasnya sepelan mungkin, berharap tidak akan ada yang menyadari jika saat ini dirinya tengah bernafas lega terhindar dari kemurkaan bapak hamish. Sedangkan yura yang mengerti ketakutan kara hanya tersenyum mengejek kearah kara.
Pengen gue tampol deh tu muka nara nyebelin banget.
***
Tok.. Tok.. Tok
Bunyi ketukan pintu berulang kali membuat olive buru-buru mematikan kompor dan berlari menuju ketempat asal suara.
Dua laki-laki berjas rapi berbadan sedikit besar berdiri didepannya dengan ekspresi serius.
" nyonya olive zania adtmojo. "
Olive mengerutkan keningnya heran " saya sendiri ada apa? "
Salah satu dari mereka mengeluarkan selembar map berisi dua kertas putih bermatrai yang dibubuhi tanda tangannya dan nyonya tamara yang tak lain adalah mama yang kini tidak diketahui batang hidungnya. Olive lantas mengerutkan keningnya heran membaca isi kesepakatan yang tertulis disana, kesepakatan konyol dan bodoh yang membuat emosinya membuncah. Pembaca bayangkan saja, isi kesepakatan itu sangatlah konyol dan tak masuk akal. Disana dikatakan bahwa olive zania adtmojo telah menjadi hak milik dari bapak zayn fabian, siapa dia? Kenal saja tidak!! Jika saudari olive zania membantah persetujuan yang telah ditanda tangani maka urusan ini akan dibawa kepihak berwajib dengan dalih penipuan. Apa lagi ini? Masalah satu belum selesai sudah datang masalah lagi. Olive tak mampu berkata dan hanya berulang kali menyunggingkan senyum miringnya.
" saya harap nyonya olive tidak melakukan hal yang hanya membuat nyonya olive dan nyonya tamara dalam situasi menyulitkan kalian sendiri. "
" maaf pak, saya tidak pernah menandantangani surat apapun. Apalagi surat ini, siapa zayn fabian itu? Bahkan saya tidak mengenalnya sama sekali. "olive mencoba menjelasakan dengan nafas memburu.
" nyonya sudah lihat sendiri sudah ada tanda tangan nyonya disana, kalaupun nyonya tidak percaya, anda bisa mengecek keaslian tanda tangan nyonya. "
" tapi, saya benar-benar tidak pernah menandatangani kesepakatan konyol ini pak, ini namanya pemaksaan. "
__ADS_1
" kami hanya menjalankan perintah nyonya, kami ingatkan sekali lagi supaya nyonya tidak menempatkan diri nyonya pada keadaan sulit. "
Olive hanya bisa terdiam tanpa kata, dirinya masih sangay shock dan terkejut menerima kenyataan inj, tak pernah terpikirkan olehnya jika mama tirinya yang menjual dirinya demi uang, sekejam itukah? Mengorbankan orang lain yang tak lain adalah anak tirinya sendiri. Meski anak tiri, tidak adakah rasa sayang padanya barang sedikitpun.
" kalo begitu kami pamit dulu nyonya, besok silahkan anda datang dicafe green coffe dijln. Rindu jam 04 sore. "
Setelah mengatakan itu mereka pergi meninggalkan olive yang masih terdiam memikirkan semua yang membuatnya makin bingung dan map yang masih berada ditangannya. Apa benar mamanya tega melakukan hal ini ? Kenapa beliau tega? Kenapa? Kenapa?. Segala macam pertanyaan berkecamuk dikepalanya yang terasa berdenyut hebat dan tanpa izin bulir-bulir bening menetes dari kelopak matanya. Pelan olive menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya yang terasa lemah dibalik pintu kayu yang sudah tua itu. Olive hanya bisa menangis tanpa tau harus berbuat apa, siapa yang akan membantunya disaat-saat seperti ini, bahkan mereka semua sudah pergi dan entah kapan kembali.
" mama, papa. " lirihnya disela tangis, mengingat keduaorangtua yang telah meninggalkannya terlebih dahulu.
*Flasback on
Minggu pagi itu, ketika olive baru bangun dari mimpi indahnya, mama tampak tergopoh-gopoh dengan wajah tampak cemas menghampiri olive yang sedang duduk ditepi ranjang berusaha mengumpulkan nyawanya.
" olive mama mau mintak tolong." cicit mama dengan tampang sedih.
Tumben, mama bisa sesedih ini " kenapa? "
Bu tamara menyerahkann selembar kertas putih bermatrai dan pena yang ia sematkan disela jari olive "kamu tanda tangani ini ya, ini surat sangat mama butuhkan untuk meyakinkan teman mama yang menuduh mama mencuri perhiasannya. "
Alisnya bertabrakan heran dengan ucapan sang mama. Meyakinkan teman? Kenapa harus pakai surat? Sepenting itukah?
" kamu gak mau bantu mama, ya sudah biar mama menerima semua tuduhan mereka, biar mama saja yang menghadapi mereka sendiri." bu tamara kembali menampilkan wajah sedih dan berlagak mengambil kertas ditangan olive. Dengan cepat olive mengambil kertas itu tanpa membaca terlebih dahulu dan menandatanganinya disana, yang sebenarnya surat kesepakatan atas hak miliknya yang telah beralih pada orang lain.
Sekejam itukah takdir hidup yang harus dilewatinya?
Flasback off*
***
__ADS_1