
Fabian mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan, sengaja menajamkan pengelihatannya untuk mencari seseorang yang mengganggu pikirannya sedari tadi dibawah guyuran hujan yang turun dikota metropolitan tempat dirinya dibesarkan.
" kemana dia pergi? Dasar gadis bodoh. " umpatnya frustasi, sudah sedari tadi selepas pulang kerja, begitu tidak melihat olive dirumah, fabian langsung mencari sosok gadisnya dengan perasaan takut. Takut jika gadisnya akan pergi, hingga mereka tak bertemu lagi.
" kamu dimana . " ucapnya lirih.
***
" udah jam 11 malem, pak bian kemana yah? Kok belum pulang juga. " olive sibuk berjalan mondar-mandir didepan pintu menunggu kedatangan fabian yang belum juga menunjukkan jejaknya.
Hujan yang mengguyur sudah mereda, hanya tinggal rintik-rintik air yang tersisa. Menyisakan genangan-genangan air dijalan berlubang dan meninggalkan rasa dingin yang membuat tubuh menggigil.
Brukk..
Badannya sedikit terhuyung kebelakang tatkala dihantam dengan pelukan sedikit keras fabian yang sudah basah kuyup. Sangking eratnya, sampai susah untuk sekedar mengambil nafas.
" pak bian lepasin dulu, gue gak bisa nafas. " ucap olive dengan susah payah.
Fabian berangsur melepaskan pelukannya perlahan dan menatap olive dengan tatapan yang tak biasa membuat degup jantung olive berpacu dengan cepat, Secepat pacar pas ngomong kata putus. Hehe
Fabian menangkup lembut pipi olive " kamu dari mana aja, saya kira kamu pergi. " fabian kembali membawa olive dalam pelukannya yang dingin, tapi tidak sekuat pelukan sebelumnya.
" maaf, gue tadi habis latihan sama anak-anak, jadi gak sempet izin sama pak bian, karena gak punya nomor ponselnya bapak. " jelas olive dibalik punggung fabian.
" saya khawatir, kamu pergi dan gak akan kembali. " olive dibuat terkejut dengan ucapan fabian yang mendadak baik dan yang lebih mencengangkan sekaligus mengejutkan dan perlu dipertanyakan tentang kekhawatiran fabian, itu benar atau tidak.
" kayaknya pak bian, ganti baju dulu deh. Udah basah banget, takutnya nanti sakit. " ucap olive melepaskan pelukan fabian.
" gue siapain air hangat buat pak bian mandi. " bukannya menolak atau membantah, fabian hanya mengangguk kecil dan menatap punggung olive yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Fabian pun belum tahu, dengan perasaannya saat ini. Entah kenapa, dia begitu mengkhawatirkan olive , gadis yang seharusnya menjadi sasaran kemarahannya dan balas dendamnya atas kematian melissa. Tapi, entah kenapa semakin lama bersama gadisnya itu, perlahan membuat hatinya nyaman dan tidak tega jika melihat gadisnya terluka apalagi karena ulahnya. Apa yang dikatakan olive waktu itu sedikit ada benarnya, melissa meninggal itu karena takdir dan buka karena orang lain. Karena tuhan sayang sama melissa, tuhan tidak ingin melissa merasakan kesakitan lagi karena penyakitnya. Fabian harap, melissa sudah tenang ditempatnya sekarang tanpa merasakan sakit. Mulai sekarang, fabian berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar menerima takdir dari tuhan dalam kehidupannya, mengikhlaskan melissa dan memulai menata hidup untuk kedepannya tanpa ada rasa dendam dan kekerasan. Hidup tenang dan damai tanpa menyakiti orang lain yang sebenarnya tidak bersalah.
" pak bian, airnya udah siap. "
" eh, malah tidur dia. " olive menghampiri fabian yang ketiduran disofa, dengan wajah pucat.
" astaghfirullah, ini badannya panas banget. " olive panik sendiri setelah memegang kening fabian yang panas.
" pak, pak bian. Bangun bentar dong ganti baju dulu. Nanti tambah sakit kalo gak ganti. " pinta olive yang sudah membawa kaos ganti fabian yang tadi diambilnya.
__ADS_1
" pak bian, bangun dulu yuk. " fabian belum juga membuka matanya karena rengekan olive.
Dengan sedikit ragu, olive memberanikan mengusap pipi fabian pelan dengan harapan sang empunya akan membuka mata " pak, pak bian bangun dulu, ganti baju biar gak tambah sakit. " kelancangannya ternyata tidak sia-sia, fabian perlahan membuka matanya dan mencoba untuk duduk dibantu dengan olive.
" bantu saya kekamar. " pinta fabian
" ganti baju dulu pak, biar gak tambah sakit. "
" kamu mau saya ganti baju disini, yang benar saja. " ucap bian menatap olive tajam, membuat olive mengalihkan matanya untuk tidak menatap bian.
" sakit aja, masih galak banget. Bikin banyak-banyak istighfar dan ngelus dada. " gerutu olive dalam hati. Ngedumelnya dalam hati dong, takut diterkam sama abang bian yang gualak bingittts.
" kamu gak punya telinga. " olive buru-buru membantu berdiri begitu mendengar ucapan dingin fabian yang membuat hatinya menciut.
***
" pak bian, makan buburnya dulu, mumpung masih anget. " olive meletakkan bubur diatas nakas yang terletak disamping fabian yang sedang memejamkan matanya sembari bersandar dikepala ranjang.
" kamu mau kemana? " pertanyaan dingin fabian membuat olive mau tidak mau membalikkan badannya menatap fabian yang juga menatapnya dingin.
" kekamar, bapakkan gak suka kalo saya ada diruangan privasi bapak. "
"tapi pak, gue mau...
"olive...... " panggilan singkat fabian membuat kedua kaki olive berjalan pelan kearah fabian.
" duduk disini. " ucap fabian menepuk pinggir ranjang. Membuat olive langsung menuruti perintah suaminya itu.
" bapak mau, gue suapain. "
" saya bisa sendiri. " fabian mengambil mangkuk berisi bubur yang dibawa olive tadi.
" ya udah, syukur deh kalo gitu."
" mau kemana? " tanya fabian mengernyitkan keningnya melihat olive berdiri hendak meninggalkannya.
" kekamar dong pak, kan bapak gak butuh bantuan saya. "
" temanin saya makan. " olive kembali duduk ketempatnya semula melihat fabian yang menyantap lahap makanannya.
__ADS_1
" kamu yang masak. " tanya fabian membuat olive menggelengkan kepalanya cepat.
" gak, tadi beli sama abang-abang yang kebetulan lewat mau pulang. " fabian tersenyum kecil mendengar jawaban jujur olive.
Olive memegang pipi fabian lembut, membuat fabian kembali mengernyitkan keningnya" bentar deh, pak bian senyum yah barusan? Iya kan? "
" kamu salah lihat. "
" salah lihat gimana, orang dari tadi gue mantengin muka gantengnya pak bian terus kok. Jadi setiap gerak-gerik bapak, dari ngerjapin mata, garuk pipi, sampai hitungan suapannya aja gue tau. "
"oh ya? "
" pak bian gak percaya? "
" nggak. "
" sama, gue juga gak percaya. Kalo gue bisa seteliti itu. " ucap olive melebarkan senyumnya sembari menaik turunkan matanya sampai membuat fabian menarik sudut bibirnya.
" tu kan pak bian senyum. Yeayy, akhirnya pangeran kutub bisa senyum juga. " teriak olive kegirangan meloncat-loncat bak tupai.
" oliveee.... " begitu namanya dipanggil membuat olive menghentikan loncatannya sambil merapikan rambutnya yang sudah tak berbentuk lagi.
" saya mau bicara. "
" apa? "
" tolong jangan panggil saya dengan sebutan bapak."
" kenapa gue gak boleh manggil pak bian dengan embel-embel bapak. Kan bapak jauhh lebih tua dari pada gue, jadi yah, wajar dong kalo gue manggilnya bapak. "
" saya gak setua itu olive. Memangnya muka saya sudah seperti bapak-bapak. " ucapan fabian membuat olive tertawa keras sampai memegang perutnya yang sakit akibat tawanya.
"kenapa kamu tertawa? "
" bapak lucu, gak nyangka gue bapak bisa ngelawak gitu. "
Fabian menggelengkan kepalanya heran, melihat tingkah aneh olive. Dari segi mana coba, ucapannya barusan sebuah lawakan, kan gak ada unsur lucunya sama sekali. Kenapa bisa membuat olive teratwa keras hingga membuat mulutnya terbuka lebar, selebar harapan .
***
__ADS_1