
" pak bian, minum obatnya dulu yah, terus habis itu tidur. " olive menyerahkan obat dan segelas air putih pada fabian.
" terima kasih. "
" iya, sama-sama. Kalo gitu gue masuk kamar dulu. Selamat malam. " ucap olive membungkukan badannya pada fabian.
" olive, bisa temani saya tidur disini. " olive berdiri mematung dan membulatkan matanya mendengar permintaan fabian.
" jangan berfikir terlalu jauh, saya gak akan ngapa-ngapain kamu. " ucap fabian Seolah tau apa yang ada dalam pikiran istri kecilnya itu. Olive menelan ludahnya bingung dengan apa yang harus dilakukannya sekarang.
"olive... "
"iya pak, gue mau naruh piring kotornya kedapur dulu. "
" gak usah taruh aja diluar, depan pintu. Besok baru diberesin. "
" i.. iya pak. "
***
Bisa kalian bayangkan sekarang, bagaimana susahnya olive berusaha keras memejamkan matanya agar cepat tertidur berada sedekat ini dengan fabian yang notabanenya adalah suaminya. Entah fabian dengar atau tidak, tapi degup jantungnya saat ini berdetak dengan keras, hingga ia yakin bahwa fabian bisa mendengar irama jantungnya yang terus menabuh gendrang perang. Bagaimana tidak, sekarang fabian membawa olive kedalam pelukannya yang tidak bisa dipungkiri, terasa hangat dan sedikit nyaman.
" kamu pernah, merasa kehilangan orang yang berarti bagi kehidupan?" tanya fabian dari atas pucuk kepala olive.
Olive menganggukan kepalanya pelan menjawab peetanyaan fabian.
__ADS_1
" siapa? "
" mama sama papa. " olive tahu, fabian sedikit menegang mendengar jawabannya, karena selama tinggal bersama fabian, olive sama sekali belum pernah melihat atau sekedar mendengar tentang orangtua fabian.
"mereka sudah pergi jauh ketempat yang lebih baik dan tenang disana. " ucap olive kembali teringat tentang keduaorangtuanya.
" mama pergi ketika berjuang melahirkan gue, dan papa pergi karena serangan jantung. " tambah olive, entah kenapa dirinya begitu gamblang menceritakan kehidupannya pada fabian yang belum dikenalnya terlalu dekat, olive rasa fabian perlu tahu jika dirinya juga pernah merasa kehilangan agar fabian sadar bahwa kematian melissa bukan karena salah orang lain, melainkan takdir terbaik yang diberikan tuhan.
" gue juga merasa sangat-sangat kehilangan saat mereka pergi, apalagi mama, bahkan aku belum pernah lihat muka mama dikehidupan nyata ini, selama ini papa hanya bisa memberitahukan tentang mama lewat cerita dan foto. Bahkan aku tidak sempat membalas pengorbanan dan perjuangan mama selama mengandung sampai melahirkan aku kedunia yang indah ini. A.. aku belum sempat merasakan pelukan hangatnya, harum telapak tangannya dan sentuhan lembutnya. " tanpa terasa olive meneteskan air matanya didalam pelukan fabian.
" papa, laki-laki hebat yang berusaha menjadi seorang ayah dan juga ibu untuk gue, yang merawat gue dari kecil sampai beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Papa yang rela bangun pagi, tidur malam demi menjaga gue yang rewel dimalam hari, mengorbankan waktu tidurnya demi menjaga gue. meski dulu saat pagi papa harus menitipkan gue kesebuah tempat penitipan anak karena beliau harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami, dan akan kembali untuk menjemput gue disore hari. gue sadar, gue gak bakal bisa buat ngebales semua pengorbanannya, gak akan bisa. Sampai akhirnya, saat usia gue udah 5 tahun, papa menikah lagi dengan mama sarah yang notabanenya juga seorang ibu yang mempunyai anak seumuran , dengan harapan akan ada sosok ibu pengganti yang merawat gue dengan baik, dan kebaikannya berakhir setelah papa pergi, hingga akhirnya membuat gue adi seperti ini." olive melepaskan pelukannya dan menyamakan posisi kepalanya dengan kepala bian menatap laki-laki itu dengan lembut.
" gue tahu, pak bian juga merasa sangat kehilangan dengan kepergian melissa, gue bisa ngerti karena aku juga pernah berada diposisi yang sama seperti pak bian. Tapi pak, tuhan itu perencana terbaik untuk semua makhluk ciptaannya termasuk kita. Tuhan lebih tau mana yang lebih baik untuk kita. Entah itu tentang kehidupan bahkan kematian. gue yakin melissa itu orang baik, jadi tuhan tidak ingin membuat melissa terlalu lama merasakan sakit yang berkepanjangan, tuhan ingin menghilangkan rasa sakit yang ditanggung oleh melissa saat itu, karena tuhan sayang sama melissa. Melissa pergi itu karena takdir pak, bukan salah orang lain, meski memang jalannya pergi begitu cepat . Aku yakin tuhan sudah menyiapkan kebahagian yang lebih luar bisa buat bapak, setelah kejadian ini. Itupun kalo bapak tetep sabar dan tawakal menghadapi semuan ini. Tugas kita sekarang adalah mendoakan mereka dari sini, supaya mereka diberikan tempat terbaik disisi tuhan. Bapak jangan khawatir, insaallah aku akan membantu bapak untuk melewati semua ini, kita akan berjuang bersama ok!. " ujar olive melebarkan senyumnya menguatkan fabiann dan dirinya sendiri. Sedangkan fabian menganggukkan kepalanya pelan menyetujui ucapan olive. Untuk pertama kalinya olive melihat tatapan mata fabian yang begitu teduh dan lembut, membuat hatinya berdesir nyaman.
" terima kasih sudah menyadarkan dan mengingatkan saya. Bantu saya untuk menerima takdir ini. " ucap fabian tulus dan diangguki pelan oleh olive.
" kurang sopan dari mana pak bian, gue itu kata anak gaul era sekarang. " jawab olive tak setuju dengan perkataan fabian.
" gue tu...
" aku liv, bukan gue. " potong bian tak suka dengan kata gue yang selalu olive gunakan untuk menyebut dirinya.
" iya baik, AKU, gak jadi gue. Bapak juga kalo ngomong tu formal banget kayak lagi meeting sama klien tau gak. "
" oh ya? "
__ADS_1
" iya, masak bapak gak ngerasa gitu? "
" gak. " jawaban singkat fabian, membuat olive menghembuskan nafas pelan.
"kamu tidur gih, besok sekolah. "
" besok aku gak mau sekolah. " ucap olive mencebikkan bibirnya membuat fabian gemas dibuatnya.
" kenapa, kamu mau jadi bodoh. "
" ya gaklah pak, kalo aku ******, gimana mau ngajarin anak-anak nanti kalo ada tugas dari sekolah. "
" terus kenapa gak sekolah besok? " tanya fabian menatap tajam olive.
" sekolahnya tutup. " jawab olive balik menatap fabian, meski tak setajam dia.
" tutup? Kenapa? "
" ya ampun pak bian, besok itu hari minggu , tanggal merah jadi kita libur. Masak aku disuruh sekolah, mana ada guru yang ngajar. "
Fabian menepuk keningnya pelan, dirinya benar-benar lupa jika besok adalah hari libur baginya juga. Semuanya kacau balau karena isi kepalanya hanya terisi dengan sosok olive seorang, hingga membuat pekerjaannya sebagian terbengkalai belum sempat tersentuh.
" wajar kok kalo bapak lupa, itu mah namanya faktor usia. " ucap olive begitu saja, tanpa disaring terlebih dulu.
" saya bukan lupa, sengaja ." elak fabian
__ADS_1
Olive kembali mencebikkan bibirnya tak percaya "sengaja, biar gak ketahuan bohongnya kalo bapak itu bener-bener lupa. " bukannya menjawab ucapan olive, fabian malah kembali memeluk tubuh mungil olive dalam pelukannya.
***