ONLY MINE!

ONLY MINE!
Kantor Polisi


__ADS_3

"Darennn aku pengen nyobain, boleh?" kataku yang memegang tangannya, supaya aku bisa mencicipi es cream milik Daren.


Daren melepaskan tanganku."Enak aja! Kan kamu udah punya." kata Daren sambil menyendokkan es cream ke mulutnya.


Aku kira Daren beneran gak mau!


"Ish, Daren pelit! Tadi katanya nggak mau." kataku yang langsung menyendokkan rasa vanila ke arah Daren. lalu menyuruh Daren menyicipi punyaku.


"Enak. Tapi lebih enak punyaku."kata Daren. Berhasil membuatku kesal karena penasaran.


"Nih cobain rasa matcha! Pasti lebih enak..." kataku kembali menyendokan es cream matcha untuk Daren cicipi.


"Enak. Tapi lebih enak rasa strawberry punyaku!" jawab Daren bangga.


"Minta dong! Dikittt aja..." kataku memelas.


"Dikit aja ya!" kata Daren kemudian menyendokkan es cream coklat dan strawberry secara bergantian.


"Wahhh enak!" kataku antusias setelah di suapin Daren.


"Strawberry nya enak, tapi coklatnya juga enak." kataku mendekat ke arah Daren...


"Jauh-jauh sana! Jangan deket-deket. Nanti pengen lagi." kata Daren pelit.


Aku mendengkus kesal.


Dasar Daren pelit!


*****


Setelah capek keliling di mall. Aku dan Daren memutuskan untuk pulang. Karena sudah sore dan Nina sebentar lagi pulang dari kantor.


Aku juga membeli beberapa camilan untuk Nina dan Adnan nanti. Aku sedikit kangen juga sama Nina...


Setelah sampai di rumah Daren. Aku langsung rebahan di kasurnya. Tubuh jompoku ini memang keterlaluan, masih muda sudah hobi rebahan.


"Woi! Dateng-dateng rebahan di kasur orang. Bangun cepetan!" kata Daren lalu ikut rebahan di sampingku.


"Dih! Aku ikut rebahan bentar. Jangan ganggu ah, capek nih!" kataku yang tengah memejamkan mata.


"Jangan tidur. Bentar lagi Nina sama Adnan sampe, mereka udah di jalan." kata Daren pelan.


"Iya..." jawabku.


*


*


*


"Woi!" aku tersentak kaget mendengar suara yang lumayan keras. Saat hendak bangun ternyata punggungku sangat berat.


Apakah ini yang di namakan ketindihan? Apa aku ketindihan om wowo atau tante kun-kun? Ihh syeram!


"Bangun gak!"


Suara ini... Nina!


"Iya! Ini udah bangun. Tapi aku lagi ketindihan. Tolongin dong! Usirin hantu di atas punggungku." kataku dramatis.


PLETAK!


"Argggh! Sakit Nina!" kataku mengusap pelan kepalaku yang di jitak Nina.

__ADS_1


"Enak aja bilang gue hantu!" kata Nina kesal.


"Ohhh... Kamu yang dudukin punggungku!" jawabku tak terima.


Nina membuang mukanya ngambek."Habisnya lu malah tidur! Udah tau gue mau datang juga."


Aku cengengesan tak berdosa."Hehe... Iya-iya maaf! Aku gak sengaja tau."


"Heleh!" kata Nina kesal.


"Oh iya! Aku belikan kamu makanan..." kataku segera beranjak menuju kulkasnya Daren.


"Nih! Yuk kita makan barengan..." Aku mengambil beberapa piring dan meletakkannya di atas meja.


"Wahhh! Makasih Nayla!" kata Nina antusias. Dan langsung menyantap makanan yang aku berikan.


"Ayo di makan Adnan... Daren!"


Adnan dan Daren langsung mengambil masing-masing satu makanan yang sudah aku siapkan.


"Lu tadi ke mana? Jalan-jalan?" tanya Nina menatapku tajam.


"Nggak! Beli makanan doang ke mall deket sini. Iya kan Daren?!" kataku berbohong. Aku mengode Daren lewat mataku, supaya Daren meng-iyakan.


"Iya, sekalian Nayla main timezone, beli beberapa baju, makanan, nonton bioskop, makan steak, nyemilin es krim, apa lagi ya?" jawab Daren mengetuk jidatnya seperti orang yang sedang berpikir. tanpa memperdulikan aku yang sedang memelototinya.


"NAYLA!" teriak Nina kencang.


"Ma-maaf Nina! Aku-aku bosan soalnya..." kataku sambil cengengesan.


Nina menghembuskan nafasnya berat."Dasar! Bukannya istirahat. Kamu kan lagi sakit!"


"Oh iya! Semalam lu nelepon, emangnya ada apaan, Daren?" tanya Nina.


Nina dan Adnan menoleh ke arahku. Aku langsung menceritakan kejadian semalam saat aku hendak di perk*sa sama dua laki-laki sial*n itu.


BRAKKK!


Nina menggebrak meja kencang. Untung mejanya terbuat dari kayu jati. Kalo dari kaca... Udah tak berbentuk tuh mejanya.


"MANA LAKI-LAKI BRENGS*K ITU! BIAR GUE POTONG ALAT VITALNYA. SEKALIAN GUE GORENG!" teriak Nina kencang. Emosinya meledak-ledak, membuat aku, Daren dan Adnan terkejut.


"AWAS AJA! GUE SAMPERIN KE KANTOR POLISI SEKARANG! BELUM PERNAH NELEN SEPATU APA GIMANA TUH ORANG!" kata Nina yang beranjak untuk pergi. Sepertinya dia mau ke kantor polisi.


"Nina... Jangan!" kataku memeluk Nina mencoba menenangkan.


"Lepasin Nay! Gue gak terima pokoknya!" kata Nina melepaskan pelukanku.


"Nin..." kata Adnan menenangkan. Adnan menarik tangan Nina dan memeluknya. Lalu Adnan mengusap punggung Nina pelan.


Aku mundur dan menutup mulutku kaget. Melihat Adnan yang memperlakukan Nina seperti itu. Dan anehnya Nina tidak menolak? Ya ampunnnnn! Apa aku ketinggalan sesuatu?


"Udah tenang dulu... Aku tau perasaan kamu. Aku juga kaget dan kesal waktu denger Nayla mau di perlakukan gak senonoh sama laki-laki sial*n itu. Tapi, kamu gak boleh gegabah. Aku juga gak mau kamu kenapa-kenapa." kata Adnan pelan.


"Iya..." jawab Nina patuh.


APA? NINA GAK BERONTAK? GAK NOLAK JUGA? MALAH NURUT! KEMANA NINA YANG GRAGAS DAN SUKA MENEROBOS!


Aku sangat kaget melihat perubahan sikap Nina pada Adnan. Tapi, sangat senang juga karena perlakuan baik Adnan yang di terima juga sama Nina.


'Akhiranyaaaa Nina punya temen cowok.' batinku.


Cuma teman... atau lebih? Hehe!

__ADS_1


*


*


*


Aku, Nina, Adnan dan Daren memutuskan untuk pergi ke kantor polisi malam ini. Sekalian aku akan menjelaskan apa yang dua laki-laki itu lakukan padaku.


Setelah 30 menit, kami berempat sampai di kantor polisi. Dan langsung masuk ke dalam.


"Selamat malam, pak Daren." kata salah satu pak polisi.


"Malam, pak David. Saya ke sini mau buat penjelasan sekalian mau melihat orang itu." kata Daren.


"Baik pak. Silahkan, korban boleh duduk di sini dan menjelaskan..."


Aku langsung duduk dan menjelaskan secara detail kejadian yang aku alami. Pak polisi mengangguk-anggukan kepalanya.


"Jadi... Percobaan pemerk*saan ya? Untungnya nona belum sempat di apa-apain..." kata pak polisi satunya yang bernama Usli.


"Gak ada untungnya, pak. Dia luka di kaki, dan semalaman ketakutan. Sekarang keliatan baik-baik aja. Tapi, saya yakin dia sangat trauma atas apa yang dia alami." kata Daren tegas.


"Baik pak. Saya mengerti. Kalo pun tersangka di penjara, paling lama cuma lima tahun." jawab pak Usli, dan menjelaskan.


"Baik. Kalo begitu, saya akan nyewa pengacara biar kedua pelaku itu minimal 20 tahun di penjara." jawab Daren lagi.


"Tapi, pak Daren..." kata pak Usli yang langsung di potong sama perkataan Daren.


"Gimana kalo saya telat datang buat nyelamatin korban? Apa yang akan bapak lakukan kalo itu terjadi sama anak bapak?" kata Daren.


"Saya ngerti, pak Daren. Apa-pun yang akan pak Daren lakukan, saya dukung." kata pak David. Membuat pak Usli bungkam.


Daren menganggukan kepalanya.


Aku memeluk Nina erat, kejadian kemarin benar-benar membuatku takut. Bayang-bayang dua laki-laki itu terus terlintas di pikiranku. Kalo Daren benar-benar telat atau bahkan tidak datang... Aku mungkin sudah mati walaupun tidak di bunuh.


"Kalo memang hanya lima tahun. Saya bersumpah. Pelaku dan keluarganya tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan atau penghasilan dari mana pun dan di mana pun." kata Nina tegas.


"Di mana tempat pelaku sekarang!" bentak Nina kesal.


Pak polisi langsung mengantar kami ke tempat laki-laki bejat itu.


BRAKKKK!


"BRENGS*K KALIAN!" bentak Nina sambil menggebrak sel tempat mereka di tahan.


*


*


*


Aku dan Daren sekarang sedang berjalan di taman. Karena tadi Adnan pamit untuk menenangkan Nina. Aku mengiyakan karena Nina sempat mengamuk di kantor polisi. Aku juga mengamuk. bedanya Nina menatap dua laki-laki itu seperti niat membunuh. Sedangkan aku yang sesekali membuang wajahku karena tak sudi melihat kedua laki-laki bejat itu. Melihat wajah mereka mengingatkan ku tentang kejadian kemarin terus menerus.


"Daren... Apa Nina baik-baik saja?" tanyaku.


Daren menoleh sambil tersenyum."Dia pasti bakalan baik-baik aja, Nay. Harusnya aku yang nanya gitu ke kamu. Kamu gak apa-apa kan?"


Aku mengangguk."Gak apa-apa walau pun emosiku masih menyesakkan dada..." kataku yang memukuli dadaku pelan.


"Udah jangan di pukulin... Gimana kalo kita makan es krim? Boleh pilih sepuasnya deh. Aku yang bayarin!" kata Daren. Aku berbinar senang. Bukannya aku tidak mampu membeli es cream. Tapi kalo di bayarin kan rasanya jadi beda! Haha.


"Boleh!" jawabku cepat. Daren mengusap kepalaku pelan sambil terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2