
Aku memandang Nayla tenang."Aku udah bilang ke Nina. Kalo kamu hari ini gak ke kantor. Nanti pulang dari kantor, Nina langsung ke sini sama Adnan." jawabku.
"YUHUUUU! Makasih Daren! Akhirnya aku bisa istirahat hari ini." kata Nayla sambil kembali merebahkan tubuhnya.
"Kamu... Kenapa semalam bisa ada di sana?" tanyaku pelan.
Nayla terdiam...
Dan tak lama dia menceritakan awal mula kejadian yang menimpanya. Aku mendengarkan dengan seksama apa yang dia katakan.
"Terus? Kamu sempat kabur... Kok bisa ke tangkep?" tanyaku setelah menerawang jauh ke kejadian semalam, waktu melihat Nayla yang sedang di seret salah satu laki-laki itu.
"Aku jatuh." katanya pelan sambil memperlihatkan luka kecil di kakinya.
Aku baru menyadari kalo Nayla terluka. Aku bangkit dan mengambil kotak obat lalu mengobati lukanya. Tak lupa menutupnya dengan hansaplast.
Nayla hanya diam memperhatikan."Aku laper..." katanya sambil memegang perutnya setelah aku membalut lukanya.
"Yuk, makan..." kataku menarik pelan tangannya ke arah meja makan.
"Wahhh... Kamu yang masak?" tanya Nayla antusias. Melihat beberapa hidangan makanan di atas meja.
Aku menggeleng."Bukan. Tapi bibi yang masak," jawabku. Nayla hanya menganggukan kepalanya.
"Mama sama papa kamu kemana?" tanya Nayla sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
"Keluar negeri." jawabku singkat.
Nayla berdehem pelan.
"Udah lama?" tanya Nayla lagi.
"Baru seminggu." jawabku.
"Kamu suka sama aku?" tanya Nayla yang sukses membuatku tersedak nasi goreng. Nayla langsung mengambilkan minum dan menepuk pundakku pelan.
Aku menoleh ke arah Nayla dan menyentil jidat lebarnya yang terhalang poni tipis."Jangan ngada-ngada, kamu!" jawabku sewot.
Nayla mengaduh kesakitan sambil memegang jidatnya kemudian tertawa. Aku hanya menatap Nayla heran, bisa-bisanya dia bertanya seperti itu.
Ya jelas, Tidak!
Mungkin...
*
*
*
__ADS_1
(Pov Nayla)
Setelah kejadian semalam, aku gak tau harus melakukan apa buat balas kebaikan Daren. Dia laki-laki yang baik ternyata.
Aku menerawang ke kejadian semalam, saat aku terjatuh dan di tangkap oleh salah satu laki-laki gak beradab itu. Aku terus memberontak dan menangis. Aku tidak bisa menendang atau memukul karena dia memegang tanganku kebelakang seperti pencuri. Aku yakin, jika tidak ada Daren. Mungkin aku sudah tidak sanggup untuk melanjutkan hidup ini. Atau bahkan, aku sudah tidak ada di dunia sekarang.
"Daren..." panggilku pelan.
Daren menoleh."Apa?" jawabnya.
"Aku bosen deh." kataku sambil melihat jam di ponselku yang masih menunjukan pukul 10 siang.
"Mau keluar?" tanya Daren.
Aku mengangguk."Pengen sih..."
"Yaudah siap-siap gih. Aku juga mau mandi dulu." kata Daren yang langsung beranjak untuk masuk ke kamar mandi.
"Aku juga pengen mandi! Nanti anterin ke rumahku dulu, ya?" kataku.
Daren berhenti dan menoleh ke arahku."Mandi di sini aja. Itu bajunya ada di atas meja."
Aku berjalan ke arah meja Daren, terlihat ada dua kotak besar di sana. Aku membukanya secara perlahan dan benar saja. Ada satu dress berwarna putih dan satu pasang high hells hitam yang tidak terlalu tinggi. Aku berbinar melihat dress yang entah Daren belikan atau pinjamkan padaku. Dress yang cantik dengan manik-manik cream di pinggangnya. Membuatku kagum, dari mana Daren mendapatkan dress ini?
Soal dalaman... Aku selalu membawanya di tasku. Karena aku punya kebiasaan mengganti dalaman sehari 3 kali. Padahal mandinya cuma sehari sekali, hehe.
Aku terperanjat kaget waktu membalikan badanku, ternyata Daren sudah berdiri di belakangku. Belum memakai pakaian. Dia hanya memakai handuk yang menutupi pinggang sampai atas lututnya. Sedangkan bagian perut dan dadanya terekspos bebas.
Aku sempat melongo menatap Daren yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Air dari rambutnya menetes ke dada bidangnya.
Aku baru sadar bentuk tubuh Daren seperti huruf V.
"DARENNNNN! KAMU APA-APAAN. CEPAT PAKAI BAJUMU!" teriakku nyaring, sambil menutup wajahku menggunakan dua tangan. Setelah sadar melihat sebagian tubuh Daren. Walaupun cuma lima detik lebih dikit, hehe!
Wangi sabun menyeruak di indra penciumanku. Aku masih setia menutup mataku,"Daren! Cepetan pergi. Jangan di sini!" kataku sedikit menurunkan volume suaraku.
"Bajuku kan di sini. Bentar, aku pake baju dulu..." kata Daren tenang. Aku ketar-ketir di buatnya. Aku meraba-raba mencari tembok. Lebih enak jika menghadap tembok dan tetap tutup mata tentunya! Daren ngeselin banget.
'Perasaan tadi temboknya di sini?' batinku.
Tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu. Aku menekannya pelan. Keras? Ini beneran tembokkan? Tapi, gak datar, sih.
"Ngapain megang-megang?" kata Daren membuatku bingung.
Hah? Megang apaan? Nggak tuh.
"Aku gak megang kamu!" kataku kesal.
Daren menarik lenganku pelan."Coba pegang."
__ADS_1
Aku merasakan sesuatu yang keras tapi sedikit lembek. Aku membuka perlahan mataku untuk memastikan kalo aku bukan memegang Daren! Enak saja. Paling ini tembok yang di tempelin bubble wrap kan?
Saat aku membuka mataku, aku langsung menarik kencang tanganku. Kagetnya bukan main. Kalian tau apa yang aku pegang? Benar-benar di luar angkasa! Yang aku cari tembok. Yang aku pegang malah dadanya Daren! Tepat di payud*ranya lagi! Astaga...
"MAAF DAREN... GAK SENGAJA!" teriakku sambil berbalik ke arah tembok.
"Sekarang cepat pakai bajumu." kataku pelan menutup lagi wajahku menggunakan tangan.
"Udah selesai." kata Daren.
"Hah... Beneran? Cepet amat!" kataku tak percaya kalo Daren memakai baju secepat kilat.
"Beneran." kata Daren.
Aku membuka mataku dan menoleh ke arah Daren. Ternyata benar, Daren sudah siap dengan kameja hitamnya, celana levis hitam dan sepatu putih.
"Daren kok pake sepatu di kamar?" tanyaku aneh melihat Daren yang sedang memakai sebelah lagi sepatunya.
"Gak kotor, masih baru." kata Daren.
Aku mengangguk dan melesat masuk ke kamar mandi. Tak lupa membawa dress yang Daren berikan, tas-ku yang isinya skincare, make-up dan dalaman tentunya. Karena aku akan memakainya di dalam.
Setelah selesai semuanya, aku dan Daren langsung masuk ke dalam mobil lalu berangkat ke salah satu mall yang jaraknya lumayan jauh. Karena kata Daren, kalo mall yang dekat dengan rumahnya dia sudah sering ke sana. Jadi dia bosan kalo harus ke sana lagi.
Aku sih gak masalah, yang penting jalan-jalan! Hehe.
*****
Sekitar 40 menit. Kami berdua tiba di Mall yang kami tuju.
"Darennn mau beli es krim nggak?" tanyaku pada Daren yang sibuk mengedarkan pandangannya.
"Nggak!" kata Daren ketus. Aku berdecak kesal lalu memanyunkan bibirku 10 senti.
Buset panjang bener.
Aku berjalan ke arah stand es cream dan membeli dua cup. Satu rasa coklat dan strawberry, satunya rasa Vanila dan Matcha. Setelah selesai, aku memberikan satu cup pada Daren.
"Gak mau! Aku bukan anak kecil." kata Daren menolak es cream dariku.
"Emang yang boleh makan es krim cuma anak-anak aja? Orang dewasa juga wajib! Biar idupnya ada rasa manisnya dikit." kataku sambil menyodorkan kembali es cream coklat dan strawberry pada Daren.
Daren mengambilnya dengan terpaksa. Aku mulai memakan es cream di tanganku. Tapi, Daren hanya memegangnya.
"Darennn aku pengen nyobain, boleh?" kataku yang memegang tangannya, supaya aku bisa mencicipi es cream milik Daren.
Daren melepaskan tanganku."Enak aja! Kan kamu udah punya." kata Daren sambil menyendokkan es cream ke mulutnya.
Aku kira Daren beneran gak mau!
__ADS_1