
"Loh... Kenapa?" tanyaku bingung.
"Gak kenapa-kenapa sih. Males aja kalo ada orang lain," jawab Daren.
"Yaudadeh, kalo gitu. Paling, nanti kalo libur lagi aku pergi sama Raka..." kataku menengahi.
"Emang harus banget pergi sama Raka?" tanya Daren menatapku.
Aku berdehem."Soalnya, tadi Raka ajak aku liburan, terus aku tolak. Aku jadi ngerasa gak enak, mungkin lain kali aku bakalan ajak dia liburan," jawabku.
Daren mengangguk."Yaudah, kalo gitu ajak aja ke sini sekarang."
"Katanya tadi gak boleh? Gimana sih!" jawabku sedikit kesal.
"Gak apa-apa, ajak aja ke sini. Dari pada nanti kamu liburan berdua doang sama dia." kata Daren ambigu.
Aku menoleh ke arah Daren."Loh emang kenapa kalo liburan berdua? Yang penting gak nginep dan tidur bareng kan?" tanyaku sedikit aneh.
Daren menggeleng."Udah, mending sekarang aja..."
"Iya deh... Apa aku izin sama Nina dan Adnan dulu?" kataku berdiri hendak menghampiri Nina dan Adnan.
"Gausah, sekarang telepon dulu aja Raka. Suruh ke sini," jawab Daren sambil berdiri.
"Oke!" kataku sedikit senang.
Drttttttt
"Halo... Nay? Kok tadi teleponnya di matiin!" komplen Raka.
"Eh, maaf Raka. Aku tadi izin sama temenku... Kamu mau liburan di bandung kan? Sini aja, kita liburan bareng-bareng!" kataku antusias.
"Wah! Beneran boleh? Aku seneng banget dengernya! Oke deh. Aku berangkat ke sana sekarang. Kamu kirim alamatnya ya, Nay!" jawab Raka terdengar sangat senang.
"Iya Raka. Hati-hati di jalan, aku tunggu ya." jawabku.
"Iya, Nay! Aku tutup dulu ya, mau beresin barang-barang buat ke situ..." pamit Raka.
"Oke!"
Tuttt...
Aku menoleh ke arah Daren yang sekarang sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding, tangannya melipat ke dada.
"Udah?" tanya Daren pelan.
"Udah! Makasih ya Daren..." kataku senang.
Daren mengangguk sambil tersenyum."Ayo masuk."
Aku mengiyakan sambil mengikuti Daren dari belakang.
Horeee! Liburan bareng-bareng. Pasti makin rame jadi tambah seru kan?
*****
Drtttttt
Aku langsung membuka pesan yang di kirimkan sama Raka. Ternyata, Raka juga mengirimkan foto.
"Nay... Aku udah di depan, ini bukan villa nya?"
Aku langsung membalas pesan raka.
"Iya benar. Sebentar aku keluar," jawabku.
Tuk. (Terkirim)
Aku yang lagi merebahkan tubuhku di kasur langsung bergegas untuk keluar. Ternyata, Daren dan Adnan lagi asik menonton televisi.
"Udah datang?" tanya Daren.
Aku mengangguk,"Udah di depan."
__ADS_1
Daren beranjak bangun,"Yuk aku anter..."
"Yuk! Oh, iya. Nina mana?" Aku mengedarkan pandanganku, Nina tak terlihat di sini.
"Tadi di kamarnya, belum keluar lagi. Ketiduran kali," jawab Adnan.
"Oh, gitu. Yaudadeh nanti aku samperin," kataku langsung berjalan ke arah pintu.
Ceklek
"Raka..." panggilku.
Terlihat Raka sedang memainkan ponselnya sambil bersender di mobil. Dia menoleh ke arahku.
"Nayla!" pekik Raka senang.
Dia langsung menghampiriku."Akhirnya sampai juga." lanjutnya.
Aku terkekeh."Ayo masuk! Aku bantu ambil barangmu ya?"
Raka menolak."Gak apa-apa, Nay. Sama aku aja, cuma koper doang kok!"
Aku mengangguk."Yaudadeh, yuk!"
Raka memasuki villa yang akan kami tempati.
"Tempatnya luas juga, ya!" kata Raka sambil mengedarkan pandangan.
"Iya. Kamu udah makan?" tanyaku.
"Udah kok, Nay. Tadi di jalan aku berhenti buat makan dulu," jawab Raka.
"Bagus deh!" kataku lega.
Daren menyenggol pelan lenganku. Aku baru menyadari kalo Daren dari tadi berdiri di belakangku.
"Oh, iya. Raka kenalin, ini Daren!" aku langsung mengenalkan Daren sama Raka.
Raka tertawa,"Baru sadar kamu ya, Nay?"
Daren menjabat uluran tangan dari Daren."Gue Daren." jawab Daren. Matanya menatap Raka malas.
Adnan berjalan menghampiri kami. Aku langsung mengenalkan Adnan pada Raka.
"Ini Adnan..." kataku yang langsung menarik pelan tangan Adnan.
Raka kembali menyodorkan tangannya."Gue Raka," kata Raka sambil tersenyum.
Adnan menjabat tangan Raka."Gue Adnan. Salam kenal," jawab Adnan sedikit tersenyum.
"Ah, maaf. Gue gangguin liburan kalian!" kata Raka terkekeh pelan.
Aku menggeleng."Nggak kok, kan aku yang ajak. Makin banyak orang kan jadi makin seru, iya kan Daren?" kataku.
Daren mengangguk."Iya."
"Ayo beresin dulu barang di kamar kamu," kataku sambil menunjukan kamar yang masih kosong.
"Di sini ada dua kamar kosong. Raka mau pake yang mana?" tanyaku.
"Kamarmu di mana, Nay?" tanya Raka.
Aku mengernyit."Di sana..." kataku sambil menunjuk kamar tengah di samping kamar Daren. Memang, kamar Nina di sebelah kamar Adnan. Katanya, dia bosen deketan sama aku terus. Emang durjana!
"Oh, itu. Aku di sini aja," kata Raka sambil menunjuk satu kamar di samping kamarku.
"Oke... Kalo gitu, aku tinggal dulu ya. Kamu istirahat aja!" kataku berpamitan. Setelah Raka mengiyakan, aku langsung menarik pelan Daren dan Adnan supaya menjauh dari Raka.
"Udah, biarin Raka istirahat..." kataku setelah sampai ruang tamu.
"Dia temen lama kamu?" tanya Daren.
Aku menggeleng."Sebenernya bukan. Aku kenal dia di acara kemarin, yang perusahaan Xxx1. Tapi, dia baik kok. Kita sering kabaran lewat pesan juga," kataku yang di angguki sama Adnan.
__ADS_1
"Hati-hati aja, Nay. Jangan terlalu deket, kan kita gak tau dia orang seperti apa sebenarnya," kata Adnan.
Aku mengangguk."Oke siap! Kalian nanti ajakin dia ngobrol ya..."
"Oke!" kata Adnan mengangkat jempolnya. Lalu, Adnan langsung pamit ke kamarnya.
Daren menggeleng."Nggak!" tolak Daren.
Aku mengernyit bingung."Loh, kenapa?"
"Aku gak mau aja," kata Daren sambil duduk di sofa.
Aku mengikuti Daren."Yaudadeh kalo kamu gak mau..."
Jangan-jangan Daren gak suka sama Raka?
*****
Aku terbangun dengan perut yang sudah kerongcongan, entah siapa yang pagi-pagi sudah memasak.
Aku berjalan ke kamar mandi dan mencuci muka sama gosok gigi. Males banget buat mandi, nanti siang aja deh, sekalian berenang.
Setelah selesai aku langsung bergegas menuju dapur, aroma makanan langsung menyebar keseluruh penjuru.
"Raka? Kamu lagi apa..." tanyaku yang melihat Raka sedang sibuk sendirian di dapur.
"Lagi masak buat sarapan... Kamu mau Nay?" tanya Raka.
Ternyata Raka yang masak...
"Kamu bisa masak? Hebat banget!" pujiku.
"Hehe. Dikit," jawab Raka cengengesan.
Raka menyodorkan satu piring nasi goreng ke arahku."Nih, cobain deh!"
Aku langsung memakan nasi goreng buatan Raka."Wahhh, enak!"
"Udah pada sarapan aja, pantesan wangi banget kecium sampe kamar," kata Adnan langsung duduk di sampingku.
Tak lama Daren dan Nina juga keluar. Nina dan Adnan langsung memakan nasi goreng buatan Raka. Hanya Daren yang menolak dan memakan roti coklat saja.
"Daren kok gak makan? Cobain deh, enak tau!" kataku yang menyodorkan nasi goreng ke arah Daren.
Daren memalingkan wajahnya,"Gak ah, masih kenyang!" tolak Daren.
"Gak gue racunin kok," celetuk Raka sambil terkekeh pelan.
Daren menatap Raka malas."Oh."
Sepertinya Daren beneran gak suka sama Raka! Gawat...
"Enak gak, Nin?" tanya Raka pada Nina.
Nina mengangguk."Enak kok."
"Gue kan encep hebat di rumah..." kata Raka bangga.
"Encep apaan?" tanya Adnan bingung.
"Yang suka masak itu," jawab Raka masih bangga sama diri sendiri.
"Chef kali! Encep encep nama bapak lu!" kesal Adnan.
Raka tertawa melihat wajah kesal Adnan.
"Oh, udah ganti nama..." kata Raka tanpa dosa.
Daren langsung beranjak ke arah kolam, tak menanggapi satu pun ocehan Adnan dan Raka. Melihat Daren yang hanya memakai celana pendek dan kaos saja membuatku sedikit aneh.
Kok Daren bisa seganteng itu?
Bersambung...
__ADS_1
Hai semuanyaaaa, gimana kabarnya? Mudah-mudahan sehat selalu ya!❤️
Jangan lupa Like Coment dan Vote nya biar author semangat buat update. Terimakasih!🥹❤️