
Pegawai itu terlihat kaget dengan perkataan Daren. Begitu pun dengan Nayla. Bisa-bisanya butik ini milik Daren.
"Ba-baik pak!" kata pegawai itu terbata. Dan bergegas ke suatu ruangan.
Tak lama, pegawai itu datang dengen seseorang yang berjalan di depannya."Pak Daren? Mau lihat gaun yang sudah di siapkan khusus pak? Ayo saya antarkan..." kata pegawai satunya ramah.
"Bela! Kamu kemana saja? Kamu tidak mengawasi pegawai lain saat melayani konsumen?!" tanya Daren dingin.
Pegawai yang bernama Bela itu terlihat kelabakan."Maaf pak Daren. Sa-saya tadi habis dari kamar mandi!" jawab Bela.
Daren mengangguk paham."Yasudah. Apa kamu yang menyuruh dia, untuk melarang konsumen memegang atau mencoba gaun di butik ini? Terutama gaun biru itu," tunjuk Daren ke arah pegawai tadi.
Bela menoleh ke arah sampingnya."Tidak pak!" jawab Bela tanpa ragu.
"Terus... Kenapa dia buat peraturan sendiri? Sampai calon istri saya tidak di bolehkan untuk memegang atau mencoba gaun itu?" jelas Daren.
Bela langsung menoleh ke arah pegawai tadi yang tengah menunduk."Apa benar... Gea?!" sentak Bela.
Wanita yang bernama Gea itu mengangguk."S-saya cuma takut bajunya rusak, bu..."jawabnya pelan.
"Saya tidak pernah mengajarkan kamu begitu Gea! Lagi pula, kalo rusak juga itu bukan urusanmu!" bentak Bela tegas.
Nayla menatap Gea tak tega. Apa lagi, mata Gea sudah berkaca-kaca. Tapi, Gea harus di beri sedikit pelajaran. Nayla maju selangkah dan menarik pelan tangan Gea.
"Gea... Saya tau niat kamu baik. Tapi, sebagai pegawai, kamu harus bisa melayani konsumen dengan baik. Mereka mana mau beli kalo tidak di coba dulu? Kan yang bagus belum tentu cocok juga kalo di pakai. Makanya, harus di coba dengan benar. Lagi pula, kalo rusak kan bisa di ganti atau di perbaiki. Butik sebesar ini juga pasti tau soal itu, kalo tanggung jawabnya memang besar. Kamu sebagai pegawai, cukup melayani konsumen dengan ramah dan baik aja. Jangan seperti tadi, apa lagi sampai menghina seperti itu. Gak baik ngelihat orang cuma dari penampilannya aja kan? Yang penampilannya acak-acakan belum tentu gak punya uang. Udah, kamu jangan menangis. Tapi, kamu harusnya mikir atas kesalahan yang udah kamu lakukan," jelas Nayla pada Gea.
Gea mengangguk sambil mengusap wajahnya pelan."Baik kak. Saya minta maaf. Karena sudah melakukan dan berbicara hal yang tidak baik," jawab Gea lirih.
Nayla menepuk pelan pundak Gea."Jangan di ulang ya. Untung kamu ketemunya sama saya, coba kalo orang lain. Mungkin, kamu sudah di penjara sekarang," kata Nayla mengingati. Masalahnya, Gea tadi benar-benar keterlaluan.
Gea mengangguk pelan."Sekali lagi saya minta maaf, kak!"
Nayla mengangguk sambil tersenyum. Lalu, Nayla menarik pelan tangan Daren dan membawanya ke tempat gaun putih tadi. Di ikuti dengan Gea dan Bela di belakang mereka. Daren duduk di sofa, sedangkan Nayla ke ruangan ganti di temani oleh Gea dan Bela, untuk membantu.
Daren duduk sambil memainkan ponselnya. Tak lama, tirai terbuka. Terlihat Nayla tengah berdiri, sudah memakai gaun pengantin yang di desain khusus.
'Gaunnya sangat cantik... Tapi, lebih cantik Nayla,' batin Daren.
Daren berdiri terpesona, menatap Nayla yang tengah menatapnya tak nyaman. Ada perasaan takut di hati Nayla. Takut jika gaunnya tidak cocok dengannya."A-aku cocok nggak, pakai gaun ini?" tanya Nayla gugup.
__ADS_1
Daren tersenyum dan menghampiri Nayla. Matanya tak bisa lepas dari pesona Nayla, rasanya dia ingin mengajak Nayla nikah sekarang juga. Daren mengulurkan tangannya ke arah Nayla. Nayla meraih tangan Daren membuat Daren menggengamnya erat."Kamu sangat cantik Nayla..." jawab Daren.
Blush!
Nayla menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya."Aku tanya cocok atau tidak. Bukan cantik apa tidak!" kata Nayla ketus.
Daren tertawa pelan, lalu membuka kedua tangan Nayla yang menutup wajahnya."Iya sayang. Gaun ini sangat cocok di badan kamu," kata Daren lembut.
"Bukan aku yang cocok pake Gaun ini? Kenapa gaun ini yang cocok di badanku?" tanya Nayla bingung tentang jawaban Daren.
"Karena... Kecantikan gaun ini kalah, sama kecantikan kamu," goda Daren.
Nayla menatap Daren jijik."Dasar bapak-bapak!" dengkus Nayla kesal.
Daren tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresi Nayla yang kesal padanya."Pokoknya. Istriku cocok pakai gaun mana aja. Soalnya kamu jauh lebih cantik dari gaunnya, titik!" kata Daren.
Nayla menatap Daren sinis."Bodoamat!" Nayla langsung menutup kembali tirainya. Dan mengganti gaun putih, menjadi gaun biru langit yang tadi dia inginkan. Tak lupa, Gea dan Bela yang membantunya. Lalu, Nayla kembali membuka tirai.
Daren kembali terperangah melihat kecantikan Nayla."Sayang! Kamu ca-" Daren belum sempat melanjutkan perkataannya.
"Jangan lebay!" sela Nayla sinis.
Nayla menatap Daren tajam."Buset! Masa aku harus nyobain semua gaun di sini! Liat tuh. Banyak banget! Kamu aja yang nyobain sendiri!" jawab Nayla kesal. Pasalnya, gaun yang ada di butik Daren itu sangat banyak. Bukan sepuluh dua puluh, tapi ratusan! Bisa-bisanya Daren suruh Nayla mencoba semuanya. Bisa-bisa selesainya taun depan!
Daren cemberut."Kamu mah gitu!"
"Biarin!" jawab Nayla ketus.
Setelah mendapatkan tiga gaun, Nayla dan Daren memutuskan untuk pulang.
"Nay. Mau pulang aja?" tanya Daren. Waktu mereka berdua sudah duduk di dalam mobil.
"Iya Daren. Emangnya mau ke mana lagi?" jawab Nayla.
Daren berdehem."Jalan-jalan dulu aja, gimana?"
"Jalan-jalan ke mana?" tanya Nayla sedikit antusias.
"Hmm... Ke pantai aja yuk? Diem sambil nyemil di pinggir pantai kayaknya enak! Nanti ke minimarket dulu beli jajanan sama es krim. Gimana?" tanya Daren.
__ADS_1
Nayla tersenyum senang."Boleh!" jawab Nayla semakin antusias.
"Oke!"
Daren melajukan mobil ke arah minimarket terdekat. Buat membeli beberapa camilan, es cream dan minuman. Tak lama, mereka sampai, Daren memarkiran mobil di pekarangan minimarket.
"Yuk turun!" kata Nayla senang.
Daren terkekeh pelan."Yuk!"
Mereka berdua langsung turun dan mengambil keranjang untuk belanjaan."Aku mau ini!" ujar Nayla sambil mengambil beberapa bungkus keripik.
"Ambil aja, semua yang kamu mau," jawab Daren lembut.
"Sama minimarketnya boleh?" kata Nayla bercanda.
"Boleh! Kamu mau? Aku belikan ya?" jawab Daren. Membuat Nayla membelalakan matanya kaget.
'Gak lagi-lagi bercanda sama Daren!' batin Nayla ngeri.
Nayla terus memasukan keripik, permen dan wafer ke dalam keranjang. Daren yang melihat kulkas di depannya langsung mengambil beberapa air mineral dan beberapa minuman soda.
"Daren! Aku ambil es krim dulu, ya?" kata Nayla.
"Gak berdua aja?" tanya Daren.
"Aku sendiri aja! Kamu ambilin susu kotak sekalian ya, aku sebentar kok!" jawab Nayla. Lalu, bergegas pergi setelah Daren mengangguk.
Nayla langsung mengambil beberapa es cream yang dia mau. Dan tak lupa mengambilkan buat Daren juga. Nayla sedikit aneh, kenapa minimarket ini kulkas es creamnya sedikit jauh dari kulkas minuman, biasanya deketan. Tapi, Nayla langsung menepis pikirannya itu dan kembali mengambil es cream yang banyak.
"Hai, Nayla!"
Nayla menoleh ke sumber suara. Ternyata, Lia-mantan sahabatnya itu yang menyapanya."Apa?" jawab Nayla ketus.
"Ketus amat. Nanti gak laku, loh!" ucap Lia sarkas.
Bersambung...
Jangan lupa Like dan Komentarnya ya biar author semangat buat update bab baru! Terimakasih🫶
__ADS_1