
Orang itu memberikan sebotol air di tangan Nayla."Makasih!" kata Nayla tersenyum senang. Dia sangat bersyukur bertemu dengan orang baik ini. Walau pun, Nayla belum bisa melihat dengan jelas wajahnya. Karena pandangannya masih mengabur. Dan sepertinya, orang itu juga menggunakan masker yang menutupi wajahnya.
Nayla merasakan tangannya di tarik pelan. Lalu, Nayla di tuntun ke arah mobil."Maaf... kamu bisa tolong antarkan saya ke kota Kembang. Jalan mawar nomor 21, nggak? Nanti saya bayar, gimana?" kata Nayla. Orang itu menganggukan kepalanya. Membuat Nayla tersenyum lebar."Terimakasih!" kata Nayla lagi. Tapi, orang di sampingnya ini hanya mengangguk lagi.
Nayla sedikit curiga, tapi kepalanya yang semakin berputar tak mengidahkan kecurigaan Nayla. Nayla hanya berusaha berpikir positif. Mungkin, orang ini lagi ada masalah, jadi tidak mau menjawab omongan Nayla. Nayla hanya berharap, semoga laki-laki gila itu tidak menemukannya.
Nayla mengerjapkan matanya pelan, supaya dia tetap sadar. Tapi, perlahan-lahan mata Nayla menutup. Dia merasakan rasa ngantuk yang tidak tertahan. Badannya terasa panas, padahal sebelumnya Nayla kedinginan.
'Aku kenapa?' batin Nayla aneh. Nayla menepuk-nepuk pipinya pelan.'Jangan tidur, Nay!' tapi, semakin di tahan. Matanya semakin berat.
Orang yang berada di samping Nayla tersenyum puas, sambil membuka masker yang menutup sebagian wajahnya."Tidur yang nyenyak sayang... Sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku seutuhnya."
*****
Nayla terbangun dari tidurnya. Nayla menyangka, jika dirinya sudah berada di rumahnya. Tapi, saat Nayla mengedarkan pandangannya. Betapa terkejutnya Nayla. Ternyata, Nayla kembali ke rumah laki-laki gila itu.
"Hai, sayang... Sudah bangun?"
Nayla menatap laki-laki itu takut. Gemuruh di dadanya bergejolak."Lepasin aku!" sentak Nayla.
Plak!
Plak!
Wajah Nayla tertoleh. Panas mulai menjalar di pipi kanan dan kiri Nayla.
"Kenapa kamu kabur. Sayang?" tanya laki-laki itu. Dia mendongakkan wajah Nayla kasar."JAWAB AKU!" bentak laki-laki itu. Saat melihat tatapan takut Nayla.
"A-aku..."
Plak!
"Isss..." ringgis Nayla pelan. Pipinya terasa semakin panas.
Plak!
"Aku sudah bilang. Kalo kamu itu milikku, Nayla!"
Plak!
Tamparan demi tamparan laki-laki itu layangkan ke pipi Nayla. Membuat sudut bibir Nayla berdarah. Nayla hanya bisa memberontak kecil, mencoba melepaskan ikatan di tangan dan kakinya.
'Mama... Papa... Tolong Nayla!' batin Nayla lirih.
"Kamu cuma akan menjadi milikku. Nayla Ganendra!" laki-laki itu beranjak membuka bajunya. Membuat Nayla memalingkan wajahnya.
'Daren...' lirih Nayla pelan.
Drtttttt
Drtttttt
__ADS_1
Ponsel laki-laki itu berdering. Membuat sang empu mengumpat kasar sambil mengangkat telepon masuk.
"Halo! Kenapa?!" sentak laki-laki itu kesal.
"Bos. Orang-orang itu sudah tau lokasi bos sekarang. Bos harus cepat pergi dari situ!"
Tut! Dia mematikan telepon sepihak.
Laki-laki itu berdecak kesal."SIAL*N! BRENGS*K! Orang-orang gobl*k itu hanya menggangu saja!"
Laki-laki itu kembali memakai bajunya. Dan memakai jaket tebal. Tak lupa, dia membawa tas selempangnya.
"Ayo kita pergi dari sini, sayang..." kata laki-laki itu. Dia menggendong Nayla yang memberontak, lalu memasukannya ke dalam mobil.
Dia melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi.
*****
Daren berdecak kesal sambil mengacak rambutnya frustrasi."Apa kalian sudah mencari Nayla ke seluruh kota itu?!" sentak Daren.
Beberapa laki-laki berpakaian hitam itu mengangguk yakin."Sudah pak! Kami tidak menemukan jejak keberadaan bu Nayla! " jawab salah satu dari mereka..
"CARI KE KOTA SELANJUTNYA!!" perintah Daren mutlak."KALO PERLU. GELEDAH SELURUH RUMAH! JANGAN SAMPAI ADA YANG TERLEWATKAN!!" bentak Daren.
Daren sangat frustrasi. Sudah dua hari Nayla menghilang secara tiba-tiba. Bahkan, sampai sekarang Daren sama sekali tidak menemukan sedikit pun jejaknya. Walau pun, segalanya sudah Daren kerahkan. Bahkan, beberapa bodyguard kelas atas juga sudah dia turunkan. Tapi, dia masih belum menemukan keberadaan Nayla.
Drtttttt
Daren menatap ponselnya, dan mengangkat cepat panggilan telepon dari seseorang.
Daren mengernyit."Kamu yakin?" tanya Daren tegas.
"Yakin pak!" jawabnya lantang.
"Baik. Terimakasih!" kata Daren.
Tut!
Daren menghela napas panjang. Kalo bukan Bian, terus siapa?
"Nayyyy. Kamu di mana?" gumam Daren lirih.
Drtttttttt
Ponselnya kembali bergetar. Tarnyata, dari salah satu komandan bodyguardnya.
"Halo..."
"Halo pak Daren. Saya sudah menemukan titik terakhir bu Nayla berada. Tapi, sepertinya mereka sudah tau lebih dulu. Jadi, waktu saya sampai. Mereka sudah tidak ada. Saya juga sudah menyuruh bawahan, perkelompok berpencar di area sini. Saya hanya menemukan sepasang high heels berwarna hitam, sepertinya milik bu Nayla!" jelas komandan.
Deg! Jantung Daren berdegup kencang."Kota mana?!" tanya Daren.
__ADS_1
"Kota pelangi, jalan anggrek. Rumahnya memang jauh dari jalan utama. Di dalam hutan berantara, pak!" jawab komandan.
"Baik. Saya ke sana sekarang. Tolong suruh yang lainnya berjaga di kota terdekat dari kota itu. Kalo perlu, suruh semua mobil berhenti. Dan cek satu persatu. Untuk waktunya. kasih permobil satu juta!" kata Daren tegas.
"Baik pak."
"Baik. Terimakasih!" kata Daren.
Tut!
Daren berlari menuju perkiran. Saat hendak melajukan mobil, ponselnya kembali berdering. Tapi kali ini, nomor tidak di kenal yang meneleponnya. Daren langsung mengangkat, siapa tau hal yang penting. Apa lagi, situasinya seperti ini.
"Halo..."
"Halo. Ada apa ya?" tanya Daren to the point.
"Pak Daren, Saya Gilang. Pemilik hotel bintang tenggara. Yang bapak kunjungi satu bulan lalu. Mau memberi informasi, barusan kata pegawai saya, ada laki-laki yang check-in kamar. Dia membawa seorang wanita tak sadarkan diri, memakai gaun hitam. Wajahnya mirip seperti bu Nayla. Dan katanya, gaunnya sama persis seperti yang dia lihat di televisi kemarin! Bapak bisa datang ke hotel kami sekarang?" jelas Gilang.
Jantung Daren bergemuruh hebat."Baik, pak. Saya kesana sekarang!"
Tut!
Daren langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Sial! Hotel bintang tenggara cukup jauh dari sini!" teriak Daren emosi.
*****
Tok! Tok! Tok!
Laki-laki itu mendengkus kesal. Dan berjalan untuk membuka pintu kamar hotel, yang baru dia pesan beberapa menit lalu."Kenapa?" tanya laki-laki itu.
"Ini pak. Saya mau antar menu makan malam. Bapak mau pesan apa? Biar kami buatkan," kata pegawai hotel ramah.
"Kenapa gak lewat telepon aja? Ganggu tau!" sentak laki-laki itu kesal.
"Maaf sebelumnya pak. Saya tadi sudah menelepon, tapi bapak nggak angkat!" kata pegawai itu.
Dahi laki-laki itu mengernyit."Tidak ada telepon masuk, tuh!" jawabnya kesal.
"Loh? Apa teleponnya rusak ya? Saya jelas-jelas menelepon bapak hampir 10kali, loh!" kata pegawai itu meyakinkan. Sebenarnya jantungnya berdegup kencang, takut ketahuan bohong. Kalo dia hanya menunda waktu untuk Daren.
Laki-laki itu menatap pegawai tajam."Yasudah! Saya pesan iga bakar dua. Minumnya jus jeruk satu sama jus strawberry satu."
"Siap pak! Mau saya antar atau-"
"Antar jam tujuh malam! Jangan lebih semenit pun!" sela laki-laki itu tajam.
"Baik pak. Terima-"
BRUK!
Pegawai itu mengusap dadanya pelan. Saat laki-laki itu membanting keras pintu kamar hotel. 'Pak Daren. Cepetan datang,' batin pegawai itu khawatir.
__ADS_1
HAPPY READING🥰🥰🥰
Ada yang nungguin cerita ini? hihihi.