
"A-APA?!" sentak Nayla terkejut. Pikiran Nayla menerawang jauh, ke kejadian tadi sore. Ternyata, itu nyata, bukan halusinasinya saja!
Daren tersenyum nakal."Mau lagi?"
"Hah?" Nayla melongo sambil menatap Daren yang terkekeh melihat ekspresi wajah Nayla."NGGAK!" teriak Nayla malu. Nayla langsung menutup wajahnya menggunakan selimut.
Daren tertawa pelan, lalu berjalan ke arah kopernya, yang tadi sempat di antarkan sama pak sopir. Setelah Daren menghubungi keluarganya dan keluarga Nayla. Mereka langsung Ingin datang menghampiri. Tapi, Daren menahan mereka. Daren bilang, kalo besok siang Daren akan pulang bersama Nayla.
Daren langsung memakai kaos hitam dan celana pendek coklatnya. Nayla hanya mengintip sedikit dari bawah selimut. Nayla masih gak habis pikir, kalo dia melakukan hal seperti itu dengan Daren. Walau pun, dalam hati kecilnya. Dia senang, karena bukan laki-laki gila itu yang mengambil keper*wanannya.
"Bangun, terus mandi. Kita makan keluar yuk, kamu belum makan kan?" tanya Daren mendekat ke arah Nayla.
Nayla menghindar."Iya..."
Daren tertawa pelan. Tingkah Nayla benar-benar sangat menggemaskan di matanya."Mau makan apa?"
Nayla berdehem."Hmm... Makan bakso? Enak kayaknya!" jawab Nayla antusias.
"Yaudah, ayok cepetan. Mau mandi sendiri apa aku mandiin?" goda Daren.
Nayla berdecih kesal."SENDIRI!" teriak Nayla malu. Pipinya berubah menjadi merah.
Daren mencolek pipi Nayla pelan."Aku mandiin aja ya?" goda Daren lagi.
"NGGAKKKK!!!"
Nayla berlari ke arah kamar mandi, dengan tubuh yang terbalut selimut. Tapi, baru beberapa langkah, Nayla berhenti. Merasakan rasa nyeri di area bawah sana."Hiks. Sakiiiittttt!!!" kata Nayla duduk di lantai.
Daren langsung berlari menghampiri."Sakit apa sayang? Ayo ke rumah sakit!" kata Daren panik.
Nayla menatap Daren nyalang."Gara-gara kamu!" jawab Nayla kesal. Daren mengernyit bingung.
"Gara-gara aku?" tanya Daren kebingungan.
"A-aku gabisa jalan..." kata Nayla terbata.
Daren langsung menggendong Nayla ke kamar mandi."Mau aku mandiin aja?" goda Daren setelah mengerti.
"Nggak! Tolong anterin aku sampe bath up aja. Nanti aku mandi sendiri!" tolak Nayla.
"Yakin? Nanti sakit loh!" kata Daren masih menggoda.
"Nggak! Nanti kalo udah selesai, aku panggil lagi!"
Daren menurun kan Nayla ke bath up dengan perlahan. Kemudian, Nayla hendak membuka selimut yang membalut tubuhnya. Tapi, Daren masih berdiri sambil memperhatikan Nayla."Keluar sana!" usir Nayla.
"Kenapa? Aku pengen liatttt..." rengek Daren.
"Nggak! Sekarang keluar!!" tolak Nayla.
"Ish. Pelit!" kata Daren cemberut. Daren berjalan ke arah pintu.
"DASAR MESUM!!" teriak Nayla sebelum Daren menutup pintu kamar mandi.
Tak lama, Nayla sudah selesai mandi. Dia sudah berdiri di samping bath up menggunakan handuk. Tapi, bagian bawahnya masih terasa perih. Membuat Nayla ngilu sendiri. Jadi, mau tidak mau. Dia harus kembali minta tolong pada Daren.
"Dareeennnnn! Aku udah selesai..." teriak Nayla.
Daren yang mendengar teriakan Nayla, langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi."Iyaa..." sahut Daren.
Daren langsung menggendong Nayla dan mendudukannya di atas kasur. Ternyata, Daren sudah menyiapkan kaos dan celana untuk Nayla. Membuat hati Nayla menghangat.
"Daren... Kayaknya aku nggak bisa keluar buat makan bakso deh. Gimana kalo kita pesen aja? Makannya di sini sambil nonton film," kata Nayla.
Daren mengangguk."Iya sayang, pesan aja."
__ADS_1
Nayla hendak memakai baju. Tapi, Daren masih duduk di sofa menghadap ke arahnya. Membuat Nayla kembali berdecak."Daren. Hadap sana, aku mau pake baju!" suruh Nayla kesal.
Daren mencebikkan bibirnya."Kamu pelit! Padahal, aku udah liat se-"
"Daren!" sela Nayla. Matanya menatap Daren tajam.
Daren cengengesan."Iya-iya!"
Setelah Daren membalikan badannya. Nayla langsung memakai baju dan celananya."Sudah. Cepetan pesen makanan!" kata Nayla.
Daren langsung berbalik dan menghampiri Nayla."Barengan aja!" kata Daren, langsung duduk di samping Nayla. Mereka pun memesan bakso dan makanan lainnya lewat sebuah aplikasi.
Tak lama, setelah makanan sampai. Mereka berdua langsung memakannya di depan televisi sambil menonton film.
Drttttt drtttttt
Ponsel Daren bergetar. Saat Nayla sedikit menoleh ke layarnya, ada beberapa pesan masuk. Sepertinya, dari nomor tidak di kenal. Karena tidak ada namanya.
"Daren, itu ada pesan masuk!" kata Nayla memperingati.
Daren berdehem."Hmm... Biarin aja, nggak penting."
"Emangnya siapa?" tanya Nayla penasaran.
"Gak tau."
"Siapaaa?!"
"Gak tau, sayang."
"Aku liat boleh?" kata Nayla meminta izin.
Daren mengangguk."Boleh, kamu bales juga boleh."
Nayla tersenyum senang. Dan langsung mengambil ponsel milik Daren."Kata sandinya?" tanya Nayla.
"Oke!"
Nayla pun membuka kata sandi di ponsel Daren. Benar saja, saat Nayla memasukan tanggal pernikahan mereka. Sandi itu terbuka. Sepertinya, dia juga harus mengganti kata sandi di ponselnya.
08×××××
"Daren... Ini aku, Ze. Kamu beneran udah menikah?"
Nayla mengernyit. 'Zee?' batin Nayla.
Nayla langsung membalas pesan itu. Atas izin Daren tentunya.
"Zee siapa ya?"
Tuk. (Terkirim)
Drrtttt. Nayla baru saja hendak menyimpan ponsel milik Daren, tapi pesannya sudah di balas.
08×××××
"Zee. Zelina erika. Kamu kan biasa panggil aku Zee! Masa kamu lupa?"
Nayla berdecak kesal setelah membaca pesan itu. Nayla kira, yang mengirimi pesan pada Daren adalah laki-laki. Tapi, ternyata perempuan. Memang sudah ketebak dari awal sih.
Nayla kembali membalas pesan itu.
"Oh. Ada perlu apa ya, Zelina?"
Tuk. (Terkirim)
__ADS_1
Drtttttt.
08×××××
"Kok Zelina? Aku Zeenya kamu, Daren! Bukan Zelina. Pokoknya, aku tetep mau di panggil Zee cuma sama kamu!"
'Zee, Zee, Zee, pala bapakmu!' batin Nayla kesal.
Nayla kembali membalas pesan dari Zee.
"Ada perlu apa?
Tuk. (Terkirim)
08×××××
"Aku besok pulang ke sana. Kita ketemu ya? Aku kangen banget sama kamu!"
Deg! Jantung Nayla berdegup kencang. Sepertinya bibit-bibit pelakor mulai terasa. Tentunya, tidak akan Nayla biarkan!
"Nggak. Makasih," balas Nayla.
Tuk. (Terkirim)
08×××××
"Loh kenapaaaa? Aku kangen sama kamu, Daren!"
Kepala Nayla mendidih. Rasa cemburu memasuki relung dan pikiran Nayla.
"Saya sudah menikah!" balas Nayla cepat. Dia ingin melihat balasan Zee, jika tau Daren sudah menikah.
Tuk. (Terkirim)
08×××××
"Kok kamu nikah sama cewek lain? Bukannya kamu janji mau nikahin aku?!"
'Pakyu Zee!' batin Nayla emosi.
Nayla langsung membalas kembali pesannya dengan perasaan kesal.
"Maaf mbak, saya istrinya. Tolong jauh-jauh dari suami saya!" balas Nayla cepat.
Tuk. (Terkirim)
08×××××
"Oh. Jadi kamu istrinya? Saya yang lebih dulu kenal sama Daren. Jadi, Daren punya saya! Tolong jangan jadi perebut ya, buat mbaknya."
Nayla mengernyit. Kepalanya semakin mendidih.'Apa-apaan balasannya ini?' pikir Nayla.
"Kamu yang kenal Daren pertama. Tapi, Daren sukanya sama saya. Gimana dong?"
Tuk. (Terkirim)
Senyum puas tercetak di wajah cantik Nayla.
HAPPY READING 🥰🥰🥰
*H**ai kak. Boleh minta dukungannya? Like dan komentarnya dong* jangan lupa! Terimakasih🫶
Visual Nayla Ganendra
__ADS_1
Visual Daren Ryder Eddyson.