ONLY MINE!

ONLY MINE!
Bulan Madu mau ke mana?


__ADS_3

Nayla tengah menatap langit-langit kamarnya sambil melamun. Pikirannya jauh menerawang ke depan. Seminggu lagi, dia akan menikah dan menjadi istri Daren Ryder Eddyson. Tapi, Nayla merasa tidak siap untuk itu.


Nayla menghela napas panjang. Apa yang akan dia lakukan jika sudah menikah? Nayla terus menerka-nerka. Apa dia akan sekamar dengan Daren? Atau Daren akan menciuminya terus seperti kemarin-kemarin? Nayla langsung menutup wajahnya menggunakan bantal. Perasaan takut bercampur malu bergejolak di hatinya. Apa lagi, sekarang pipi Nayla mulai memanas, sepertinya sudah berubah menjadi merah. Nayla langsung mencubit pipinya keras supaya sadar. Kenapa kesannya dia malah berharap?


Tok! Tok! Tok!


"Nay... Ini mama!"


Nayla tersentak kaget, lalu berjalan ke arah pintu. Memutar kuncinya dan membukanya. Mama masuk sambil tersenyum."Kamu belum tidur, sayang?" tanya mama.


Nayla menggeleng."Belum, maa. Nayla nggak bisa tidur," jawab Nayla.


Mama terkekeh."Lagi mikirin apa sih? Mikirin Daren yaaaa?" goda mama.


Nayla mengerucutkan bibirnya kesal."Nggak! Nayla cuma bingung... Nanti abis nikah, apa yang bakalan Nayla lakuin?" jawab Nayla.


Mama tertawa."Apa lagi? Melayani suami kamu dengan baik," jawab mama.


"Melayani gimana?" tanya Nayla bingung.


"Yaa... Nanti juga kamu tau. Kalo urusan pekerjaan rumah dan dapur sih, pasti Daren ngambil orang," jawab mama lagi. Sambil mengusap rambut panjang Nayla.


"Terus Nayla kerjain apa?" jawab Nayla masih kebingungan.


Mama berdehem."Apa aja, yang di sukai Nayla dan Daren," jawab mama.


Nayla merekahkan senyumannya."Jalan-jalan?"


Mama mengangguk."Pasti! Apa lagi, Daren kan sering bolak-balik keluar kota sama keluar negeri. Nayla ikut aja!"


Nayla menghela napas panjang."Tapi maaa... Kan Nayla juga urus perusahaan papa. Mana bisa Nayla tinggal!"


"Oh, iya! Mama sampai lupa!" jawab mama terkekeh pelan."Tenang... Kan nanti ada yang bantuin kamu handel perusahaan papa!" sambung mama.


Nayla mengernyit."Siapa?"


"Nanti juga kamu tau..." jawab mama.


*****


Nayla menenggelamkan wajahnya di tumpukan kedua tangannya di atas meja kerjanya.


"Kenapa, Nay?" tanya Nina. Nina memang sudah mulai bekerja dua hari ini. Karena kakinya sudah sembuh dan badannya sudah kembali sehat.


"Gapapa, Nin..." jawab Nayla lesu.


"Capek?" tanya Nina.


"Nayla berdehem."Ngga..." jawabnya pelan.

__ADS_1


"Terus?" tanya Nina lagi.


"Aku nggak punya tenaga lagi," jawab Nayla.


Nina mendekat ke arah Nayla, dan membantu membereskan map yang berserakan."Gimana kalo kita makan es krim? Gue tau di mana es krim yang enak!" kata Nina.


Nayla mendongak."Mau!" seru Nayla senang.


Nina tertawa."Kalo soal es krim aja, cepet!"


Nayla menarik pelan tangan Nina."Ayo kita berangkat!"


"Woi tunggu! Map nya belum beres..." kata Nina.


Nayla terkekeh pelan."Oke! Kita bereskan dulu."


Nina menatap Nayla yang tengah membereskan map dengan secepat kilat. Rupanya, tenaganya sudah balik lagi kalo mendengar nama es cream.


Nina dan Nayla langsung melaju ke tempat yang akan mereka tuju. Nayla mengikuti Nina dari belakang, karena mereka membawa mobil masing-masing. Tak lama, Nina belok dan memarkirkan mobilnya di salah satu cafe. Membuat Nayla langsung memutar balikkan mobilnya untuk menyusul Nina.


Nayla mengedarkan pandangannya, cafe ini terlihat besar dan cukup di desain dengan mewah. Nina sedang memesan, dan berjalan ke arah Nayla yang duduk di bangku tak jauh dari kasir.


Tak lama, pesanan Nina sampai. Dua mangkuk es cream komplit ukuran sedang berada di depan mereka. Membuat Nayla langsung menyendokkan satu persatu rasa ke dalam mulutnya.


"Enakkk!" pekik Nayla senang.


"Wah. Beneran enak banget!" seru Nina antusias.


Nina mengangguk."Siap bu bos! Traktir ya?"


Nayla mengangkat jempolnya mengiyakan."Beresss!"


Nina dan Nayla memakan es cream mereka dan asik mengobrol sambil tertawa pelan.


"Hai..."


Nayla menoleh ke arah belakangnya. Ternyata, Adnan dan Daren sudah berdiri di belakang Nayla."Loh? Kok kalian ada di sini?" tanya Nayla bingung.


"Sini duduk!" kata Nina mempersilahkan.


"Gue yang kasih tau mereka, kalo kita ada di sini," jawab Nina santai.


"Oh gitu," jawab Nayla.


Adnan memanggil salah satu pelayan dan langsung memesan. Sedangkan Daren hanya menatap Nayla yang sedang tertawa bersama Nina.


Pletak!


"Aws!" ringis Daren.

__ADS_1


"Daren! Mau pesen apa!" kata Adnan kesal. Karena dia sudah memanggil Daren sebanyak tiga kali, tapi Daren tetap tidak menanggapi.


Daren menatap Adnan tajam."Samain aja!" jawab Daren ketus dan kembali ke kegiatan sebelumnya.


Tak lama, pesanan Adnan dan Daren datang. Adnan memesan semangkuk es cream yang sama seperti Nina dan Nayla."Oh, iya. Nanti kalian mau bulan madu ke mana?" tanya Adnan.


Uhuk! Uhuk!


Daren tersedak es cream yang baru saja dia makan."Siapa?" tanya Nayla bingung.


"Lu sama Daren lah. Siapa lagi!" sahut Nina kesal. Soalnya Nayla itu lemot banget di mata Nina.


"Aku sama Daren? Buat apa bulan madu?" tanya Nayla tak mengerti.


"Ya... Buat bikin anak lah!" jelas Adnan.


Blush!


Pipi Nayla memanas. Nayla langsung menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya."Nggak! Habis nikah kita berdua kerja lagi kayak biasa!" jawab Nayla pelan.


"Buset! Abis nikah kerja. Gak gempor tuh!" jawab Adnan. Membuat Nina tertawa.


"Udah-udah jangan di bahas! Nayla nya jadi malu," jelas Daren.


"Siapa yang malu! Lagi pula, kita gak bakalan bikin anak!" ujar Nayla kesal.


"Yakin tuh?" goda Nina.


"Yakin apa yakin?" goda Adnan.


"Yakin!" kata Nayla tegas.


Daren hanya terkekeh pelan, melihat wajah Nayla yang memerah, karena di goda oleh kedua temannya itu.


Karena sudah malam, mereka memutuskan untuk pulang. Daren ikut dengan Nayla, sekalian ingin mengantar Nayla pulang. Tak lupa dia menelepon pak sopir untuk menjemputnya di rumah Nayla. Sedangkan Nina di antar sama Adnan. Walau pun Adnan hanya bisa mengikuti Nina dari belakang, karena mereka membawa mobil masing-masing.


"Nay... Nanti kita mau jalan-jalan ke mana kalo udah nikah?" tanya Daren saat baru masuk ke dalam mobil.


Nayla berbinar dan menoleh ke arah Daren. Karena di otaknya, mereka akan jalan-jalan. Bukan melakukan apapun, apa lagi bikin anak!"Jalan-jalan? Ke Bali! Eh, atau ke Prancis aja? Atau ke Singapure? Ah, pengen keliling dunia!" jawab Nayla antusias.


"Boleh. Mau ke mana dulu? Atur aja ya. Nanti kita berangkat!" kata Daren sambil mengusap pelan kepala Nayla.


"Beneran?!" jawab Nayla senang.


"Bener dong!" kata Daren yakin.


"Asikkkk! Makasih, Daren!" pekik Nayla sambil membalikan badannya menghadap Daren.


Daren menatap Nayla nakal. Lalu, mencondongkan badannya ke arah Nayla."Kalo bulan madu... Mau ke mana sayang?" bisik Daren pelan.

__ADS_1


Bersambung...


Haiiiii kaliaannnn. Gimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya! Jangan lupa like dan komentar supaya author semangat buat update bab baru! Terimakasih!😭🫶


__ADS_2