
Pagi ini aku terbangun di atas kasur lantai. Padahal, semalam aku ketiduran di atas sofa. Atau aku lupa kalo aku pindah ke sini? Ah, biarin deh! Aku harus siap-siap untuk berangkat ke bandung pagi ini.
Aku langsung bergegas untuk membereskan bajuku, memasukan barang yang menurutku penting ke dalam koper. Aku hanya membawa handuk, dua celana, dua kaos, tiga baju tidur, dua baju renang, dan dua dress. Mungkin, aku akan membawa satu sendal karet jelly putih juga.
Tak lupa, aku memasukan skincare dan makeup. Setelah selesai, aku bergegas untuk mandi.
"Nay... Udah beresin baju belum?" teriak Nina dari dalam kamar.
"Udah, Nin!" jawabku yang masih sibuk sabunan.
"Kok gak bangunin? Gue jadi gak ngebantuin kan!" protes Nina.
"Gak apa-apa Nin! Dikit doang kok, semenit beres." jawabku.
Selesai mandi, aku langsung keluar. Terlihat Nina sedang memainkan ponselnya sambil memakan cemilan.
"Mandi cepat! Telat nih..." kataku.
Nina menatapku malas,"Iya-iya..." jawabnya langsung bergegas mandi.
Aku langsung memakai bajuku dan makeup seperlunya.
Nina keluar dari kamar mandi dan langsung bersiap. Setelah selesai semuanya, kami berempat berkumpul di meja makan. Untuk sarapan, biar gak pingsan di jalan.
*****
Tepat pukul delapan pagi, kami langsung berangkat menuju bandung. Kali ini, Daren yang menyetir. Aku duduk di samping Daren. Nina dan Adnan di kursi belakang.
Kami bersenang-senang di dalam mobil, bernyanyi dan memakan cemilan melepas lelah yang kami bawa dari pekerjaan.
Tak terasa sudah sekitar empat jam, kami sampai di bandung. Tepat pukul 12 siang. Karena villa yang mau kami tempati siapnya jam 2 siang, jadi kami memutuskan untuk cari tempat makan dan tempat nongkrong dulu.
"Gimana kalo kita ke cafe ini..." kata Nina menunjukan foto cafenya padaku.
"Boleh..." jawabku.
"Oh, cafe ini... Aku tau tempatnya," Kata Daren dan langsung melajukan kembali mobilnya.
Sekitar sepuluh menit kami sampai di cafe. Daren langsung memarkirkan mobil dan kami semua turun.
Aku melihat sekitar, ternyata cafenya sangat bagus. Apa lagi, untuk foto-foto. Setelah memesan makanan dan minuman, aku mengajak Nina untuk berfoto.
"Foto sebelah sana, yuk!" kata Nina menarik pelan tanganku.
Kami berdua foto di depan kaca besar. Cafe ini benar-benar aesthetic. Ada hiasan seperti awan yang menggantung menambah ke cantikan cafe. Ada panjangan bulan sabit di dekat pohon yang sudah di hias dengan sangat bagus. Lampu-lampu berkelap-kelip mengelilingi pohon dan bulan sabit.
Setelah puas berfoto, aku dan Nina kembali. Ternyata, makanan sudah siap di atas meja. Kami langsung makan sambil berbincang kecil.
Sesudah makan, kami berempat langsung duduk di balkon cafe sambil berbagi cerita.
"Tuh, si Nayla. Kata mamanya pas kecil badung banget!" kata Nina sambil menatap jail ke arahku.
Aku menoleh cepat."Namanya anak-anak, ya wajar dong! Kamu juga dulu bandel!" kataku tak terima.
Nina tertawa."Bandelnya lu itu beda, Nay!"
"Beda gimana?" kata Daren kepo, Adnan mengangguk memasang wajah penasaran.
"Iya. Dia pernah kabur dari rumah gara-gara nggak di beliin coklat sama papanya." kata Nina menahan tawa.
"Masa sih?" kata Adnan menatap kearahku.
__ADS_1
Aku mendengkus kesal."Itu kan emang fatal masalahnya!" kataku membela diri.
"Bukan itu masalahnya... Tapi, lu abis kabur malah balik lagi sendiri, gara-gara kelaperan. Padahal, kaburnya baru sepuluh menit. Haha!" suara ketawa Nina menggelegar.
"Mana ada orang kabur cuma sepuluh menit doang kalo bukan Nayla!" lanjut Nina mengejekku.
Adnan dan Daren ikut tertawa.
"Tapi... Nina juga pernah tuh!" aku menatap Nina untuk balas dendam.
"Apa-apa?!" kata Adnan berusaha menghentikan tawanya.
"Pas masih sd pipis di kelas, di elapin pake buku!" kataku sambil tertawa karena membayangkan Nina.
"Mana ada!" kata Nina menatapku tajam.
"Adaaaa! Kata mama kamu." jawabku masih terus tertawa.
"Adnan juga pernah kayak gitu." sahut Daren.
Aku dan Nina langsung menoleh ke arah Adnan yang sibuk menertawakan aku dan Nina. Sambil memegang perutnya.
"Emang iya?" tanya Nina penasaran.
Daren mengangguk."Dia pernah pipis di kelas juga... Tapi, di elapnya pake buku pelajaran sekolah. Yang lebih parahnya, bukunya punya temennya. Jadi, Adnan gak punya temen karena takut buku mereka jadi korban," kata Daren.
Aku dan Nina saling pandang. Tawa kami berdua pecah seketika.
"Ahahahahah.... Adnan lebih parah!" kataku.
"Bener! Hahaha.... Masa pake buku temennya?" kata Nina sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya karena kebanyakan ketawa.
"Masa manjat pohon mangga bisa, tapi giliran mau turun nggak bisa. Teriak-teriak manggil mama!" lanjut Adnan membalas Daren.
"Mana ada gue kayak begitu!" bantah Daren.
"Terus pernah diem di pohon seharian karena gak bisa turun. Pas mama lu lagi keluar buat arisan... Hahaha!" suara ketawa Adnan nyaring.
Daren yang kesal langsung menutup mulut Adnan yang sedang asik tertawa.
"Diem tukang kencing!" ejek Daren.
"Biarin... Dari pada lu, bisa naik tapi gabisa turun!" balas Adnan tak jelas karena mulutnya di sumpel sama Daren.
Aku dan Nina menertawakan kelakuan Adnan dan Daren yang terus-menerus saling ejek.
*****
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 2 siang. Kami langsung bergegas menuju villa yang akan kami tempati untuk tiga hari ke depan.
Waktu sampai di villa, dinginnya angin sepoi-sepoi sudah menyambut kedatangan kami, udara segar di sini sangat nyaman di hirup.
Aku mengelilingi villa yang masih di kelilingi pohon-pohon. Aku terus mengedarkan pandangan, di jakarta sangat susah melihat pemandangan bukit hijau seperti ini. Sebulan juga mau aku tinggal di sini! Hehe.
Aku ke arah belakang villa, ada satu kolam renang besar. Memang sih, villa ini lumayan besar untuk berempat. Karena kapasitas seharusnya untuk delapan sampai sepuluh orang.
Aku duduk di samping kolam, suasana di sini sangat dingin dan damai. Tidak ada suara kendaraan karena lumayan jauh dari jalan.
Walau pun di rumahku ada kolam renang, tapi di sini rasanya sangat berbeda. Dengan suasana yang berbeda tentunya.
"Nay... Ngapain?"
__ADS_1
Aku menoleh, Daren duduk di sampingku.
"Gak ngapa-ngapain. Cuma duduk aja, seneng bangettt bisa liburan ke sini," Kataku tersenyum lebar.
"Sama... Aku biasanya di rumah aja, soalnya bosan ke luar negeri mulu," jawab Daren sambil memasukan kakinya ke dalam kolam.
"Padahal, di indonesia juga banyak tempat dan wisata yang indah-indah loh. Jadi, gak usah jauh-jauh ke luar negeri," kataku.
Daren mengangguk."Bener. Makanya, aku ikut pas Adnan ngajakin ke sini..."
Aku hanya tersenyum menanggapi omongan Daren.
Drtttttttt
Aku merogoh tasku, mengambil ponsel yang terus bergetar. Aku langsung menatap layar ternyata telepon masuk dari Raka.
Aku mengangkat teleponnya.
"Halo..."
"Halooo, Nay. Gimana kabarmu?" suara lembur Raka terdengar.
"Baik... Kamu?" jawabku.
"Aku juga baik. Oh, iya. Hari ini kantormu libur nggak?" tanya Raka.
"Libur, kok. Ada apa Raka?" tanyaku langsung.
"Bagus deh! Aku mau ngajakin main ke bandung. Kamu mau nggak?" tanya Raka terdengar antusias.
"Tapi... Aku udah ada di bandung, lagi liburan nih," jawabku pelan.
Raka menghembuskan nafas pelan."Yah... Padahal, aku pengen banget liburan bareng kamu, bosen banget di rumah terus!"
"Yaudah, nanti aku kabarin lagi ya..." kataku langsung mematikan telepon.
Sedikit bingung sih, posisinya aku baru kenal Raka. Tapi, sepertinya dia orang yang baik. Aku juga nggak tega udah nolak ajakan Raka. Apa aku ajak aja dia ke sini ya? Mumpung masih ada dua kamar kosong. Karena di villa ini ada enam kamar tidur. Empatnya sudah terisi sama Aku, Nina, Daren dan Adnan.
Aku menatap ke arah Daren yang sedang memainkan air kolam.
"Daren... Aku boleh ajak temenku buat liburan bareng di sini nggak?" tanyaku.
Daren menoleh."Raka?"
Aku mengangguk antusias."Iya!"
"Cowok?" tanya Daren lagi.
Aku kembali mengangguk."Iya!"
"Gak boleh!" kata Daren tegas.
Bersambung...
Hai kakak semuanya, jangan lupa like, coment dan vote yaa. Biar author semangat buat update❤️
Terimakasih banyak 🫶
Oh, iya. dukung terus author ya 😊🤍
Salam dari karawang🫶
__ADS_1