ONLY MINE!

ONLY MINE!
Butik


__ADS_3

Nathan mengedarkan pandangannya. Ternyata, istrinya itu tengah duduk sendirian sambil memakan makanan di depannya. Nathan berjalan pelan ke arah Nadin.


"Sayang..." panggil Nathan lembut.


Nadin terhenyak kaget sambil menoleh ke belakang."Ya ampun, beb! Ngagetin aja!" jawab Nadin sambil mengusap dadanya kaget.


Nathan terkekeh pelan melihat reaksi Nadin."Aku kan nggak ngagetin kamu... Manggil juga pelan-pelan," kata Nathan pelan sambil mengusap kepala istrinya itu.


"Beb... Aku udah beliin Nayla beberapa camilan, hehe!" kata Nadin. Sambil menunjukan seplastik putih camilan yang dia beli.


Nathan tersenyum."Bagus, pasti Nayla suka."


Nadin terkekeh pelan."Kamu mau makan dulu, atau mau balik ke ruangan Nayla?" tanya Nadin. Lalu, berdiri hendak mengembalikan piring.


"Kembali aja yuk! Banyak yang mau aku pelajarin," jawab Nathan.


Nadin mengangguk dan mengembalikan piring. Lalu, berjalan bersama Nathan menuju ruangan Nayla. Nathan dan Nadin tertawa pelan sambil bercanda gurau berdua. Saat memasuki ruangan karyawan dan karyawati, yang tadi sempat membicarakan Nathan. Nathan merangkul pinggang Nadin mesra. Membuat Nadin menoleh dengan tatapan bingung.


"Sayang, hari ini mau makan apa?" tanya Nathan mesra. Sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Nadin.


Nadin menoleh."Makan seafood yuk? Aku kepengen banget!" jawab Nadin senang.


Nathan terkekeh."Baiklah, sayang!" jawab Nathan.


'Oh, itu istrinya? Pantesan. Cantikkk banget ternyata!'


'Menurut gue sih. Pak Nathan cocoknya sama gue.'


'ngimpi lu! Itu istrinya cantik begitu di bilang gak cocok. Iri lu ya?'


'Ya ampunnnn. Cantik banget! Cocok sama pak Nathan!'


'Gila! Pak Nathan beruntung banget.'


'Sama-sama beruntung gak sih?'


Desas-desus karyawati terdengar ketelinga Nathan dan Nadin. Tapi, mereka terus berjalan ke ruangan Nayla. Tanpa memperdulikan beberapa omongan jahat tentang mereka.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" terdengar suara tegas Nayla dari dalam.


"Nay! Kakak bawain camilan, nih!" kata Nadin sambil tersenyum ke arah Nayla.


Nayla menatap Nadin berbinar."Wahh! Makasih kak. Tau aja kalo aku kepengen nyemil!" jawab Nayla.


"Siapa dulu. Kakakmu gitu loh!" ujar Nathan bangga. Membuat Nayla dan Nadin tertawa.


*****


Drttttt


Nayla membuka ponselnya. Ternyata, Daren yang mengirimkan pesan.


"Nay... Aku udah di depan ya!"


Nayla tak membalas. Dan langsung bergegas keluar dari ruangannya untuk pulang. Karena tadi pagi dia berangkat bersama Nathan dan Nadin. Jadi, barusan Nayla menyuruh mereka untuk pulang duluan. Karena Nayla akan pulang bersama Daren.

__ADS_1


Setelah sampai di parkiran. Nayla melihat Daren yang sedang berdiri menyandar ke mobil. Daren hanya memakai bagian dalam jas yang dia masukan ke dalam celana bahan hitam. Kameja putih itu dia gulung sampai sikut.


Deg... Deg...


Jangung Nayla berdegup kencang. Pesona Daren memang tidak bisa dia ragukan. Tinggi badannya, dada bidangnya, serta rahang tegasnya. Terkadang membuat Nayla kelabakan sendiri.


Daren tersenyum lembut."Gimana hari ini, sayang?" tanya Daren. Waktu Nayla sudah berdiri di hadapannya.


Nayla menghembuskan napas pelan."Jangan panggil sayang!" jawab Nayla. Sebenarnya, bukan karena Nayla tidak suka. Tapi, setiap Daren memanggilnya 'sayang' jantung Nayla susah untuk berdetak normal kembali.


Daren terkekeh."Gimana hari ini... istriku?" goda Daren.


Blush!


Plak!


Nayla memukul bahu Daren kencang, membuat Daren tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresi wajah Nayla yang memerah."Daren!" kata Nayla ketus.


"Iya-iya. Maaf sa-eh Nayla!" jawab Daren sambil terkekeh. Daren meraih tangan Nayla dan menariknya pelan. Lalu, Daren memeluk Nayla erat."Nay... Aku kangen," sambung Daren.


Nayla hanya diam. Tidak memberontak sedikit pun. Perasaan nyaman mulai terasa di hatinya.'Nyaman... Wangi...' batin Nayla.


"Daren... Ayo pulang, aku ngantuk..." kata Nayla. Dia mendongak menatap wajah Daren dari bawah. Karena Daren masih memeluknya.


Daren melepaskan pelukannya, dan menangkup pipi Nayla lembut."Ngantuk, sayang?" tanya Daren. Nayla hanya mengangguk.


"Pasti kecapekan banget ya?" tanya Daren lagi. Membuat Nayla kembali mengangguk.


"Yaudah, yuk!" Daren melepaskan tangkupan lengannya. Beralih memeluk pinggang Nayla dan membawanya untuk masuk ke dalam mobil.


Daren membuka pintu mobil. Nayla duduk dan menatap ke arah Daren."Makasih Da-" belum sempat Nayla melanjutkan ucapannya. Daren menarik tengkuk Nayla dan menciumnya sekilas. Nayla yang terkejut dengan ciuman tiba-tiba itu hanya mematung. Daren mengusap pelan bibir Nayla dan tersenyum. Kemudian, Daren memutar dan masuk ke dalam mobil.


"Daren mau ke mana? Ini kan bukan jalan pulang?" tanya Nayla bingung sambil memperhatikan sekitar.


"Kita mau ke butik sayang," jawab Daren lembut.


"Loh? Bukannya nanti aja?" tanya Nayla.


Daren menggeleng."Kapan? Kan kita nikahnya enam hari lagi," jawab Daren.


"Iya sih. Aku tinggal fitting aja kan? Model bajunya kan udah mama pilihin?" tanya Nayla.


"Iya, Nay. Nanti sekalian kamu lihat-lihat lagi. Siapa tau ada yang kamu pengen," jawab Daren. Nayla hanya mengangguk.


Tak lama, Daren memarkiran mobilnya di pekarangan butik.


Drrtttttt


Daren merogoh sakunya."Nay. Kamu masuk duluan ya? Pilih-pilih aja, aku mau angkat telepon sebentar."


Nayla mengangguk."Oke!"


Nayla masuk dan di sambut dengan baik oleh pegawai butik."Mbak. Saya mau fitting baju pengantin, atas nama Nayla Ganendra," kata Nayla.


"Baik kak. Silahkan ke sebelah sini," jawab pegawai itu ramah.


Nayla mengikuti pegawai itu dari belakang. Setelah melihat baju pengantin yang mamanya desain khusus untuknya. Nayla langsung terpesona. Ternyata, memang sangat cantik. Mamanya memang terbaik kalo soal desain baju!

__ADS_1


Nayla menoleh ke arah luar. Karena belum ada tanda-tanda Daren akan masuk, Nayla hendak melihat-lihat baju yang lain dulu. Tatapannya jatuh ke gaun berwarna biru langit. Tidak terlalu terbuka, dan tidak ribet juga. Sangat elegan dan cantik di mata Nayla. Nayla berjalan mendekati gaun itu, tapi, saat hendak memegang bahannya. Tangan Nayla di tepis kasar oleh seseorang. Membuat Nayla langsung menoleh ke belakangnya.


"Jangan di pegang! Kamu nggak akan mampu beli!" ucap salah satu pegawai itu sarkas. Terlihat dari pakaiannya, dia sedikit berbeda dengan pakaian yang pegawai tadi pakai.


Nayla mengedarkan pandangannya. Ternyata, pegawai yang tadi membantunya, sudah menghilang entah ke mana."Berapa harganya?" tanya Nayla.


Pegawai itu berdecak."Mampu emang?"


"Mampu lah. Emangnya kamu pikir saya ke sini buat apa? Ngemis?" jawab Nayla ketus.


Pegawai itu menatap Nayla dari atas sampai bawah."Udah. Balik sana, sebelum nyesel dengar harganya!"


'Emangnya pakaianku sekacau itu? Ah wajar. Seharian kerja mana bisa rapih!' batin Nayla sadar. Tapi kesal juga. 'Berapa sih harganya?' sambung batin Nayla.


"Tinggal sebutin. Susah amat!" jawab Nayla sinis.


"Ini baju paling mahal di sini. Harga diri lu aja nggak ada apa-apanya!" kata pegawai itu. Sambil tersenyum remeh.


"Sial*n! Tinggal sebut doang, susah amat kamu? Saya beli sama kamu-kamu nya aja. Saya mampu!" sentak Nayla emosi. Nayla hendak memegang kembali gaun biru itu. Tapi, tangannya kembali di tepis.


"JANGAN PEGANG!" bentak pegawai itu kesal.


Nayla yang kesal langsung berjalan hendak keluar dari butik."DARI TADI KEK!" teriak pegawai itu remeh.


Nayla hendak membuka pintu kaca di depannya. Tapi, matanya masih menatap ke belakang dengan nyalang.


Buk!


Nayla menabrak dada seseorang.


"Sayang... Kok nggak pilih-pilih gaunnya?"


'Daren!' batin Nayla.


"Males. Katanya nggak boleh pegang gaunnya!" kata Nayla kesal.


Daren mengernyit."Kata siapa?"


"Tuh!" tunjuk Nayla pada pegawai tadi. Pegawai itu masih berdiri di dekat gaun yang Nayla inginkan.


Daren meraih pelan tangan Nayla, membawanya ke arah pegawai itu."Kamu mau gaun yang mana?" tanya Daren.


Nayla menunjuk ke arah gaun biru langit."Itu!"


Daren langsung mendorong pelan pegawai itu. Dan melepaskan gaun itu dari manekin."Maaf pak! Ini bajunya gak boleh di coba, takut rusak!" kata pegawai itu. dia mencoba menghalangi Daren.


"Siapa yang bilang gak boleh di coba?" tanya Daren dingin.


Pegawai itu terdiam sejenak."Soalnya takut rusak! Apa lagi, kalo nggak di beli!" jawabnya ketus.


"Apa hak kamu bilang begitu? Kamu cuma pegawai yang kerja di sini. Harusnya, kamu bisa melayani konsumen dengan baik!" kata Daren.


"Tapi pak-"


"Diam atau saya pecat! Saya gak pernah ya. Ngelarang siapapun untuk mencoba gaun mana pun di butik ini. Kamu siapa yang seenaknya bikin larangan begitu? Kamu gak tau? Saya pemilik butik ini?! Panggilkan manajermu sekarang!" kata Daren tegas.


Bersambung...

__ADS_1


Haiiii semuanyaaaa! Jangan lupa like dan komentar yaa! supaya author rajin update bab baru! Terimakasih 🫶🫶


__ADS_2