
Matahari sudah bersinar terang. Orang-orang mulai ramai berdatangan saat acara pernikahan akan segera di mulai. Tak lama, Nayla berjalan dengan papanya menuju tempat Daren yang sedang menatapnya di depan.
Air mata Nayla mengalir deras. Saat papanya menggenggam erat lengannya. Perasaan sedih menyelimuti hatinya. Begitu pun dengan Daren yang sejak tadi tak melepaskan pandangannya sedikit pun dari Nayla. Air matanya juga tak dapat Daren tahan. Daren sangat bahagia bisa menikah dengan gadis yang sangat dia sayangi.
Kini, Nayla sudah berdiri di hadapan Daren. Gaun putih khusus yang mamanya desain untuknya. Bertengger manis di tubuhnya. Bahkan, hampir semua orang terpesona dengan kecantikan pengantin wanita itu. Begitu pun dengan pengantin pria yang sudah sangat terpesona. Apa lagi, riasan yang Nayla pakai menambah kesan elegan.
Daren terus menatap takjub ke arah Nayla. Membuat mama Daren menyenggol pelan lengannya."Daren! Itu kamu di panggil... Sadar woi!" bisik mama Daren pelan.
Daren tersentak kaget dan langsung menoleh ke mamanya. Ternyata, janji pernikahan sudah di mulai. Daren dan Nayla mengucapkan janji suci pernikahan di depan banyak orang. Air mata sudah tak terbendung lagi. Isak tangisan bahagia mama Daren dan mama Nayla mulai terdengar. Membuat Nayla dan Daren ikut terisak. Apa lagi, Nina, Nadin, Nathan dan Adnan yang sudah banjir dengan air mata. Setelah selesai, Daren menggenggam lengan Nayla erat. Tamu undangan yang datang pun mulai bersorak senang.
"Cium! Cium! Cium!" sorak-sorai tamu undangan tak terbantah.
Mama papanya Daren dan Nayla hanya tertawa, sambil menghapus air mata. melihat tingkah Daren dan Nayla yang sedang tersenyum canggung.
Papa Nayla menyenggol lengan Daren."Udah. Cium aja! Tunggu apa lagi!"
"A-anu..." jawab Daren malu-malu.
'Biasanya juga nyosor bae!' batin author.
"Yaelah! Mau-mau tapi malu, lu mah!" kata Nathan sarkas. Membuat orang-orang yang ada di sekitarnya tertawa kencang.
"Buru! Pegel nih!" sewot Adnan.
Jantung Nayla berdegup kencang, begitu pun dengan Daren. Daren sih sudah pasti sangat senang jika mencium Nayla, tapi ini kan ramai. Jadi dia sedikit malu.
"Buru woi!" teriak Nina dari belakang Adnan.
Nayla menatap Nathan, Adnan dan Nina tajam membuat mereka tertawa senang. Daren menarik pinggan Nayla pelan. Lalu, menarik tengkuk Nayla. Membuat Nayla memejamkan matanya.'Mau tidak mau deh!' batin Nayla.
Cup!
Cekrek! Cekrek!
Daren mencium bibir Nayla. Memagutnya perlahan, membuat Nayla makin memejamkan matanya. Semenit duamenit orang-orang masih bersorak gembira. Tapi... Daren malah lupa tempat dan enggan berhenti mencium Nayla.
Cekrek!
Nayla mencubit pinggang Daren keras, membuat Daren melepaskan pagutannya. Nayla menarik napasnya pelan, karena malu jika harus ngos-ngosan di depan banyak orang begini. Bukan hanya tamu undangan, tapi wartawan juga. Yang meliput setiap acara di pernikahan Nayla dan Daren. Bagaimana tidak, penerus dua perusahaan besar yang akan menikah. Pasti, mereka berdua akan menjadi gosip hangat seminggu kedepan.
"Gila lu! Nayla sampe kehabisan napas gitu!" bisik Adnan pada Daren. Membuat Nayla menutup wajahnya karena malu.
__ADS_1
'Emangnya masih keliatan ya? Aku kan udah hati-hati narik napasnya!' batin Nayla.
"Anak papa jago juga!" kata papa Daren bangga.
"Menantu siapa dulu dong!" sahut papa Nayla ikut bangga.
Daren menanggapi dengan terkekeh pelan.'Bodoh! Kenapa harus lupa tempat sih!' batin Daren merutuki dirinya sendiri.
*****
(Di rumah Fahmi dan Lia)
"Beb! Jangan main ponsel terus dong. Aku juga pengen di manja! Bukan di anggurin gini," kata Lia kesal.
Masalahnya, Fahmi sedang libur bekerja. Tapi, seharian ini dia malah asik memainkan ponselnya. Membuat Lia memberengut kesal. Dia sangat ingin jalan-jalan ke pantai atau belanja ke mall, bukan diem di rumah sambil di cuekin kayak gini.
Fahmi menoleh ke arah Lia yang sedang marah padanya. Lalu, Fahmi menoleh ke arah perut Lia."Aduh, maaf ya. Kamu bete ya beb?" tanya Fahmi yang langsung menaruh ponselnya.
"Iyalah! Pake di tanya segala lagi. Anak kamu nih, pengen jalan-jalan!" jawab Lia ketus. Sambil menunjuk perutnya.
"Aduhhh maafin papa yaa dede!" kata Fahmi mengusap lembut perut Lia.
Lia memang sedang hamil tiga bulan. Jadi, mungkin karena bawaan hormon. Dia selalu marah-marah tidak jelas. Kadang membuat Fahmi kesal sendiri.
"Kenapa? Aku pengennya sekarang!" jawab Lia kesal.
"Aku belum ada uang. Bentar lagi, aku dapet pinjeman. Jadi, kita bisa makan di luar!" jelas Fahmi.
Lia tersenyum senang."Beneran ya? Kamu dapat berapa beb?" tanya Lia.
Fahmi mengangguk."Beneran dong! Lumayan, lima puluh juta!" jawab Fahmi antusias.
Lia menatap Fahmi senang."Yes! Aku bisa belanja dong!"
Fahmi mengangguk."Boleh! Tapi harus irit-irit ya?"
"Yahhh. Uang lima puluh juta itu sedikit beb. Aku harus irit gimana?" jawab Lia kecewa.
"Sabar beb. Nanti aku cari pinjeman lagi ya?" kata Fahmi membujuk.
Lia mengangguk senang."Oke! Ayo idupin televisinya," kata Lia.
__ADS_1
Fahmi mengambil remot dan memencet tombol merah.
Jleb! Televisi menyala.
BREAKING NEWS!
"Pernikahan Penerus perusahaan Daren Ryder Eddyson dan Nayla Ganendra berjalan dengan lancar! Kedua penerus perusahaan besar, kini menjadi satu kelu-"
Jleb!
Fahmi langsung mematikan televisi, waktu menayangkan Nayla dan Daren yang sedang berciuman."Mereka beneran menikah," gumam Fahmi pelan.
Lia menatap Fahmi, wajah kecewa terlihat jelas di sana. tiba-tiba Lia merebut remot di tangan Fahmi."Kenapa di matiin! Jangan bilang kalo kamu cemburu?!" kata Lia kesal.
Fahmi langsung menoleh ke arah Lia yang hendak menyalakan televisi kembali."JANGAN DI NYALAIN!" bentak Fahmi.
Lia menatap Fahmi terkejut. Pasalnya, selama pernikahan mereka. Baru pertama kali ini Fahmi membentaknya lagi. Setelah dulu pertama kali Fahmi membentaknya di atas pelaminan. Waktu dia menanyakan siapa itu Daren.
"Ka-kamu..." ucap Lia terbata.
Fahmi menatap Lia marah."Mau ngapain ngidupin televisi? Orang cuma munculin berita yang gak penting!" sela Fahmi ketus.
"Kamu bentak aku?" tanya Lia. Air matanya merembes keluar. Apa lagi, posisinya dia sedang hamil.
"Iya. Emangnya kenapa! Aku benci sama orang yang susah di bilangin!" jawab Fahmi kesal.
Lia beranjak berdiri."Kamu kok gitu! Aku kan istri kamu!" kata Lia kesal.
"Terus?" jawab Fahmi santai.
"AKU NYESEL NIKAH SAMA KAMU!" teriak Lia kencang.
Fahmi ikut berdiri di hadapan Lia."Aku lebih nyesel nikahin kamu! Apa lagi, ninggalin Nayla yang jelas-jelas lebih segalanya dari pada kamu!" kata Fahmi menekan setiap ucapannya. Sambil menunjuk ke arah Lia.
Plak!
Lia menampar kencang pipi Fahmi."LAKI-LAKI BRENGS*K! JANGAN PERNAH SAMA-SAMAIN GUE SAMA CEWEK SIAL*N ITU!!!" teriak Lia murka.
Fahmi memegang pipi kirinya yang baru saja di tampar oleh Lia."Kenapa? Masih iri kamu liat Nayla, hah?! Udah jelas-jelas Nayla lebih segalanya dari pada kamu. Aku yang buta udah milih kamu, cuma karena kamu lebih sexy! Dan ninggalin Nayla yang jelas-jelas cantik dan masa depannya jauh lebih baik! Masih gak terima?" kata Fahmi tenang. Matanya menatap Lia nyalang dengan senyum meledek.
Bersambung...
__ADS_1
Hai teman-teman. Boleh minta like dan komentarnya? Supaya aku lebih semangat! Terimakasih 😊❤️