
"Da-daren..." kata Adnan melongo sambil menatap Daren yang sedang mangap karena aku suapin.
Daren menoleh."Kenapa?" tanyanya tanpa dosa.
Adnan menggeleng."Enak?"
Daren mengangguk."Enak. Waktu itu aja gue nambah dua kali."
"BENERAN?!" jawab Adnan kaget.
"Iya, emang kenapa, sih?" tanyaku bingung.
"Daren paling anti makan pake tangan. Apa lagi tangan orang! Tapi kok, tangan lu dia mau?" tanya Adnan bingung.
Aku mengernyit."Mana aku tau... Kenapa kok kamu mau, Daren?"
Daren mengunyah makanan di mulutnya, tangan kanannya sibuk memegang kerupuk."Gak tau... Enak aja." jawab Daren santai.
"Aneh aja! Di suapin sama mama lu aja, lu gak mau. Ini sama Nayla malah doyan!" kata Adnan sewot.
Daren menatap Adnan malas."Biarin... Suka-suka gue lah!" jawabnya.
Adnan mendengkus sebal sambil memakan kerupuk.
"Nih... Lu cobain deh!" kata Nina sambil menyuapi makanan ke arah Adnan.
Adnan membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang di berikan Nina."Oh, iya. Enak banget jadinya!" seru Adnan senang.
"Mau di suapin juga dong!" kata Adnan sambil menaruh sendok yang dia pegang. Adnan memang makan menggunakan sendok dan garpu. Sedangkan Nina dan aku pakai tangan.
"Yaudah, sini..." Nina mengambil nasi punya Adnan dan mencampurkannya ke piringnya.
*****
Setelah selesai makan, kami berempat kembali ke mobil. Adnan dan Daren memegang perut mereka.
"Kenapa?" tanya Nina aneh.
"Begah..." kata Adnan.
Aku dan Nina tertawa melihat dua laki-laki gak jelas yang makan seperti orang kesurupan.
"Abisnya... Ngingetin orang makan secukupnya. Eh, dia sendiri yang sebanyaknya. Sampai nambah tiga kali loh. Ya ampun!" kata Nina terkekeh pelan.
"Tau tuh. Sama kayak Daren, nambah sampai tiga kali, haha!" tawaku pecah melihat wajah ngantuk Daren sehabis makan banyak.
"Bikin konten mukbang aja sekalian!" sindir Nina.
Adnan dan Daren duduk di bangku belakang. Tanpa menanggapi ocehanku dan Nina, sedangkan, aku dan Nina duduk di depan. Kali ini, aku yang menyetir.
Tak lama, Daren dan Adnan tertidur. Padahal, mereka baru saja makan...
"Kita mau ke mana?" tanyaku pada Nina.
Nina terlihat sedang berpikir."Adnan... Ini mau gimana?"
Adnan tak bergeming...
"Daren! Mau ke mana ini. Ke rumah kamu aja? Tapi nanti anterin aku sama Nina ya?" tanyaku.
Sama saja, Daren tidak bergeming.
"Ke rumah gue aja deh, Nay. Nginep di sana, biarin nih bocah dua suruh tidur di kamar tamu..." kata Nina, aku mengiyakan.
Aku langsung tancap gas ke rumah Nina. Sekitar dua puluh menit, kami sampai di rumah Nina. Aku langsung turun untuk menuntun Daren, sedangkan Nina menuntun Adnan. Mereka berdua kekenyangan sampai segininya!
Setelah memasukan Adnan dan Daren ke kamar tamu. Kami berdua bergegas untuk bersih-bersih dan tidur.
*****
__ADS_1
Pagi ini, aku dan Nina langsung bergegas ke kantor. Setelah semalam menelpon bi Ipah, dan aku menginap di rumah Nina untuk berangkat kerja bersama.
Daren dan Adnan juga berangkat ke kantor mereka. Mungkin, mereka akan pulang dulu ke rumah masing-masing untuk mengganti baju.
Aku sih gak perlu... Pinjam baju Nina, beres!
Ini juga hari terakhir bekerja, sebelum besok liburan... Papa hanya memberikan jatah selama empat hari saja.
"Nay, gue udah ngajak Adnan buat besok ke bandung!" kata Nina sambil menyetir.
Aku menoleh ke arahnya,"Terus... Dia mau?"
"Mau! Dia seneng banget. Katanya, biasanya dia cuma diem di rumah doang," jawab Nina.
Aku tersenyum."Bagus deh. Pasti seru liburan rame-rame!" kataku.
"Tapi..." kata Nina pelan.
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Daren mau ikut..." jawabnya.
"Yaudah... Emang kenapa?" tanyaku pada Nina.
Nina tersenyum."Asiiikkkk!"
"Oh iya, Nay! Mama lu tadi nelponin gue. Pas pagi-pagi, tapi gak sempat gue angkat karna masih ngantuk... Coba lu telpon balik deh." kata Nina.
Aku langsung bergegas mengecek ponselku. Ada tiga belas panggilan tak terjawab dan dua puluh pesan. Aku langsung bergegas membuka kontak dan menelepon mama.
Ada apa ini?
Drttttttt
"Halo..." terdengar suara lembut dari sebrang sana.
"Nay! Kamu gak apa-apa?" suara mama terdengar panik.
Aku mengernyit."Gak apa-apa, ma... Emang ada apa sih?"
"Kata Daren... Austin macam-macam sama kamu? Udah mama cabut semua saham papa di perusahaannya, sayang!" kata mamaku.
Aku menghembuskan nafas gusar karena ingat kejadian semalam."Gak apa-apa, ma."
Mama terdengar menghembuskan nafasnya."Syukur deh kalo kamu gak kenapa-kenapa. Mama udah khawatir banget sama kamu, pas kemarin kamu mau di perk*sa sama dua laki-laki itu. Sekarang Austin yang kurang aja. Maaf ya sayang, mama belum bisa ada di samping kamu sekarang..." kata mama lirih.
Aku tertawa pelan."Apa sih ma, aku nggak apa-apa. Lagi pula ada Nina, Adnan sama Daren yang jagain aku!" kataku meyakinkan.
"Syukurdeh kalo gitu... Mama senang dengarnya. Oh iya, besok jadi ke bandung?" tanya mama.
"Jadi ma, tapi besok perginya berempat. Sama Adnan dan Daren juga, boleh?" tanyaku pelan.
"Boleh sayang! Mama seneng dengernya kalo kamu sama Nina ada yang jagain. Mama yakin, Daren sama Adnan cowok yang baik!" kata mama antusias.
"Iya ma... Yaudah, aku udah mau sampe kantor. Aku tutup ya! Mama sama papa jaga diri baik-baik di sana..." kataku senang.
"Iya sayang. Kamu juga, ya!" jawab mama.
Tut!
Tak lama, aku dan Nina sampai di kantor. Banyak karyawan yang menyapaku, begitu pun aku menyapa mereka.
"Semangat kerjanya, ya!" kataku memberikan semangat.
"Baik bu Nayla. Terimakasih!" jawab karyawan kompak.
Aku langsung masuk ke dalam ruangan. Belum apa-apa rasanya aku sudah sangat capek melihat tumpukan map di atas meja.
"Nin... Ini semuanya harus di kerjain?" tanyaku lesu.
__ADS_1
Nina mengangguk."Iya! Kan besok liburan... Semangat dong! Bisa aja nyemangatin orang lain, padahal, dia sendiri lesu gitu." sindir Nina.
Aku mendengkus."Iya-iya!"
"Aku ke ruanganku dulu. Yang bener kerjanya! Baca dulu sebelum tanda tangan." kata Nina mengingatkan.
"Iyaaa Nina..." jawabku malas.
*****
Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Saatnya pulang!
Aku merenggangkan badanku pegal. Hari ini benar-benar full bekerja. Tapi, syukurlah semuanya beres tepat waktu.
"Nay, udah?" tanya Nina.
Aku mengangguk."Udah."
"Yuk, pulang. Malam ini ke rumah gue dulu aja, bantuin gue beresin baju buat besok. Nanti kalo udah selesai langsung ke rumah lu, ntar gue bantuin sekalian nginep." kata Nina.
Aku mengangguk,"Oke!"
Aku dan Nina langsung bergegas untuk pulang.
Drttttt
Ponselku bergetar. Aku langsung mengambilnya di tasku, karena Nina yang menyetir.
Deg!
Jantungku berdegup kencang saat melihat nama yang tertera di layar ponselku.
Pesan dari Bian? Mau apa lagi ini orang... Aku membuka pesannya, sedikit terkejut karena melihat apa yang Bian kirim.
"Nay... Aku udah di rumah kamu, tapi kamu belum pulang. Mama sama papa kamu juga lagi nggak ada kan? Jadi... Aku tungguin ya."
Ngapain Bian di rumahku? Tidak. Tidak lagi! Aku tidak mau selemah itu menghadapi orang gila seperti Bian!
Aku membalas pesan Bian.
"Ngapain anda di situ? Saya tidak pulang."
Tuk. (Terkirim)
Drtttttt
Pesan dari Bian lagi. Aku langsung membukanya.
"Kalo kamu gak pulang. Aku mau..."
Aku mengernyit membaca pesan aneh dari Bian.
Dia... Mau ngapain?
Aku kembali membalas pesannya. Sebenarnya sangat malas, tapi, jika tidak begini, Bian akan melakukan hal-hal yang di luar nalar.
"Mau apa?"
Tuk. (terkirim)
Drttttt
"Mau nginep di kamar kamu." Balas Bian sambil mengirimkan fotonya di tempat yang sangat aku kenal.
Foto Bian lagi tiduran di kasurku! Bahkan, dia mengirimkan foto kamarku dengan jelas. Di balas saja dia sudah melakukan hal yang di luar nalar, bagaimana kalo aku tidak membalas pesannya? Tapi, aku sangat tidak suka sama Bian! Lihat saja Bian, apa yang akan aku lakukan kali ini!
"DASAR GILA!" Balasku sarkas.
Tuk. (terkirim)
__ADS_1