
Kepalaku berdenyut, saat melihat dua laki-laki itu menyebrang jalan menuju ke arahku.
"Halo..."
"Daren! Tolong aku, aku mohon..." kataku. Air mataku mengalir saat dua laki-laki itu sudah berdiri sempoyongan di samping kanan dan kiriku.
"Neng... Sendirian aja? Mau abang temenin atau anterin?"
Aku perlahan melepaskan high heels ku, meninggalkannya dan bersiap untuk lari. Tapi, tanganku di tarik kasar sama laki-laki yang berdiri di samping kananku.
Aku menendang alat vitalnya keras. Seperti aku menendang Fahmi waktu itu.
"ADUHHHH! DASAR, CEWEK SIAL*N!" umpatnya padaku sambil mengaduh kesakitan. Aku langsung berlari sekencang yang aku bisa.
"DAREN! DAREN! HALOOO. MASIH KESAMBUNG NGGAK!" teriakku sambil terus berlari.
Aku melihat ponselku, ternyata sudah mati total. Air mataku mengalir deras. Badanku lemas rasanya, tapi aku harus bisa memaksakan tubuhku untuk melarikan diri.
Rasanya aku sudah sangat putus asa...
Aku tidak ingin kejadian dulu terulang lagi, bahkan sepertinya kali ini lebih parah!
Darennn...
*
*
*
(Pov Daren)
Drrrttttt
Drttttttt
Aku tersentak kaget waktu ponselku bergetar. Saat aku tersadar, ternyata aku sedang menelungkup di meja kantorku. Aku ketiduran...
"Halo..." kataku saat menjawab telepon seseorang sambil mengucek mataku. Ntah siapa yang menelponku malam-malam begini.
"Daren! Tolong aku, aku mohon..."
Jantungku berdebar kencang. Tambah kaget saat melihat nama yang tertera di layar ponselku. Ternyata dari Nayla!
"Halo! Nay. Kamu kenapa? Lagi di mana? Aku ke sana sekarang!" kataku yang langsung bergegas mengambil kunci mobil dan pergi.
Tiba-tiba ada suara laki-laki yang terdengar jelas di telepon...
"Neng... Sendirian aja? Mau abang temenin atau anterin?"
"Brengs*k!" umpatku.
__ADS_1
Aku langsung lari menuju parkiran dan melajukan mobilku kencang. Ponsel masih dalam genggamanku. Aku terus memanggil nama Nayla tapi dia tidak menjawab.
Tutttt....
Rasa khawatirku semakin menjadi-jadi waktu sambungan teleponnya terputus. Aku kembali menelpon Nayla, tapi nomornya tidak aktif.
Aku segera menelpon Adnan...
Kamu dimana Nayla!
"Halo-"
"Adnan! Lu punya nomornya Nina kan? Sambungin sekarang!" kataku panik sambil terus melajukan mobilku.
"Kenapa emang? Ada masalah apa?" tanya Adnan terdengar kebingungan.
"Jangan banyak tanya dulu. Sekarang cepat sambungin teleponnya ke Nina!" kataku membentak Adnan.
Adnan langsung menyambungkan teleponnya ke Nina. Tak lama terdengar suara Nina dari seberang sana.
"Halo..."
"Nina! Tadi, Nayla ada di mana?" tanyaku langsung.
"Di kantor..."jawab Nina pelan.
"Oke. Makasih..." kataku.
"Hah? Ada apa? Nayla kenapa?!" kata Nina terdengar khawatir.
Nayla... Tunggu sebentar lagi.
Tutttttt....
"Halo. Selamat malam, Pak Daren! Ada yang bisa saya bantu?"
Aku menghela nafas pelan."Selamat malam, pak David..."
BRUMMMMM.
CKIITTTTTT.
Tak butuh waktu lama aku sampai di kantor Nayla. Karena jaraknya yang lumayan dekat. Aku melihat sekeliling kantornya, ternyata sudah sepi. Tidak mungkin Nayla ada di sini. Aku kembali melajukan mobilku ke arah menuju jalan rumah Nayla.
Tak jauh dari situ, aku melihat Nayla yang memberontak sedang di seret sama salah satu laki-laki ke arah taman. Dan laki-laki satunya sedang menunduk seperti orang kesakitan.
Aku langsung turun dari mobil, berlari menghampiri laki-laki itu. Lalu menendangnya dengan keras.
"BANGS*T!" umpat laki-laki itu sambil melihat ke arahku yang baru saja menendang punggungnya.
Aku menghempaskan lengan laki-laki itu yang sedang mencengkram tangan Nayla. menonjok mukanya beberapa kali sampai dia terkapar di tanah.
__ADS_1
"SIAL*AN! lu apain temen gue! Ganggu orang mau senang-senang aja!" sentak laki-laki yang satunya, sambil menarik kerah baju belakangku.
Aku menyikut kepalanya, dan menendang alat vitalnya.
"Akhhhhh! Brengs*ek!" laki-laki itu berguling di tanah sambil memegangi alat vitalnya.
"Berani kalian sentuh wanita gue. Gue habisin kalian, sekalian sama keluarga kalian." kataku dingin sambil menendang punggung mereka secara bergantian.
Mereka bangkit lalu meminta maaf pada Nayla. Aku menggeleng, tidak semudah itu.
Tak lama sebuah mobil berhenti di depan kami. Keluar dua orang polisi yang tadi aku telepon sesudah menelpon Adnan. Mereka memborgol kedua laki-laki tidak beradab itu, kemudian membawa mereka ke kantor setelah berpamitan padaku.
Setelah mereka pergi, aku menggendong tubuh Nayla yang masih gemetaran sambil menangis di dadaku.
"Nay... Sekarang udah gak apa-apa," kataku mencoba menenangkan.
Nayla tak bergeming, tangisannya malah menjadi-jadi.
Aku tak tega, lalu masuk ke dalam mobil. Dengan Nayla yang aku dudukkan di pangkuanku.
"Nay..." panggilku. Nayla masih diam sambil terus memelukku.
Aku bingung, aku harus membawa Nayla ke mana? Kalo ke rumahnya tidak mungkin. Karena mama dan papanya lagi pergi ke luar kota. Bahkan, sebelum pergi, mamanya sempat menitipkan Nayla padaku. Apa lagi kondisi Nayla yang seperti ini sangat tidak memungkinkan.
Aku melajukan mobilku menuju rumahku. Satu-satunya tempat yang menjadi pilihanku. Walaupun tidak ada siapa-siapa, tapi aku bisa mengawasi Nayla sepenuhnya. Biar nanti aku jelaskan ke mama dan papanya.
"Da-daren, aku takut..." kata Nayla pelan.
"Jangan takut Nayla... Sekarang udah baik-baik aja."jawabku pelan.
Sekitar dua puluh menit, aku sampai di depan rumahku. Aku turun sambil terus menggendong Nayla.
Sesampainya di kamar, aku merebahkan tubuh Nayla perlahan. Ternyata, Nayla sudah tertidur. Aku menatap wajahnya yang penuh dengan air mata. Lalu mengusapnya pelan.
"Maaf ya, Nay. Aku datangnya kelamaan."kataku pelan. Aku langsung bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai. Aku berjalan ke arah sofa besar yang ada di dalam kamarku. Belum sempat aku merebahkan badan...
"TIDAK! LEPAS! LEPASKAN AKU! AKU-AKU GAK MAU!" teriak Nayla keras sambil memberontak sendiri.
"Jangan Bian! Jangan. Aku gak mau! Tolong lepasin aku..." teriaknya lagi. Kali ini suaranya lirih.
Aku berjalan cepat ke arah Nayla."Nay! Bangun..." kataku menepuk pelan pipinya yang kembali basah.
Nayla langsung bangun dan duduk. Matanya merah. Air matanya mengalir deras. Badannya kembali bergetar.
"Da-daren..." katanya lirih.
Aku naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhku di sebelahnya. Sambil menarik pelan Nayla ke arahku dan memeluknya. Nayla hanya diam sambil terus terisak. Aku melepaskan pelukanku lalu menarik pelan tengkuk Nayla, supaya dia melihatku. Kemudian aku mengusap pelan wajahnya, menghapus buliran air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.
"Jangan nangis, Nay. Nanti cantiknya ilang..." kataku menggodanya. Aku kembali mendekap tubuh kecil Nayla dan mengusap pelan rambutnya, supaya Nayla sedikit tenang.
__ADS_1
'Bian? Kenapa Nayla memanggil namanya? Dan lagi, Nayla seperti sedang ketakutan? Apa yang sudah laki-laki sial*n itu lakukan pada Nayla?' batinku bergejolak.
Aku akan mencari tau semuanya.