
Aku langsung mengerjapkan mataku. Apa sih yang sudah aku pikirkan?
"Nay, siang nanti mau main ke mana?" tanya Nina.
Aku berdehem."Ke mana ya? Kamu ada rekomendasi?" tanyaku.
"Enggak sih, gue hari ini lagi gak mood banget buat keluar. Gimana kalo kita bbq-an sambil berenang? Kayaknya seru!" jawab Nina.
"Boleh-boleh! Tapi, yang lain mau nggak?" kataku menoleh ke arah Adnan dan Raka.
"Boleh!" sahut mereka kompak.
"Yaudah, kalo gitu nanti Adnan tanya sama Daren ya. Aku sama Nina ke supermarket buat belanja," kataku.
"Oke!" kata Adnan mengiyakan.
"Ayo Nin. Siap-siap, kita ke supermarket!" kataku antusias.
Nina beranjak,"Yuk!"
Aku dan Nina langsung pergi ke supermarket dekat villa untuk belanja keperluan bbq nanti.
"Gausah ganti baju dulu?" tanya Nina padaku.
"Gini aja deh, ke supermarket doang ini..." jawabku.
Nina mengangguk."Iya sih, mudah-mudahan di sana gak ada cowok ganteng!" kata Nina lalu terkekeh sendiri.
Aku berdecak,"Kalo ada kan enak, sekalian cuci mata!" kataku.
Kami berdua tertawa pelan.
Sekitar sepuluh menit perjalanan, kami sampai di salah satu supermarket. kami langsung masuk dan mengambil keranjang troli untuk belanjaan.
"Nin, mau beli berapa dagingnya?" tanyaku pada Nina yang masih asik memilih daging.
"Dua kilo cukup kali ya?" jawabnya enteng.
"Buset! Banyak bener, mau buka warung?" kataku.
Nina tertawa,"Terus berapa?"
Aku berdehem."Sekilo aja, terus beli sosis juga buat tambahan," jawabku.
Nina mengangguk."Oke!"
"Kamu pilihin dagingnya, aku mau ambil bahan bumbunya dulu ya!" kataku.
Nina mengangguk, aku langsung berpencar mencari bumbu untuk bbq.
"Ini dia!" kataku berbicara sendiri saat berhasil menemukan bumbu yang aku cari.
"Permisi..."
Aku menoleh ke arah suara."Eh, iya kenapa?" tanyaku.
"Aku mau ngambil bumbu juga. Kamu ngehalangin," katanya.
Dueng!
"Eh, iya! Duh, maaf!" kataku langsung berjalan mundur.
Laki-laki itu menoleh."Mau bbq-an?" tanyanya.
"Iya nih." jawabku singkat dan langsung pamit pergi.
Aku mendekat ke tempat Nina tadi. Loh, Nina ke mana?
"Kan gue udah minta maaf!"
"Minta maaf doang!"
"Terus mau lu apa? Lu yang nyenggol gue! Masih mending gue minta maaf!"
__ADS_1
Aku menoleh ke suara teriakan itu. Ternyata, Nina sedang bertengkar sama seorang wanita di hadapannya.
"JADI CEWEK ITU YANG BENER! MASA KE SUPERMARKET PAKE BAJU TIDUR DOANG?!" teriak wanita itu. Sepertinya, dia salah satu pegawai di sini. Keliatan dari pakaiannya.
Aku langsung berlari kecil menghampiri Nina.
"Nin, kenapa?" tanyaku memisahkan Nina yang sudah menggulung baju panjangnya sampai sikut. Bersiap mau berantem.
"Ini... Cewek gila sial*an ini, nyari gara-gara!" kata Nina suaranya mulai meninggi.
"LU YANG DULUAN!" teriak wanita itu.
"Diam gak, GUE BAKAR MULUT LU KALO LU GAK MAU DIEM!" kata Nina emosi. Dia sudah maju dua langkah.
Kesabarannya memang setipis tisu di bagi sekampung!
"SATPAM!" teriakku kencang.
Tak lama, dua orang pak satpam datang sambil berlari dan langsung memisahkan Nina dari wanita itu.
"Ada apa ini!" tanya pak Satpam.
Aku menoleh ke arah Nina."Nina kenapa?" tanyaku pelan sambil mengusap punggungnya.
"Tadi dia nyenggol gue, sampe ponsel gue jatuh. Gue udah minta maaf! Terus bukannya minta maaf balik, dia malah marah-marah suruh gue jalan pakek mata. Padahal, yang nyenggol dia! Lagi pula, gue gak jalan. Gue cuma diem sambil main ponsel nungguin lu!" kata Nina menjelaskan.
"LAGIAN LU DIEM TENGAH JALAH, LU PIKIR INI SUPERMARKET PUNYA NENEK MOYANG LU?!" sentak wanita itu masih marah-marah.
Nina maju sepertinya tersulut emosi lagi."GUE GAK DIEM TENGAH JALAN YA! MATA LU AJA YANG KAGAK BISA LIAT!" jawab Nina.
Aku berdehem pelan."Maaf mbak. Kamu mau minta maaf atau saya usir dari sini?" tanyaku pelan.
"PUNYA HAK APA LU USIR GUE DARI SINI?" sentak wanita itu padaku.
"Minta maaf atau saya usir?" tanyaku lagi.
"OGAH!" jawabnya pelan.
"APA-APAAN, LU?!" sentaknya sambil berusaha merebut name tagnya dari tanganku.
"Kamu saya pecat," kataku santai.
Susi tertawa nyaring."ADA HAK APA LU PECAT GUE?!"
Aku menatapnya tajam."Sebagai pegawai, seharusnya kamu tidak punya sifat sombong seperti ini. Bukan cuma pegawai, tapi manusia. Apa lagi, sekarang kamu lagi bekerja, harusnya bisa sedikit lebih ramah sama customer!" kataku tegas.
"Loh, suka-suka saya, dong? Ngapain ngatur-ngatur!" jawab Susi sambil memutar bola matanya malas.
"Suuttt. Susi!" kata pak satpam yang bernama Rudi itu mencoba menghentikan Susi.
Aku menoleh ke arah pak Satpam."Pak Rudi, mana bu Gifa?" tanyaku.
"Bu Gifa lagi ke luar, sebentar lagi ke sini," jawab pak Rudi.
"Ngapain nyari bu Gifa? Sok kenal! Kalo lu mau tau, dia itu sodara gue. Jadi, jangan macem-macem deh!"
Aku langsung mengeluarkan ponselku dari dalam tas.
Drttttttt
"Halo..."
"Halo. Bu Gifa, sekarang saya ada di supermarket Xx, kamu ke sini sekarang ya!" kataku langsung menutup telepon. Sedikit emosi gara-gara orang tak beradab ini.
Sekitar lima menit mendengar ocehan bodoh Susi. Akhirnya, Gifa datang.
"Maaf, bu Nayla... Kenapa anda ke sini tidak kasih tau saya dulu?" kata Gifa menunduk.
"Kalo saya kasih tau kamu dulu, saya mana bisa lihat pegawai kurang ajar ini bekerja di supermarket saya!" kataku marah sambil menoleh ke arah Susi yang terlihat kaget.
"Saya mau, kamu pecat dia sekarang. Atau kamu yang saya pecat!" kataku.
"Ba-baik bu Nayla..." kata Gifa pelan.
__ADS_1
"Dina mana?" tanyaku. Aku menoleh ke arah kasir tempat Dina bekerja. Dina juga salah satu temanku yang bekerja di sini. Aku sendiri yang menempatkan dia di kasir.
"Di-dina... Sudah berhenti bekerja," jawab Gifa takut.
"Kenapa?" tanyaku tajam.
"Dia saya pecat, soalnya pernah ketahuan mencuri..." jawab Gifa.
"Tidak mungkin! Saya sudah lama kenal sama Dina. Dia bukan orang seperti itu! Punya hak apa kamu pecat Dina? Kamu juga masukan Susi bekerja di sini tanpa seizin saya!" kataku tajam.
"Maaf bu Nayla..." kata Gifa menunduk.
"Kalian berdua saya pecat. Pergi sekarang dari supermarket ini!" kataku mutlak.
Susi dan Gifa berjalan ke arah loker dan mengambil tas mereka. Aku mengeluarkan dua amplop dari tasku dan memberikan gajih mereka untuk bulan ini. Walaupun baru pertengahan bulan, tapi aku memberikan full satu bulan.
Aku melihat jam, masih jam sembilan pagi. Supermarket juga masih sepi, hanya ada aku dan dua orang yang lagi membayar. Aku berkeliling untuk memastikan tidak ada orang lain.
"Kaira, tolong kamu tutup supermarketnya." kataku pada Kaira yang sudah selesai melayani.
"Baik, bu." kata Kaira dan langsung menutup supermarket.
Setelah selesai Kaira langsung memberikan kuncinya padaku."Sekarang kamu pulang aja, mulai besok libur selama empat hari," kataku pada Kaira.
"Baik bu..." kata Kaira sopan.
Aku kembali mengeluarkan dua amplop coklat dari dalam tas."Kaira, ini buat bantu biaya berobat adek kamu. Satunya bonus tahun baru buat kamu. Tolong kalo ada apa-apa kasih tau saya ya. Nanti, empat hari lagi kita ketemu, saya mau tanya banyak hal sama kamu,"kataku pada Kaira.
"Makasih banyak, bu Nayla... Baik!" kata Kaira pelan.
Aku mengangguk dan pamit untuk pulang. Tapi, aku menghampiri dulu pak satpam tadi yang sekarang lagi duduk di teras supermarket.
"Pak Rudi sama pak Jajang boleh pulang. Oh iya, mulai besok, libur empat hari ya," kataku.
"Baik bu, terimakasih!" kata pak Jajang dan pak Rudi.
Aku kembali memberikan dua amplop coklat untuk mereka."Nih, bonus tahun baru!"
"Wah, makasih banyak bu!" kata mereka berdua senang.
Aku tersenyum dan berpamitan untuk pulang. Tak lupa menarik pelan tangan Nina yang sejak tadi mengikutiku dari belakang.
"Ayo pulang, Nin," kataku pelan.
Nina berdehem."Iya... Ngomong -ngomong. Sejak kapan lu punya supermarket, Nay? Kok gue baru tau?" tanya Nina padaku.
Aku terkekeh melihat wajah Nina."Baru setaun Nin..."
"Kok gak ngasih tau?!" kata Nina kesal.
"Haha... Lupa!" jawabku cengengesan.
"Dasar!" kata Nina sebal.
Setelah sampai, aku langsung berjalan menuju dapur. Menaruh belanjaan yang tadi aku ambil di supermarket. Di bantu sama Nina.
'Gak apa-apa deh, nanti aku bayar sekalian ngasih kunci ke Kaira.' batinku.
Aku berjalan ke arah Adnan yang sedang memainkan ponselnya di sofa."Adnan... Daren mana?" tanyaku.
"Di belakang, deket kolam," jawab Adnan masih fokus pada ponselnya.
"Oke, makasih!" kataku yang langsung berjalan ke arah kolam untuk menemui Daren.
Aku mengedarkan pandanganku. Daren mana?
"Daren!" panggilku saat melihat Daren yang sedang tiduran di atas rumput hias.
Bersambung...
Haiii semuanya! Apa kabar? Semoga sehat selalu ya!🥰
Jangan lupa vote, like dan Coment biar author semangat updatenya. Terimakasih!🥹❤️
__ADS_1