ONLY MINE!

ONLY MINE!
Perjodohan


__ADS_3

Aku mendorong dada bidang Daren supaya sedikit menjauh."Da-daren!" sentakku terbata.


Daren terkekeh lalu mengusap pelan kepalaku."Yuk pulang, Nay."


"Aku bisa pulang sendiri!" tolakku. Sekalian aku akan mencari cara buat membatalkan perjodohkanku dengan Daren. Rasanya... Sangat aneh kalo harus menikah sama temen sendiri! Walaupun perlakuan Daren sangat baik padaku. Dan tidak di sangka pula kalo dia menyukaiku!


"Gak bisa. Aku anter sekalian mau ketemu papa sama mama kamu," bantah Daren.


"Nggak!" tolakku bersikukuh.


Daren kembali mencondongkan badannya ke arahku, menarik pelan tengkukku."Nurut atau aku cium lagi?" ancamnya


Aku membulatkan mataku kaget."Iya-iya!"


Tidak ada pilihan lain. Jika aku bersikukuh untuk menolak, Daren pasti akan kembali menciumku!


Daren meraih lenganku dan menggenggamnya."Ayok..."


"Jangan pegang tangan!" kataku mencoba melepaskan tangan Daren.


Daren tersenyum mendekat."Mau aku cium?"


Aku mendengkus kesal."Dasar tukang ancam!"


"Gak apa-apa... Ngancem calon istri ini," jawabnya tanpa ragu.


Deg!


Jantungku kembali berdetak saat mendengar jawaban Daren. Aku... Calon istri Daren? Nggak mungkin!


Aku dan Daren berjalan keluar dari ruangan. Kantor masih sangat ramai karena karyawanku masih bersiap untuk pulang. Aku sedikit malu karena Daren terus menyapa setiap karyawan yang menyapaku. Mereka semua seperti memperhatikan aku!


"Nay!"


Aku menoleh ke arah Nina yang berlari kecil menghampiri aku dan Daren.


"Kenapa?" jawabku.


"Kalian mau pulang bareng?" tanya Nina. Matanya terus memperhatikan tangan Daren yang memegang erat tanganku.


"Iya..." jawabku.


Nina menatapku seolah memberikan signal telepati. Aku mengangguk saat Nina mencoba memberikan kode lewat tatapannya.


"Nanti cek ponsel ya, Nay!" kata Nina berlalu setelah berpamitan denganku dan Daren.


Sepertinya aku harus segera memberitahu Nina soal perjodohan ini!


Setelah sampai di parkiran. Aku langsung masuk ke dalam mobil milik Daren, karena tadi pagi aku tidak membawa mobil.


"Nay... Kamu udah suka belum sama aku?" tanya Daren.


Aku menoleh ke arahnya yang baru saja memberikan pertanyaan random."Belum!" jawabku ketus.


Daren terkekeh mendengar jawabanku."Oke. Nanti aku tanya lagi,"

__ADS_1


Tak lama mobil Daren berhenti di pekarangan rumahku. Dia hendak turun dari mobil tapi aku mencegahnya.


"Daren.... Please batalin perjodohannya ya? Nanti kamu nyesel loh nikah sama aku!" rengekku sambil sedikit memaksa.


Daren menatapku sambil tersenyum. "Nggak, sayang!" jawabnya lembut.


Deg!


Sayang? Daren manggil apa? Sayanggg? Nggak, Nay! Kamu gak boleh luluh gitu aja.


Aku menatapnya kesal."Sayang, sayang apaan. Gak jelas!" kataku jutek padahal jantungku tak berhenti dag dig dug. Kalo sampe berhenti bisa mati aku!


Daren tertawa."Boleh dong manggil calon istri, sayang..." godanya.


Aku menatapnya tajam."Gak boleh! Lagi pula belum tentu kita jadi nikah!"


"Pasti jadi, kok!" jawab Daren mantap.


"Nggak! Aku past-"


Cup!


Daren kembali mencium bibirku. Kali ini berbeda... Bukan hanya mengecup!


"Hmmmppp...." aku memukul dada bidang Daren kencang, supaya Daren melepaskan ciumannya. Aku sudah kehabisa nafas, nih! Belum lagi, jantungku yang berdetak tak karuan.


Daren melepaskan pagutannya dan mengelap pelan bibirku. Aku langsung meraup udara dengan rakus. Lalu, memalingkan wajahku ke arah kaca. Kesal bercampur malu rasanya! Aku langsung mengedarkan pandanganku ke depan, ke kanan dan kiri siapa tau ada orang di pekarangan rumahku. Walau pun tidak terlihat dari luar, tapi rasa malunya pasti kerasa.


Cup.


Daren kembali mencium pipi kananku secepat kilat. Bisa-bisanya ini orang!


"Manis..." gumam Daren sambil terkekeh pelan.


"Apanya!" kataku ketus. Masa pipiku manis?


"Bibir kamu..." jawab Daren sambil memelukku dari samping.


Aaaaaa Daren sial*n!


*****


"Papa sama mama sudah sepakat sama orang tuanya Daren. Kalo kalian akan menikah di pertengahan bulan ini,"


Uhuk! Uhuk!


Aku yang sedang minum sampai tersedak mendengar perkataan papa. Secepat itu? Sekarang sudah masuk awal bulan!


"Kecepatan pa! Lima tahun lagi, ya?" tawarku.


Papa dan mama langsung menoleh dengan cepat ke arahku."Lima tahun? Kelamaan, Nayla!" protes papa.


Aku cemberut."Papa emang gak sayang sama, Nay? Kok mau ngelepasin Nay secepat itu!" kataku kesal.


Papa tersenyum sambil menatapku."Justru papa sayang sama Nay. Makanya papa jodohin Nay sama Daren. Supaya nanti Nayla ada yang jagain. Papa gak mau putri kesayangan papa kenapa-kenapa."

__ADS_1


Aku terdiam mendengar perkataan papa. Air mataku terasa penuh, sekali kedipan saja pasti tumpah. Dadaku bergemuruh lagi, rasa sesak menjalar di hatiku.


"Daren... Kamu udah punya pacar belum? Atau ada cewek yang lagi kamu suka? Kalo kamu merasa terpaksa dan mau menolak pernikahan ini, kamu boleh bicara sekarang. Walau pun sudah di tentukan tanggalnya. Tapi, papa nggak mau kalo nanti kamu nyakitin Nayla karena perjodohan ini," kata papa menatap Daren.


"Daren memang lagi suka sama cewek, om. Tapi, ceweknya Nayla sendiri. Daren juga nggak merasa terpaksa, Daren malah senang karena mau menikah sama Nayla," jawab Daren.


Papa tersenyum lega."Gimana... Daren siap nggak, kalo nikah bulan ini?" tanya papa.


"Daren siap, om." jawab Daren mantap tanpa ragu.


Papa kembali tersenyum mendengar jawaban Daren."Jangan panggil, om. Panggil papa aja, sama kaya Nayla. Oh iya. Daren.... Papa yakin kamu itu laki-laki yang sangat baik. Kelihatan waktu kamu jagain Nayla dan banyak kebaikan yang sudah kamu lakukan. Papa titip putri kesayangan papa sama kamu. Tapi, bukan berarti kamu seenaknya nyakitin Nayla ya. Karena bagaimana pun juga, Nayla itu putri papa. Papa harap, kamu bisa menjadi suami yang baik, yang bisa melindungi istri dan anakmu kelak. Papa percaya sama kamu!" kata papa panjang lebar.


Daren mengangguk sambil tersenyum."Baik pa. Daren pasti akan selalu menjaga putri kesayangan papa. Daren janji nggak akan nyakitin Nayla sampai kapan pun. Papa bisa pegang janji Daren!" jawab Daren. Terlihat dari netranya yang melihat ke arah papa dengan bersungguh-sungguh.


"Bukan cuma putri kesayangan papa, tapi putri kesayangan mama juga, loh!" sahut mama.


Daren dan papa tertawa pelan mendengar perkataan mama.


*****


Pagi ini, aku datang lebih awal. Karena semalam aku sudah ada janji dengan Nina. Kalo aku akan menceritakan sesuatu yang penting padanya.


"Nay!"


Nina menerobos masuk ke ruanganku sambil berlari cukup kencang. Aku sampai tersentak kaget saat melihat keadaan Nina yang cukup berantakan. Nina masih memakai baju tidur, dengan satu tote bag besar di tangan kanannya, serta tas kecil di tangan kirinya.


Nina meraup udara di sekitarnya. Sepertinya dia kecapekan akibat berlari. Mungkin, dia berlari dari lift ke ruanganku. Atau pas dari parkiran? Entahlah. Aku hanya menatapnya yang terus menarik dan membuang nafasnya.


"Akhirnya sampai juga... Gue penasaran banget, apa yang mau lu omongin semalam! Sampe-sampe gue gak bisa tidur. Jadinya kayak gini. Hampir aja kesiangan!" keluh Nina.


"Duduk dulu..." jawabku.


Nina duduk dan menatapku dengan wajah yang penasaran. Mungkin sekarang dia sedang menebak-nebak apa yang akan aku katakan.


Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan."Aku... Di jodohkan."


Nina mematung dengan mata yang melotot tak percaya. Kayaknya dia masih mencoba mengerti maksud dari perkataanku.


1


2


2


BRAK!


"APA!" teriak Nina kencang sambil menggebrak meja kerjaku.


"YANG BENER, NAYLA! JANGAN BERCANDA!" sambung Nina sambil menggoyang-goyangkan bahuku.


Aku mengangguk lesu."Beneran," jawabku.


Nina menggeleng."Gak mungkin! Gue gak percaya," kata Nina sambil memegang dadanya karena kaget.


Bersambung...

__ADS_1


Haiiii semuanyaaaa! Tolong bantu Like dan Coment yaaa biar author tambah semangat buat update! Terimakasih 🥹❤️


__ADS_2