ONLY MINE!

ONLY MINE!
Ciuman bertubi-tubi.


__ADS_3

Besok paginya, Nayla pulang ke rumah untuk bergegas ke kantor. Karena Nina belum bisa bekerja, jadi hari ini dia harus full mengerjakan semuanya. Nayla pamit pada Nina dan Adnan yang sedang mengobrol. Setelah pamit, Nayla bergegas ke arah Daren dan pulang bersama.


"Hari ini... Kamu bisa kerjain semuanya sendiri, Nay?" kata Adnan sambil mengusap pelan kepala Nayla.


Nayla terkekeh pelan."Bisa dong! Tenang aja..." jawab Nayla tanpa ragu.


Daren tersenyum,"Kalo butuh bantuan, langsung telepon aku ya?" kata Daren.


Nayla mengangguk."Oke!"


Nayla dan Daren sampai di parkiran dan segera masuk ke dalam mobil. Daren menghembuskan napas berat, membuat Nayla menoleh."Kenapa?" tanya Nayla.


Daren menggeleng."Aku gak mau pisah dari kamu..." rengek Daren manja.


Nayla menatap Daren jijik."Apa sih, Daren! Kayak anak kecil..." kata Nayla.


Daren tertawa melihat ekspresi Nayla."Nay... Menurut kamu, aku harus gimana?"


"Gimana apa nya?" tanya Nayla bingung.


"Iya... Soal Tiara!" jawab Daren menatap Nayla.


"Aku gak akan maafin Tiara! Nanti kita lihat aja, apa yang akan Adnan lakukan pada Tiara," jawab Nayla kesal.


Daren diam sejenak."Nay..." panggil Daren.


"Apa?" jawab Nayla.


Daren menoleh kanan kiri, di tempat parkiran itu. Ternyata, sangat sepi. Kemudian, Daren mencodongkan badannya ke arah Nayla."Kamu udah suka aku?" tanya Daren.


Nayla mendorong pelan bahu Daren supaya menjauh."Sedikit!" jawab Nayla ragu.


Daren merekahkan senyumnya."Akhirnyaaaa!" pekik Daren senang.


Nayla menatap Daren tajam."Dikit!" ketus Nayla.


Daren keluar dari mobil dan memutar ke arah Nayla. Membuka pintu mobil, lalu, menarik Nayla keluar. Daren masuk lagi ke arah pintu kemudi dengan Nayla yang dia dudukan di pangkuannya."Gapapa.... Lama-lama juga jadi bukit!"


Nayla mematung. Badannya kaku, masih mencerna apa yang barusan Daren lakukan. Daren menatap lembut netra Nayla yang sedang menatapnya. Lalu, menarik pelan tengkuk Nayla.


Cup...


Daren mencium lembut bibir Nayla sekilas. Kemudian, melajukan mobilnya ke arah rumah Nayla.


"Daren! Apaan sih. Aku-aku mau turun!" sentak Nayla saat tersadar dari pikiranya.


Daren memeluk Nayla erat. Menenggelamkan wajah Nayla di dada bidangnya."Sebentar aja, Nay... Aku kangen. Nanti kalo aku gak bisa bekerja bagaimana?" kata Daren sambil menahan punggung Nayla.


"Biarin!" kata Nayla. Memukul pelan dada Daren dan berhenti memberontak. Entah kenapa, hatinya sangat tenang jika bersama dengan Daren.


"Daren!" panggil Nayla ketus.


"Iya sayang..." jawab Daren lembut.


"Jangan suka cium-cium aku sembarangan!" cetus Nayla.


Daren terkekeh pelan."Kenapa?" tanya Daren. Sambil mencium lembut kening Nayla.

__ADS_1


"Aku nggak suka. Daren!" jawab Nayla kesal.


"Tapi aku suka..." ucap Daren menggoda Nayla.


"Aku nggak! Stop mulai sekarang!"


Cup!


Daren mencium cepat bibir Nayla sekilas. Membuat Nayla langsung mengelap bibirnya.


"Daren!!!"


"Apa sayang?"


"Jangan cium-cium!"


"Nanti kamu juga suka..."


"Nggak!"


Cup!


Cup!


Cup!


Daren malah semakin menjadi-jadi. Mencium Nayla bertubi-tubi dengan secepat kilat, sambil tertawa pelan, sampai Nayla menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Untung, jalanan masih sepi karena masih pagi... Kalo rame, ntah apa jadinya mereka.


*****


"Aku kangen Nina jadinya... Kerjaanku jadi dua kali lipat banyaknya!" keluh Nayla sendiri. Sambil membereskan map biru yang berceceran.


Nayla berjalan keluar dari kantor menuju parkiran. Pikirannya menerawang jauh kedepan. Sebentar lagi, dia akan menikah dengan Daren. Walau pun dia sempat menolak, tapi sekarang dia sedikit bahagia. Saat hendak masuk mobil, Nayla di kejutkan dengan klakson mobil.


Tin! Tin!


"Nay!" panggil seseorang.


Nayla menoleh ke arah suara itu. Ternyata, Bian!


'Mau apa lagi makhluk satu itu?' batin Nayla kesal.


Nayla langsung bergegas masuk ke dalam mobil, sebelum Bian sampai ke dekatnya."Eh, Nay! Kok masuk? Keluar sebentar, aku pengen ngobrol!" kata Bian. Sambil mengetuk kaca mobil yang Nayla buka sedikit.


"Ngomong di situ aja!" jawab Nayla ketus. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Bian.


"Nay... Ayolah, jangan kayak begini! Aku minta maaf. Udah jahat sama kamu waktu dulu!" kata Bian lirih sedikit memohon.


Nayla diam sejenak."Udah aku maafin. Tapi, kamu jangan pernah ganggu aku lagi!" jawab Nayla sambil menoleh ke arah Bian, dan menatapnya tajam.


"Kamu beneran mau menikah, Nay?" tanya Bian mengalihkan pembicaraan.


Nayla mendengkus sebal."IYA!" jawabnya ketus.


"Jangan Nay! Dia nggak baik..." kata Bian sambil berusaha menurunkan kaca mobil Nayla.

__ADS_1


"Ngapain kamu!" sentak Nayla saat melihat Bian yang mulai nekat.


"Buka! Buka pintunya... Aku mau ngomong langsung! Kayak begini nggak enak!" pinta Bian sambil berusaha membuka pintu mobil.


"Mau begini saja... Atau aku pergi!" tegas Nayla.


Bian masih terus mencoba membuka pintu mobil. "Sebentar aja, Nay! Aku pengen ngobrol dengan baik!"


"Ogah!" kata Nayla sarkas dan langsung melajukan mobilnya. Membuat Bian tersungkur ke lantai.


"SIAL*N" maki Bian yang masih terdengar oleh Nayla.


Badan Nayla gemetaran. Tapi, dia berhasil. Dia berhasil mengalahkan rasa takutnya terhadap Bian! Walau pun, mereka tidak mengobrol dengan baik. Nayla langsung merogoh ponselnya, yang dia simpan di tas. Memencet nama Daren dan langsung menelepon. Nayla menyimpan ponselnya di kursi penumpang, tak lupa untuk menyalakan loadspeker.


Drttttt


"Halo, Nay!" terdengar suara panik Daren dari sebrang sana.


"Halo Daren... Kamu ada di mana?" tanya Nayla. Dia berusaha menetralkan suaranya yang masih bergetar.


Terdengar helaan napas lega Daren."Di kantor, ini baru mau ke rumah sakit. Kamu di mana, Nay? Mau aku jemput?" tanya Daren lembut.


"Aku udah di jalan, Daren. Yaudah, sampai ketemu di rumah sakit!" kata Nayla, langsung mematikan sambungan telepon sepihak.


Sebenarnya, dia menelepon Daren supaya merasa sedikit tenang.


*****


Adnan malam ini sedang berada di rumah Tiara. Menanyakan kebenaran, apa yang sebenarnya sudah Tiara lakukan. Sampai-sampai mencelakai Nina.


"Jadi beneran? Lu yang ngelakuin! Gila lu Tiara! Gara-gara lu, orang yang gue suka jadi kecelakaan!" sentak Adnan keras sambil mengepalkan tangannya.


Tiara sedang menatap Adnan lirih."Gua-gue minta maaf Nan! Gue emang sengaja. Tapi, tujuannya bukan buat nyelakain lu, atau orang yang lu suka itu, kok!" kata Tiara setelah mengakui perbuataan jahatnya.


"TERUS SIAPA TIARA? NAYLA?!" bentak Adnan. Rasanya, kalo Tiara bukan wanita. Sudah Adnan habisi.


Tiara mengangguk."IYA! Gue benci sama Nayla. Dia sudah rebut Daren dari gue!" jawab Tiara. Suaranya naik beberapa oktaf.


"CINTA BOLEH! BODOH JANGAN. LU PUNYA OTAK NGGAK SIH?" bentak Daren.


"Nggak! Gue gak butuh otak. Gue butuhnya Daren!" jawab Tiara.


Adnan terengah-engah. Dia mengatur napasnya dan emosinya. Supaya dia tidak kelepasan dan membunuh Tiara."Susah. Kalo ngomong sama orang setres!" kata Adnan sarkas.


Adnan keluar dari rumah Tiara. Dan beberapa polisi masuk. Lalu, memborgol tangan Tiara untuk membawanya ke penjara. Karena, polisi sudah mendapatkan semua bukti dari Adnan dan pengakuan dari Tiara sendiri.


"Adnan! Lepasin! Sial*n lu. Lu lebih milih orang yang baru lu kenal, dari pada gue?! Tega lu!!" teriak Tiara sambil memberontak.


"Gue gak kenal orang gila kayak lu!" jawab Adnan.


Tiara di seret polisi karena terus memberontak. Saat Tiara menoleh ke arah Adnan. Adnan menatap Tiara tajam sambil tersenyum miring. Tak lupa, menaruh jari yang mengarah ke kepalanya, seperti pistol. Membuat ancaman, kalo Adnan akan menembak Tiara. Membuat Tiara menelan salivanya takut.


"DOR!" kata Adnan kencang, membuat Tiara menunduk dan berhenti berontak.


Bersambung...


Hai teman-teman! jangan lupa Like dan komentarnya yaaaa! Supaya author semangat update bab baru!

__ADS_1


Ayoooo yang suka Nayla sama Daren kumpul!


Atau tim Nayla sama Bian?


__ADS_2