
Aku mendengkus kesal.
Nina menoleh,"Kenapa, Nay?"
"Nin... Aku harus gimana?" kataku pelan.
Nina mengernyit."Maksudnya? Gimana apanya?"
Aku menghembuskan nafas gusar. Apa aku kasih tau Nina aja?
"Ntar aku ceritain di rumah kamu..."
Tak lama mobil Nina berhenti tepat di pekarangan rumahnya. Kami berdua masuk, dan langsung berjalan menuju kamar Nina.
"Duduk sini... Lu kenapa?" tanya Nina sambil menepuk pelan sofa di kamarnya.
Aku menghela nafas panjang,"Sebenarnya, di rumahku ada Bian." kataku pelan.
Nina mengernyit."Maksudnya?"
Aku menyodorkan ponselku agar Nina bisa melihat pesan yang Bian kirimkan kepadaku.
"Loh, kok bisa Bian sampe masuk ke kamar lu?" tanya Nina bingung.
"Nin... Aku pengen lepas dari Bian," kataku.
"Lepas gimana, Nay? Emang, lu di apain sama dia? Coba cerita sama gue." kata Nina sambil mengusap pelan bahuku.
"Dulu pas masih sekolah, aku pernah di culik sama Bian..." kataku.
Nina melongo tak percaya."Yang bener, Nay!"
Aku mengangguk."Beneran... Walaupun cuma semalam. Makanya, aku trauma setiap ketemu sama dia." kataku menjelaskan.
"Lu di apa-apain?" tanya Nina.
Air mataku merembes keluar."Gak sampe di apa-apain, tapi... Bian ambil ciuman pertamaku." kataku pelan sambil mengusap kasar air mata wajahku.
"GILA TUH ORANG!" kata Nina emosi.
"Gue benerkan, kalo si Bian itu emang cowok gak bener!" lanjut Nina.
"Tolongin aku, Nin. Aku gak mau berurusan lagi sama dia." kataku pelan.
"Mama lu tau gak?" tanya Nina.
Aku menggeleng."Nggak... Cuma kamu yang tau,"
Nina berdehem."Oke. Mulai sekarang, lu blokir nomor si gila itu." kata Nina sambil memblokir nomor Bian di ponselku.
"Gausah lu balas pesan dia atau pun angkat teleponnya." lanjut Nina sambil menoleh ke arahku.
Aku mengangguk patuh."Tapi, Nin. Kalo aku gak balas pesannya, dia suka datang ke rumah..."
Nina mengangguk."Biarin. Nanti, gue hajar dia! Setiap dia berani datang ke rumah lu."
"Terus... Sekarang gimana?" tanyaku.
"Udah, gausah di pikirin. Bantu gue beresin baju abis itu kita balik ke rumah lu." kata Nina sambil menepuk punggungku pelan.
Aku mengangguk lega."Oke!"
*
*
*
Setelah selesai, aku dan Nina langsung pergi ke rumahku. Dan tak lama, kami sampai.
Aku langsung turun di ikuti Nina. "Bentar..." kata Nina.
__ADS_1
Aku menoleh."Kenapa?" tanyaku bingung.
Tak lama, mobil hitam masuk ke pekarangan rumahku. Aku mengernyit bingung, siapa yang datang ke sini malam-malam? Mama sama papa gak mungkin, mereka masih di luar kota.
Ternyata, Daren dan Adnan yang keluar dari mobil itu. Mereka membawa satu plastik hitam entah apa isinya.
"Ayo masuk." kata Nina menarik pelan lenganku.
"Loh, ini kan rumahku?" kataku bingung.
Nina tertawa pelan."Lama lu mah!"
"Eh, Nayla sayang... Baru pulang? Kok lama sih, aku udah nungguin dari tadi." kata Bian yang tiba-tiba keluar dari dalam rumahku.
Aku menatapnya datar dan langsung masuk tanpa memperdulikan Bian.
"Nih Nay, cemilan. Buat kita nonton malam ini..." kata Adnan.
Kami berempat duduk di sofa. Tak lama, Bian mendekat ke arahku dan duduk di sampingku.
"Wah, mau nonton apa? Ikutan dong!" sahut Bian.
"Kok bawa cemilannya banyak banget? Kita kan cuma berempat." tanyaku pada Adnan.
"Gak apa-apa. Makin banyak makin enak!" kata Nina antusias.
"Nonton apa nih?" tanya Adnan.
"Film setan enak kayaknya... Gimana?" kata Nina.
Aku mengangguk."Boleh-boleh!"
"Nay..." Bian mengeser duduknya sampai menempel padaku.
"Boleh deh..." kata Adnan.
"Kamu gak kangen sama aku?" kata Bian lagi.
Aku tetap diam tak memperdulikan dia."Ada film setan yang seru nggak?" tanyaku pada Nina.
Aku tersenyum antusias."Oke!"
"Nay!" kata Bian yang hendak memegang tengkukku dan langsung di tangkas sama Daren.
Daren langsung menarikku pelan, men-dudukanku di atas pangkuannya."Jangan sentuh." kata Daren dingin.
Aku yang kaget melihat sikap Daren langsung diam tak bergeming.
"Emangnya lu siapa? Larang-larang gue buat sentuh Nayla?" ketus Bian.
"Nayla is mine." kata Daren menatap Bian tajam.
Aku meneguk salivaku kasar.
Maksud Daren apa?
"Maksudmu, Nayla milikmu gitu? Gak mungkin!" bantah Bian.
"Kenapa gak mungkin?" kata Daren santai sambil memelukku di depan Bian yang sudah tersulut emosi.
Bian menarik tanganku, tapi langsung di tepis lagi sama Daren.
Bian menatap Daren sinis, seolah tidak percaya."Apa buktinya kalo Nayla itu milikmu?"
Daren tiba-tiba menarik tengkukku pelan dan mengecup sekilas bibirku. Membuat aku membelalakkan mata tak percaya, kalo Daren akan melakukan sesuatu sampai sejauh ini!
"SIAL*N!" kata Bian langsung beranjak pergi.
Aku menoleh ke arah Bian yang sedang memutar knop pintu untuk keluar, tiba-tiba dia berhenti dan menoleh ke arahku.
"Nayla... Tunggu sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku!" kata Bian dan langsung pergi.
__ADS_1
Aku menghembuskan nafas lega dan langsung turun dari pangkuan Daren. Aku menoleh ke tempat Nina dan Adnan, ternyata, mereka berdua sudah tidak ada... Mereka berdua ke mana!
"Da-daren... Makasih ya," kataku pelan.
Daren menoleh ke arahku,"Buat apa?"
"Udah bantuin tadi..." jawabku pelan.
Daren menggeleng."Nggak masalah. Yang jadi masalah tadi aku cium kamu."
"Maaf ya..." lanjut Daren.
"Gak apa-apa Daren..." jawabku pelan. Mau gimana lagi, udah terjadi.
"Tapi, itu ciuman pertamaku loh. Gimana dong... Kamu bisa balikin lagi nggak?" kata Daren sambil memegang bibirnya.
Aku mengernyit."Masa! Gak mungkin." bantahku.
"Beneran tau!" kata Daren mendengkus kesal.
"Nayla... Daren! Ayo nonton. Udah di siapin nih!" teriak Nina.
Aku dan Daren langsung beranjak ke ruang televisi. Untuk menonton film horor bersama malam ini.
"Wahhh! Kayaknya seru." kataku yang langsung duduk bersender ke sofa di samping Nina. Dan Daren duduk di sebelah kiriku. Kami berempat langsung fokus menonton sambil ngemil.
"Huaaaaa!" teriak Nina kencang dan langsung memeluk Adnan.
Aku memegang erat bantal di tanganku, jangan sampai aku memeluk Daren! Tiba-tiba Daren mengusap lembut kepalaku, membuatku menoleh ke arahnya.
Daren tersenyum."Gak takut? Gak mau peluk?" kata Daren menjahiliku.
Aku memalingkan wajahku sebal."Enggak!"
Aku langsung fokus kembali menonton film. Tapi, mataku sudah tidak kuat rasanya, tiba-tiba meredup dan gelap...
*
*
*
(Pov Daren)
Baru sepuluh menit yang lalu, Nayla terlihat sebal padaku karena aku sedikit menjahilinya. Tapi, sekarang dia sudah tertidur sambil memegang bantal dan cemilan. Emang dasar cewek aneh!
Aku menoleh ke arah Adnan dan Nina yang sama-sama tertidur di samping Nayla. Mungkin, karena mereka kecapekan habis bekerja seharian. Apa lagi kerjaan hari ini sangat banyak, karena besok sudah libur.
Aku langsung mematikan film yang masih berjalan, dan mematikan televisi. Kemudian, kembali ke samping Nayla lagi.
Tuk.
Baru saja duduk, Nayla sudah bersandar pada bahuku. Aku langsung mengambil cemilan yang dia pegang dan menaruhnya di bawah sofa.
Aku menatap wajah tenang Nayla dalam. Apa yang sebenarnya sudah Bian lakukan pada Nayla? Melihat sikap Bian yang sangat keterlaluan.
Tak sengaja mataku menatap ke arah bibirnya, teringat waktu tadi aku mengecup bibir Nayla dan merelakan ciuman pertamaku.
Semakin di lihat, ternyata Nayla memang sangat cantik...
Aku langsung menggendong Nayla pelan, memindahkannya ke kasur lantai di bawah sofa. Supaya tidurnya lebih nyaman.
Nayla melenguh pelan dan kembali tertidur.
Entah kenapa, setiap aku berada di samping Nayla. Rasanya jantungku tidak bisa berdetak dengan normal. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Apakah aku sakit? Kapan-kapan aku akan pergi ke dokter untuk periksa.
Tapi, sepertinya ada hal lain yang aku sadari.
Aku mulai jatuh...
__ADS_1
"Maaf Nayla, sepertinya... Aku memang sedikit jatuh..." bisikku pelan di telinganya.
"Jatuh cinta." lanjutku.