ONLY MINE!

ONLY MINE!
Aku Suka Sama Kamu


__ADS_3

Akhirnya aku sudah kembali lagi ke rumah. Setelah kemarin liburan di bandung dan menginap di hotel karena, memperkerjakan kembali Dina di supermarket. Seharian tadi pula aku langsung bekerja. Padahal, baru sampai setelah menempuh perjalanan lumayan jauh.


"Nay. Kamu sudah punya pasangan?"


"Belum pa," jawabku.


Papa mengangguk,"Papa udah mutusin buat jodohin kamu sama anak temen papa,"


Aku langsung menoleh cepat ke arah papa."Loh, kok gitu? Nayla gak mau!" tolakku.


"Nay... Coba pikirin lagi, kamu juga sudah dewasa kan?" kata Mama mengusap pelan tanganku yang sejak tadi mama genggam.


"Tapi, ma-"


"Papa harap kamu mengerti, Nay. Papa gak mau kamu sendirian di sini. Karena, mama sama papa juga akan tinggal di luar negeri cukup lama. Papa khawatir kejadian seperti kemarin ke ulang lagi. Kalo kamu menikah. Mama sama papa bisa lega. Apa lagi, yang mau menikah sama kamu itu orang baik!" kata papa panjang lebar.


Aku menunduk,"Aku ikut pindah aja sama kalian..."


Papa menggeleng."Gak bisa sayang. Kalo kamu ikut pindah, perusahaan papa di sini siapa yang urus?" tolak papa halus.


"Papa lebih mentingin perusahaan dari pada anak sendiri?!" kataku kesal.


"Bukan begitu! Tapi, perjodohan ini udah gak bisa di batalin,"


Aku menatap ke arah mama."Maaa... Aku gak mau!"


Mama mengusap pipiku lembut,"Mama yakin, kamu bakalan bahagia menikah sama dia..."


Seketika dadaku bergemuruh hebat. Sudut netra ini mulai memanas. Aku menoleh ke arah mama dan papa yang tengah meyakinkanku. Mungkin, tidak ada pilihan lain. Karena buat mencari pasangan dan memulai semuanya dari awal lagi. Rasanya aku sudah tidak sanggup.


"Iya deh, Nayla mau..." kataku pelan.


Mama dan papa tersenyum senang."Kamu harus percaya sama mama dan papa. Dia orang yang sangat baik!" kata Papa.


Aku mengangguk."Dia siapa? Apa aku boleh ketemu dulu sama dia?"


"Tentu, sayang! Besok dia akan datang ke kantor kamu buat ngobrol. Kamu tunggu aja ya!" jawab papa.


"Iya... Nayla ke kamar dulu ya, mau istirahat."


"Oke. Good night, sayang!"


"Good night to..."


Aku berjalan lemas ke kamar. Sepertinya aku membutuhkan banyak energi untuk besok. Jadi, malam ini harus tidur lebih cepat.


"Hiks! Huaaaaaa..." aku terisak sendirian sambil menonton video di ponselku.


"Kok dia nya mati! Gak boleh kayak gini..." kataku menceracau sendiri setelah melihat pemeran utama di salah satu drakor yang ku tonton berakhir menyedihkan.


Aku langsung mematikan ponselku. Saat layarnya kembali ke menu, tak sengaja aku melihat jam yang tertera. Rupanya sudah jam empat pagi! Astaga.... Aku harus cepat tidur!


Pagi ini, aku terlambat lagi. Aku bangun jam sepuluh siang dan baru sampai kantor tepat pukul 11 siang. Nina yang sudah capek mengomel pun hanya memandangku kesal. Dia pasti tau aku semalaman bergadang, bukan untuk bekerja. Melainkan maraton drakor.


Aku duduk lesu sambil memandang map yang menumpuk di atas meja. Membukanya dengan malas. Sambil berpikir siapa yang akan datang ke sini dan menjadi suamiku nanti...


Rasanya, aku sudah tidak punya tenaga untuk menolak juga. Karena melihat wajah bahagia orang tuaku semalam.


Tok! Tok! Tok!


Nina masuk keruanganku setelah ku suruh.


"Nay! Ada tamu..." kata Nina.


Deg!

__ADS_1


Apa kah itu orangnya?


Nafasku tercekat beberapa detik. Aku belum siap!


"Siapa?" tanyaku mencoba tenang.


"Raka..." jawab Nina.


Aku langsung berdiri saking kagetnya."Raka?"


Nina mengangguk."Gimana, suruh masuk aja?"


"Iya. Suruh masuk aja," kataku pasrah sama keadaan.


Nina berjalan dan membuka pintu. Tak lama Raka masuk dan menyapa.


"Raka... Ada urusan apa ke sini?" tanyaku to the point.


Raka menghela nafas panjang.


"Sebenarnya..."


Raka menghentikan perkataanya membuatku semakin tak tenang. Sebenarnya apa? Dia mau membatalkan acara pernikahan denganku? Bagus deh!


"Sebenarnya aku ke sini mau nanya... Kenapa perusahaan kamu mencabut semua saham di perusahaan Xxx1?"


Deg!


Cabut saham? Perusahaan?


Berarti bukan Raka!


"Itu saja?" tanyaku memastikan.


Raka mengangguk yakin."Iya, soalnya itu perusahaan saudaraku," jawab Raka.


"Iya, Nay. Emangnya ada masalah apa sih, sampai kamu mencabut semua saham di perusahaan Xxx1?"


Aku menghela nafas lagi."Maaf ya Raka. Bukannya aku jahat karena udah nyabut semua saham. Tapi, Austin yang duluan nyari perkara."


Raka menatapku bingung."Maksudnya gimana?"


"Iya... Ada beberapa masalah yang dia buat. Pertama, dia bohong soal acara bisnis. Kedua, dia menggodaku seperti wanita murahan. Ketiga, dia memaksaku untuk berdansa. Ke empat, dia mencoba melecehkanku. Ke lima dia merobek gaunku di depan banyak orang. Untung waktu itu lampunya lagi mati, dan ada Daren yang menolongku. Kalo nggak, aku gak tau nasibku sekarang gimana! Dan masih banyak kelakuan Austin yang tidak menghargai aku sama sekali sebagai penyimpan saham di perusahaannya!" jelasku.


Raka terkejut mendengar semua perkataanku."Beneran? Gila si Austin! Dia bilangnya kalo kamu yang semena-mena nyabut saham karena perusahaan Xxx1 itu perusahaan kecil."


Aku menggeleng."Dari awal aku udah tau kalo perusahaan Xxx1 itu masih merintis. Jadi, nggak masuk akal kalo aku cabut saham cuma karena itu, kan?"


Raka mengangguk."Aku mengerti sekarang, Nay. Maaf karena sudah datang kemari tanpa ada janji sebelumnya. Dan sudah menggangu waktu kerjamu."


"Gak masalah kok..."


Setelah Raka pergi, aku kembali bernapas lega. Walau pun jantungku masih berdetak tak karuan. Entah kapan makhluk yang akan menjadi suamiku itu datang.


Tak terasa sepuluh menit lagi pekerjaan selesai. Rasanya aku ingin segera merebahkan tubuhku di kasur sambil menonton drakor yang belum beres semalam.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


"Nay... Belum selesai?"


Aku menoleh ke sumber suara."Daren! Ngapain kamu di sini?" pekikku sedikit kencang.


Daren duduk di kursi tepat di hadapanku. Jangan bilang kalo Daren yang akan di jodohkan denganku?

__ADS_1


"Gak tau... Aku di suruh mama sama papaku buat ketemu kamu," jawab Daren santai.


Deg!


Jantungku kembali berdetak tak karuan. Rasa panas mulai menjalari sekujur tubuhku, padahal ruanganku pakai Ac.


"Kamu... Yang bakalan di jodohin sama aku?" tanyaku pada Daren yang terlihat kaget.


"Loh... Kamu juga mau di jodohin?"


Aku mengangguk."Kata papaku sih, orang yang mau di jodohin sama aku bakalan datang hari ini ke kantor."


"Berarti aku dong! Soalnya aku juga di suruh ketemuan sama calon jodoh. Eh, taunya malah ke kantormu!"


Aku menggeleng."Gak mungkin!"


Aku langsung menelpon papa dan menanyakan siapa nama orang yang mau di jodohkan denganku. Gak mungkin Daren kan?


Drttttt


"Halo..."


"Halo, pa! Nama orang yang mau di jodohin sama aku siapa?" tanyaku cepat.


"Daren."


Tuttttt


Aku langsung mematikan telepon sepihak saking kagetnya.


Gak mungkin!


Gak mungkin!


"Darennnn! Aku gak mau nikah sama kamu!"


Daren menatapku sambil tertawa."Mau gak mau, Nay! Berarti kamu memang jodohku."


Aku menatapnya tajam."Kamu kok seneng! Ayo kita batalin perjodohan ini!"


"Nggak." tolak Daren.


Aku berdiri mencondongkan badanku ke arahnya."Kenapa!"


"Gak kenapa-kenapa," ucap Daren santai.


"Pokoknya, aku bakalan nyari cara buat batalin perjodohan kita. Harusnya kalo kamu gak suka, kamu bantuin aku dong! Masa terima gitu aja?"


Daren berdiri dan berjalan ke arahku."Kata siapa?"


Aku mengernyit bingung."Maksudnya?"


Daren berdiri tepat di hadapanku, menarik pelan pinggangku menempel ke tubuhnya. Lalu, Daren menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Daren mensejajarkan tinggi badannya dengan badanku.


"Tadinya... aku juga gak terima. Tapi, karena orangnya kamu. Aku berubah pikiran," bisik Daren tanpa ragu.


Aku menelan salivaku takut."Ke-kenapa! Ayo kita bata-"


"Aku suka sama kamu... Nayla Ganendra."


Deg!


Daren menarik pelan tengkukku dan mengecup lembut bibirku. Membuatku sangat terkejut.


Aku masih tertegun dengan perkataan dan perlakuan Daren yang tiba-tiba.

__ADS_1


Bersambung...


Hai semuanyaaaaaa, apa kabar? Mudah-mudahan sehat selalu ya. Author sayang kalian!❤️


__ADS_2