
"Nay... Kenapa sendirian aja?"
Aku terkejut saat merasakan ada seseorang yang memelukku dari belakang. Aku langsung melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku dan berbalik ke arahnya.
"Daren! Ngapain sih meluk-meluk. Malu di liatin banyak orang!" kataku setelah mengetahui kalo yang memelukku tadi itu Daren.
"Berarti kalo berdua aja, boleh?" jawab Daren menggodaku.
Aku mencubit keras perut Daren."Nggak!"
"Awssss!" ringis Daren sambil memegang perutnya.
Aku yang merasa bersalah langsung mengusap pelan perut Daren. Apa aku terlalu kencang nyubitnya? Sampe Daren jongkok di hadapanku.
"Maaf, Daren..." kataku sambil terus mengusap perut Daren yang masih jongkok dan memejamkan mata sambil meringis.
Daren terkekeh."Tapi bohong!" kata Daren langsung kembali berdiri sambil menarik pelan lenganku.
"Ish Daren!" aku yang kesal hendak mencubit kembali perut Daren. Tapi, Daren malah meraih tanganku dan menaruh di pundaknya. Sebelah tangannya menarik pelan pinggangku membuat tubuhku menempel pada tubuhnya.
Aku langsung menarik kembali tubuhku agar menjauh, membuat Daren tertawa pelan melihat reaksiku.
Karena malu banyak yang memperhatikan aku dan Daren sejak tadi. Aku langsung menjauh dari Daren, berjalan mengelilingi acara Adnan sendirian.
Daren yang hendak mengejarku dan terus memanggil namaku, ku ancam agar dia diam dan tidak mendekat atau mengikuti. Membuat Daren memberengut kesal.
Aku berjalan pelan sambil minum-minuman yang ku ambil saat lewat meja tadi.
"Hai..."
Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata, seorang wanita yang menyapaku."Hai," jawabku ramah.
"Kenalin, gue Tiara," kata wanita itu menjulurkan tangannya.
Aku menjabat uluran tangannya."Nayla," jawabku.
"Oh, iya. Gue liat dari tadi, kalo lu deket banget sama Daren, emangnya lu siapanya Daren?" tanya Tiara.
Aku menoleh ke arah tiara."Temennya," jawabku seadanya.
Tiara melihatku dari atas sampai bawah."Beneran? Kok Daren peluk-peluk lu tadi?" tanya Tiara sambil melinting rambutnya.
Aku tertawa cangung."Gak tau. Dia emang anaknya random,"
Tiara mengangguk-anggukan kepalanya sambil menatapku remeh."Iya, sih. Mana mungkin Daren suka sama lu, kan?"
Aku mengernyit bingung. Kok tiba-tiba nih orang dateng-dateng ngajak kenalan, eh. Sekarang malah ngajak berantem!
"Maksudnya gimana ya?" tanyaku memastikan isi pikiranku yang saat ini sudah tidak bisa berpikir positif.
__ADS_1
"Iya... Maksud gue, mana mungkin cowok se-sempurna Daren suka sama cewek biasa kayak lu!" jawab Tiara sambil memandangku jijik.
Aku mengangkat sebelah alisku dan tersenyum sinis."Ah. Kamu suka sama Daren?" tanyaku sambil tertawa mengejek.
Tiara menatapku tajam."Bukan cuma suka. Tapi, Daren sebentar lagi jadi milik gue! Jadi, lu jangan kegatelan!" kata Tiara sewot sambil mendorong bahuku pelan.
Puk! Puk!
Aku membersihan bajuku yang tadi di sentuh Tiara."Jangan sentuh. Tanganmu kotor," kataku santai.
"SIAL*N!" bentak Tiara tak terima.
"Kenapa? Marah? Jangan dulu dong. Kamu harus tau kalo..." aku menjeda perkataanku dan menatap jijik Tiara dari atas sampai bawah. Seperti yang dia lakukan tadi kepadaku.
"Kalo sebentar lagi aku dan Daren akan menikah!" kataku meninggikan sedikit suaraku. Entah kenapa aku bilang begitu, padahal, aku ingin membatalkan perjodohanku dengan Daren. Mungkin karena terlalu kesal.
"Gak percaya!" kata Tiara angkuh.
Aku tertawa pelan."Perlu bukti?" kataku tersenyum remeh.
Tiara tersenyum sinis."Iya. Coba buktikan! Jangan-jangan lu ngehayal lagi!" kata Tiara ketus.
Aku kembali tertawa."Buat apa ngehayal kalo bisa jadi beneran?"
"Tunjukin buktinya! Jangan banyak omong!" kata Tiara emosi.
Aku berdehem pelan."Males, ah. Langsung tanya Daren aja kalo nggak percaya..." kataku santai.
Aku meraih tangan Tiara dan menghempaskannya dengan kasar."Jangan sentuh aku!" kataku ketus.
Tiara menggeram aku hanya menatapnya datar."Lain kali... Ngaca dulu ya sebelum ngeremehin orang. Oh, iya. Ngomong-ngomong kamu mampu nggak beli kaca? Atau mau aku beliin?" ujarku sarkas.
"SIAL*AN!"
BYUR
Tiara menyeretku dan mendorongku ke kolam renang. Padahal, aku sudah berontak. Tapi, tenagaku kalah kuat. Aku langsung berusaha untuk tidak panik dan menuju ke tepi kolam. Tapi, kakiku tiba-tiba keram membuatku susah untuk berenang.
Blububbb
'Sial. Kakiku keram, mana nih kolam dalem banget lagi.' batinku malah panik sendiri berusaha meminta pertolongan.
Blububbb
'Napasku... Lain kali aku akan belajar untuk bernapas di dalam air,' batinku. Dan semuanya berubah menjadi gelap.
*****
(Pov Author)
__ADS_1
Daren membuka jasnya dan berlari ke arah kolam berenang.
BYUR!
'Nayla! Sial. Kenapa kolam Adnan begitu dalam!' batin Daren sambil terus berenang ke arah Nayla yang sudah sampai dasar.
Setelah Daren mendapatkan tubuh Nayla, Daren langsung membawa Nayla ke sisi kolam. Dress putih Nayla tembus pandang jadi Daren segera menutupinya dengan jas yang tadi sempat dia buka.
Daren langsung mengecek napas dan melakukan CPR."Nay! Nay!" kata Daren panik sendiri.
Banyak orang yang mengerubungi badan Daren dan Nayla.
"Nay!" teriak Nina kencang setelah tau yang tenggelam itu Nayla. Nina langsung menangis sambil jongkok di samping Daren.
Nayla belum juga sadar. Daren langsung memberikan napas buatan. Sambil terus melakukan CPR.
"Sial*n" gumam Daren sambil menatap Tiara nyalang. Tiara yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang berdecak kesal karena tau Daren marah padanya gara-gara Nayla.
Uhuk!
Uhuk!
"Nay!" kata Daren mengangkat kepala Nayla.
"Da-daren... Nina..." gumam Nayla pelan.
Tanpa menjawab, Daren langsung meletakan tangan Nayla di lehernya dan menggendong Nayla.
"Tiara... Kelakuanmu sudah di luar batas. Mulai sekarang, jangan pernah lagi menunjukan wajahmu di depan saya. Dan jangan pernah juga menyentuh istri saya!" kata Daren tegas.
Daren langsung berjalan keluar dari rumah Adnan menuju parkiran. tanpa memperdulikan Tiara yang menatapnya nanar.
"Daren... Aku udah nggak apa-apa kok. Kamu bisa kembali ke acara Adnan. Kasian Adnan kalo kamu pulang, tolong carikan aku taksi aja," kata Nayla menatap wajah tegas Daren.
Daren hanya diam. Dia langsung masuk ke dalam mobil dan mendudukkan Nayla di pangkuannya.
"Aku juga bisa duduk sendiri," protes Nayla hendak bangun dari pangkuan Daren. Tapi, Daren menahannya.
"Diem sayang..." kata Daren lembut.
"T-tapi aku bisa duduk sendiri, Daren!" kata Nayla ngotot.
Cup!
Jantung Nayla berdebar kencang. Nayla meremas kameja putih Daren yang sudah basah. Daren mencium bibir Nayla dan memagutnya sedikit kasar.
"Hmmpppp..." Nayla memukul pelan dada bidang Daren, membuat Daren melepaskan pagutannya.
Nayla meraup udara dengan rakus."Dar-" gumam Nayla menggantung karena Daren kembali mencium bibirnya. Setelah di rasa cukup. Daren melepaskan pagutannya.
__ADS_1
"Jangan buat aku khawatir, Nay... Aku hampir gila," bisik Daren pelan dengan napas yang masih memburu.