ONLY MINE!

ONLY MINE!
Kado Untuk Adnan.


__ADS_3

Nayla dan Daren sudah berdiri di depan rumah Adnan. Ternyata, Adnan belum pulang dari kantornya. Makanya, mereka berdua memutuskan untuk menunggu saja di pekarangan rumah Adnan.


Nayla memperhatikan kado yang akan dia berikan."Terlalu berlebihan nggak sih?" tanya Nayla pada Daren.


Daren menggeleng."Nggak kok. Adnan pasti suka!" kata Daren yakin. Tak lama, mobil hitam Adnan terlihat dan langsung parkir di pekarangan rumahnya.


Nayla dan Daren tengah berdiri di depan mobil milik Daren. Adnan berjalan cepat ke arah mereka berdua."Maaf ya, udah nunggu lama!" kata Adnan ngos-ngosan.


Nayla tertawa pelan."Santai aja Adnan! Ya ampun..." jawab Nayla tak habis pikir melihat peluh yang bercucuran di pelipis Adnan.


Daren menepuk pundak Adnan pelan. Lalu, menunjuk ke sisi pekarangan rumah Adnan. Ada sesuatu yang di bungkus oleh kain hitam."Itu hadiah buat lu, dari gue sama Nayla," tunjuk Daren.


Adnan merekahkan senyumannya."Makasih Nayla! Daren!" kata Adnan senang dan langsung berjalan ke arah kain hitam itu. Adnan menoleh ke arah Nayla dan Daren, seperti meminta izin untuk membuka kadonya. Daren dan Nayla mengangguk sambil tersenyum. Membuat Adnan langsung membuka kain hitam itu.


Adnan mematung melihat apa yang ada di hadapannya. "Gila! Gila! Gila! Keren banget!" pekik Adnan mengusap wajahnya saking senangnya.


Adnan berlari ke arah Nayla hendak memeluknya. Tapi, Daren yang tau maksud Adnan langsung memasang badan di depan Nayla, membuat Adnan memeluk tubuh Daren.


"Gue seneng banget! Bisa-bisanya lu kasih gue mobil itu, Nay! Terima kasih banyakkkk!" kata Adnan senang.


Daren menepuk-nepuk punggung Adnan."Ini gue Daren, bukan Nayla!" kata Daren pelan.


Adnan melepaskan pelukannya,"Pokoknya makasih Daren! Naylaaaaa. Sumpah demi apapun gue seneng banget!" kata Adnan sambil mengusap air mata yang mengalir di wajahnya.


"Iya Adnan..." jawab Nayla sambil mengusap punggung Adnan dari belakang.


"Lu kok bisa dapetin mobil itu, Nay? Bukannya mobilnya udah kejual?" tanya Adnan pada Nayla.


Mobil Lamborghini hitam, dengan corak api di belakangnya. Memang Nayla beli satu bulan yang lalu. Niatnya, dia ingin memakai mobil itu ke kantornya. Tapi, Adnan pernah menunjukan foto mobil itu ke Nayla, satu minggu yang lalu. Katanya, Adnan sangat ingin membeli mobil itu. Tapi, sudah keduluan di beli orang. Tanpa Adnan tau, Nayla yang sudah membelinya. Jadi, Nayla memberikan mobil itu ke Adnan. Walau pun sebagian uangnya di ganti sama Daren. Karena Daren memaksa ingin ikut patungan untuk Adnan.


Nayla mengangguk."Emang udah kejual. Kan aku yang beli," kata Nayla tanpa beban.


"Gila! Keren banget lu bisa dapet. Bukannya mobil itu jadi rebutan ya? Karena pernah di pakai sama salah satu pembalap internasional? Kok bisaaaa? Gue yang udah stay buat beli aja malah kehabisan. Padahal, cuma telat lima detik doang!" tanya Adnan heran.


Nayla mengangguk bangga."Cepetan aku berarti... Udah, nih kuncinya!" kata Nayla memberikan kunci mobil itu pada Adnan.

__ADS_1


Adnan sampai bersujud saking senangnya. Membuat Nayla dan Daren ikut-ikutan bersujud."Heh! Udah bangun!" kata Daren yang langsung menarik kerah baju Adnan untuk bangun, membuat Nayla tertawa melihatnya.


"Makasih ya Nayla! Darennn! Kalian sahabat terbaik gue pokoknya!" kata Adnan menatap Nayla dan Daren bergantian. Nayla dan Daren mengangguk sambil tersenyum melihat Adnan yang sangat bahagia.


Adnan langsung masuk dan mencoba mobil barunya."Gilaaaa! Keren banget!" seru Adnan sendirian.


Tak lama Adnan keluar menghampiri Nayla dan Daren dengan wajah yang masih tersenyum senang."Jangan senyum terus, ada satu hadiah lagi!" kata Nayla antusias. Tapi, sedetik kemudian dia menyesal sudah berkata seperti itu.


Adnan terkejut mendengar perkataan Nayla."Udah, Nay! Gue udah senenggg banget di kasih mobil itu. Gak perlu ngasih hadiah apa-apa lagi! Nanti gue bisa pingsan," kata Adnan dramatis.


"Lama-lama, lu beneran gila!" kata Daren menarik Nayla ke belakang badannya, karena takut Adnan akan memeluknya seperti tadi.


"Pelit lu! Mau peluk Nayla aja gak boleh!" kata Adnan ketus.


Daren menatap Adnan tajam."Mau gue bakar rumah lu sekarang?"


Adnan tertawa pelan."Ampun-ampun!" katanya meledek Daren.


"Tunggu bentar!" kata Daren pada Adnan. Daren langsung menarik pelan tangan Nayla untuk ikut bersamanya.


"Sama kamu aja," jawab Nayla memberikan kado itu kembali.


Nayla tak ingin ikut andil dalam kado yang akan Daren berikan. Karena isinya di luar nalar! Walau pun tadi Nayla sedikit antusias saat memberitahu pada Adnan, tentang satu lagi kado yang akan mereka berikan. Tapi, setelah mengingat isinya, Nayla sangat menyesal!


Daren berjalan ke arah Adnan. Memberikan kado yang unurannya lumayan besar itu ke tangan Adnan. Membuat Adnan tersenyum bahagia."Gue buka ya?" kata Adnan senang.


Daren mengangguk sedangkan Nayla malah menutup matanya menggunakan kedua tangan.


"Gilaaaa! Gila! Gila! ****** spongeb*b! Lu beli di mana? Tau dari mana gue nyari model kek gini! Aaaaa ini hari terbaik di hidup gue!" seru Adnan senang sambil menjembreng satu persatu ****** di hadapan Daren dan Nayla.


"Keren kan? Gue nyari sampe ke luar negeri loh. Soalnya modelan kek gitu, apa lagi yang merek brand itu. Di sini gak ada, pada kosong! Jadi itu limited edition!" kata Daren bangga sambil melipat lengannya di dada.


Nayla membuka matanya. Menatap dua orang laki-laki di hadapannya ini aneh.'Kok Adnan seneng banget di kasih ****** itu?' batin Nayla bingung.


"Gilaaaa pokoknya! Makasih ya Naylaaa! Darennnn!" kata Adnan sambil menghitung ****** yang Daren kasih. Nayla dan Daren hanya bisa tertawa pelan mendengar ocehan kebahagiaan Adnan.

__ADS_1


"Gilaaaa selusin!" sambung Daren bahagia.


"Udah-udah simpen sempaknya! Bentar lagi Nina datang," kata Nayla. Adnan yang mendengar nama Nina, langsung memasukan kembali ****** yang sejak tadi dia peluk ke dalam kotak.


"Oke!"


*****


Tak lama, Nina datang membawa beberapa bungkus makanan. Adnan mempersilahkan mereka semua masuk dan makan bersama di dalam.


"Nay! Lu harus tau. Tadi, gue ketemu sama Fahmi! Dan yang lebih parahnya, dia sekarang jualan es cendol keliling di jalan! Gila pokoknya!" kata Nina antusias menceritakan tentang Fahmi. Mantannya Nayla.


"Masa sih? Lu salah liat kali!" jawab Nayla tak percaya.


"Beneran, Nay! Gue liat pake mata kepala gue sendiri!" kata Nina meyakinkan.


"Yaudah. Kalo emang beneran jualan bagus kan? Jadi bos cendol," celetuk Adnan.


"Bener tuh! Biar bisa ngasih makan istrinya," sahut Nayla membenarkan.


Nina mengangguk-anggukan kepalanya."Dapet karma kali ya? Bukannya dia kerja di perusahaan Eddyson? Kok bisa keluar dari sana?" kata Nina tak tahu. Karena Nayla tidak menceritakan soal Daren yang memecat Fahmi, pas datang ke pernikahan mereka.


"Loh? Perusahaannya Daren?" kata Adnan langsung menoleh ke arah Daren.


Daren mengangguk."Gue yang mecat Fahmi," kata Daren sambil memakan makanannya. Membuat Nina terkejut mendengar perkataan Daren.


"Gila! Lu pemilik perusahaan Eddyson?" tanya Nina tak habis pikir.


"Bukan. Bokap gue," jawab Daren santai.


"Berarti lu..."


"Penerus perusahaan Eddyson!" sela Adnan membuat Nina menatap Daren takjub.


Bersambung...

__ADS_1


Hai semuanyaaaa! Jangan lupa like dan komentar yaaa. Biar author semangat update bab baru! Terimakasih 🫶❤️


__ADS_2