
Tuk.
Aku menabrak pelan punggung seseorang.
"Eh, maaf! Aku gak sengaja..." kataku menunduk meminta maaf.
"Iya, gak apa-apa kok..." jawabnya.
Aku mendongak. Seorang laki-laki tengah menatapku ramah sambil tersenyum.
"Sekali lagi maaf ya..." kataku dan pamit untuk pergi.
"Tunggu!" kata laki-laki itu.
Aku berhenti sedikit bingung."Kenapa?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya.
"Eh... Boleh kenalan? Namaku Raka. Namamu siapa?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Aku tersenyum sambil menjabat tangannya."Namaku Nayla... Senang berkenalan denganmu!"
Raka terkekeh pelan."Nayla? Ah. Aku juga senang berkenalan sama kamu!"
"Kamu lagi ngehadirin pesta ini?" tanyaku.
Dia mengangguk."Aku di paksa sih, sebenarnya males ikutan pesta kaya gini." jawab Raka.
Aku tertawa pelan."Ah, begitu. Sama dong. Aku juga males!" kataku.
"Aku boleh minta nomormu? Siapa tau kita bisa berteman..." kata Raka menyodorkan ponselnya.
"Boleh..." aku mengambil ponselnya dan memasukan nomorku lalu mengembalikannya pada Raka.
"Aku simpan kontakmu pakai nama Nayla cantik, boleh?" kata Raka menatapku.
"Boleh sih, tapi. Ada-ada aja, kamu." jawabku sedikit canggung.
Tiba-tiba ponselku bergetar, aku langsung mengambilnya di dalam tasku.
"Itu nomorku, di simpan ya!" kata Raka.
Aku mengangguk dan menyimpan nomornya.
"Kok namanya cuma Raka aja?" kata Raka setelah mengintip ponselku.
Aku menoleh cepat ke arahnya."Eh... Harusnya apa?" tanyaku tak enak.
"Calon pacar, dong!" jawab Raka.
Kami berdua langsung tertawa.
Setelah sedikit berbincang dan berkenalan aku pamit pada Raka dan berjalan ke arah Nina. Nina sedang duduk sambil tersenyum menatap layar ponselnya.
Pasti lagi chatan sama Adnan...
Aku duduk di sofa tanpa menggangu Nina. Memakan camilan yang tadi aku tinggalkan.
"Loh, Nayla! Kapan lu balik dari toilet?" tanya Nina bingung.
"Barusan... Kamu lagi asik senyum-senyum sendiri sih, jadi aku biarin..." kataku sedikit menyindir.
Nina kelabakan."Emang gue senyum-senyum sendiri?"
Aku mengangguk."Iya."
"Oh, yaudah." jawabnya enteng. Padahal, baru aja dia kelabakan sendiri.
Aku mendengkus kesal."Dasar!"
Nina tertawa pelan.
Entah kenapa, Nina suka sekali menjahiliku dan selalu bertingkah menyebalkan seperti itu. Tapi, aku sangat menyayangi Nina.
"Oh iya. Nin! Tadi aku ketemu orang ganteng di koridor toilet." kataku kembali membuka topik pembicaraan.
"Seganteng apa?" tanya Nina kepo.
"Ganteng deh pokoknya!" kataku meyakinkan.
__ADS_1
"Gantengan dia atau Adnan?" tanya Nina.
Aku berpikir sejenak."Gak tau..."
"Gantengan dia atau Daren?" tanya Nina lagi.
"Gak tau!" kataku ketus.
Nina terkekeh."Terus gimana... Kalian kenalan?"
"Iya... Udah tukeran nomor juga, sih." kataku.
Nina heboh sendiri."Wah parah! Mau jadiin yang ke empat nih?"
"Gak! Aku gak mau pacaran lagi." kataku kesal.
"Iya-iya. Langsung nikah aja biar enak!" kata Nina menimpali.
Ting.
Terdengar suara dari ponsel Nina.
"Nay, kamu tunggu bentar ya. Aku ke Adnan dulu, dia kirim pesan mau ngasih tau sesuatu, katanya penting." kata Nina.
Aku mengangguk mengiyakan."Jangan lama,"
Nina mengangguk lalu beranjak pergi.
Aku mengedarkan pandanganku, lalu merogoh ponsel di tasku. Membalas satu persatu pesan dari karyawanku yang sedang menanyakan seputar kerjaan.
"Bu Nayla, malam ini sangat cantik..."
Aku terlonjak kaget melihat Austin sudah duduk di sofa depan. Berhadapan denganku, dan jaraknya tidak terlalu jauh.
"Terimakasih pak Austin." jawabku singkat.
"Nanti mau berdansa denganku?" tanya Austin sambil menatapku genit.
"Ah, sepertinya tidak. Soalnya saya tidak bisa berdansa." jawabku malas.
Padahal, aku bisa.
Aku tersenyum canggung."Emang wajib banget bisa dansa?"
"Banget! Gak apa-apa... Nanti saya ajarin." kata Austin tersenyum sangat menyebalkan di mataku.
"Ah. Tidak, terimakasih..." tolakku.
"Bu Nayla tidak tau, kah? Saya mengadakan acara apa?" tanya Austin menaikkan sebelah alisnya.
"Apa?" tanyaku malas.
"Acara senang-senang. Dansa, dan lain-lain. Untuk sekedar melepaskan lelah sehabis bekerja, atau pemikiran yang rumit tentang perusahaan... Menyambut tahun baru juga." kata Austin beranjak dan duduk di sebelahku.
Aku menatapnya kaget."Loh! Kok anda tidak bilang? Mama saya bilangnya ini acara penting loh. Makanya saya datang! Kalo cuma acara seperti ini, buat apa saya capek-capek datang ke sini? Saya gak punya waktu buat senang-senang!" kataku kesal. Aku langsung bangkit beranjak akan pergi.
Austin menahan tanganku."Sebentar... Saya sudah bilang kok sama mama anda. Mungkin, mama bu Nayla pengen kalo bu Nayla sedikit bersenang-senang..." kata Austin mengusap tanganku pelan.
Aku menghempaskan tangannya kasar."Tidak juga. Mungkin, mama saya ingin mencabut saham saya di perusahaan anda?" tanyaku tersenyum sinis.
Austin gelagapan."Maaf, bu Nayla. Saya ke belakang dulu, acaranya sudah mau di mulai!" kata Austin langsung beranjak pergi.
Aku sedikit lega melihatnya. Aku mulai mengedarkan pandanganku, mencari keberadaan Nina. Aku akan mengajaknya pulang sekarang juga.
Aku berjalan pelan hendak ke kamar mandi. Mungkin Nina di sana? Tapi, baru sampai pertengahan gedung. Lampu langsung hidup, dan orang-orang yang duduk di sofa langsung berdiri menuju ke arahku. Mereka berpasangan, yang laki-laki memeluk pinggang wanita. Dan yang wanita memegang pundak laki-laki.
"Permisi..." kataku yang mencoba untuk keluar dari barisan.
Aku mau cari Nina! Ninaaaa kamu di mana?!
"Acara di mulaiii!" teriak Austin menggunakan Mic.
Terdengar musik dansa sudah menggema ke seisi gedung. Tiba-tiba ada yang menarik pinggangku.
"Bu Nayla... Mau kemana?"
"A-austin... Lepaskan!" kataku berbisik berusaha melepaskan tangannya dari pinggangku. Karena jika aku berteriak, di sekitarku lagi banyak sekali orang yang sedang berdansa dengan pasangan mereka masing-masing. Aku tidak mungkin menghancurkan acara mereka.
__ADS_1
"Diam sebentar bu... Mari kita nikmati malam ini!" kata Austin yang meletakan tanganku di pundaknya kemudian mulai berdansa.
Aku berusaha menjauhkan tubuhku dari tubuh Austin. Tapi, dia terus menarik pinggangku supaya menempel pada tubuhnya.
Jlep.
Lampu ruangan mati, musik berhenti. Aku merasa pinggangku kembali di tarik oleh seseorang.
Tuk!
Lampu kembali hidup... Musik kembali menggema. Ternyata, aku sudah pindah tempat ke sebelah kanan. Dan, bukan Austin lagi yang sedang memegang pinggangku kali ini... Tanganku di letakan di pundaknya, seperti yang di lakukan Austin tadi.
"Ehh... Bu Nayla! Senang bertemu dengan anda..."
Aku tertegun. Dia pak Leo CEO dari perusahaan gemilang. Aku beberapa kali bertemu dengannya karena bisnis. Walaupun lebih sering bertemu langsung dengan pemilik perusahaannya.
"Wah, pak Leo. Saya juga senang bertemu dengan anda." kataku merasa tidak nyaman.
"Tumben bu Nayla ikut acara pesta seperti ini..." kata pak Leo sambil terus berdansa.
Aku menoleh ke arah Austin yang sedang menatap pak Leo tajam sambil berdansa dengan wanita lain.
"Iya. Saya tidak tau kalo ini pesta bukan tentang bisnis..." kataku terkekeh cangung.
Pak Leo tertawa."Wahh... Bisa-bisanya bu Nayla salah datang ke pesta ya? Tapi saya senang bisa berdansa dengan wanita secantik anda..."
Deg! Jantungku berdebar kencang...
Gawat! Pak Leo mulai mendekatkan wajahnya pada leherku!
Jlep.
Lampu kembali mati. Aku merasakan pinggangku di tarik kembali oleh seseorang. Untung saja, pak Leo belum sempat melakukan macam-macam padaku.
Tak!
Lampu kembali menyala. Musik dansa kembali menggema... Seperti ini terus, mau sampai kapan?
Aku mulai ketakutan. Ninaaa kamu di mana... Tolong aku!
Ternyata sekarang aku kembali pada Austin. Dia memeluk pinggangku erat."Kali ini, aku gak akan lepasin kamu, Nayla!" bisik Austin tepat di samping telingaku.
Deg!
Aku sangat menyesal datang ke sini!
"Kamu lebih senang sama aku atau sama Leo?" kata Austin tersenyum menggoda. Bahkan, dia sudah tidak memakai kata 'anda' dan 'saya' lagi.
"Tidak dua-duanya." kataku tegas.
"Masa..." kata Austin menyebalkan.
"Ini sampai kapan?" tanyaku ketus.
"Sampai lima kali ganti pasangan..." kata Austin. Aku mengernyit waktu melihat dia mengendus lenganku yang memegang pundaknya.
Lima kali? Sekarang baru tiga. Berarti dua kali lagi! Aku gak kuat... Pengen nangis rasanya.
"Nayla... Kamu wangi banget." kata Austin menatapku aneh.
"Jaga kelakuanmu!" kataku tegas sambil melepaskan tanganku di pundaknya.
Austin menarik pinggangku erat membuatku terhuyung ke arahnya. Untung saja aku langsung menahan tubuhku dengan tangan yang memegang dadanya. Supaya, tidak terlalu menempel.
"Aku suka wangi tubuhmu..." kata Austin berbisik genit di telingaku.
Jlep.
Lampu kembali mati, dengan irama musik yang berhenti. Aku merasakan tanganku di tarik seseorang. Tapi, Austin berusaha menahan pinggangku. Tak lama mereka seperti saling menarik, Austin melepaskan pinggangku.
Aku menutup mataku semoga kali ini aku terbebas dari Austin!
Tak!
Lampu menyala dengan musik yang kembali menggema...
Aku merasakan seseorang memegang pinggangku dan kedua tanganku memegang pundaknya. Aku masih menutup mataku takut jika itu Leo atau Austin lagi. Bahkan bisa jadi orang lain yang kelakuannya lebih parah...
__ADS_1
"Nay ini aku, buka matamu..."
Suara ini...