ONLY MINE!

ONLY MINE!
ENDING.


__ADS_3

08×××××


"Heh. Cewek gak tau diri! Jangan coba-coba rebut Daren dari gue! Daren itu punya gue! Besok gue balik ke sana. Dan Daren juga bakalan balik sama gue!"


"KAMU YANG GAK TAU DIRI! JANGAN GANGGU SUAMI SAYA. DASAR CEWEK SIAL*AN!"


Tuk. (Terkirim)


Nayla langsung memblokir kontak yang bernama Zee itu.


Brak!


Nayla menyimpan ponsel Daren di kasur dengan keras. Membuat Daren yang sejak tadi menonton film di televisi terkejut.


"Kenapa sayang?" tanya Daren lembut.


Nayla hanya diam tak bergeming. Matanya menatap Daren nyalang."Urusin tuh. Cewek sial*an yang kamu panggil Zee!" kata Nayla kesal. Dia melipatkan lengannya di dada.


"Zee?" Kata Daren. Wajahnya terlihat kaget.


"Hmm..." dehem Nayla.


Daren langsung mengambil ponsel yang tadi Nayla simpan. Ntah apa yang Daren lakukan, tapi semenit kemudian dia kembali menyimpan ponselnya.


"Dia siapa?!" tanya Nayla. Suaranya terdengar kesal.


Darem terkekeh pelan, hendak menyolek pipi Nayla. Tapi, Nayla menepis lengan Daren."Dia Zee. Temen aku," jawab Daren.


"Temen? Gak percaya!" jawab Nayla ketus.


"Beneran sayang... Hmm, kamu cemburu, ya?" goda Daren.


Nayla menatap Daren tajam."Dia suka sama kamu tuh!"


"Gak apa-apa, yang penting aku sukanya sama kamu."


Nayla berdecih."Halah. Paling kalo ke sini, nanti kamu jadi suka sama dia!" jawab Nayla ketus.


Daren mengetuk dagunya. Seperti sedang berpikir."Gimana yaa..."


Plak!


Nayla memukul bahu Daren keras."APA!"


Daren tertawa."Nggak mungkin dong, sayang... Aku kan udah nikah sama kamu. Lagi pula, aku nggak suka sama dia. Aku sukanya sama kamu." kata Daren menarik pelan Nayla kepelukannya.


"Terus kalo belum nikah. Kamu bakalan suka sama dia?" kata Nayla yang berada di pelukan Daren. Kali ini, dia tidak menepis atau menolak.


"Hmm..." dehem Daren.


Ckit!


Nayla mencubit pinggang Daren keras."TUH KAN?!"


Daren yang meringis kesakitan kembali tertawa. Melihat ekspresi cemburu istrinya itu.


*****


Keesokan harinya, Nayla dan Daren pulang mereka. Yang akan mereka tempati berdua. Orang tua dan saudara sudah menunggu kedatangan mereka.


Saat Daren memarkirkan mobil, orang tua mereka langsung berlari mengerumun. Menunggu Nayla turun dari mobil. Nayla pun turun, dan langsung di peluk oleh mamanya dan mama mertuanya.


"Nay... Syukurlah kamu pulang dengan selamat! Kami semua khawatir sama kamu..." kata mama Nayla. Air matanya mengalir deras.


"Menantu cantikku. Ya ampun... Udah capek mama nangisin kamu, sayang. Syukurlah kamu selamat!" sahut mama mertuanya.

__ADS_1


Mereka melepaskan pelukan Nayla. Dan Nayla kembali di peluk oleh papanya.


"Gantian dong!" sahut papa mertuanya.


"Sabar napa, bentar!" jawab papa Nayla. Membuat suasana yang tadinya haru, menjadi sedikit melegakan. Setelah selesai sesi peluk-pelukan. Nayla di tuntun masuk ke dalam rumah.


"Kamu kok bisa di culik, Nay?" tanya mama Nayla. Daren mendengarkan dengan seksama. Karena dia juga penasaran.


Nayla menghembuskan napasnya berat. "Awalnya... Nayla pikir itu Dila, yang datang ke nikahan Nayla malam itu. Dia juga yang suruh Nayla buat keluar, karena dia bilang kasihan abang ojek yang dia pesan. Lagi pula, dia cuma sebentar. Buat ngasih kado doang. Taunya... Aku malah di culik sama Rio." Jelas Nayla. Menyebutkan siapa laki-laki gila yang menculiknya beberapa hari lalu.


"Ya ampun! Rio pegawai di kantor kita?" tanya papa.


Nayla mengangguk."Waktu itu, memang ada sedikit masalah di kantor. Dan aku udah tegur Rio. Mungkin gara-gara itu, Rio jadi kesel sama aku..." jelas Nayla lagi.


"Terus sekarang Rionya di mana?" tanya mama.


"Rio lagi Daren tahan..." jawab Daren.


Mama dan papa mengernyit."Tahan? Maksudnya?" tanya mereka bersamaan.


"Pokoknya. Sekarang, Nayla aman. Rio bakalan Daren lempar ke luar negeri, dan nggak akan bisa balik lagi ke sini..." jawab Daren.


Mereka semua tersenyum lega. Bersyukur kepada tuhan yang sudah melindungi Nayla.


"Oh, iya. Kak Nathan sama kak Nadin mana?" tanya Nayla.


"Nathan lagi di perusahaan. Ngegantiin kamu beberapa hari ini. Sebentar lagi pulang kok," jawab papa.


Nayla mengangguk. Dia juga sudah membalas pesan Nina, yang sangat banyak di ponselnya.


*****


Setelah beberapa hari, mereka berdua bergantian menginap di rumah orang tua mereka. Kini, Nayla dan Daren pindah ke rumah mereka sendiri. Rumah mewah yang sudah Daren persiapkan.


Drttttt...


Nayla merogoh ponselnya. Ternyata suaminya itu yang mengirimkan pesan. Karena Daren masih metting di luar kota. Nayla langsung membuka pesannya.


Daren.


"Aku udah kirim uang buat beli barang yang kamu suka. Sebentar lagi aku pulang, kamu jaga diri baik-baik ❤️ oh iya. Habisin uangnya ya. Besok aku kirim lagi!"


Nayla menghembuskan napas kesal. Ternyata pesan yang sama, yang Daren kirimkan tadi siang. Nayla membuka m-banking di ponselnya. Dan benar saja, Daren kembali mengiriminya uang. Lebih banyak dari pada siang tadi.


Nayla tersenyum tipis, dalam hatinya dia sangat bersyukur memiliki suami yang sangat pengertian seperti Daren. Padahal, Nayla juga mampu untuk membeli semuanya sendiri. Tapi, Daren selalu bilang. 'Habiskan semua uangku. Siapa lagi yang abisin kalo bukan kamu? Uangmu simpen aja!' Nayla terkekeh sendiri. Mengingat perkataan dan ekspresi saat Daren mengatakan itu.


Nayla membalas pesan Daren.


"Oke! Aku mau belanja kebutuhan lain sama Nina, boleh?"


Tuk. (Terkirim)


Drtttt


Daren.


"Boleh. Tapi harus hati-hati! Jangan capek-capek, juga."


Nayla bersorak ria. Dia langsung menelpon Nina dan mengajaknya untuk belanja. Tentu, Nina tidak akan menolaknya sedikit pun.


Tak lama, Nina menelpon sudah sampai di depan rumah Nayla. Dan Nayla langsung bergegas keluar. Nina langsung kembali melajukan mobilnya ke salah satu mall terdekat.


"Nay..." panggil Nina.


"Apa?" jawab Nayla langsung menoleh ke arah Nina.

__ADS_1


"Gue..."


Nayla mengernyit. 'Nggak biasanya Nina ngomong sepotong-sepotong gini.'batin Nayla."Kenapa?" tanya Nayla.


"G-gue... Anu," Nina terlihat gelagapan.


"Kenapa sih. Ngomong aja," kata Nayla mulai penasaran.


"Gue sama Adnan nikah bulan depan!" kata Nina lantang.


Nayla cengo. Bibirnya terbuka sedikit dengan ekspresi yang masih mencerna perkataan Nina.


Nina cengengesan."Hehe. Maaf baru ngasih tau. Sebenarnya gue sama Adnan udah jadian, waktu sebulan habis nonton bioskop." jelas Nina.


Nayla masih dia membeku. Tak bergeming sedikit pun, pikirannya berkecamuk."APAAAA?! KOK KAMU NGGAK NGASIH TAU AKU?!" teriak Nayla keras.


"Ini kan di kasih tau," jawab Nina santai.


"BUKAN BEGINI!!" teriak Nayla syok.


Nina menepikan mobilnya di pinggir jalan."Pokoknya lu harus datang ya!!" kata Nina menatap Nayla.


Nayla langsung memeluk Nina erat. Air matanya mengalir deras, rasa bahagia, sedih, kesal tercampur menjadi satu. Sedih dan kesal karena Nina tidak memberitahu padanya dari awal.


"Kok nggak ngasih tau dari awal... Hiks..." kata Nayla.


"Cup... Cup... Cup... Maaf yaaa. Kita emang niatnya nggak ngasih tau siapa-siapa sebelum masuk ke jenjang yang lebih serius." jelas Nina.


Nayla mengangguk mengerti. Ternyata itu alasan Nina. Nina kembali melajukan mobilnya. Hari itu, mereka menghabiskan waktu dan uang bersama. Tak lupa, belanja kebutuhan rumah dan furniture yang Nayla butuhkan.


Setelah di rasa cukup. Nina mengantar Nayla pulang, dan dia langsung pamit pulang juga. Karena rumah mereka searah, dan sudah malam juga.


Nayla masuk ke dalam rumah, ternyata Daren sudah pulang. Terdengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi. Nayla yang kegerahan langsung membuka bajunya, dan memakai handuk. Bergiliran untuk mandi.


Daren keluar dari dalam kamar mandi."Udah pulang, sayang..."


"Iya... Udah mandinya? Aku mau mandi," kata Nayla berjalan ke arah kamar mandi. Tapi, Daren mengikuti Nayla dari belakang.


Ceklek.


Tuk!


Daren menutup dan mengunci pintu kamar mandi."Belum. Aku harus mandi lagi..." kata Daren, dia langsung memeluk tubuh Nayla dari belakang.


"Da-daren... Lepasin! Aku mau keluar dulu kalo kamu masih belum selesai mandi!" kata Nayla mencoba melepaskan pelukan Daren.


"Buat apa keluar? Mending kita mandi bareng..." goda Daren.


"Apa? Nggak!"


"Gak boleh nolak."


Cup!


HAPPY READING! 🥰🥰🥰


HAPPY ENDING!


Gak kerasa udah ending aja cerita yang satu ini. Maaf kalo ceritanya belepotan dan nggak nyambung. Karena, author masih belajar. author juga akan banyak belajar lagi kok, hehe! Aurhor masih pemula. Ini cerita pertama author di sini loh❤️


***Terimakasih yang sudah baca cerita author sampai di bab ini. Maaf kalo ada salah kata, mau pun kesalahan yang lainnya. Bijaklah dalam membaca, karena dosa bukan di tanggung Author!😗 nantikan cerita author yang lainnn. ***


***Salam buat kalian semua! ***


Terimakasih banyakkkk! ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2