ONLY MINE!

ONLY MINE!
Resepsi


__ADS_3

"Eugh..." lenguh Nayla. Dia membuka perlahan kelopak matanya."Daren?" kata Nayla. Saat melihat Daren yang sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Iya sayang..." jawab Daren lembut.


Plak!


Nayla memukul pelan tangan Daren yang masih memeluk pinggang Nayla."Kamu sengaja ya!" katanya Nayla kesal.


Daren mengusap lembut wajah Nayla."Sengaja apa, sayang?"


"Jangan pura-pura nggak tau! Semalem kamu bangun kan? Makanya kamu narik aku, terus peluk aku sampe aku gak bisa pindah?!" jelas Nayla menatap Daren tajam.


Daren berdehem pelan."Hmm... Nggak," bantah Daren. Padahal, semua yang di katakan Nayla benar.


"Bohong!" kata Nayla tak percaya.


"Aku kan cuma meluk, bukan..." Daren menggantungkan ucapannya.


"Apa?!" tanya Nayla sinis.


"Bukan macem-macem," jawab Daren. Kali ini, tangannya menjalar ke bibir ranum Nayla. Daren mengusapnya lembut. Nayla mengalihkan kepalanya, menghindar dari usapan lengan Daren.


"Udah ah! Aku mau mandi. Sebentar lagi kan harus make up, terus lanjut resepsi!" Nayla hendak beranjak. Tapi, Daren menahan pinggang Nayla.


"Masih pagi sayang..." kata Daren lembut.


"Emangnya jam berapa?" tanya Nayla menoleh ke arah jam weker di atas meja. Tapi, kalah cepat. Daren menutupnya dan membalikan jamnya. Supaya Nayla tidak bisa melihat."Ish. Daren! Aku mau liat jam!" kata Nayla kesal.


Daren kembali mengusap wajah Nayla. Dan memposisikan wajahnya menghadap Daren. Nayla cemberut, karena Daren tidak mendengarkan perkataannya."Da-"


Cup!


Daren mencium Nayla lembut. Kali ini dengan perlahan, seolah dia sangat menikmati sentuhan bibirnya di bibir Nayla. Daren memagutnya dengan hati-hati. Tidak seperti kemarin-kemarin yang terkesan terburu-buru. Karena kini, Nayla adalah istrinya. Hanya milik Daren Ryder Eddyson.


"Hmmpppp!" Nayla memberontak. Terus memukul punggung belakang Daren.


Daren melepaskan pagutannya. Membuat Nayla menghirup udara dengan rakus. Lalu, Daren mengusap pelan bibir Nayla."Kamu tau? kamu masih nggak bernapas saat ciuman..." Daren mengambil kedua tangan Nayla, dan menguncinya di atas tubuhnya. Supaya Nayla tidak memberontak.


"Da-daren! Aku harus cepat-cepat!" kata Nayla. Dia sedang terengah-engah sendiri.


Daren tersenyum puas. Melihat wajah Nayla yang memerah."Sepertinya... Kamu harus mulai ku ajari cara berciuman sayang. Supaya, kamu tidak kehabisan napas buat kedepannya," kata Daren. Suaranya mulai berbeda menjadi lebih berat.


Nayla yang mendengar suara Daren merinding sendiri."Dare- hmmmm!" Daren kembali mencium bibir Nayla. Memagutnya perlahan tapi pasti. Nayla yang sudah kehabisan napas, mencoba bernapas. Ternyata, berhasil. Dia bisa bernapas! Daren tersenyum tipis, mengetahui bahwa Nayla sudah bisa bernapas saat berciuman.

__ADS_1


Daren semakin memperdalam ciumannya, membuat Nayla terlena dengan perlakuan lembut Daren. Nayla membalas ciuman Daren, walau pun sangat kaku. Daren kali ini tersenyum penuh kemenangan. Nayla sudah membalas ciumannya, membuat hati Daren berbunga-bunga.


Daren melepaskan ciumannya, menatap dalam nerta Nayla yang masih terengah-engah. Kemudian, Daren beralih mencium leher jenjang Nayla. Wangi tubuh Nayla menyeruak, membuat Daren semakin menjadi."Aku suka wangi tubuhmu, sayang..." bisik Daren pelan.


Daren mulai menciumi leher jenjang Nayla, dari kanan ke kiri. Membuat Nayla melenguh karena geli.


Tok! Tok! Tok!


Daren berdecak kesal.'Siapa sih? Ganggu aja!' batin Daren sedikit emosi. Daren menoleh ke arah pintu.


Nayla yang tersadar langsung menarik tangannya, dari genggaman tangan besar Daren. Daren yang terkejut, kembali menoleh ke arah Nayla yang sudah bersidekap dada."Awas!" kata Nayla kesal.


Daren cemberut kecewa."Ah, siapa sih? Ganggu banget!" kata Daren pelan.


"Kamu yang ganggu! Aku mau mandi. Hari ini kita resepsi!" kata Nayla menatap Daren tajam. Daren hanya terkekeh pelan. Nayla berjalan cepat ke kamar mandi, sedangkan Daren berjalan ke arah pintu.


Krietttttt


Saat Daren membuka pintu, Mama dan papa Daren sudah berdiri di sana."Daren. Ini sudah jam berapa? Kamu sama Nayla hari ini resepsi! Jangan ganggu Nayla!" kata Mama Daren kesal. Karena dia tau, anaknya itu pasti tidak akan sabar. Padahal, acara mereka belum selesai.


Daren terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Hehe, iya ma... Daren mandi dulu!" jawab Daren hendak menutup pintu kembali.


"Eits! Nayla mana?" tanya mama Daren. Mama dan papanya itu berusaha mengintip, dari sela-sela pintu yang hendak Daren tutup.


"Lagi mandi..." jawab Daren.


Daren mengernyit."Gimana apanya?"


"Papa! Udah ah. Jangan ganggu Daren! Udah sana Daren mandi. Habis itu cepat ke ruangan hias kemarin ya? Sama Nayla juga!" kata mama Daren.


"Tapi pa-"


"Ayo!" sela mama Daren sambil menarik keras papa Daren supaya menjauh.


"Gimana apanya coba?" gumam Daren pelan. Setelah, mama dan papanya sudah pergi.


*****


Di sini lah Daren dan Nayla. Di gedung kedua tempat resepsi pernikahan mereka. Nayla yang menggunakan gaun biru langit dengan Daren di sampingnya memakai warna senada. Nayla sangat cantik, membuat para tamu selalu memuji kecantikan Nayla. Begitu pun dengan Daren, yang tak melepaskan genggaman tangannya sedikit pun dari Nayla.


"Woi pengantin baru!" panggil Nina. Dia sedang bersama Adnan di bawah pelaminan.


"Ngadep sini, woi!" sahut Adnan.

__ADS_1


Nayla dan Daren langsung menghadap ke arah Adnan dan Nina, yang hendak memfoto mereka dari jarak jauh."Cisss!" seru Adnan.


Ceklek!


Ceklek!


Ceklek!


Adnan dan Nina berpose aneh-aneh. Dengan Nayla dan Daren yang terlihat kecil di kamera."Hahaha gila! Lucu banget!" tawa Nina lepas. Setelah melihat hasil foto mereka.


Adnan terbahak-bahak melihat wajah kesal Daren. Saat kepalanya mau Adnan makan di salah satu foto. Daren dan Nayla hanya menatap mereka kesal. Karena di sini, mereka berdua yang sedang di jahili.


*****


Sudah mulai larut malam. Sejak empat jam yang lalu Nayla dan Daren mengganti gaun mereka yang terakhir. Kali ini, berwarna hitam elegan. Membuat kulit putih Nayla bersinar terang.


Nayla menghembuskan napas berat."Syukur deh. Udah mau selesai," keluh Nayla.


Nayla menatap Daren yang sedang berbincang dengan tamu-tamu penting. Pembahasan sebelum pulang, karena mereka baru saja pamitan. Gedung juga sudah mulai sepi, tinggal beberapa orang saja. Nina dan Adnan juga sudah pamit pulang. Mama dan papa Nayla serta Daren juga sudah duluan ke hotel.


Drtttt...


Nayla melihat notifikasi pesan di ponselnya. Ternyata, pesan dari nomor baru. 'Siapa ya?' batin Nayla. Karena penasaran, Nayla langsung membuka pesannya.


08×××


Nay selamat atas pernikahan kamu! Aku ikut senengggg bangetttt Nay! Oh, iya. Ini aku Dila. Kamu bisa nggak keluar sebentar? Aku di luar gedung kamu persis. Maaf aku baru sempet datang malam-malam begini. Tapi, aku cuma sebentar aja kok. Cuma mau ngasih kado sama ucapan selamat! Soalnya bapak ojeknya kasian kalo aku tinggalin ke dalem!


Nayla mengernyit."Dila? Ya ampun. Kenapa dia ganti nomor nggak ngasih tau dulu sih? Aku jadi deg-degan sendiri!" gumam Nayla pelan.


Nayla bergegas keluar dari gedung. Tanpa memberitahu terlebih dahulu kepada Daren. Karena, Nayla takut menggangu. 'Toh, hanya sebentar saja!' batin Nayla.


Setelah keluar dari gedung. Nayla mengedarkan pandangannya. Tak jauh dari sana, Dila sedang melambai ke arahnya. Nayla langsung menghampiri Dila.


"Dila! Aku kangen banget sama kamu!" kata Nayla setelah berhasil memeluk Dila erat.


Dila membalas pelukan Nayla tak kalah erat."Maaf kan aku, Nayla..." bisik Dila pelan.


Nayla mengernyit bingung."Maksud- hmppp!"


Nayla merasakan, ada tangan seseorang yang membekap mulutnya, menggunakan kain dari belakang. Setelah mencoba memberontak. Kepala Nayla mulai berputar."Daren..." panggil Nayla pelan. Penglihatan Nayla berubah menjadi buram dan gelap. Tak butuh waktu lama, Nayla tak sadarkan diri.


Bersambung...

__ADS_1


Loh, Nayla kenapa? Ada yang bisa tebak? Hehe.


jangan lupa like dan komentarnya ya! Terimakasih 🥰


__ADS_2