
"SIAL*N! JANGAN SENTUH AKU DENGAN TANGAN KOTORMU ITU!" teriak Nayla nyaring.
"Ah, aku jadi takut. Tapi, sayangnya kamu sekarang tidak bisa apa-apa. Lagi pula, itu hakku untuk menyentuhmu. Karena aku ini suamimu..." jawabnya mengusap pelan bahu Nayla.
Nayla langsung menghindar."BRENGS*K! LEPASKAN AKU!" umpat Nayla keras."TOLONG! TOLONG! DAREN, TOLONG AKU!!" teriak Nayla keras.
Plak!
Nayla langsung menoleh ke kanan. Saat tamparan mendarat di pipinya."Jangan kamu sebut nama laki-laki bajing*n itu di depanku!" kata laki-laki itu lantang.
Nayla berdecih."Cih! Sudah kuduga, kalo kamu itu memang bukan Daren. SUAMIKU!" jawab Nayla tegas.
Brak! Terdengar suatu benda yang di banting.
"BERISIK SIAL*N! KAMU HANYA MILIKKU!!" teriak laki-laki itu frustrasi.
Nayla tersenyum miring."Sampai mati pun. Kamu tidak akan pernah menjadi suamiku! Dan aku tidak akan pernah menjadi milikmu! LEPASKAN AKU BRENGS*K!" teriak Nayla lantang.
Laki-laki itu berdecih."Sekarang juga, jika aku mau. Aku bisa saja menyentuhmu, Nayla. Apa kamu tidak takut?"
Nayla menelan salivanya kasar. Dia terdiam, tak menjawab omongan laki-laki itu. Karena posisinya juga tidak memungkinkan untuk melawan sekarang.
*****
"Sial!" umpat Daren. Setelah dia membaca pesan yang di kirimkan Adnan. Jika hilangnya Nayla tidak ada hubungannya dengan Fahmi.
"Apa Bian yang menculik Nayla ya?" gumam Daren. Daren memarkiran mobilnya ke sisi jalan, lalu segera menelpon Adnan.
"Halo..."
"Halo. Adnan, coba tanya Nina. Dia tau nggak tempat tinggalnya Bian? Siapa tau Bian yang sudah ngelakuin semua ini!" kata Daren.
Adnan memberikan ponselnya pada Nina."Gue nggak tau, Daren. Gue juga nggak terlalu kenal sama Bian," jawab Nina.
Daren menarik napas panjang. Daren juga sudah beberapa kali menelpon Nayla. Tapi, nomornya masih tidak aktif. "Sial*n!"gumam Daren frustrasi. Daren kembali melajukan mobilnya. Tak lupa dia menoleh kanan dan kiri, memperhatikan jalan. Siapa tau, ada Nayla di sana.
__ADS_1
Sedangkan Nina sudah sangat khawatir, dia menelepon Nayla terus menerus. Lalu, menelpon satu persatu semua teman-temannya dan Nayla. Siapa tau, Nayla ada bersama mereka. Walau pun kemungkinannya sangat kecil. Air mata Nina mengalir tak henti-hentinya. Rasa khawatir terus bergemuruh di hatinya."Nay... Kamu di mana?" gumam Nina pelan.
Adnan menoleh sekilas ke arah Nina."Nin... Udah, jangan nangis terus. Nayla pasti nggak kenapa-kenapa," kata Adnan menenangkan. Nina hanya mengangguk ragu.
*****
Sekitar jam tiga malam, Daren kembali ke hotel. Dia melihat ponselnya, ternyata banyak panggilan masuk dari orang tuanya dan mertuanya. Daren menghembuskan napas gusar. Sudah jam segini, tapi dia masih belum menemukan Nayla. Daren kembali mengacak rambutnya frustrasi.
Saat Daren sampai di depan hotel, orang tuanya dan mertuanya sedang berdiri di luar. Mereka langsung menghampiri Daren, saat melihat Daren dari jauh.
"Gimana, Daren? Nayla di mana?" tanya mama mertuanya itu, panik. Matanya sembab seperti habis menangis.
Daren menggeleng pelan."Pak polisi masih nyari sampai sekarang," jawab Daren lirih."Daren udah cari Nayla kemana-mana tapi nggak ketemu. Makanya Daren pulang dulu, mau tanya sesuatu sama mama. Mama kenal sama Bian kan? Tau nggak rumahnya di mana?" tanya Daren.
Mama mengernyit."Bian? Temennya Nayla itu? Rumahnya di kota raya. jalan anggrek nomor 12. Emangnya ada apa sama Bian?" ujar mama.
"Makasih ma, Daren khawatir kalo Bian yang udah culik Nayla. Yaudah, semuanya masuk ke dalam aja, istirahat. Daren pergi dulu!" pamit Daren. Tanpa menunggu mertuanya dan orangtuanya menyelesaikan pertanyaan mereka lebih dulu.
Saat Daren hendak masuk ke dalam mobil. Nathan dan Nadin berlari ke arah Daren."Daren!" panggil Nathan. Daren menoleh, menatap Wajah Nathan yang tegang dan pucat pasi terlihat sangat khawatir. Begitu pun dengan Nadin."Nayla gimana? Udah ketemu?" tanya Nathan.
"Gue ikut!" sahut Nathan cepat.
"Mending abang bawa mobil sendiri, biar lebih luas pencariannya kita berpencar," jawab Daren.
Nathan mengangguk setuju. Lalu, Nathan menatap Nadin."Sayang, kamu ke dalam. Tolong tenangin mama ya, pasti mama panik banget," kata Nathan lembut.
Nadin mengangguk paham."Iya beb." Nadin pun berjalan menghampiri mertuanya yang masih berdiri di depan hotel.
Daren melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ke arah rumah Bian."Awas aja, Bian. Kalo emang lu yang nyulik Nayla... Abis lu sama gue!" gumam Daren geram.
Tak butuh waktu lama, Daren langsung menghampiri satpam yang berjaga di depan rumah mewah itu."Pak. Apa benar ini rumah Bian?" tanya Daren.
Pak satpam itu mengangguk."Benar. Ada perlu apa ya datang malam-malam?"
"Saya temannya Bian. Ada sesuatu yang sangat penting, yang harus saya pastiin. Biannya ada?" tanya Daren.
__ADS_1
"Tidak ada. Pak Bian belum pulang dari kemarin, soalnya lagi ada kerjaan di luar kota," jawab pak satpam.
Daren menghembuskan napas gusar.'Bian keluar kota?' batinnya.
"Baik pak kalo begitu. Terimakasih!" pamit Daren. Pak satpam mengangguk mengiyakan.
Daren kembali menatap nanar ke depan. Pikirannya sangat kacau. Dia sampai tidak bisa berpikir sedikit pun sekarang. Daren kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi."BAJING*N!* umpat Daren keras.
Matahari sudah bersinar terang. Sedangkan Daren masih belum juga menemukan titik terang atas hilangnya Nayla. Kepala Daren berdenyut hebat, dia memarkirkan mobilnya di sisi jalan. Dia tidak tau sedang berada di mana sekarang. Karena semalam, dia membawa mobilnya hanya mengikuti kata hatinya saja.
Daren memukul keras dadanya. Perasaan bersalah terus menghantui Daren sejak kemarin."Maafin aku, Nay... Sebagai suami, aku nggak bisa jagain kamu." kata Daren lirih. Air matanya merembes keluar, Daren mengusap kasar wajahnya."Maafin aku, sayang..." lirih Daren pelan.
*****
"Buka mulutmu!"
Laki-laki itu terus memaksa Nayla untuk membuka mulutnya. Sedangkan, Nayla semakin mengatupkan mulutnya. Tidak mau makan.
"Kamu mau makan atau... Aku yang makan kamu?" kata laki-laki itu nakal.
Nayla berdecih kesal. Saat laki-laki itu menyentuh kakinya."JANGAN SENTUH AKU!!" teriak Nayla lantang.
"Baiklah. Jika begitu, buka mulutmu!" jawab laki-laki itu menyodorkan sendok ke arah mulut Nayla.
"AKU TIDAK MAU MAKAN!" sentak Nayla keras.
PRANG! suara piring pecah terdengar nyaring. Membuat Nayla menelan salivanya takut.
"Sebentar lagi, kita akan menikah Nayla. Kamu harus makan." kata laki-laki itu lembut. Dia mengusap pelan wajah Nayla.
Nayla membuang wajahnya ke arah lain."Aku sudah menikah, jika kamu lupa!" kata Nayla tajam.
"Tidak masalah. Aku yang akan menyentuhmu duluan, sayang. Bukan kah kalian belum sempat bersentuhan, karena sibuk dengan pestanya? Haha. Kasian sekali laki-laki bajing*n itu..." kata laki-laki itu tertawa senang.
HAPPY READING!🥰🥰🥰
__ADS_1