ONLY MINE!

ONLY MINE!
Pergi Ke Acara Xxx1


__ADS_3

Aku sedikit kaget melihat ada Daren dan Adnan di dalam mobil dengan pakaian yang sangat rapih.


"Loh, Daren, Adnan... Kalian datang juga?" tanyaku.


"Iya... Emang kenapa?" tanya Daren.


"Gak apa-apa, hehe." jawabku cengengesan.


"Untung kalian ikut, kalo nggak sih niatnya gue mau kabur pas abis nganter Nayla." kata Nina sukses membuatku melongo.


"Enak aja! Aku langsung pulang dong. Ngapain ke sana sendirian!" kataku kesal.


Nina terkekeh."Liat aja, nanti pas kita dateng, pasti tuh cowok ngeselin parah."


Aku mengangguk mengiyakan."Bener, tuh!"


"Loh, siapa?" tanya Adnan penasaran.


"Itu, anaknya pak Andre. Si Austin..." jawab Nina kesal.


"Emang dia kenapa?" tanya Adnan lagi.


"Suka ngegodain..." jawabku yang di angguki Nina.


"Parah sih." kata Adnan.


"Tapi tetep aja ya, nanti di sana kita misah. Pura-pura kenal karena bisnis aja ya." kataku yang di iyakan Daren dan Adnan.


Karena di sana juga banyak kenalan-kenalan bisnis yang lain. Takutnya akan menjadi gosip yang buming kalo tau aku dan Daren lumayan dekat. Bahkan, Nina dan Adnan juga.


"Nanti Adnan sama Nina juga jangan terlalu dekat, jaga jaraknya ya! Ingat, di sana mungkin banyak bos-bos perusahaan lain." kataku mengingatkan.


"Siap bos!" kata Nina patuh.


Adnan mengangguk-anggukan kepalanya nurut.


"Bagus!" kataku mengangkat jempolku.


"Aku sama kamu, gimana?" tanya Daren.


Aku mengernyit."Apa lagi aku sama kamu. Jauhan, jangan cuma jaga jarak doang! Aku gak mau di beritain yang nggak-nggak ya." kataku menatap Daren tajam.


"Iya-iya!" kata Daren mendengkus.


Tak lama, mobil Adnan berhenti di persimpangan jalan. Sekitar lima menit lagi sampai di tempat acara perusahaan Xxx1.


"Ayo turun, Nay. Kita pindah mobil," kata Nina langsung turun.


"Okee... Makasih ya Adnan, Daren!" kataku.


"Oke, Nay!" jawab Daren dan Adnan berbarengan.


Aku dan Nina langsung masuk ke mobil."Ini mobil siapa, Nin?" tanyaku.


"Mobil Adnan..." kata Nina berbisik.


"Loh, yang tadi mobil siapa?" tanyaku lagi.


"Mobil Daren." jawab Nina.


Aku mengangguk."Oh... Kirain mobilnya Adnan, soalnya dia yang nyetir."

__ADS_1


"Nggak. Daren gak nyetir karena lagi kurang enak badan katanya. Emang lu gak tau?" tanya Nina sambil menoleh padaku.


"Loh, emang iya? Gak tau, tuh. Tadi perasaan sehat-sehat aja..." jawabku mencoba mengingat mimik wajah Daren. Walau pun memang sedikit pucat, sih.


Tak lama kami sampai di sebuah gedung yang sudah di dekor dengan mewah. Aku dan Nina berjalan masuk melewati karpet merah.


"Wah, Bu Nayla datang juga. Terimakasih sudah meluangkan waktunya buat datang ke sini..." kata Austin ramah. Mungkin karena banyak kamera wartawan.


Aku tersenyum."Terimakasih juga pak Austin sudah mengundang saya."


"Saya sangat tersanjung atas hadirnya bu Nayla dan bu Nina... Ayo silahkan masuk!" kata Austin mempersilahkan.


Aku dan Nina langsung masuk ke dalam. Ternyata, sudah lumayan ramai. Nina menarikku untuk duduk di sebuah sofa yang melingkar.


"Nay, mau minum?" tanya Nina.


"Bentar deh, Nin..." jawabku.


"Yaudah, aku ambil dulu ya. Minumnya nanti aja," kata Nina yang langsung beranjak ke sebuah meja besar dan panjang di sisi gedung.


Tak lama, Nina datang dengan dua gelas minuman di tangannya."Nih." Nina menyodorkan satu gelas padaku.


Aku mengambilnya."Makasih..."


"Lu aneh nggak sama dekorasinya? Kayaknya ini bukan acara penting, deh. Lebih ke pesta gitu gak sih?" tanya Nina.


Aku mengangguk mengiyakan."Bener. Tapi, bukannya ini acara bisnin ya?"


Nina menggeleng."Beda. Gue yakin ada yang aneh."


"Kalo gak penting, kita pulang aja." kataku tegas. Nina mengangguk.


Pintu gedung tiba-tiba tertutup. Karena wartawan juga di larang masuk, jadi bebas dari kamera. Lampu yang tadinya terang langsung redup.


Suara mic menggema...


"Selamat malam semuanya... Saya di sini mau mengucapkan banyak terimakasih, karena sudah hadir ke pesta yang saya buat..."


Aku menoleh ke arah suara. Ternyata Austin sedang berdiri di panggung untuk penyambutan.


"Terimakasih sudah meramaikan acara ini, mari kita bersenang-senang untuk malam ini!" teriak Austin heboh.


Di sambut teriakan dari orang-orang di bawah panggung. Mereka menepuk tangan sambil tertawa senang.


Aku sedikit aneh juga, karena sudah lumayan lama diam di sini, tapi tidak melihat satu pun bos perusahaan besar. Karena, aku juga sering mitting bersama atau datang ke tempat perusahaan lain. Jadi, sudah tau semua bos-bos perusahaan.


Di sini cuma terlihat sekumpulan anak yang masih muda, ada beberapa yang sudah lumayan tua juga, tapi hanya sedikit tidak banyak. mungkin karyawan atau jabatan di atas itu. Tapi, pemilik dari perusahaannya tidak ada.


Apa ini benar acara bisnis? Atau tidak penting sama sekali.


"Tiga puluh menit lagi... Pestanya akan di mulai! Semoga bapak dan ibu yang sudah hadir, bisa menikmati acara ini dengan hati yang sangat senang!" kata Austin lagi. Membuat orang-orang di sekitarku bersorak gembira.


Musik mulai menggema, membuat beberapa pasangan bangkit dan berdansa.


"Nin... Ambil cemilan yuk!" kataku beranjak menarik pelan tangan Nina untuk mengambil beberapa cemilan.


Nina mengambil chees cake dan aku mengambil strawberry cake. Tak lupa mengambil beberapa permen coklat.


"Nay. Liburan nanti mau ke mana?" tanya Nina sambil menyendokkan kue kedalam mulutnya.


"Gak tau, bingung. Pengennya ke bali sih, tapi liburnya gak lama." jawabku.

__ADS_1


"Iya, kayaknya seru, deh! Makanya, liburnya panjangin aja..." kata Nina menghasutku.


Aku menggeleng."Gak bisaaa... Itu kan keputusan papaku,"


Nina cengengesan."Iya juga sih!"


"Adnan mana ya?" kata Nina sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Adnan.


"Kenapa? Baru juga pisah sebentar. Udah di cari aja!" kataku ketus. Nina terkekeh pelan.


Aku dan Nina kembali ke sofa tempat kami duduk tadi.


"Terus jadinya ke mana, Nay? Kita liburan bareng aja!" kata Nina kembali menanyakan soal liburan.


Aku membuka ponselku."Boleh. Gimana kalo ke bandung? Kayaknya seru, tuh!"


Nina terlihat berfikir."Boleh. Tapi ke mana nya?"


"Ke mana aja! Cari hotel yang dekat sama tempat pariwisata." kataku antusias.


Nina mengangguk ikut antusias."Boleh tuh! Ayo deh ke sana aja."


"Naik mobil siapa?" tanyaku sambil terus mengotak-atik ponsel mencari tempat yang tepat.


"Naik mobil lu aja deh. Ntar gantian nyetirnya!" kata Nina.


"Okeee!" jawabku mengiyakan.


"Tapi, Adnan boleh ikut?" tanya Nina pelan.


"Buset deh... Kamu kayak pengantin baru aja! Mau liburan harus bawa suami." kataku ketus.


Nina tertawa."Gak lu izinin juga gue ajak... wleee!" kata Nina sambil menjulurkan lidah.


Kami berdua tertawa pelan.


Nina beneran suka sama Adnan ya? Duh, gak sabar. Pengen cepet-cepet punya ponakan! Haha.


"Nin. Di sini toiletnya di mana ya?" tanyaku. Nina mengedarkan pandangannya.


"Tuh. Kayaknya di sana..." tunjuk Nina.


Aku melihat arah yang di tunjuk Nina."Oke. Aku ke toilet dulu..."


Aku langsung beranjak pergi setelah pamit pada Nina. Waktu sampai belokan yang tadi di tunjuk Nina, ternyata benar. Di ujung koridor ada dua toilet laki-laki dan wanita.


Aku langsung masuk ke dalam. Ternyata, lumayan sepi. Hanya ada satu toilet yang terisi.


"Pelan-pelan, sayang..."


Glek!


Aku meneguk ludahku tak habis pikir.


Apa-apaan mereka? Kenapa mereka melakukan hal yang seperti itu di toilet! Aku langsung bergegas menuntaskan hajatku. Suara-suara menjijikan laki-laki dan wanita itu terus terdengar dari balik toilet.


Setelah selesai dan mencuci tangan, aku langsung bergegas keluar dari toilet.


Aku berdecak kesal. Bisa-bisanya mereka melakukan itu di toilet milik orang lain. Lagi ada pesta pula. Ya ampun!


Tuk.

__ADS_1


Aku menabrak pelan punggung seseorang.


__ADS_2