
Pagi ini Nayla memutuskan untuk pulang. Setelah semalam Nina mengantarkan sepasang baju tidur untuk Nayla. Tak masalah bagi Nayla jika harus bertemu dengan Bian, dari pada harus merepotkan banyak orang gara-gara dirinya.
Nayla bangkit dan mengambil tasnya. Berjalan keluar hendak mencari Daren untuk berpamitan. Ternyata, Daren tidak ada.
'Apa dia masih tidur?' batin Nayla.
Tok! Tok! Tok!
"Darennnn!" teriak Nayla sambil mengetuk pintu kamar yang Daren tunjukan padanya semalam. Jika itu adalah kamar milik Daren.
"Ishhh! Ke mana sih?" gumam Nayla kesal.
Ceklek...
'Hah? Gak di kunci?' batin Nayla. Setelah pintu kamar Daren terbuka.
Nayla masuk ke dalam kamar yang ternyata sudah kosong itu. Wangi parfum Daren menyeruak seisi ruangan. Nayla melangkah ke meja dekat tempat tidur Daren, di atas meja banyak foto Daren waktu masih kecil dan remaja. Nayla juga melihat satu bingkai foto dirinya waktu masih sekolah dulu.
"Kok Daren punya fotoku?" gumam Nayla sendiri. Sambil mengambil dan mengusap kaca yang menyelimuti fotonya itu.
"Ehem!"
Nayla terlonjak kaget dan langsung menoleh ke arah belakang. Ternyata yang berdehem itu Daren. Dia tengah menatap Nayla tajam sambil melipat tangannya di dada. Sepertinya, Daren baru selesai mandi. Rambut basahnya dia sugar ke belakang. Pinggangnya hanya terlilit handuk kecil, dengan dada yang terekspos bebas.
Nayla terkekeh canggung."Maaf, Daren... Aku tadi udah ketuk pintunya tapi kamu nggak buka!" kata Nayla berusaha membela diri.
Daren mencodongkan badannya."Kenapa masuk ke sini? Kangen ya sama aku?" goda Daren.
Nayla menahan nafasnya gugup."Anu... Itu aku mau pamitan! Mau pulang soalnya."
Daren berdehem lagi."Kenapa pulang?" tanya Daren.
"Aku mau ke kantor bentar lagi. Masa pake baju tidur?!" kata Nayla kesal sambil menunjuk baju tidur yang sedang Nayla pakai.
Daren mengangguk mengerti."Kamu tunggu sebentar, aku antar!" kata Daren langsung berjalan ke arah lemari baju dan membukanya.
"Aku bisa sendiri, kok!" kata Nayla sambil berjalan ke luar kamar Daren.
Daren langsung meraih tangan Nayla dan menariknya pelan. Membuat Nayla terhuyung dan menabrak dada bidang Daren.
"Aku nggak suka penolakan... Nayla Ganendra..." kata Daren lembut sambil memeluk Nayla erat.
Nayla termenung sesaat dan langsung berontak ketika tau, kalo Daren memeluknya dengan posisi setengah telanjang.
"Oke! Aku tunggu di luar..." kata Nayla berusaha bernegosiasi supaya Daren melepaskan pelukannya.
Dan benar!
__ADS_1
Daren melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Nayla menggunakan kedua tangannya."Bagus sayang... Kamu harus nurut!" kata Daren lembut.
Nayla berjalan keluar dari kamar Daren dengan jantung yang terus berdegup kencang.
Daren yang sekarang berbeda dari Daren yang Nayla kenal kemarin-kemarin. 'Gara-gara perjodohan sial*n ini!' Pikir Nayla.
Nayla mendengkus sebal. Kenapa Daren lama sekali? Sudah sepuluh menit dia menunggu, tapi Daren tidak kunjung keluar dari kamarnya."Daren! Cepat atau aku pulang sendiri!" teriak Nayla kencang dari depan kamar Daren.
Daren keluar tapi tidak menggunakan jas seperti biasanya. Dia hanya menggunakan kameja putih dengan celana bahan hitam saja. Membuat Nayla sedikit terkesima dengan penampilannya. Sepertinya, jika Daren hanya memakai karung goni akan terlihat bagus di badannya.
"Kamu nggak ke kantor?" tanya Nayla heran melihat penampilan Daren.
Daren menggeleng."Nggak..." jawab Daren.
"Kenapa?"
"Aku mau ke suatu tempat!" jawab Daren sedikit antusias.
*****
Nayla sudah tiba di kantornya sepuluh menit yang lalu. Duduk di depan meja dengan tumpukan map di hadapannya. Tapi, Bukan itu masalahnya! Nayla menengok ke sebelah kanannya, menatap Daren tajam. Karena Daren sejak tadi menatapnya, sambil senyam-senyum sendiri. Ternyata, ke suatu tempat yang Daren katakan tadi adalah kantornya!
'Ini orang kenapa sih?' batin Nayla sebal.
"Kenapa sih Daren?" tanya Nayla ketus.
"Heleh! Jauh-jauh sana. Jangan di sini! Atau pulang aja sekalian!" kata Nayla mendorong pelan dada bidang Daren.
"Kenapa emangnya kalo aku di sini? Aku takut ada yang suka sama kamu. Makanya, aku di sini buat nemenin kamu!" kata Daren tak terima di suruh pergi.
Nayla berdecak kesal."Siapa juga yang suka sama aku di kantor ini, Daren!"
Daren menghela napas."Banyak Nay! Kamu aja yang gak sadar," kata Daren lesu.
Nayla menatap Daren sedikit jijik."Apaan sih! Gak ada pokoknya! Udah sana, kamu pulang! Aku mau kerja ke-ganggu, nih!" kata Nayla kembali mengusir Daren.
Daren mencebikkan bibirnya."Yaudah aku keluar! Jajan di kantin bawah. Nanti ke sini lagi tapi..." kata Daren mulai beranjak.
"Kamu mau nitip apa?" sambung Daren menoleh ke arah Nayla yang sedang menatapnya tajam.
"Nggak mau apa-apa!" jawab Nayla ketus.
Daren berjalan keluar dari ruang kerja Nayla dan menempelkan sesuatu di depan pintu. Kemudian, Daren berjalan kembali menuju kantin.
Daren mengedarkan pandangannya, banyak karyawan yang menyapanya. Begitu pun Daren menyapa karyawan yang dia temui. Tapi, jika yang Daren temui adalah karyawati, Daren hanya mengangguk pelan saja.
'Takut Nayla cemburu!' batin Daren.
__ADS_1
Daren duduk di kursi kantin. Dan memesan nasi goreng, karena tadi pagi dia tak sempat sarapan. Tak lama, pesanan Daren siap. Daren langsung memakan makanan yang dia pesan.
"Hai, kak... Boleh kenalan?"
Uhuk! Uhuk!
Daren terbatuk-batuk dan langsung meminum air mineral yang tadi dia pesan juga. Daren menoleh ke sumber suara. Ternyata, ada seorang wanita muda tengah berdiri di hadapannya dengan canggung. Daren hanya diam. Wanita itu langsung duduk di samping Daren tanpa persetujuan.
"Kenalin... Aku Cika!" kata wanita itu mengulurkan tangannya.
Daren hanya fokus menghabiskan makanannya tanpa memperdulikan uluran tangan Cika.
Cika mendengkus kesal."Aku baru liat kamu di sini... Kamu yang punya perusahaan?" tanya Cika dengan suara di lembut-lembutkan. Daren masih diam tak menjawab, membuat Cika tak kehabisan cara.
Cika meletakan tangannya di atas paha Daren dan mengusapnya pelan. Daren yang terkejut, refleks menepis kasar tangan Cika, sampai Cika ikut terhenyak kaget.
"Bisa nggak, jadi cewek mahalan dikit? Gak liat orang lagi makan!" kata Daren ketus.
Cika berdiri dari duduknya."Yang salah kan Lu! Kenapa nggak jawab pertanyaan gue?" sentak Cika tak terima atas perkataan Daren.
Daren menatap Cika tak suka. Lalu, bergegas untuk kembali ke ruangan Nayla. Dengan membawa sebungkus nasi goreng dan air mineral yang dia pesan untuk Nayla.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk." terdengar suara Nayla dari dalam.
Tuk.
Daren masuk dan menyimpan makanan yang dia beli sedikit kasar. Membuat Nayla menoleh ke arahnya. Terlihat, wajah Daren yang menegang dengan rahang yang mengeras.
Daren langsung memeluk Nayla erat. Membuat Nayla sediki kaget."Kenapa?" tanya Nayla pelan sambil menepuk-nepuk punggung Daren.
"Gak apa-apa," gumam Daren pelan.
Tok! Tok! Tok!
Nayla langsung melepaskan pelukan Daren. Daren yang mengerti langsung duduk di sofa. "Masuk," kata Nayla tegas.
Nina masuk."Nay... Cika sekertaris dari perusahaan Gx1 sudah datang!"
Daren menoleh ke arah Nina. Lalu, menghembuskan napasnya berat.
Nayla mengangguk."Suruh masuk."
Bersambung...
Ada yang suka nggak sama cerita ini? Boleh coment yaaa. Aku lanjutin atau stop aja? 🥲
__ADS_1