
Aku sedikit curiga kenapa mama dan papa tidak khawatir, padahal aku menghilang hampir dua hari. Tapi ternyata ke curigaanku terungkap. Rupanya Bian sudah mengirim pesan kepada mereka, bahwa aku menginap di tempat Dila, temanku. Alasannya, karena semalam aku ketiduran. Mama juga mempercayai Bian, karena dia sudah menjagaku selama tiga tahun ini. Tapi, mama tidak tau bahwa Bian juga yang menghancurkanku.
Saat aku membuka ponsel, Dila mengirimkan pesan padaku. Aku langsung membukanya.
"Nay, kamu dimana? Mama kamu tadi pagi nelpon, nanyain kamu, kamu udah pulang belum? Kemarin Bian yang suruh aku bilang ke mama kamu, kalo kamu lagi sama aku. Maaf ya, Nay. Aku takut, aku di ancam sama Bian kalo kasih tau orang tua kamu. Sekali lagi maafin aku."
Aku kembali menangis. Rupanya Dila juga kena ancam sama Bian.
Bian kenapa... Kenapa harus begini?
Aku benci Bian!
Setelah saat itu, Aku dan Bian yang tadinya sedekat nadi menjadi sejauh matahari. Saat mama bertanya kenapa Bian tidak pernah main atau hanya sekedar mampir. Aku hanya beralasan kalo Bian sibuk.
Tapi tidak ku sangka, Bian terus mengirimkan pesan padaku. Entah meminta maaf atau pengen ketemu. Dia juga pernah datang ke rumahku saat aku tidak membalas pesannya. Untung waktu itu ada Nina. Walaupun Mama dan Papa tidak ada di rumah.
Bian benar-benar keterlaluan!
"Nay? Nayla..."
Aku tersadar dari lamunan tentang masalaluku. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya masalalu yang biasa saja, tapi bagiku, kejadian itu benar-benar membuatku sangat membenci diriku sendiri. Aku selalu bertanya, kenapa dulu aku senaif itu?
Daren memegang wajahku, dan mengarahkannya ke wajahnya. "Lihat aku, Nayla..." kata Daren.
Aku menatap matanya, yang kini terlihat sendu. "Ayo kita pergi..." lanjutnya sambil menuntunku.
"Nayla!" teriak Bian dari belakang.
Daren berbisik. "Gausah di dengar, kita pulang ya?" katanya lembut. Aku hanya mengangguk.
"Nina mana?" tanyaku ingin menoleh ke arah belakang.
Daren menahanku, "Jangan liat kebelakang, bentar lagi Nina nyusul, kok." katanya.
Aku menurut dan langsung berjalan ke arah pintu keluar.
Setelah sampai di parkiran, Daren menyuruhku masuk ke dalam mobilnya. Aku masuk dan duduk, perasaanku sedikit lebih baik...
Tak lama aku melihat Nina dan Adnan keluar dari Mall dan berjalan ke arahku dan Daren. "Nina!" panggilku.
Nina berlari ke arahku dan langsung memelukku."Lu gak apa-apa, Nay?" tanya Nina.
Aku mengangguk membalas pelukan Nina.
"Gak apa-apa, Nin!" jawabku.
"Mau langsung pulang?" tanya Adnan pada Nina setelah kami melepaskan pelukan.
Nina menoleh ke arahku."Kita jalan-jalan dulu yuk, Nin. Aku mau nenangin diri." kataku, Nina mengangguk.
"Mau jalan-jalan dulu nyari angin." jawab Nina pada Adnan.
"Gue boleh ikut nggak, Nay?" tanya Adnan pelan sambil senyam-senyum sendiri.
Aku cekikikan melihat tingkah Adnan.
"Boleh dong!" jawabku membuat Adnan kegirangan.
Daren berdehem."Kalo Adnan ikut, aku juga ikut." katanya.
"Gue sendiri juga gak apa-apa, Dar. Kalo Lu mau balik." kata Adnan.
__ADS_1
Daren menggeleng."Gue ikut aja. Mau nyari angin juga." jawab Daren. Membuat Adnan bingung dengan tingkah Daren.
"Ke Nayla, aku-kamu. Ke Gue malah gue-lu. Pilih kasih!" kata Adnan sewot.
Daren menatap Adnan tajam membuat Adnan cengengesan tak berdosa.
"Mobil kamu taro sini aja, aku udah nyuruh pak sopir buat antar ke rumah kamu. Jadi kita pake satu mobil ber empat." kata Daren, aku mengiyakan.
Daren melempar kunci mobil ke arah Adnan, membuat Adnan berdecak kesal. Aku dan Nina terkekeh melihat tingkah Adnan dan Daren seperti tom and jerry.
Kita berempat berangkat menuju taman. Menaiki mobil Daren yang di bawa oleh Adnan.
Adnan meminta Nina duduk di sebelahnya, Nina mengiyakan dan akhirnya aku duduk di belakang dengan Daren.
Nina dan Adnan berbincang berdua, sesekali mereka tertawa. Sepertinya mereka berdua melupakan kami.
Gapapa kok, aku dan Daren cuma numpang!
Sesampainya di taman, kami berempat turun dari mobil dan langsung mencari tempat duduk. Suasananya sangat nyaman, apa lagi tidak terlalu ramai.
Aku menghembuskan nafas lega, membuang segala rasa sakit yang aku rasakan.
"Aku pergi beli minum dulu, ya." kata Nina padaku.
"Mau aku temenin?" tanyaku, Nina menggeleng cepat.
"Aku sama Adnan..." kata Nina cengengesan.
Aku menatap tajam ke arah Adnan. Adnan balik menatapku seperti orang yang kebingungan.
"Awas aja kalo kamu geser posisiku di hati Nina! Aku botakin kepala kamu!" kataku pada Adnan sambil menunjuk mataku dan menunjuk mata Adnan. (Isyarat kalo aku memperhatikan kamu)
"Nggak bakalan, kok!" jawabnya cepat dan langsung menarik lengan Nina pelan.
Tinggal aku berdua dengan Daren.
"Kamu gak apa-apa, Nay?" tanya Daren.
Aku mengangguk.
"Gak apa-apa kok!" jawabku sambil tersenyum.
Daren membalikan badannya ke arahku. Menatapku dengan wajah datarnya. Seolah bilang 'kamu bohong' Aku meneguk ludahku salah tingkah dan langsung memalingkan wajahku ke arah lain.
"Kamu jangan takut, Nayla. Ada aku."
*
*
*
Pagi ini aku bangun dan bergegas ke kantor dengan Nina. Karena dia semalam menginap di rumahku. Semalam kami berempat pulang cukup larut. Sekitar jam 12 malam.
Setelah aku dan Nina sudah siap, kami berdua langsung berangkat. Aku menumpang pada Nina, lagi. Karena semalam pak sopir mengantarkan mobil Nina ke rumahku. Dan sekalian aku menyuruhnya menginap.
"Nin, kepalaku sakit." kataku, sambil memijat pelan kepalaku yang terus berdenyut.
"Lu kurang tidur, Nay. Atau ada yang lagi lu pikirin?" tanya Nina padaku.
"Mungkin..." jawabku.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Nina memberikan obat pereda nyeri padaku.
"Aku gak mau minum obat..." kataku yang terkulai lemas di meja.
"Jangan gitu! Ayo di minum dulu, biar cepet sembuh." kata Nina membukakan obat yang dia bawa.
Aku dengan berat hati meminumnya, karena di paksa oleh Nina. Aku memang paling gak suka minum obat.
"Mau ke dokter?" tanya Nina, aku hanya menggeleng pelan.
"Pulang aja, ya?" tanya Nina lagi.
Aku kembali menggeleng. Gak bisa! Kalo aku pulang terus mama tau aku sakit. Pasti langsung di suruh ke dokter. Bakalan dapat obat yang banyakkkk! Aku gak mau minum obat.
Nina berdecak."Terus gimana?"
"Aku tidur sebentar ya? Nanti jam 12 pas meeting bangunin..." kataku.
"Oke. Ayo aku bantuin ke sofa." Nina menuntunku ke sofa besar di dalam ruangan.
Aku merebahkan tubuhku, merasakan kepalaku yang terus berdenyut membuat mataku sedikit buram. Tak butuh waktu lama, aku tertidur.
*
*
*
Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Aku begadang di kantor karena mengerjakan pekerjaan yang tertunda tadi siang.
Nina sempat menungguku, tapi aku menyuruhnya untuk pulang duluan. Dia menolak, dan mau mengantarkanku untuk pulang. Karena aku juga tidak membawa mobil. Tapi aku memberikan alasan kalo aku di jemput sama sopirnya mama.
Setelah Nina ku paksa untuk segera pulang, dia mengiyakan dengan syarat kalo aku sakit atau kenapa-kenapa, aku harus langsung menghubungi dia.
Sekarang di sini lah aku, berdiri sendirian di depan kantor. Menunggu driver taksi online yang belum kunjung dapat. Gak tau kenapa malam ini aku sangat kesulitan untuk mendapatkan taksi.
"Ishhhh abang taksi ke mana sih? Aku gimana pulangnya..." keluhku pelan.
Aku gak mungkin telpon Nina. Dia pasti sudah tertidur pulas setelah bekerja seharian. Aku tidak tega. Telpon mama juga gak mungkin, karena mama lagi ada di luar kota di antar pak sopir. Di rumah cuma ada bi Ipah yang tidak bisa menyetir mobil.
Aku berjalan perlahan untuk pulang, sambil terus mencari driver taksi online. Cukup frustasi saat tau batrai ponselku tinggal lima persen lagi. Aku lupa charger!
Aku harus bagaimana...
Saat tersadar aku sudah berada di daerah lumayan gelap. Hanya ada beberapa lampu jalan yang sebagian mati.
Rasa takutku menyeruak saat melihat ke seberang jalan, ada dua laki-laki tengah duduk di salah satu lampu yang mati.
Mereka berdua sedang meminum-minuman keras ternyata. Jantungku berdebar tak karuan, keringat dingin mulai membasahi pelipisku. Badanku bergetar hebat. Aku langsung menyalakan kembali ponselku lalu menelpon seseorang. Aku gak punya pilihan lain!
Tuttttt
Tuttttt
Apa dia udah tidur ya? Tuhan... Tolong Nayla! Nayla takut.
Kepalaku berdenyut, saat melihat dua laki-laki itu menyebrang jalan menuju ke arahku.
"Halo..."
"Daren! Tolong aku, aku mohon..." kataku. Air mataku mengalir saat dua laki-laki itu sudah berdiri sempoyongan di samping kanan dan kiriku.
__ADS_1