ONLY MINE!

ONLY MINE!
Nathan Pratama Ganendra.


__ADS_3

Nayla mendorong dada bidang Daren supaya menjauh."Ihhh apa sih, Daren!" jawab Nayla ketus.


Daren terkekeh pelan."Kenapa, sayang?" kata Daren masih menggoda.


Nayla menatap Daren tajam."Godain lagi, aku turunin kamu di sini!"


Daren bergidik ngeri."Iya-iya! Ayo kita pulang," jawab Daren. Lalu, Daren mulai melajukan mobil Nayla.


Tak lama, mereka sampai di rumah Nayla. Daren dan Nayla turun dan masuk ke dalam rumah."Nay!" teriak seseorang berjalan santai menghampiri Nayla.


Nayla langsung menoleh ke arah sumber suara."Bang Nathan?!" sentak Nayla kaget. Nayla langsung berlari dan memeluk Nathan sekuat tenaga.


Nathan membalas pelukan Nayla dan mengusap lembut rambut panjang Nayla. Membuat Daren menatap Nathan tajam.'Abang? Siapa laki-laki itu?' batin Daren kesal.


"Abang kok gak ngabarin Nayla dulu?!" rengek Nayla. Dia masih menempel dan memeluk Nathan. Suaranya bergetar, seperti sedang menangis.


"Nay..." pangil Daren pelan.


Nayla langsung melepaskan pelukannya."Eh, maaf Daren. Aku sampe lupa," jawab Nayla tertawa pelan. Sambil mengusap air mata yang mengalir di wajahnya.


Nayla menoleh ke arah Daren yang sedang menatap Nathan tajam. Begitu pun dengan Nathan, yang tengah menatap Daren sinis.'Ini dua orang pada kenapa ya?' batin Nayla tak mengerti.


"Daren kenalin. Ini Nathan, kakak aku. Bang Nathan, ini Daren!" kata Nayla memperkenalkan Nathan pada Daren. Dan sebaliknya.


Doeng!


Daren langsung berjalan cepat ke arah Nathan.'Ternyata dia kakaknya. Mampus gue!' batin Daren."Hai k-kak Nathan..." sapa Daren sambil menjulurkan lengannya kaku.


Nathan tertawa pelan. Lalu, menjabat uluran tangan Daren."Hai Daren. Gue Nathan, kakaknya Nayla! Lu panggil abang aja," jawab Nathan."Oh! Lu Daren yang bakalan di jodohin sama adek gue?" sambung Nathan setelah berhasil mengingat.


Daren mengangguk."Iya bang! Maaf ya, saya tadi nggak sopan..." kata Daren tak enak.


Nathan menepuk pelan punggung Daren."Gak apa-apa. Santai aja! Gue malah seneng kalo lu cemburu. Berarti lu suka sama adek gue. Iya, kan?!" goda Nathan.


Blush!

__ADS_1


Pipi Nayla memerah."Abang! Apa sih, jangan kayak gitu!" kata Nayla ketus. Nathan tertawa sambil merangkul pundak Nayla.


"Iya bang. Saya suka sama Adek abang!" jawab Daren tegas. Tidak ada sedikit pun keraguan di perkataannya.


Nathan tersenyum,"Bagus! Jagain Nayla terus ya. Gue gak bakalan segan-segan ngebunuh lu, kalo lu berani nyakitin dia..." kata Nathan tegas.


Daren menelan salivanya."Siap bang!"


"Buset! Tegang amat... Hahaha!" kata Nathan, sambil menarik pelan tangan Daren dan Nayla untuk duduk di sofa.


"Mama sama papa ke mana, bang?" tanya Nayla. Mencoba mencairkan suasana.


"Keluar dek. Paling bentar lagi pulang!" jawab Nathan.


Nayla mengangguk mengerti."Oh, iya! Hampir lupa... Kak Nadin mana?" tanya Nayla lagi. Nayla mengedarkan pandangannya mencari kakak iparnya itu. Nathan memang sudah menikah, dua tahun yang lalu. Tapi, mereka masih belum memiliki keturunan. Walau pun, mama dan papanya tidak pernah mempermasalahkan itu. Tapi, kakak iparnya itu sangat takut dengan omongan orang lain.


"Udah istirahat di kamar. Kakakmu itu sangat sensitif kalo di tanya soal hamil. Kamu jangan tanya ya! Kalo ada yang tanya ke dia, terus nggak ada abang. Kamu wajib lindungin dia ya!" jawab Nathan.


Nayla mengangguk tegas,"Siap, bang!"


*****


Hari ini, Nayla ke kantor seperti biasa. Bedanya, ada abangnya dan kakak iparnya yang siap membantu. Karena hari pernikahan Nayla sudah dekat, jadi abangnya berniat untuk mengurus perusahaan utama yang Nayla pegang. Makanya, sekarang Nayla harus memberitahu segala hal tentang perusahaannya itu.


Dulu, Nathan yang memegang perusahan utama papanya ini. Cuma, Nathan memutuskan untuk pindah keluar negeri dan mencari suasana baru. Nathan mengurus beberapa cabang di sana. Jadi, mau nggak mau Nayla lah yang harus menggantikan Nathan mengurus perusahaan utama. Sekarang, Nathan balik lagi. Dan Nayla berharap, Nathan pindah saja ke sini bersamanya. Supaya, Nayla bisa bebas pergi ke mana pun yang dia mau.


"Oh begitu. Jadi perusahaan kita udah nggak ada saham di perusahaan Xxx1 lagi?" tanya Nathan.


Nayla mengangguk."Iya bang. Lagi pula, perusahaan Xxx1 sudah bangkrut!" jawab Nayla.


Nathan mengangguk."Abang tau sih. Papa juga udah kasih tau abang, kemarin. Abang sampe kaget banget, pas tau kamu di lecehin sama orang! Terus sama pewaris perusahaan Xxx1 juga. Makanya kalian nyabut saham di sana kan?" jelas Nathan."Tapi... Kalo bangkrut, bukannya seharusnya perusahaan Xxx1 masih banyak penaruh sahamnya?" sambung Nathan.


"Benar. Dulu sebelum jatuh ke tangan Austin. Perusahaan Xxx1 sempat ada di masa jaya. Dan banyak penaruh saham di sana. Cuma, semenjak bukan pak Andre pemiliknya. Perusahaan Xxx1 jadi kurang menarik. Apa lagi, Austin sering mengadakan pesta yang tidak penting. Jadi, beberapa perusahaan mencabut saham di sana. Papa bertahan karena kasihan sama pak Andre, tapi Austin malah melakukan hal seperti itu. Jadi yaa terpaksa cabut juga," jelas Nayla.


Nathan mengangguk paham."Oh begitu. Berarti saham perusahaan kita yang paling besar di perusahaan Xxx1 dong? Itu buktinya langsung bangkrut?" tanya Nathan.

__ADS_1


Nayla menggeleng."Bukan... Perusahaan kita cuma nyimpen saham sebanyak 30persen aja," jawab Nayla.


Nathan mengernyit."Itu penyimpan sahamnya masih banyak. Ada 70persen. Tapi kok bisa bangkrut ya?" kata Nathan bingung sambil mengetuk pelan dahinya.


Nayla menatap Nathan sambil tersenyum."Kan perusahaan Eddyson juga mencabut 50persen sahamnya di perusahaan Xxx1," jawab Nayla.


Nathan menatap Nayla serius."Wah! Kok bisa? Emangnya perusahaan Xxx1 ada masalah apa sama perusahaan Eddyson?"


Nayla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Perusahaan Eddyson itu... Perusahaannya Daren," jawab Nayla.


Nathan membelalakan matanya kaget."APA!" sentak Nathan sambil menggebrak meja."JADI, DAREN ITU PENERUS PERUSAHAAN EDDYSON?!" terang Nathan.


Nayla mengangguk mengiyakan."Emangnya abang nggak tau?"


Nathan menggeleng."Nggak! Abang cuma tau kalo kamu di jodohin sama anaknya sahabat mama. Karena abang juga gak tanya dia kerja di perusahaan mana sih. Cuma, kata papa sama mama dia orang yang sangat baik. Jadi, Abang juga pengen kamu dapat laki-laki yang baik, itu aja!" jawab Nathan.


Nayla mengangguk yakin."Daren baik. Sangat baik..." jawab Nayla. Sambil mengingat semua kebaikan Daren.


Nathan tersenyum,"Yaudah, Abang keliling kantor dulu. Sekalian nyusul kakakmu di kantin, takut dia kenapa-kenapa!" kata Nathan. Dan langsung beranjak keluar dari ruangan Nayla, setelah Nayla iyakan.


Nathan berjalan sambil terus mengedarkan pandangannya."Tidak banyak yang berubah," gumam Nathan sambil tersenyum tipis.


'Eh, itu bukannya pak Nathan Pratama Ganendra ya? Anak pertama pak Naufal Ganendra?'


'Iya-ya. Dia ganteng banget aslinya! Udah nikah belum, ya?'


'Aaaaa jadi pengen peluk! Gara-gara liat dada bidangnya!'


'Orang kaya mah, auranya beda ya? Apa lagi ganteng banget! Wangi uangnya kecium dari jauh!'


Nathan menghembuskan napasnya kasar. Bisik-bisik para karyawati terdengar di telinganya.'Selalu seperti ini,' batin Nathan.


Bersambung...


Haiiii semuanyaaaa! Gimana kabarnya? Mudah-mudahan sehat wal'Afiat yaa! Aamiinnn❤️

__ADS_1


Jangan lupa dukung author yaaa. Supaya author semangat buat update bab baru! Like dan komentarnya yukkk bisa yukkk! ☺️❤️🫶


__ADS_2