ONLY MINE!

ONLY MINE!
Melarikan Diri


__ADS_3

Nayla terdiam sejenak. Dia memutar otaknya, apa yang harus dia lakukan. Tak lama, Nayla berdehem."Aku pengen ke kamar mandi," kata Nayla pelan.


Laki-laki itu kembali tertawa."Apa perlu ku antar, sayang?" goda laki-laki itu.


Nayla kembali berdehem."Cukup bukakan tali yang mengikat tanganku, dan tolong lepaskan penutup mataku, sayang." jawab Nayla lembut. Tidak ada jalan lain, dia harus melakukan sesuatu!


"Apa? Aku tidak dengar. Coba ucapkan sekali lagi!" kata laki-laki itu girang.


"Tolong sayang, aku sudah tidak kuat!" kata Nayla merengek.


"Tidak kuat apa sayang?" goda laki-laki itu.


"Ayolah, sayang. Aku sudah kebelet!" kata Nayla menarik lengannya yang terikat.


Laki-laki itu tertawa pelan."Hahaha! Tidak semudah itu sayang. Aku yakin, kamu berniat untuk kabur!"


"Aku hanya ingin ke toilet..." jawab Nayla lembut.


"Aku bisa mengantarmu," jawab laki-laki itu bersikukuh.


"Aku malu sayang... Biarkan aku ke toilet sendiri, setelah itu beri aku makan dan kita menikah. Oke?" bujuk Nayla.


"Kamu beneran mau menikah denganku?" tanya laki-laki itu tak percaya dengan omongan Nayla. Jadi, dia bertanya untuk memastikan. Pasalnya, sejak semalam Nayla terus mengumpat Dan tak berhenti memberontak. Sekarang, Nayla malah menerimanya.


'Tuhan begitu baik, padanya. Haha!' batin laki-laki itu kesenangan.


"Tentu! Aku sudah tau siapa kamu, sayang..." kata Nayla mencoba tenang. Padahal, jauh di lubuk hatinya. Dia sama sekali tidak tau, siapa laki-laki yang menculiknya ini.


"Ah, aku ketahuan ya? Haha. Baiklah-baiklah, aku akan membukanya!" kata laki-laki itu. Kemudian, dia membuka perlahan penutup mata Nayla.


Nayla mengerjabkan matanya perlahan. Dia harus bersikap santai saat melihat pelaku yang menculiknya ini. Nayla menatap sosok laki-laki berperawakan tinggi itu. Dia sedang berdiri dan menatap ke arahnya sambil mengulas senyum. Nayla mencoba tidak menunjukan ekspresi kaget saat mengetahui siapa yang sudah menculiknya itu.


'Ternyata kamu...' batin Nayla.

__ADS_1


Laki-laki itu mendekat dan mendongakan wajah Nayla."Beneran, kamu sudah tau?" tanyanya mengernyit.


Nayla tersenyum tipis."Bukannya sudah ketebak dari ekspresiku?" kata Nayla balik bertanya.


Laki-laki itu terkekeh pelan."Baiklah. Ayo ke kamar mandi." Laki-laki itu membuka tali yang mengikat lengan Nayla. Membuat Nayla menggerakkan tangannya pelan."Maaf ya sayang, pegel ya?" sambung laki-laki itu khawatir.


Nayla menggeleng."Gapapa kok. Itu kamar mandinya kan?" tanya Nayla menunjuk satu ruangan di dalam kamar itu.


"Iya. Jangan lama ya!" kata laki-laki itu. Dia beranjak mengikuti Nayla dari belakang.


Nayla menoleh ke belakangnya."Aku gak lama kok, jangan ikutin. Aku malu!" protes Nayla.


Laki-laki itu tertawa pelan sambil mengusap lembut kepala Nayla."Oke-oke."


Nayla langsung masuk ke dalam kamar mandi. Memikirkan bagaimana caranya supaya dia bisa melarikan diri. Nayla menengok ke arah kaca sedang yang di jadikan ventilasi. Tapi, lumayan tinggi. Nayla melepaskan high heelsnya. Menaiki kloset duduk, lalu menggapai ventilasi itu.


Berhasil! Nayla bisa melakukannya. Nayla membuka slotnya dan mendorong pelan kacanya, supaya tidak bersuara. Dia juga menyalakan keran air. Nayla memaksakan tubuhnya untuk keluar dari ventilasi itu. Untung tidak terlalu susah karena badan kecil Nayla.


BUK!


Nayla mengangkat sedikit gaun hitamnya, dan berlari sekencang yang dia bisa. Tapi, Nayla baru tersadar. Jika dia bukan lagi berada di kota. Sepertinya, dia berada di rumah tengah hutan. Karena kanan kirinya di penuhi pohon. Tak ada rumah satu pun, selain rumah laki-laki itu.


Nayla terus berlari menyusuri hutan. Tak peduli pada kakinya yang terluka karena tidak memakai alas."Aku harus keluar dari sini. Sebelum laki-laki itu menemukanku!" gumam Nayla pada dirinya sendiri.


*****


Laki-laki itu terus mondar-mandir di luar kamar mandi. Suara keran yang masih mengalir terdengar dari dalam. Pikirannya melayang jauh ke depan, karena sebentar lagi dia akan menikah dengan gadis yang sangat dia cintai. Apa lagi, gadis itu sangat kaya raya. Dia tidak perlu bekerja, cukup menghabiskan uangnya saja. Senyumnya merekah lebar saat membayangkan kesenangan yang sudah di depan mata.


Tok! Tok! Tok!


"Nay... Kamu kok lama sih?" panggil laki-laki itu tak sabar.


"Nay, kamu sakit perut ya? Cepet keluar, ayo kita makan."

__ADS_1


"Sayang?" laki-laki itu terus memanggil dan mengetuk pintu kamar mandi. Tak ada sahutan dari Nayla. Membuat jantungnya berdegup kencang takut Nayla kenapa-kenapa."Sayang? Kamu gak apa-apa kan?" kata laki-laki itu lagi. Kali ini, dia sedikit menggedor pintunya.


"Nay! Aku dobrak ya?!" kata laki-laki itu kencang. Laki-laki itu mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu.


BRAK!


"SIAL*N!" umpat laki-laki itu kasar. Saat melihat Nayla tidak ada di kamar mandi. Hanya tersisa high heelsnya saja.


"AKU GAK AKAN LEPASIN KAMU, NAYLA!!" teriak laki-laki itu nyaring.


Laki-laki itu bergegas keluar dari rumahnya. Dia berlari kencang ke sembarang arah yang dia yakini, kalo Nayla pasti lari ke sana."Sial! Sial! Sial!" gumam laki-laki itu kesal.


"Seharusnya aku tidak secepat itu percaya padamu. NAYLA GANENDRA!!" teriak laki-laki itu murka.


Nayla yang berlari sudah cukup jauh dari rumah itu kelabakan. Dia mendengar teriakan laki-laki itu menyebut namanya.'Tuhannnn tolong Nayla!' batin Nayla lirih. Air matanya mengalir deras.


Nayla menambah kecepatan larinya semaksimal mungkin. Dia berharap tidak akan bertemu dengan laki-laki gila itu lagi.


"NAYLAAAAAA!!!" teriak laki-laki itu. Suaranya nyaring, semakin mendekat ke arah Nayla berada.


Nayla berlari kencang. Tak memperdulikan teriakan laki-laki itu. Dia menoleh ke belakang, ke kanan dan ke kiri. Takut jika laki-laki itu tiba-tiba berada di sekitarnya.


"Hosh... Hosh..." Nayla memukul dadanya yang terasa sesak. Lalu menarik napas panjang.


Uhuk! Uhuk!


Nayla terbatuk-batuk akibat terlalu cepat dan jauh berlari. Nayla merasakan dadanya semakin sesak. Napasnya jadi terengah-engah tak karuan.


Uhuk! Nayla memukul pelan dadanya. Pandangan matanya mulai mengabur, kepalanya berdenyut kencang. Mungkin karena dia belum makan dan minum sama sekali dari kemarin. Membuat tubuhnya lemas. Tapi, Nayla tetap memaksakan diri untuk kembali berlari sekuat tenaga.


"Akhirnya ketemu jalan... Hosh... Hosh..." Nayla terduduk di jalanan beraspal, yang baru saja dia temui. Pandangan matanya semakin mengabur, membuat Nayla mengucek pelan netranya.'Ayolah... Jangan sekarang!' batin Nayla lirih. Kepala Nayla semakin berdenyut hebat, telinganya berdenging. Nayla memukul pelan kepalanya, supaya tetap sadar.


Tak lama, Nayla melihat sebuah mobil berhenti di depannya. Dan ada seseorang keluar dari sana, berjalan cepat ke arahnya. Membuat Nayla tersenyum senang, akhirnya dia tertolong! Nayla mengerjabkan matanya pelan, saat orang itu berjongkok di hadapannya.

__ADS_1


HAPPY READING!❤️❤️❤️


__ADS_2