
Aku menarik Nina pelan dan berbisik di telinganya, "Udah, Nin. Aku aja yang hadapin..." kataku.
Nina menatapku, Aku mengangguk meyakinkan.
"Iya, abis nonton." jawabku, menjawab pertanyaan Bian.
"Loh, berdua aja? Bukannya kata kamu, kamu sibuk?" tanya Bian sambil menatapku.
"Sibuk, ini baru selesai terus langsung nonton sama Nina." jawabku mengalihkan pandangan. Aku tidak bisa menatap Bian lama. Rasanya, ada sedikit perasaan takut. Perasaan yang sampai sekarang belum bisa aku lupakan...
"Yahh... Kenapa gak ajak aku?" tanya Bian lagi.
Aku menghembuskan nafas kasar. Walaupun takut tapi, Kesel juga lama-lama.
"Emang kenapa? Harus banget ngajak kamu?" kataku balik bertanya.
"Kok kamu gitu? Kan kemarin aku ajakin kamu main. Katanya kamu sibuk, ehh sekarang malah nonton." kata Bian.
Aku melipatkan tangan di dada, mengeluarkan segala keberanian yang tersisa, "Harus banget main sama kamu, emang?" tanyaku menatap tajam Bian yang menatapku.
"Kamu... Masih marah sama aku gara-gara kejadian itu?" tanya Bian.
Deg...
Kenapa? Kenapa harus bahas ke situ?
Aku... Aku takut.
Tes...
Tanpa di sadari air mataku mengalir begitu saja, Nina yang melihatku menangis langsung menarik lenganku pelan dan ingin meninggalkan Bian.
"Tunggu!" Bian menghentikan langkahku dan Nina.
Aku merasakan tepukan pelan di pundakku."Nayla, kenapa?"
Suara ini...
"Da-daren..."
Nina melepaskan tanganku dan langsung di pegang Daren. "Kamu, kenapa?" tanya Daren lagi. Aku menggeleng.
"Lu siapa? Datang-datang pegang tangan orang!" kata Bian yang langsung mendorong Daren tak terima.
__ADS_1
Adnan langsung pasang badan di depan Daren.
"Apa sih! Awas. Gue mau ngomong sama Nayla!" kata Bian menaikan suaranya.
Daren langsung berbisik ke Adnan, membuat Adnan mengangguk. Daren langsung melepaskan jaket levis yang dia pakai. Karena memang bukan jam kantor jadi Daren memakai pakaian biasa. Sama seperti Aku, Nina dan Adnan.
Daren memakaikan jaketnya padaku yang sedang gemetaran. Setiap melihat Bian, aku teringat kejadian 7 tahun yang lalu, saat aku dan Bian masih duduk di bangku SMA. Aku memang selalu menghindarinya, dan Nina tau itu. Tapi, ada satu hal yang Nina tidak tau, bahkan mama dan papaku tidak tau sampai sekarang.
Nina kenal sama Bian karena kita bertiga satu kampus. Walaupun beda kelas. Bian juga terkenal suka gonta-ganti pacar, hampir setiap hari.
Dan Nina tau kalo Bian suka padaku. Hampir setiap hari Bian menanyakanku lewat Nina. Entah apa alasannya.
Aku selalu menghindar saat berpapasan dengan Bian. Dan meresponnya hanya lewat pesan saja, karena kalo tidak di respon, Bian akan datang ke rumahku.
Sampai aku memutuskan untuk pindah kampus. Dan Nina juga pindah denganku, dari kampus kedua ini lah aku bertemu dengan Lia, dan berteman.
Dulu, waktu semasa SMA, aku dekat dengan Bian. Kami sahabatan selama tiga tahun lamanya. Dari kelas satu SMA sampai kelas tiga. Bian sangat baik padaku, tapi lama kelamaan Bian seperti mengekang.
Aku tidak boleh dekat dengan teman laki-lakiku, siapapun itu. Bahkan, teman wanita saja dia batasi, hanya boleh berteman dengan Dila, karena sebangku denganku.
Bian sangat posesif, bahkan pernah saat aku kerja kelompok dengan teman-teman sekelasku. Bian memaksa untuk ikut bersamaku, membuatku dan teman-teman lain jadi tidak nyaman.
Yang lebih parahnya waktu hari ke lulusan....
Aku kira Bian akan memaklumiku, karena malam itu akan menjadi malam terakhir kami semua kumpul, taunya aku salah besar.
Aku yang waktu itu pulang di antar Bian merasa aneh. Kenapa kami tidak melewati jalan menuju ke rumahku? Saat aku bertanya, Bian bilang kalo aku harus mengantarnya ke rumah temannya untuk mengambil sesuatu. Aku hanya meng iyakan dan berusaha tidak memikirkan hal buruk.
Sampai lah kami di suatu tempat yang sangat jauh dari rumahku. Mungkin sekitar dua jam. Kami baru sampai jam 12 malam di rumah yang ku tau adalah teman Bian. Mama dan papaku terus menelpon, aku langsung bilang kalo aku masih di rumah teman.
Saat kami masuk, Bian langsung mengunci pintu membuatku kebingungan sendiri.
"Kenapa di kunci, Bian?" tanyaku padanya kala itu.
"Gapapa, takut ada yang masuk." kata Bian berjalan ke arah dapur. Aku mengikutinya, karena takut sendirian.
Bian mengambil sebotol air dan memberikannya padaku, "Nih minum dulu." katanya.
Aku mengambil air dari Bian dan meminumnya. Karena tenggorokanku juga sedikit kering.
"Bian, kapan pulang? Udah belum ambil barangnya?" tanyaku setelah meletakan botol yang sudah ku minum hampir setengahnya.
Bian hanya diam, membuat perasaanku mulai tidak enak.
__ADS_1
Bian berjalan lagi ke arah satu ruangan. Aku kembali mengikutinya. Saat aku masuk ke ruangan itu, Bian kembali mengunci pintunya. Dia memelukku erat membuatku terkejut sampai susah bernafas.
"Bi-bian! Apa yang kamu lakukan? Lepasin..." kataku sambil terus memberontak.
Bian melepaskan pelukannya, "Kamu di hukum karena tadi nge-langgar laranganku." kata Bian sambil membelai rambut panjangku.
Aku menangis dan terus meminta untuk di antarkan pulang. Bian menolak dan kembali memelukku.
"Bian! Lepasinnn... TOLONG!" teriakku kencang.
Bian hanya menatapku sambil tersenyum. "Teriak aja, nggak bakalan ada yang denger."
"TOLONG! TOLONG!" aku terus berteriak sambil memberontak saat Bian memelukku.
"Mama! Papa! Hiks. Tolong Nayla!"
Tak lama kepalaku berdenyut, penglihatanku buram. Setelah itu aku tidak sadarkan diri.
Setelah sadar, ternyata sudah pagi. Aku terbangun dan langsung mengedarkan pandanganku ke segala arah. Melihat badanku yang masih menggunakan seragam lengkap. Dalam hati aku bersyukur, karena Bian tidak melakukan apapun selain memelukku.
Kreetttt...
"Udah bangun?" tanya Bian mendekat ke arahku.
Aku hanya diam ketakutan. Apa yang akan dia lakukan kali ini?
Bian mendekat dan kembali memelukku sambil berbisik. "Kamu milikku, Nayla!"
Aku lemas, sudah tidak memiliki tenaga untuk memberontak lagi.
Tiba-tiba Bian memegang tengkukku dan langsung mencium bibirku. Aku sangat terkejut air mata mulai membanjiri pipiku. Aku sangat tidak menyangka Bian akan melakukan hal sejauh ini. Ini ciuman pertamaku, Bian jahat!
Bian terus memperdalam ciumannya, aku hanya diam tak membalas. Mencoba mendorong tubuh Bian dengan segala kekuatan yang tersisa. Kepalaku yang masih berdenyut, dan badanku yang benar-benar lemas.
Bian melepaskan pagutannya, menatapku dalam.
"Bian... Aku benci kamu." kataku pelan. Bian langsung berdiri, seperti sadar atas apa yang dia lakukan.
"Ma-maaf, Nay..."
Setelah hampir dua hari aku di culik Bian. Bian terus-menerus meminta maaf padaku. Aku hanya diam tak merespon. Dia memohon agar aku tidak memberitahu mama dan papaku. Aku mengiyakan asalkan dia mengantarku untuk pulang. Bian meng iyakan dan langsung mengantarku.
Setelah sampai, dia langsung pamit pulang. Aku langsung masuk ke kamar dan menangis seharian. Aku sangat takut jika mama dan papaku tau, aku juga tidak menyangka Bian akan melakukan itu padaku.
__ADS_1
Aku sedikit curiga kenapa mama dan papa tidak khawatir, padahal aku menghilang hampir dua hari. Tapi ternyata kecurigaan ku terungkap. Rupanya Bian sudah mengirim pesan kepada mereka, bahwa aku menginap di tempat Dila, temanku. Alasannya karena semalam aku ketiduran. Mama juga mempercayai Bian, karena dia sudah menjagaku selama tiga tahun ini. Tapi, mama tidak tau bahwa Bian juga yang meng hancurkanku.