
Setelah mengambil cukup banyak es cream, Nayla hendak bergegas untuk pergi dari hadapan Lia."Bukan urusanmu!" jawab Nayla sinis.
Lia mencekal lengan Nayla."Sinis amat Nay? Gagal move on ya?" kata Lia.
Nayla menghempaskan lengan Lia kasar."Haha. Apa? Gagal move on? Sorry nggak level!" jawab Nayla tertawa meledek.
Lia menatap Nayla remeh."Masa? Ngaku aja! Gue tau, kalo lu sama si Daren-Daren itu cuma setingan, bukan pacaran beneran!" ujar Lia.
Nayla menatap Lia sambil menyungingkan senyum meledek."Ah, iya. Sayangnya kami memang nggak pacaran. Tapi..." Nayla menggantungkan perkataannya."Sebentar lagi kami menikah!" jawab Nayla tersenyum sinis.
Lia tertawa keras."Masa? Jangan menghayal deh, Nay! Paling nanti di tinggal lagi. Hahaha!"
Nayla menatap Lia sinis."Liat aja nanti..."Nayla pergi meninggalkan Lia yang masih tertawa mengejek. Tapi, tak jauh dari situ, Nayla kembali membalikan badannya ke arah Lia."Oh, iya... Satu lagi! Jangan iri ya? Gak usah ganggu kebahagiaan orang lain, deh! Nikmatin aja kebahagiaan kalian berdua itu... Kalo emang bahagia! Upsss!" jawab Nayla sarkas. Sambil menutup mulutnya menggunakan satu tangan, dengan wajah meledek.
Lia mengepalkan tangannya sambil menatap Nayla tajam.'Liat aja nanti, Nayla!' batin Lia emosi.
Setelah selesai, Nayla kembali ke Daren yang masih asik memilih minuman. Entah buat stok berapa hari, karena Daren membelinya cukup banyak."Darennn, udah yuk!" kata Nayla.
Daren menoleh ke arah Nayla."Kamu udah ambil es krimnya?"
Nayla mengangguk. Lalu, dia menunjuk ke arah keranjang yang dia bawa."Tuh!"
Daren melihat es cream yang Nayla ambil. Satu keranjang penuh."Udah, segini aja? Gak mau nambah?"
"Nggak. Ayooo, nanti keburu malem!" kata Nina menarik pelan lengan Daren.
Daren terkekeh pelan."Yuk!"
Nina dan Daren berjalan ke arah kasir. Cukup ramai, ada dua barisan meja untuk membayar. Nayla memilih meja bagian kanan karena paling sedikit yang mengantri. Saat Nayla sadar, ternyata meja bagian kiri ada Lia yang juga tengah mengantri.
Bisik-bisik mulai terdengar dari arah belakang Nayla dan Daren. Nayla menoleh sekilas ke belakangnya. Ternyata benar! Daren tengah menjadi bahan tontonan!
'Liat deh. Badannya tegap banget! Mana ganteng banget lagiii! Ah, seandainya dia suamiku. Nggak akan aku izinkan dia keluar dari rumah!'
'Bener! Ganteng banget! Sayang banget yaa udah punya pacar. Kalo belum aku pepet deh sampe dapet!'
"Gila! Gila! Ayang aku ganteng banget! Sayang banget udah ada yang punya!'
'Ceweknya juga cantik banget, sih! Jadi serasi banget!'
__ADS_1
'Idaman aku banget! Apa lagi dia tinggi banget, badannya tegap. Enak buat di peluk!"
Nayla mendengkus sebal. Hatinya meronta-ronta ingin memaki orang-orang yang tengah berbisik itu. Apa lagi, saat Nayla tau kalo mereka tengah berbicara tentang Daren. Soalnya, mata dan tunjukan tangan beberapa dari mereka mengarah ke arah Daren. Rasanya, pengen Nayla teriaki saja, jika Daren itu calon suaminya! Jangan berani macam-macam, apa lagi sampai membayangkan kalo Daren itu suami atau pacar mereka! BIG NO!
Pikiran Nayla berkecamuk. Perasaan kesal dan sebal jadi satu. Apa lagi, tadi dia habis berantem sedikit dengan Lia. Jadi, emosi yang tadinya sedikit menggebu, berubah menjadi menggebu-gebu seperti kebakaran!
"Sayang..." rengek Nayla manja. Tangannya dia lingkarkan di pinggang belakang Daren.
Daren mengernyitkan bingung.'Nayla kenapa tiba-tiba memanggilnya sayang? Bahkan memeluk pinggangnya. Apa Nayla mendengar perkataan orang-orang tadi ya? Apa dia cemburu?' batin Daren berusaha mengerti.
"Iya sayang?" Daren menarik pelan tubuh Nayla dan mendekapnya lembut.
Nayla jadi menghadap ke arah belakang Daren. Di mana tempat orang-orang tadi berbisik. Nayla mencoba kesamping tubuh tegap Daren, mengedarkan pandangannya. Hampir semua wanita tadi menatapnya penuh rasa iri. Nayla membalas tatapan mereka dengan senyum penuh kemenangan.
Saat Nayla menoleh ke arah Lia. Ternyata, Lia tengah menatap Nayla tajam. Nayla yang kesenangan melihat ekspresi Lia tadi, merasa ingin mengulangi."Sayang... Habis ini kita ke mana?" tanya Nayla manja.
Daren mengusap lembut kepala Nayla."Ke pantai sayang..." jawab Daren.
'Nay! Jangan kayak begini... Mau aku makan?' batin Daren gemas sendiri. Melihat kelakuan Nayla.
Nayla memposisikan wajahnya menghadap Lia, yang tengah menatapnya kesal."Wahh! Kayaknya seru! Senang-senang di pinggir pantai. Mesra-mesraan berdua... Iya kan, sayang?" ujar Nayla sengaja.
Nayla mengangguk manja."Suka! Apa lagi berduaan sama kamu..." jawab Nayla.
"Sial*n!" gumam Lia. Suaranya masih bisa di dengar oleh Nayla. Membuat Nayla bersorak senang dalam hati.
*****
Nayla dan Daren sudah berada di tepi pantai. Daren yang sejak tadi tak berhenti senyum-senyum sendiri membuat Nayla kelabakan. Nayla yakin, Daren tengah menertawakan dirinya dalam hati!
Nayla kembali memasukan sesendok es cream kedalam mulutnya."Daren! Aku tadi cuma ekting. Jangan di bawa serius!" kata Nayla kesal.
Daren menoleh ke arah Nayla. Wajah cantik Nayla yang tengah cemberut karena kesal, membuat Daren tambah gemas. Daren membuka atap mobil, membuat rambut hitam Nayla berterbangan.
"Daren! Kamu dengar nggak sih!" kata Nayla tambah kesal.
Daren terkekeh pelan."Dengar sayang..." jawab Daren lembut.
Nayla berbalik menghadap Daren."Yaudah. Lupain aja ya! Anggap kejadian tadi nggak pernah terjadi," kata Nayla.
__ADS_1
Daren mencodongkan badannya ke arah Nayla."Kenapa? Aku suka, kok!" jawab Daren dengan senyum merekah.
Nayla memalingkan wajahnya ke arah depan dan melipat lengannya di depan dada."Tapi aku cuma bercanda! Pokoknya kamu lupa-" Daren menarik tengkuk Nayla, membuat wajahnya kembali menghadap Daren.
Cup!
Daren mencium lembut bibir Nayla sekilas."Kamu serius juga, aku gak masalah sayang..."
Nayla mendorong dada bidang Daren."Daren! Jangan cium-cium!" kata Nayla kesal.
Daren tersenyum dan menarik lembut tubuh Nayla, mendekapnya erat."Aku suka... Liat kamu cemburu kayak tadi," bisik Daren pelan.
"Aku nggak cemburu, Daren!" bantah Nayla.
Daren terkekeh pelan, masih mendekap lembut tubuh Nayla."Iya sayang iya," jawab Daren mengalah.
Jantung Nayla berdegup kencang. Mengingat sebentar lagi mereka akan menikah."Darennnn. Lepasin, udahan peluk-peluknya!" kata Nayla mencoba mendorong Daren.
"Kok udahan? Katanya tadi mau romantis-romantisan berdua?" goda Daren.
Nayla menenggelamkan wajahnya malu. Tangan kanannya mencubit keras pinggang Daren."Aku boongan!" bantah Nayla lagi.
Daren tertawa pelan."Aku anggap itu beneran," jawab Daren.
"Ihhh! Udah ah, lepasin! Aku mau makan camilan lagi!" kata Nayla kesal.
Daren melepaskan pelukannya, dan berdehem pelan."Aku juga pengen makan,"
Nayla menghela napas lega."Yaudah makan! Camilannya kan banyak. Mau makan yang mana?" tanya Nayla."Yang ini?" tunjuk Nayla ke keripik kentang.
Daren menggeleng."Bukan!" tolak Daren.
"Terus yang mana..." Nayla merogoh keripik dan camilan di paling bawah plastik."Yang ini?" kata Nayla menunjukan keripik singkong dan wafer pada Daren. Daren kembali menggeleng."Terus yang mana!" kata Nayla kesal.
Dalam sedetik, Nayla sudah berpindah ke atas pangkuan Daren. Karena, Daren tadi mengangkat Nayla dengan entengnya. Nayla masih melongo saking syoknya. Daren menyelipkan rambut Nayla ke belakang telinga. Memeluk kembali tubuh kecil Nayla, karena tubuhnya menjadi candu tersendiri buat Daren. Bibirnya mendekat pada telinga Nayla, menghirup wangi semerbak yang berasal dari leher jenjang Nayla, walau pun masih berjarak."Makan kamu boleh?" bisik Daren pelan.
Bersambung...
Hai semuanya! Bagaimana kabarnya? Semoga selalu sehat ya! Jangan lupa like dan komentarnya ya! Supaya author tambah semangat buat update! Hatur tengkyu!❤️
__ADS_1